Rabu, 20 Juli 2005

Demi Anak, Mereka Terjerat Rentenir

Oleh: Khairina

Okta Kurniawati (7) meronta-ronta dan menangis sekeras-kerasnya di pangkuan ibunya, Cici (41). Bocah berambut sebahu itu merajuk, minta dibelikan tas sekolah baru. Bagi Okta yang baru diterima sebagai siswa salah satu SD negeri di Kelurahan Pesawahan, Bandar Lampung, sekolah baru berarti juga baju seragam baru, tas sekolah baru, dan sepatu baru.

Lho Nduk, tasnya kan masih bagus. Tuh warnanya merah sama merah jambu. Masak kayak gitu dibilang jelek sih,” ujar Cici sambil menunjuk dua tas yang baru dicuci bersih.

”Aku enggak mau Bu, aku mau beli yang baru. Tas itu sudah jelek,” kata Okta meraung. Cici yang kewalahan menenangkan anaknya terpaksa memberi uang kepada Okta Rp 5.000 dengan harapan bocah itu bisa berhenti menangis.

Okta wajar menangis. Menurut Cici, dua tas sekolah itu bekas pakai Puspitasari (10), kakak Okta yang kini duduk di kelas V SD. Tidak hanya tas, Okta juga memakai baju seragam dan sepatu bekas kakaknya.

”Yang penting bersih, tidak harus baru. Lha wong mau bayar sekolah saja saya terpaksa pakai uang panas kok,” tutur Cici, warga Gudang Agen, Pesawahan, Teluk Betung, Bandar Lampung.

Dia lantas berkisah, untuk memasukkan Okta ke sebuah SD negeri di Pesawahan, dia harus membayar Rp 150.000.

Uang itu, tutur Cici, untuk membayar seragam olahraga serta dua buku paket, yakni buku Matematika dan buku Olahraga. Orangtua siswa diminta membayar uang pangkal itu paling lambat Senin (18/7) atau hari pertama masuk sekolah.

Cici yang berprofesi sebagai tukang cuci keliling dengan penghasilan Rp 100.000 per bulan jelas kewalahan membayar uang sebesar itu. Apalagi suami Cici, Rusli (45), hanya bekerja sebagai pengayuh becak dengan penghasilan Rp 8.000 per hari.

Utang ke rentenir

Cici pun terpaksa berutang kepada rentenir keliling atau yang dia sebut sebagai ”uang panas”. Bunga yang ditetapkan rentenir tersebut sebesar 30 persen dari pinjaman pokok, dengan jangka waktu sebulan. Cici, yang meminjam Rp 100.000 untuk membayar uang sekolah Okta, terpaksa harus membayar Rp 130.000 saat jatuh tempo nanti.

”Saat itu saya berharap sudah mampu membayar utang berikut bunganya. Semoga saja ada yang mau membantu,” ujar Cici.

Kartisah (42) juga terpaksa berutang Rp 50.000 kepada rentenir keliling. Kartisah harus membayar uang pangkal untuk anaknya sebesar Rp 150.000.

Anak kelima Kartisah, Septika Andriani (7), diterima di sekolah yang sama dengan Okta.

”Saya tidak tega. Septika lulus tes masuk SD itu. Namanya tercantum sebagai murid yang lulus tes. Padahal, banyak yang ingin sekolah di sana,” ucap Kartisah yang tidak mampu menyembunyikan rasa bangganya.

Setelah Septika diterima, Kartisah pusing tujuh keliling mencari uang untuk melunasi uang pangkal sekolah Septika dan melunasi utang kepada rentenir. Utang sebesar Rp 50.000 itu kini berkembang menjadi Rp 65.000. Suami Kartisah, Amran (47), hanyalah buruh nelayan dengan penghasilan pas-pasan.

Kesulitan keuangan juga membuat Illa (28) tidak jadi menyekolahkan Erwin (7), putra keduanya, ke SD. Illa mundur begitu mengetahui biaya pendaftaran mencapai Rp 150.000.

Suami Illa, Samsudin (40), adalah buruh nelayan dengan penghasilan Rp 15.000-Rp 20.000 per hari. ”Saya bukannya enggak mau, tapi membayar Rp 150.000 itu berat sekali. Apalagi saya sudah mau melahirkan. Biarlah Erwin tahun depan saja, kalau ada rezekinya,” ujar Illa.

Bebas uang pangkal

Pendidikan gratis yang didengung-dengungkan pemerintah nyatanya belum menjangkau Okta, Septika, Erwin, dan anak-anak buruh nelayan lainnya. Meskipun beberapa sekolah sudah menerapkan bebas uang pangkal, seperti yang dialami oleh Yadi Saputra (13), Feni Kusumawati (14), dan Saputri Oktavianingsih (14), orangtua mereka tetap harus menyiapkan sejumlah uang untuk berbagai iuran dan keperluan sekolah.

Uang buku, uang lembar kerja siswa, uang komputer, uang pramuka, uang seragam sekolah, uang baju olahraga, dan uang kas kelas hanyalah sebagian dari biaya yang harus dibayar para buruh nelayan, atau mereka yang penghasilannya pas-pasan, untuk sekolah anak-anaknya.

Mereka yang berpenghasilan hanya Rp 15.000-Rp 20.000 per hari juga masih harus menyisihkan sejumlah uang untuk transportasi serta jajan anak-anak tersebut. Oleh karena itu, jangan heran jika anak-anak di Gudang Agen umumnya pergi ke sekolah dengan baju seragam bekas, sepatu sekolah bekas, dan tas sekolah bekas.

Buku pelajaran pun, kata Saputri, kalau bisa juga bekas agar tidak terlalu memberatkan orangtua.

”Meski semua bekas, semangatnya baru. Yang penting kami ingin sekolah,” ujar Saputri yang harus berjalan kaki sejauh tiga kilometer ke sekolahnya.

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke