Panca Sila yang Menakjubkan
Y.A. Maha Biksu Thich Nhat Hanh
Diterjemahkan oleh: Jimmy Lominto

** bagian 12 **

"Aku bertekad untuk bicara yang sebenarnya, dengan kata-kata yang 
dapat menimbulkan keyakinan diri, suka cita, dan harapan.." Ini 
harus dipraktikkan dengan anak-anak. Jika anda mengatakan kepada 
anak-anak bahwa mereka tidak berguna, mereka mungkin akan menderita 
di kemudian hari. Selalu tekankan hal-hal yang positif, yang 
berpengharapan pada anak-anak dan pasangan anda.

" Aku tidak akan menyebarkan berita yang belum aku ketahui dengan 
pasti juga tidak akan mengritik atau mencela hal-hal yang belum aku 
yakini dengan pasti. Aku akan menahan diri untuk mengeluarkan kata-
kata yang dapat menimbulkan perpecahan atau perselisihan, atau yang 
dapat membuat keluarga ataupun komunitas menjadi pecah. Aku  
bertekad untuk melakukan segala upaya untuk mendamaikan kembali 
serta menyelesaikan semua konflik, yang sekecil apa pun." 

Rekonsiliasi atau berdamai kembali merupakan suatu praktik mendalam 
yang dapat kita lakukan dengan cara mendengarkan dan cara bicara 
kita yang berkesadaran. Mendamaikan kembali bermakna membawa 
kedamaian dan kebahagiaan pada bangsa-bangsa, rakyat, dan anggota-
anggota keluarga kita sendiri. Ini adalah pekerjaan seorang 
bodhisatwa. Agar dapat mendamaikan kembali, anda harus memiliki seni 
mendengarkan secara mendalam dan menguasai seni berbicara yang penuh 
cinta kasih. Anda harus dapat menahan diri untuk bersekutu dengan 
satu pihak sehingga anda dapat memahami kedua belah pihak. Ini 
adalah praktik yang sulit.

Selama perang di Vietnam, kami berusaha untuk melakukannya. Kami 
berusaha untuk tidak bersekutu dengan salah satu dari dua belah 
pihak yang sedang bertempur, komunis ataupun yang anti komunis. Anda 
hanya akan dapat membantu jika bisa berdiri di atas konflik dan 
melihat aspek baik dan buruk dari kedua belah pihak. Dengan 
melakukan ini, anda meletakkan diri ke dalam situasi yang sangat 
berbahaya, anda bisa dibenci oleh kedua belah pihak. Satu pihak akan 
mencurigai anda adalah alat pihak lain dan pihak lain juga akan 
curiga anda adalah alat pihak pertama. Anda bisa dibunuh kedua belah 
pihak itu pada saat yang sama. Inilah yang dialami banyak Buddhis di 
Vietnam selama perang. Kami tidak bersekutu dengan pihak komunis, 
tapi, kami juga tidak bersekutu dengan pihak yang pro Amerika. Kami 
hanya ingin menjadi diri kami sendiri. Kami tidak menginginkan 
terjadinya pembunuhan, kami hanya menginginkan rekonsiliasi. Satu 
pihak mengatakan anda tidak bisa berdamai dengan yang pro Amerika. 
Pihak yang lain juga mengatakan anda tidak bisa berdamai dengan 
komunis. Jika kami mengikuti kedua belah pihak, tidak mungkin dapat 
berdamai dengan siapa pun juga.

Kami melatih pekerja-pekerja sosial untuk terjun ke daerah pedesaan 
untuk membantu menangani masalah kesehatan, ekonomi, dan pendidikan, 
dan kami dicurigai kedua belah pihak itu. Pekerjaan rekonsiliasi 
kami bukan sekadar omong saja, tapi juga bertindak. Kami berusaha 
membantu para petani menemukan harapan kembali. Kami membantu banyak 
pengungsi menetap di desa-desa yang baru. Kami bantu mensponsori 
10.000 lebih anak yatim piatu. Kami membantu para petani membangun 
kembali desa-desa mereka yang hancur berantakan. Pekerjaan 
rekonsiliasi bukanlah sekadar berdiplomasi; ini kerja yang konkrit. 
Pada saat yang bersamaan, kami juga menyuarakan perdamaian dari hati 
kami. Kami  mengatakan bahwa orang-orang dari satu keluarga 
seharusnya melihat satu sama lainnya sebagai kakak dan adik, serta 
saling menerima satu sama lainnya. Mereka tidak seharusnya saling 
membunuh hanya karena ideologi. Pesan tersebut sama sekali tidak 
populer dalam situasi perang.

