| Senin, 11 Juli 2005 |
|
Gubernur NTB, di Mana Nuranimu?
Tangis Nurhayati tiba-tiba menyeruak begitu melihat serombongan orang datang memenuhi ruang bangsal Puskesmas Narmada, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Gadis berusia 16 tahun itu seakan malu bertemu dengan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Farida Hatta Swasono yang datang berkunjung beberapa waktu lalu. Siapa pun akan terenyak melihat Nurhayati. Bayangkan di usianya yang menginjak remaja, anak ketiga dari empat bersaudara itu tampak ringkih. Badannya hanya tinggal tulang dibalut kulit. Kedua kakinya yang kecil tak bisa diluruskan, selalu menekuk ke atas dan punggungnya membungkuk ke depan. Nurhayati adalah salah satu korban gizi buruk, kata halus dari busung lapar. Demikian kutipan artikel di harian Bisnis Indonesia, Minggu, 3 Juli 2005. Nurhayati tidak sendiri, masih ada lebih dari 903 jiwa penderita gizi buruk/busung lapar, dan 21 jiwa di antaranya telah meninggal dunia. Jumlah anak balita yang menderita gizi buruk ini tersebar di sembilan wilayah NTB, yaitu Lombok Barat 235 kasus, Lombok Tengah (40), Lombok Timur (377), Mataram (41), Sumbawa Barat (35), Sumbawa (52), Dompu (65), Bima (20), dan Kota Bima 38 kasus. Total penduduk NTB berdasarkan sensus penduduk tahun 2002 sebanyak 4.127.519 jiwa, dan menurut data dari Bappeda Provinsi NTB 1.073.400 jiwa dari total jumlah penduduk termasuk kategori penduduk miskin. Persentase penduduk miskin NTB, yang lebih dari 30% jauh di atas dari tingkat rata-rata nasional yang mencapai 14%, membuat kita bertanya apa yang dikerjakan pemerintah daerah provinsi beserta seluruh jajaran selama ini. Ironis, memang. Karena NTB dikenal sebagai salah satu lumbung padi nasional dengan total produksi gabah kering giling (GKG) per tahun sebesar 1,4 juta ton setara beras sekitar 800.000 ton-900.000 ton beras. Kebutuhan beras untuk konsumsi lokal diperkirakan mencapai 600.000 ton per tahun, sementara surplus beras sebanyak 200.000 ton hingga 300.000 ton diperdagangkan ke luar daerah, seperti NTT dan Sulawesi. NTB juga menghasilkan produk pertanian, seperti tembakau, kedelai, jagung, dan cabai. NTB sangat berpotensi untuk menjadi salah satu sentra produksi pertanian, perikanan, dan perkebunan mengingat luas wilayahnya. Luas NTB mencakup 20.153.15 km² yang terdiri dari Pulau Lombok: 4.738,70 km² (23,511 persen) dan Pulau Sumbawa: 15.414,50 km² (76,49 persen). Sementara luas lahan tanaman pangan 583.432 hektar dan telah dimanfaatkan seluas 310.969 hektar atau 53,30 persen dari total luas lahan. Potensi, tinggal potensi. Kasus gizi buruk dan busung lapar tetap terjadi. Kalau kasus gizi buruk dan busung lapar terjadi pada zaman Jepang dan Belanda, saya bisa menerima. Di relung hati ini terus bertanya, kapankah rakyat NTB merdeka dari kemiskinan? Terenyak Di saat kenikmatan menyaksikan partai final Grand Slam Wimbledon Lindsay Davenvort melawan Venus Williams menyelemuti sekujur tubuh, saya terenyak membaca sebuah SMS yang masuk dan dikirim oleh sahabat saya sewaktu duduk di bangku SMA Negeri I Mataram, âRa, lihat Gubernur-mu, HL Srinate ngabisin duit nonton Kontes Dangdut Indonesia (KDI) di Jakarta, ndak tahu pakai duit siapa ke Jakarta bersama rombongan. Hanya untuk nonton KDI! Sementara korban gizi buruk dan busung lapar tiap hari bertambah jumlahnya. Apa ente tidak malu punya Gubernur yang lebih mementingkan seorang untuk menjadi artis dangdut ketimbang memikirkan rakyat yang sedang tertimpa musibah?â Dalam sekejap saya langsung memindah saluran televisi yang menayangkan Program KDI. Dan hanya satu kata yang terucap dari mulut saya, Astagfirullah al- azim! Di mana hati nuraninya? Program KDI memang luar biasa, selain menaikkan rating televisi yang menyiarkannya, program tersebut telah membuat lupa seorang Gubernur beserta jajarannya terhadap apa yang mesti dikerjakan untuk membantu korban-korban gizi buruk dan busung lapar. Dan, melupakan bagaimana seharusnya menekan kemiskinan dan kebodohan di daerahnya. Bayangkan, sebelum berangkat ke Jakarta, seperti dikutip di Lombok Post, 27 Juni 2005, setiap malam Minggu di Mataram dilaksanakan nonton bersama KDI. Bukan hanya itu, Gubernur dan pejabat terasnya sibuk membagi-bagi voucher gratis agar salah satu peserta asal NTB bisa masuk Grand Final KDI. Luar biasa! Betapa irinya saya melihat pejabat di Sulawesi Utara dan Gorontalo yang berupaya keras untuk meningkatkan kesejahteraan petaninya. Pejabat kedua daerah tersebut bersama tim dari Kantor Menko Perekonomian bekerja keras agar pendapatan petaninya terjamin dalam jangka panjang melalui stabilisasi harga cengkeh dan jagung. Melalui kerja sama jangka panjang dengan produsen, kedua daerah tersebut berhasil mencapai kesepakatan bersama tentang pembelian harga minimum bagi kedua produk andalan bagi Sulawesi Utara dan Gorontalo. Kesepakatan tersebut merupakan jaminan bagi pendapatan petani dalam jangka panjang. Dengan demikian, petani tidak akan dirugikan dengan adanya fluktuasi harga setiap panen raya. Sementara petani NTB yang juga menghasilkan produk-produk pertanian, dibiarkan bebas tanpa asistensi pemerintah daerah. Sehingga wajar bila petani lebih baik menjual/menggadaikan tanah garapannya untuk pergi menjadi TKI. Meski itu bukan tanpa risiko, mengingat peran pemda pun dalam peningkatan kualitas TKI yang pergi ke luar negeri, juga nihil. Pariwisata terabaikan NTB tidak saja memiliki potensi di bidang pertanian, perikanan, dan perkebunan. Potensi lain yang dimiliki adalah pariwisata. Sayang sektor ini juga tidak digarap dengan baik. Hal ini tercermin dari rendahnya tingkat kesadaran akan pentingnya wisata bagi ekonomi daerah. Banyak kasus pencurian dan perampokan yang korbannya wisatawan mancanegara menjadi bukti bahwa pemda tidak melakukan penyadaran kepada masyarakat betapa positifnya pariwisata bagi peningkatan pendapatan rakyat. Yang dipikirkan pemerintah daerah (baca: Gubernur), bagaimana agar pembangunan bandara baru di Lombok Selatan yang membutuhkan dana Rp 800 miliar dapat terealisasi. Karena itu, yang dilalukan hanyalah melobi pejabat-pejabat Jakarta agar proyek mercusuar itu terlaksana, bukannya membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya pariwisata terlebih dahulu. Menjadi pertanyaan, bagaimana bisa mengurus bandara baru bila jumlah penderita gizi buruk dan busung lapar meningkat tiap hari. Belum lagi angka kemiskinan (30%) yang tidak bisa ditekan dan masih di atas angka nasional (14%), meski DAU NTB terus meningkat dari Rp 700 miliar, kini mencapai angka Rp 1,28 triliun. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) NTB serta Anggaran Belanja Tambahan (ABT) yang juga meningkat Rp 80 miliar menjadi Rp 565 miliar dibandingkan dengan tahun anggaran sebelumnya. Pahitnya, APBD tersebut tidak menganggarkan penanggulangan busung lapar! Pak Gubernur yang terhormat, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memberikan rahmat kepada rakyatnya, bukan penyakit dan kemiskinan. Dan melalui program Gerbang E-Mas (Gerakan Membangun Ekonomi Masyarakat) yang Bapak luncurkan, saya harap bisa menekan angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat yang Bapak pimpin. Dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya mengucapkan; Terima kasih telah mempopularkan NTB ke seantero dunia, sayang popularnya via BUSUNG LAPAR! Lalu Mara Satria Wangsa Putra NTB, Bekerja di Kelompok Usaha Bakrie |
Yahoo! Mail for Mobile
Take Yahoo! Mail with you! Check email on your mobile phone.
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
---- LSpots keywords ?> ---- HM ADS ?>
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
