40. Perumah Tangga Dandadhara
Demikian telah saya dengar pada suatu ketika: Buddha
sedang berdiam di Kota Sravasti di Biara Jetavana
Taman Anathapindika. Pada saat itu di negeri itu ada
seorang brahmin yang miskin yang memiliki istri yang
sangat buruk rupa, tanpa putra, dan tujuh orang putri.
Meskipun bramin telah menikahkan putri-putrinya,
mereka dan menantunya kembali tinggal dengannya.
Istrinya memiliki sifat dasar yang buruk dan mengutuk
dan menganiaya dia, putri-putrinya dan suami mereka.
Suatu hari di waktu panen, brahmin meminjam seekor
lembu jantan dari tetangganya dan pergi untuk memanen
berasnya. Dia lupa mengikat lembu itu dan lembu itu
kabur. Brahmin itu kemudian berpikir dalam dirinya:
"Kejahatan masa lalu apa yang telah saya lakukan
sehingga, ketika saya pergi kerumahku sendiri, istriku
menganiaya saya, putri-putriku dan menantuku bahkan
tidak menyediakan tempat duduk untukku. Sekarang saya
telah kehilangan lembu jantan tetanggaku dan tidak
dapat mengembalikannya meskipun saya mencoba. Apa yang
harus kulakukan?"
Ketika dia duduk dalam kesedihan, dia melihat
Buddha duduk di samping sebuah pohon, semua
pancainderaNya dalam damai. Bersandar pada tongkatnya,
brahmin ini berpikir: "Bhiksu Gautama damai dan
bahagia. Dia tidak memiliki istri yang menganiayanya,
tidak memiliki putri-putri yang bersifat buruk atau
menantu-menantu yang menganiayanya, tidak
menghilangkan lembu jantan yang dipinjam ketika waktu
panen datang -tidak memiliki masalah sama sekali."
Buddha mengetahui pikiran brahmin itu dan berkata
kepadanya: "Tuan, yang engkau pikirkan benar. Saya
tanpa masalah, karena saya tidak memiliki istri,
bagaimana dia bisa menganiaya diriku? Saya tidak
memiliki tujuh orang putri yang datang ke rumah
beserta suaminya dan membuat hidupku menderita. Saya
tidak perlu mengkuatirkan lembu jantan yang hilang di
waktu panen. Apakah engkau juga tidak ingin menjadi
bhiksu?"
Brahmin itu menjawab: "Bhagava, rumahku sama
seperti sebuah kuburan bagiku, dan istri dan
putri-putriku seperti musuh-musuhku. Izinkanlah saya,
saya mohon padaMu untuk menjadikan saya seorang
bhiksu." Ketika Buddha berkata: "Selamat Datang,"
rambut brahmin dan jambangnya rontok dan dia menjadi
seorang bhiksu. Ketika Bhagava telah mengajarkannya
Dharma, semua kekotoran batinnya dibuang dan dia
mencapai arahat.
Kemudian Ananda berkata kepada Buddha: "Suatu
hal baik Bhagava, engkau telah memberi manfaat bagi
semua makhluk tanpa kecuali. Tapi-perbuatan baik apa
yang telah brahmin itu lakukan sehingga dia sekarang
telah dipurifikasi dari kekotoran batin, dan
memperoleh kebajikan, seperti sepotong sutra yang
diputihkan?"
Buddha berkata: "Ananda, ini bukanlah yang
pertama kali saya menolong brahmin ini dan menyebabkan
dia bahagia. Di masa lampau saya membebaskan dirinya
dari masalah-masalahnya dan menyebabkan dia bahagia."
Ketika Ananda memohon Bhagava untuk
menjelaskan hal ini, Buddha berkata: "Ananda,
dengarkan dengan baik dan ingatlah dan saya akan
memberitahumu." Ketika Ananda menjawab bahwa dia akan
mendengarkan dengan seksama, Buddha berkata:
"Ananda, di masa lampau berkalpa-kalpa yang
lalu, kalpa lalu yang tak terhitung, tak terlukiskan,
hiduplah seeorang raja bernama Indah yang memerintah
berdasarkan Dharma. Pada saat itu ada seorang bramin
yang miskin dalam kerajaannya yang bernama Dandadhara,
ia meminjam seekor lembu jantan dari tetangganya untuk
melakukan pekerjaannya. Ketika dia mengembalikan lembu
jantan itu, perumah tangga itu sedang makan, sehingga
brahmin itu meletakkannya di lumbung. Lembu jantan itu
keluar dan berkeliling. Ketika perumah tangga itu
telah menyelesaikan makannya dia pergi ke lumbung
untuk melihat lembu jantan itu, tapi lembu itu telah
pergi. Dia segera pergi ke rumah brahmin itu dan
bertanya kemana lembu jantannya berada. Brahmin itu
berkata bahwa dia telah meletakkannya di lumbung.
Perumah tangga itu berkata: "Engkau menghilangkan
lembu jantanku. Saya mau lembu itu kembali.' Brahmin
itu menjawab: 'Saya telah mengembalikan lembu
jantanmu. Di mana lagi engkau mau memaksa saya
mencarinya?' Brahmin dan perumah tangga itu
beragumentasi dan bertengkar, dan akhirnya memutuskan
untuk membawa kasus ini kepada raja. Mereka memulai
perjalanan mereka dan segera mereka menemukan kuda
yang kabur. Pemilik kuda itu berteriak kepada Brahmin
Dandadhara untuk menunggangi kuda itu kembali, dan
brahmin itu membuang sebuah batu kearahnya, yang
memincangkan kakinya. Pria itu berkata: 'Mengapa
engkau melepar batu dan melumpuhkan kudaku? Engkau
harus membayarnya.' Brahmin itu berkata: 'Mengapa saya
harus membayarmu untuk kuda itu? Biarlah kita membawa
hal ini kepada raja dan biarkan dia memutuskan.'
"Brahmin itu kemudian menjadi ketakutan,
melarikan diri dari yang lainnya, dan memanjat ke atas
lumbung bertingkat tiga, didalamnya ada seorang pria
yang sedang menenun. Dia jatuh ke dalam lumbung,
menimpa pria itu sampai mati. Istri penenun itu
menangkap brahmin itu dan berteriak: 'Engkau telah
membunuh suamiku. Sekarang engkau harus membawanya
kembali hidup!' Brahmin itu berkata: 'Siapa yang dapat
membawa seorang pria yang telah meninggal kembali
hidup? Biarlah kita pergi menghadap raja dan
biarkanlah dia yang memutuskan hal ini.' Ketika mereka
sedang berjalan, mereka tiba di sebuah sungai besar
yang membelah jalan itu dan melihat seorang tukang
kayu turun ke bawah. Dia sedang membawa kampak
dimulutnya. Brahmin itu bertanya kepada pria itu
seberapa dalam air itu, dan ketika tukang kayu itu
menjawab bahwa sungai ini sangat dalam, dia
menjatuhkan kampaknya dan kehilangan kampak itu dalam
air. Dia kemudian memberitahu brahmin bahwa dia harus
membayar kampaknya. Brahmin Dandadhara berkata: 'Bukan
saya yang menjatuhkan kampak itu. Mengapa saya harus
membayarmu? Datang, marilah kita menanyakannya pada
raja dan mematuhi apa keputusannya.'
"Ketika mereka pergi, brahmin menjadi lelah
dan haus. Dia masuk ke sebuah toko penjual anggur dan
meminta minum. Salah satu putra penjual anggur itu
sedang mabuk dan terbaring di lantai. Brahmin tidak
sengaja duduk diatasnya, pria itu terengah-engah,
tercekik oleh jubahnya dan mati tersendak. Ibunya
merenggut bramin itu dan berteriak: 'Engkau telah
membunuh putraku: Engkau harus mengembalikan
hidupnya!' Brahmin itu menjawab: 'Saya tidak membunuh
putramu dan saya tidak dapat mengembalikan yang mati
menjadi hidup. 'Marilah kita pergi ke raja dan biarkan
dia yang memutuskan hal ini. 'Mereka pergi dan tiba di
sebuah pohon sakotaka di mana seekor gagak bertengger.
Ketika gagak itu melihat Dandadhara memimpin semua
orang, gagak bertanya kepadanya kemana dia akan pergi.
Brahmin itu berkata: 'Gagak, saya tidak memiliki
pilihan. Saya tidak melakukan apapun yang salah, tapi
orang-orang ini memaksaku untuk pergi. 'Gagak itu
berkata: 'Sangat baik, tapi saya bertanya kepadamu
kemana engkau akan pergi. 'Brahmin itu bilang bahwa
mereka akan pergi menghadap raja, gagak itu berkata:
'Dalam kasus ini, beritahu raja hal berikut: seekor
gagak bertengger di atas pohon sakotaka. Ketika dia
bertengger disana, suaranya sangat indah tetapi ketika
dia pergi ke pohon yang lain, suaranya menjadi tidak
menyenangkan. Mengapa demikian?'
"Melanjutkan perjalanan, mereka datang kepada
seekor ular besar dan berkata: 'Brahmin, tanyakanlah
kepada raja mengapa, ketika saya meninggalkan
lubangku, saya senang, tetapi ketika saya memasukinya
kembali, saya tidak senang.' Segera mereka bertemu
dengan seorang wanita muda yang berkata: 'Brahmin,
tanyakanlah pada raja mengapa ketika saya berada di
rumah orang tuaku, saya ingin pergi ke rumah mertuaku,
tapi ketika saya berada disana, saya ingin kembali ke
rumah orang tuaku.'
"Akhirnya mereka datang kepada raja. Ketika
mereka menunduk kepadanya dan duduk, raja bertanya:
'Apa alasan dari kedatangan kalian?' Semua orang
memberikan keluhan mereka. Kemudian raja berkata
kepada Dandadhara: 'Apakah engkau mengembalikan lembu
jantan itu ke tangan perumah tangga atau engkau
membiarkannya hilang?' Brahmin itu berkata: 'Ketika
saya mengembalikan lembu jantan itu perumah tangga
sedang makan, dan saya tidak memberitahu dia bahwa
saya telah membawanya kembali. 'Raja memerintahkan:
'Potonglah lidah Dandadhra karena dia tidak
memberitahu dan congkellah mata perumah tangga karena
dia melihat lembu jantan itu dan tidak merawatnya.
'Perumah tangga itu berkata: 'Dandadhara telah mencuri
lembu jantanku dengan mudah dan mataku harus
dicongkel? Ini sangatlah tidak adil!'
"Pria selanjutnya berkata: 'Yang Mulia,
Dandadhara melumpuhkan kuda betinaku. 'Ketika brahmin
ditanya bagaimana dia melakukan hal ini, dia berkata:
'Yang Mulia, ketika saya sedang dalam perjalanan, pria
ini berteriak kepadaku untuk membawa kudanya yang
telah kabur kembali. Saya melempar sebuah batu padanya
dan melumpuhkannya. 'Raja berkata: 'Dalam kasus ini,
potonglah lidah pria yang berteriak untuk mengejar
kuda dan potonglah tangan Dandadhara yang melempar
batu. 'Pemilik kuda berkata: 'Kudaku telah dilumpuhkan
dan sekarang lidahku harus dipotong? Hal ini tidak
adil!'
"Kemudian tukang kayu berkata: 'Yang Mulia,
ketika saya sedang terburu-buru melewati air dengan
kampak dimulutku, brahmin ini bertanya kepadaku
tentang kedalaman air itu. Ketika saya menjawabnya,
saya menjatuhkan kampakku dan menghilangkannya.' Raja
berkata: 'Secara normal, orang membawa barang-barang
dengan tangan mereka. Ketika mereka membawa
barang-barang dengan gigi mereka, hal seperti itu akan
terjadi. Gigi depan tukang kayu itu akan dicabut, dan
brahmin karena dia bertanya tentang kedalaman air,
lidahnya akan dipotong. 'Tukang kayu itu berkata:
'Dandadhara telah menyebabkan saya kehilangan kampakku
dan sekarang saya harus kehilangan gigiku? Pastilah
ini tidak adil!'
"Kemudian wanita yang menjual anggur
berbicara: 'Yang Mulia, Dandadhara membunuh putraku.'
Brahmin itu menjawab: 'Saya kelelahan dan haus
kemudian meminta anggur. Ketika saya duduk, saya tidak
melihat anak laki-laki itu yang sedang terbaring di
lantai dalam keadaan tidak sadar. Saya duduk diatasnya
dan dia meninggal. 'Raja berkata: 'Ini kesalahan
wanita ini telah menutup kepala anak itu. Dandadhara
bersalah membunuh anak itu. Kalian berdua harus
menikah dan melahirkan putra yang lain. 'Wanita itu
berkata: 'Dandadhara membunuh putra kandungku dan
sekarang saya dipaksa untuk menikah dengannya?
Benar-benar tidak adil!'
"Kemudian istri penenun menyampaikan
keluhannya. Brahmin berkata: 'Saya memiliki banyak
musuh dan merasa ketakutan dan saya memanjat ke atas
atap sebuah lumbung, kehilangan pijakanku dan jatuh
menimpa penenun itu dan dia meninggal.' Raja berkata:
'Dalam kasus ini engkau harus menjadi suami wanita ini
juga. 'Wanita ini berkata: 'Bagaimana hal ini bisa
dikatakan adil? Pertama brahmin ini telah membunuh
suamiku, kemudian saya harus menikahinya!'
"Ada juga dua orang wanita yang sedang
bertengkar kepemilikan seorang putra. Ketika mereka
memohon kepada raja untuk suatu keputusan, dia dengan
bijaksana berkata kepada mereka: 'Masing-masing dari
kalian memegang salah satu lengan anak ini dan tarik.
Siapapun yang lebih kuat akan memiliki anak itu.'
Seorang wanita tidak memiliki pikiran akan hidup anak
itu dan menariknya dengan kuat. Wanita yang lain
karena takut melukai anaknya ia lemah lembut. Melihat
ini, raja berkata kepada wanita pertama: 'Ini bukanlah
anakmu. Ini milik wanita yang lembut terhadapnya.' Ibu
itu kemudian mengambil anaknya dan pergi. Ada juga dua
wanita yang mempertengkarkan segulung pakaian dan raja
menyelesaikannya pertengkaran ini dengan cara yang
sama.
"Kemudian Dandadhara berkata kepada raja itu:
'Yang Mulia, ketika orang-orang ini membawa saya
kesini, seekor ular memintaku untuk menanyakan
kepadamu mengapa dia merasa damai ketika dia
meninggalkan lubangnya tetapi sakit ketika dia kembali
lagi. 'Raja berkata: 'Beritahu ular itu bahwa ketika
dia keluar dari lubangnya dia lapar dan tidak marah,
tetapi ketika dia telah makan dan diganggu oleh
burung-burung, dia merasa sakit dan lelah, oleh karena
itu tidak senang ketika kembali ke lubangnya. Beritahu
dia untuk menghindari diri dari kemarahan ketika dia
mencerna makanannya maka ketika dia masuk dan keluar
akan sama saja.'
"Dandadhara kemudian memberitahu raja apa
yang wanita muda itu tanyakan dan raja menjawab:
'Beritahu wanita muda itu bahwa ketika dia di rumah
mertuanya, dia memikirkan orang tuanya, dan oleh
karena itu dia ingin kembali ke rumah. Ketika dia di
rumah orang tuanya, dia memikirkan suaminya dan ingin
pergi dengannya. Jika dia tinggal di suatu tempat dan
merelakan salah satunya, dia akan bahagia dan tenang.'
"Kemudian Dandadhra memberitahu raja mengenai
gagak. Raja berkata: 'Beritahu gagak itu bahwa ada
emas di bawah pohon sakotaka dan oleh karena itu
suaranya indah. Karena di sana tidak ada emas di bawah
pohon yang lain, suaranya tidak bagus ketika dia
bertengger disana.'
"Kemudian raja berkata: 'Oh, Dandadhara,
engkau telah terjerat oleh banyak ketidakberuntungan,
tapi saya memaafkanmu. Engkau ambilah emas yang berada
di bawah pohon itu, bebaskan dirimu dari kemiskinan,
dan hiduplah dengan melakukan perbuatan baik.
'Berdasarkan perkataan raja, Dandadhara mengambil
emas, menjadi makmur, dan tinggal dengan bahagia
selama kehidupannya.
"Ananda, pada saat itu saya adalah raja itu.
Brahmin yang baru saja engkau tanyakan adalah
Dandadhara. Seperti sebelumnya saya telah
menyelamatkan dia dari penderitaan, memberikannya
kekayaan dan menyebabkan dia bahagia, sekarang ketika
saya telah mencapai Penerangan Sempurna, saya kembali
membuatnya bahagia dengan memberikannya harta berharga
Dharma."
Ketika Buddha telah berkata demikian, Yang
Mulia Ananda dan kumpulan besar berkeyakinan dan
bermudita cita.
-----------------------------------------------------
Jika Ingin menyebarkan Naskah ini, mohon mencantumkan
sumber dan pengalih bahasa
Sumber:
Sutra of the Wise and the Foolish [mdo mdzangs blun]
atau
Ocean of Narratives [uliger-un dalai]
penerbit:
Library of Tibetan Works & Archieves
Alih Bahasa Mongolia ke Inggris:
Stanley Frye
Alih Bahasa Inggris ke Indonesia:
Heni [Mhsi Universitas Indonesia]
Editor:
Junaidi
Kadam Choeling Bandung
ps: masih dlm proses edit, maaf jika masih ada
kesalahan
------------------------------------------------------
J u n a i d i
Dept. of Information Technology
PT. Tiara Gaya Arga Kencana
Paint, Road Marking, & Epoxy Manufacturer
Jl. Cimareme No. 185 A Padalarang, West Java - Indonesia
Phone: +62 22 665 1515 [ hunting ]
Fax.: +62 22 665 6555
Mobile: +62 856 219 8835 / +62 911 80 855 / +62 707 87 555
--------------------------------------------------
http://joened.blogspot.com
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/