Karya-karya tulis saya disensor kedua belah pihak. Puisi saya disita 
mereka. Sahabat-sahabat saya mencetak bawah tanah salah satu buku 
puisi saya karena pemerintah di Saigon tidak mengijinkan 
penerbitannya. Lalu pihak komunis menyerangnya di radio dengan 
mengatakan bahwa  buku itu membahayakan perjuangan, barangkali 
dimotivasi oleh CIA. Polisi pihak Nasionalis menyisir toko-toko buku 
dan menyita puisi-puisi itu. Di Hue, seorang polisi yang baik hati 
masuk ke sebuah toko buku Buddhis dan mengatakan buku itu jangan 
dipajang; buku itu harus disembunyikan dan hanya diberikan jika ada 
yang memintanya. Kami diredam bukan hanya dalam upaya-upaya kami 
untuk menyuarakan kepedulian kami serta menawarkan cara-cara untuk 
menyelesaikan masalah-masalah antarkakak dan adik, kami juga diredam 
dalam berbagai usaha kami untuk menolong rakyat. Banyak pekerja 
sosial kami yang dibunuh dan diculik oleh kedua belah pihak. Masing-
masing pihak mencurigai kami bekerja untuk pihak lain. Beberapa 
pekerja sosial kami dibunuh oleh beberapa orang Katolik fanatik yang 
mencurigai kami bekerja untuk komunis dan beberapa pekerja sosial 
kami dibawa ke pihak komunis. Para pekerja sosial kami sangat 
populer di pedesaan. Mereka adalah laki-laki dan gadis-gadis muda 
yang sangat berdedikasi, termasuk banyak biksu dan biksuni muda. 
Mereka tidak mendapatkan gaji; mereka hanya ingin melayani dan 
mempraktikkan agama Buddha. Dalam situasi perang, mereka membawa 
cinta kasih, kasih sayang, serta pekerjaan mulia mereka, dan hanya 
menerima sedikit tunjangan untuk bertahan hidup. Mereka pergi ke 
pedesaan tanpa mengharapkan imbalan apapun.

Saya teringat pada seorang laki-laki muda bernama An yang 
spesialisasinya adalah membantu para petani mempelajari metode-
metode modern dalam beternak ayam. Dia mengajarkan mereka teknik-
teknik pencegahan penyakit. Dia ditanya oleh seorang petani, "Berapa 
besar gaji yang kamu peroleh dari pemerintah setiap bulan?" An 
menjawab, "Kami tidak terima apa-apa dari pemerintah, kami berasal 
dari wihara. Kami dikirim oleh wihara Buddhis untuk membantu paman." 
An tidak memberitahukan paman petani, yang tidak canggih itu, bahwa 
ia berasal dari Sekolah Pelayanan Sosial Muda-Mudi, yang didirikan 
oleh Departemen Pekerjaan Sosial dari the Unified Buddhist Church. 
Itu terlalu rumit, makanya, dia hanya mengatakan dirinya dikirim 
oleh wihara.

"Mengapa kamu dari wihara datang ke sini?"

An menjawab, "Kami sedang membuat jasa." Ini adalah sebuah istilah 
yang sangat populer dalam agama Buddha.  

Si petani terperanjat. Dia berkata, "Yang saya tahu orang-orang 
pergi ke wihara untuk membuat jasa. Sekarang, kamu kog malah membuat 
jasa di sini?"

Anak muda itu lantas menjawab,"Ketahuilah paman, dalam masa seperti 
sekarang ini, begitu banyak orang yang sedang menderita, bahkan 
Buddha sekalipun harus keluar ke sini untuk membantu.  Kami,  para 
murid Buddha membuat jasa di sini, di tempat di mana paman sedang 
menderita." Pernyataan itu kemudian menjadi filosofi dasar pelayanan 
sosial kami, engaged Buddhism (agama Buddha yang terjun aktif ke 
dalam segala aspek kehidupan manusia). Buddha harus berada di tengah 
masyarakat. Beliau tidak bisa lagi terus berada di dalam wihara, 
karena rakyat begitu menderita. 

Selang beberapa tahun kemudian, kami menjadi begitu populer di 
daerah pedesaan Vietnam. Kami tidak punya banyak uang, tapi, karena 
kami bekerja dalam cara membuat jasa, kami dicintai khalayak. Pihak 
komunis tahu akan hal itu dan tidak menginginkan kami di sana, maka 
mereka mendatangi kami pada malam hari dan menanyakan siapa yang 
mengijinkan kami untuk bekerja di sana. Para pekerja sosial kami 
mengatakan bahwa kami tidak memiliki ijin dari pihak pemerintah 
ataupun dari pihak komunis. Kami hanya membuat jasa di sini. Suatu 
ketika pihak komunis memerintahkan para pekerja sosial kami untuk 
meninggalkan suatu wilayah, dengan berkata,"Kami tidak bertanggung 
jawab atas keselamatan kalian jika kalian tinggal lebih dari 24 
jam." Di waktu yang lain, beberapa orang fanatik dari pemerintah 
datang secara tidak resmi dan menanyakan para pekerja sosial kami 
apakah mereka benar-benar pekerja sosial dari komunitas Buddhis. 
Mereka lalu menggiring lima orang siswa ke pinggir sungai dan 
setelah sekali lagi memastikan bahwa mereka adalah pekerja sosial 
Buddhis, lalu berkata,"Mohon maafkanlah kami, tapi kami harus 
membunuh kalian." Setelah itu mereka lalu menembak kelima siswa itu. 
Kami ditekan oleh kedua belah pihak pada malam hari. Mereka tahu 
jika kami ditekan pada siang hari, para petani tidak akan 
mengijinkannya. 

Satu granat yang dilemparkan ke kamar tidur saya terpental kembali 
karena tertahan oleh kain korden. Malam berikutnya, banyak granat 
yang dilemparkan ke dalam dormitori sekolah kami, membunuh dua orang 
pekerja sosial muda dan melukai banyak orang. Seorang anak muda 
menjadi lumpuh dan kemudian dirawat di Jerman. Seorang gadis muda 
kena seribu lebih serpihan peluru meriam di tubuhnya. Dia kehilangan 
banyak darah dan diselamatkan oleh seorang teman dari Jepang yang 
sedang membantu kami. Kemudian, kami berhasil membawanya ke Jepang 
untuk dioperasi. Mereka mencoba untuk mencabut serpihan logam itu, 
tapi sekitar 300an keping tidak bisa diangkat dan tertinggal di 
tubuhnya.

Suatu hari saat saya sedang di Paris sebagai wakil Delegasi 
Perdamaian Buddhis Vietnam untuk menghadari Pembicaraan Perdamaian 
Paris, saya menerima sebuah pesan telepon dari Saigon yang 
memberitahukan saya bahwa empat pekerja sosial kami baru saja 
ditembak dan terbunuh. Saya menangis. Sayalah yang meminta mereka 
untuk datang dan dilatih sebagai pekerja sosial. Seorang teman yang 
ada di sana bersama saya berkata, "Thay (guru), guru bagaikan 
seorang jenderal yang memimpin pasukan tanpa kekerasan dan ketika 
pasukan guru sedang bekerja untuk cinta kasih dan rekonsiliasi, 
sudah pasti akan memakan korban. Tidak perlu ditangisi."

Saya berkata, "Saya bukan jenderal. Saya adalah manusia. Saya butuh 
menangis." Saya tulis sebuah drama enam bulan kemudian tentang 
kematian siswa-siswa itu dengan judul, The Path of Return Continues 
the Journey.* 

Kerja rekonsiliasi bukanlah kerja diplomatik semata. Bukan karena 
anda mengadakan perjalanan keliling dan bertemu lusinan menteri luar 
negeri berarti anda sudah melakukan kerja rekonsiliasi. Anda harus 
menggunakan tubuh anda, waktu anda, dan hidup anda untuk melakukan 
kerja rekonsiliasi. Anda melakukannya dalam banyak cara dan anda 
bisa diredam oleh orang-orang yang berusaha anda bantu. Anda harus 
mendengarkan dan memahami derita satu pihak, lalu pergi dan 
mendengarkan derita pihak yang lain. Setelah itu anda baru akan 
dapat memberitahukan masing-masing pihak secara bergilir, mengenai 
penderitaan yang sedang dialami pihak lain. Pekerjaan macam ini 
adalah krusial dan membutuhkan nyali. Kita membutuhkan banyak orang 
yang memiliki kapasitas untuk mendengarkan di  Afrika Selatan, Timur 
Tengah, Eropa Timur, dan tempat lainnya.

Sila Keempat adalah sila bodhisatwa. Kita perlu belajar secara 
mendalam agar dapat mempraktikkannya dengan baik  dalam diri kita, 
keluarga kita, komunitas kita, masyarakat kita, dan dunia...
[bersambung]...







** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke