Kamis, 14 Juli 2005

Kebisuan di Tengah Arus Globalisasi

Depok, Kompas - Globalisasi melahirkan situasi yang dilematis. Di satu sisi masyarakat dituntut mampu mengikuti arus globalisasi dunia agar tidak terpinggirkan, namun di sisi lain globalisasi justru dikhawatirkan mengancam kehidupan masyarakat miskin dan menimbulkan penyeragaman budaya.

Di tengah dilema semacam ini, peran ahli antropologi diharapkan dapat memberikan kontribusi agar perbedaan budaya lokal masyarakat di seluruh penjuru dunia tetap dihargai. Sayangnya, di tengah arus globalisasi itu, para ahli antropologi cenderung dinilai berada dalam kebisuan dan kurang memberikan kontribusi berupa gagasan-gagasan dalam menciptakan tatanan dunia yang lebih adil dan sejahtera.

Dalam simposium internasional Jurnal Antropologi Indonesia di Kampus Universitas Indonesia (UI) Depok, 12-15 Juli 2005, gugatan semacam ini sempat mencuat ke permukaan. Menko Kesra Alwi Shihab yang tampil di awal acara juga ikut melontarkan kritik. Sebab, ”Globalisasi merupakan realitas yang tidak dapat ditolak,” katanya.

Menyikapi hal ini, Amri Marzali—ahli antropologi dari UI—melihatnya sebagai sebuah otokritik. ”Kebisuan ahli antropologi ini tentu disebabkan oleh sesuatu yang tidak beres pada ilmu antropologi yang mereka terima. Mereka tidak mampu membuat antropologi relevan bagi Indonesia,” tuturnya.

Ia mencontohkan, ketika Indonesia terpuruk ke dalam krisis multidimensi antara 1997-2002, banyak peristiwa sosial-politik yang sebenarnya meminta perhatian para ahli antropologi. Sebutlah seperti kerusuhan massal di Jakarta pada Mei 1998 atau konflik antara suku Madura dan Dayak di Kalimantan. Bahkan, tambahnya, hingga kini orang mudah terpicu berdemonstrasi.

”Banyak pakar ilmu sosial yang menganalisis dan memberi jalan keluar atas peristiwa-peristiwa itu, tapi tidak ada ahli antropologi yang berbicara dan memberikan solusi agar bisa keluar dari krisis sosial,” ujar Amri Marzali.

Padahal, lanjutnya, semua orang seolah menunggu pendapat para ahli antropologi, karena semua masalah sosial itu dinilai berakar pada budaya.

Menurut dia, antropologi makin dipojokkan ke dalam suatu masa krisis yang serius di tengah berbagai fenomena global, seperti postmodernitas, globalisasi, kemajuan teknologi informasi, industrialisasi, fundamentalisme agama, konflik etnis, kelaparan, urbanisasi, degradasi moral, dan perubahan pola institusi keluarga. ”Antropologi masuk ke dalam suatu masa krisis yang serius, terancam terpinggirkan dan tidak berguna,” ujar Amri.

Dalam simposium, berbagai hasil penelitian antropologi juga dipresentasikan, mulai hal yang terkait desentralisasi, politik, kesenian, lingkungan hidup, gaya hidup, isi tayangan televisi hingga kekerasan dalam masyarakat. Salah satu ruang diskusi, misalnya, membahas tentang pelestarian lingkungan dan sumber daya alam, seperti hutan, secara berkesinambungan dengan berlandaskan kearifan lokal masyarakat setempat. (evy/ine)


Start your day with Yahoo! - make it your home page

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke