Rekan-rekan Dharmajala,
Seperti pernah saya lontarkan di millist ini bahwa dalam era berkembangnya agama Budha maka membangun vihara merupakan karma yang sangat tinggi, tapi di dalam era penurunan agama Budha maka usaha mempertahankan dan menambah orang yang mengakui pentingnya kebenaran yang diajarkan Sang Budha menjadi karma yang sangat tinggi (disini tentunya mendirikan sekolah Budhist, , dana sosial , bakti sosial untuk memberi contoh konkrit dalam praktek Dhamma termasuk bagian kedua). Akan tetapi di kalangan umat Budha masih banyak yang beranggapan berdana membangun vihara di tempat yang viharanya sudah banyak merupakan berdana yang pakling tepat. Memang betul di daerah-daerah tertentu yang viharanya sudah reot, mau ambruk dan kondisi-kondisi buruk lainnya, berdana membangun, memperbaiki vihara merupakan usaha yang sangat tinggi manfaatnya karena vihara semacam ini akan memberi tempat bagi oang yang mencari kebenaran. Karakter semacam ini rasanya memerlukan waktu yang lama untuk mengubahnya (tentunya perlun kita ubah, tidak boleh berputus asa karenanya). Karena hal ini saya mempunyai pemikiran lain yang akan saya kemukaakan dibawah ini, tapi untuk itu saya ingin memberi latar belakang pemikiran tersebut. Alasan saya begini:
Kalau ada seorang pasien ke dokter, katakana sakit maag berat, dokter memberi obat yang harus dimakan sebelum makan, juga menganjurkan makan bubur sedikit-dikit tapi sering dan anjuran lain, pada mumnya semua anjuran dokter tersebut dituruti. Demikian juga untuk berbagai penyakit lain, pada umumnya si pasien mau menuruti nasihat seorang dokter, mengapa demikian ?. Kalau anda renungkan, jawabannya simple yaitu karena dari pengalaman, nasihat dokter itu terbukti benar, ada bukti berulang sehingga timbul kepercayaan terhadap orang yang berprofesi dokter.
Marilah kita tinjau orang yang beragama. Hampir semuanya yang dikatakan kitab suci diterima karena kepercayaan baik itu kitab suci agama Kristen, Katolik, Islam, Hindu maupun Budha. Jadi kepercayaan yang diyakini oleh umat itu sebetulnya hanya bergantung pada seutas rambut, bila hal ini tidak benar maka manusia itusebetulnya telah mensia-siakan semua kesempatan yang dipunyainya selama hidup di dunia ini. Untuk agama Budha anda masih bisa mengangkat kepala karena rambutnya masih jauh lebih besar; karena banyak pernyataan-pernyataan dalam agama Budha yang bisa diamati oleh manusia di hidupnya ini, misalnya kesunyataan anica, masih bisa dibuktikan, karena itu saya mengatakan rambutnya jauh lebih besar. Akan tetapi sebagian besar masih juga dasarnya kepercayaan, misalnya karma, emangnya anda pernah melihat sendiri akibat dari suatu perbuatan ? gak mampukan melihat hal ini ?. Ada perbedaan lagi dengan agama lain. Kalau dalam agama lain kebergantungan itu secara teoritis akan tetap sebesar rambut walaupun anda semangkin dekat ke surga. Tidak ada satupun yang menjamin bahwa kebenaran yang tertulis di kitab suci mereka akan semangkin kelihatan jika kita mendekati surga. Di agama Budha berbeda, secara teoritis semangkin mendekati nibana, rambut tadi semangkin besar, semangkin kuat. Saya katakana secara teoritis karena saya sendiri belum pernah mengalaminya. Mengapa saya bilang demikian ?. Karena katanya bila anda bermeditasi secangih Sang Budha maka apa yang dikatakan Sang Budha akan bisa diperoleh. Sayangnya sebagian besar umat Budha masih jauh sekali dari kondisi ini sehingga boleh dikatakan mereka menerima agama Budha itu masih berdasarkan kepercayaan, masih bergantung setebal rambut !!.
Dengan mempertimbangkan cerita si pasien percaya pada ucapan dokter dan cerita seujung rambut ini maka saya mengusulkan agama Budha itu dibuktikan dengan peralatan-peralatan modern. Mungkin dimulai dari meditasi, hasil-hasil meditasi itu dinyatakan dalam simbol-simbol yang bisa dilihat oleh manusia. Bila ada sistematiknya saya kira orang akan lebih mempercayai meditasi. Getaran yang bagaimana yang ditimbulkan oleh rasa cinta kasih dan apa akibatnya. Kebencian itu mengakibakan apa dan apa bedanya dengan getaran cinta kasih dan lain-lain fenomena. Kalau hal semacam ini bisa ditunjukan dengan simbol-simbol yang bisa dilihat kemungkinan besar orang akan mempercayai semua yang tertulis di Tripitaka dan mematuhinya, ehipasiko yang tertulis itu bisa betul-betul direalisasikan di kalangan umat awam yang masih dangkal pemahamannya. Untuk usaha semacam ini diperlukan dana dan kesediaan pengorbanan para bikhu yang sudah tinggi ilmunya, mereka bukannya menyendiri ke hutan melainkan ke kota dimana terdapat alat-alat modern. Kalau hal ini berhasil saya kira jamji para bodhisatva yang tidak akan ke nibana sebelum semua mahluk ke nibana dapat direalisasikan dengan lebih cepat.
Semoga pemikiran ini bermanfaat bagi kita semua.
Kreshna
pelayan_buddha <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
--- In [EMAIL PROTECTED], "pelayan_buddha" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dear Bro n Sis,
Sekuntum teratai untuk anda semua, para calon Buddha.
Numpang nimbrung.
Kalo ngomong-ngomongnya udah selesai dan udah ada tekad kuat mau
bertindak, maksud saya, betul-betul bertindak secara nyata, saya mau
daftar ikutan.
Salam Perjuangan
JL
--- In [EMAIL PROTECTED], "anthony_muliadi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> LUAR BIASA ini baru pemikiran yang maju (posting Palm
> Spring)....bukan hanya berteriak dibelakang tapi tanpa tindakan,
> monoton...lihatlah manajemen, visi, metoda...intinya SISTEM yang
> harus dirubah...jangan menutup mata trus buka mata lebar-lebar anda
> sudah tertinggal jauh sekali....
>
> apakah umat Buddhist ada yang sadar, agama double K***** sudah
> mengakar di Indonesia ??? saya pernah bertemu beberapa teman saya
> dan rata-rata agama K***** ketika berbicara ia menyinggung agama,
> pertanyaan mereka simple tapi kena sasaran...ANDA GEREJA MANA ???
> anda lihat...seakan akan di masyarakat ada paradigma, bahwa
> sebagaian besar masyarakat adalah agama K******
>
> apakah seminar/talk show bermanfaat sekali ??? diselenggarakan di
> Hotel super bintang 100 biaya masuk tinggi Rp. 1Juta, apakah Dhamma
> itu hanya untuk orang kaya ??? apa motovasinya -> Nyari Duit...dan
> lebih terkesan omong kosong (saya setujuh dengan PS) ga perlu lah
> itu...tapi tunjukan lah dengan sikap peduli anda, sikap mau
> melayani, membantu....jangna hanya pas ada BAKSOS....BAKSOS...itu
> hanya cari muka....knapa sehari-hari anda saja tidak mau berdana,
> tapi ketika BAKSOS.....dana berlimpah-limpah...bisa anda berian ke
> tetangga anda ketika ia mengalmai kesusahan, hibur, layani
> mereka...ini lah ang harus dilakukan karena orang merasa dirinya
> diangkat dan masih dihargai -> itu lah kunci dari agama K********
> (karena saya pernah mempelajari)
>
> jadikan lah hal ini renungan, jika anda tidak mau merubah SISTEM
> jangan salah kan sapa-sapa diekmudian hari jika BUDDHA DHAMMA
> ditinggalkan...jangan pasrah...jika mau kita bisa....
>
> salam metta,.....Surat sejenis tidak saya muat sesuai dengan anjuran para pengelola Millist ini supaya memperkecil bandwidth
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
