Ada yang tau, buku ini sudah dijual dimana? Thanks Yusli
-----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of - Sent: Thursday, July 14, 2005 2:44 PM To: [email protected] Subject: [Dharmajala] Ke Tibet , mereka pergi SUARA PEMBARUAN DAILY ---------------------------------------------------------------------- ---------- Ke Tibet, Mereka Pergi TIBET? Berapa banyak orang Indonesia yang tahu negara itu ? Aha, dalam versi Republik Rakyat Cina (RRC), Tibet bukan sebuah negara. Tibet hanya bagian dari RRC. Tapi bagi sebagian besar rakyat Tibet, apalagi yang masih mengakui Dalai Lama sebagai pimpinan negara dan spiritualnya, Tibet milik Tibet. Tindakan RRC mengklaim dan memang mengirimkan pasukannya ke Kota Lhasa puluhan tahun lalu, adalah pencaplokan. Tibet. Negeri di atas awan. Negeri impian para petualang fisik maupun spiritual. Bagian pegunungan Himalaya yang masuk wilayah Tibet seakan magnet kuat bagi banyak kalangan di dunia. Tidak perlu heran, jika banyak di antara pelancong ke Tibet, harus bersusah payah menyesuaikan cuaca yang berbeda dengan cuaca di negeri asalnya. Tidak sedikit yang harus pulang ke negerinya sebelum bisa menikmati keindahan Tibet hanya karena tipisnya oksigen di negeri itu. Tapi semua kesulitan itu, tapi semua cerita tentang keindahan dan dunia spiritual Tibet itulah yang membetot enam pencatat dan peziarah asal Indonesia mau bersusah payah bergerak menuju Tibet. Mereka, Yori Antar, Raudia Kepper, Enrico Soekarno, Jay Subyakto, Krish Suharnoko dan Ella Ubaidi. Mungkin hanya ada satu kesamaan di antara mereka. Selebihnya, mereka mempunyai profesi masing-masing. Mereka memang ingin mengetahui, duhai gerangan, seperti apakah Tibet itu. Apa yang sebenarnya terjadi di negeri itu. Yori dan Krish adalah arsitektur. Jay, siapa pula yang tidak tahu pria berambut panjang ini. Ia sutradara video musik. Enrico, seorang seniman yang sering mengadakan pameran foto, gambar, lukisan di berbagai negara. Hasil penjelajahan ke enam penziarah itu - meminjam istilah Enrico - dituangkan dalam sebuah buku memikat bertajuk, Tibet di Otak. Buku penuh foto, dokumentasi perjalanan yang penting diketahui siapa pun yang ingin mengetahui Tibet. Keenam pencatat itu harus berpacu dengan waktu, berjuang melawan dingin dan rasa sedih di hati menyaksikan Tibet yang merana akibat nafsu kekuasaan negara tetangganya. Mereka berencana akan menyumbangkan semua keuntungan penjualan bukunya untuk rakyat Tibet. Jangan kaget jika membaca kata pengantar karya Dalai Lama dalam buku itu. Tokoh perjuangan Tibet yang sekarang harus meninggalkan negerinya itu, menulis tentang hubungan erat antara Tibet, Buddha, dan Indonesia di masa lampau. Menurutnya, ribuan tahun lalu, tentu saja sebelum Indonesia berdiri, tokoh spiritual Buddha yang besar jasanya bagi pengembangan agama Buddha di Tibet, Atisha Dipankara, menuntut ilmu ke wilayah yang sekarang menjadi bagian Indonesia. Ia tinggal dan belajar agama Buddha di Sumatera pada seorang guru spiritual bernama Dharmakirti. Dharmakirti, menurut Dalai Lama ialah, Lama Serlingpa yang sangat dihormati warga Tibet. Dalam catatan keenam pencatat itu, Tibet dilanda culture genocida, istilah yang mulai dipopulerkan para aktivis HAM saat ini yang mengandung arti, penghancuran budaya. Jejak-jejak penghancuran kekayaan budaya Tibet itulah yang mendominasi foto, lukisan dan catatan keenam penziarah itu. "Duh, Istana Potala di Lhasa yang terkenal itu nyaris tidak kami temukan. Sekarang banyak toko-toko suvenir di kawasan itu. Mengenaskan. Tibet telah dihancurkan tapi kami yakin Tibet akan menemukan jalan lain yang menyenangkan," kata Yori di tengah-tengah peluncuran buku Tibet di Otak. (A-14) ---------------------------------------------------------------------- ---------- Last modified: 21/4/05 ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
