pelayan_buddha <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
--- In [EMAIL PROTECTED], Moggalana by way of <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dari: "Moggalana" <[EMAIL PROTECTED]>
Ikutan Nimbrung ya,
Saya mau berbagi pengalaman dikit aja, ketika saya mencoba ingin
mengajarkan meditasi kepada putri saya yang kala itu berusia 12
tahun, kenapa saya ingin meencoba mengajarkannya, karena sebelumnya
dia sudah senang membaca bacaan tentang Buddha, riwayat Sidharta,
cerita Jataka dsb...kelihatannya dia sepertinya mulai tertarik ke
agama Buddha, lain sekali dengan Putra saya satunya yang tidak
tertarik sama sekali.
Mula-mula saya memberikan sedikit pengetahuan mengenai meditasi,
tentunya yang sangat basic aja...dia pun tertarik, ketika saya ajak
berlatih, dia pun mau...tapi begitu berselang sekian menit aja, dia
pun mulai mengeluh, " bosen pa..., jenuh pa...enakan ini..itu..."
segala teori maupun kesabaran saya telah coba untuk mengajaknya
kembali berlatih...lama-lama bukan dia makin tertarik, malah
akhirnya dia sudah tidak mau mebaca buku-buku Buddha lagi, sambil
mengeluh, " membosankan, menjemukan, tidak menarik sama sekali,
enakan di sekolah( katholik ) ada ini, itu.. dst..dst.."
Tentu, yang salah adalah saya, karena mungkin saya terlalu
memaksakan kehendak, saya lupa bahwa putri saya juga mempunyai alam
pikir yang berbeda..lagian..dia masih dalam dunia ANAK-ANAK yang
penuh fantasi yang selalu masih ingin BERMAIN...dan MASIH BELUM SAAT
nya untuk diajak SERIUS.
Lain hal nya ceritanya misalnya dengan anak-anak dari umat Islam
yang ditaruh disekolahan Madrasah misalnya yang mana diPAKSA belajar
mengaji sambil diawasi dengan Pemecut...ato seperti di film-film
Kung Fu dimana-anak-anak dalam kuil Shao Lim dilatih dengan super
ketat ama Bhiksunya.
Dunia kini telah mengalami perubahan amat drastis, yang mana era
Globalisasi juga telah melanda dunia sehingga adat dan tradisi di
Timur yang lebih condong untuk mengetrapkan kedisiplinan sejak anak-
anak mulai luntur terbawa arus Barat, dimana anak-anak HARUS
menikmati DUNIA FANTASI nya seutuhnya dan sang orang tua tidak
berhak untuk cawe-cawe.
Segala permainan telah menjadi partner baru dan menyita perhatian
anak-anak, bahkan mejadi SANGAT lebih penting daripada lainnya,
bahkan cinta kasih orang tuanya.
Disinilah manusia dewasa harus memutar otaknya lebih keras, agar
bisa merebut kembali perhatian sang ANAK dan harus bersaing ketat
dengan Play Station, Nitendo, Videogames, Computer games etc.
Bro Anthony mungkin bisa melihat bahwa agama K telah mengantisipasi
perkembangan ini sehingga mereka berupaya untuk membuat programm
agar sekolah minggu nya dibikin sedikit menarik, cara mengajarkan
ajaran pun dimodifikasi sedemikian rupa sehingga mampu bersaing
dengan Games...sedangkan di sekolah minggu Buddha masih monoton .."
anak-anak..ayo belajar Pancasila...ayo berlatih meditasi..perhatikan
nafas masuk..keluar...."...ya pasti....bakal pada kabur semua!!
Mungkin bro Anthony ingin menggugah kaum cendekiawan Buddhis,
dedengkotnya Pengurus Vihara Buddhis, jangan cuma bisa nya jor-joran
bangun Vihara megah-megahan..tapi disisi lain, pembinaan umat, mulai
dari SEKOLAH BUDDHIS masih amat-amat langka.
Saya jadi ingat ada sebuah permainan Games PS nya putri saya..yaitu
HARVESTMOON kalo gak salah judulnya, dia bisa asyik bermain seharian
suntuk, sebetulnya isinya juga tidak terlalu jelek-jelek bener,
mereka nenanamkan pengertian, bahwa siap yang rajin bekerja, maka
dia akan menjadi kaya...
Kenapa kok gak ada Umat Buddhis yang memodifikasi Game tsb menjadi,
siapa yang BERBUAT banyak KEBAIKAN maka dia akan menuainya di
kehidupan mendatang yang lebih baik??
Saya pikir, kalau umat Buddhis mau maju dan tetap exist, kita sudah
tidak boleh berdiam diri, harus pandai-pandai mengikuti perkembangan
jaman, tanpa harus meninggalkan ajaran yang ada..tetapi
memodifikasinya...kalo tidak, kita akan slalu ketinggalan kereta.
salam,
M
========================
HUDOYO:
Sharing pengalaman Rekan Moggalana dengan putrinya ini mengingatkan saya
pada seorang ibu yang pada suatu kali berkeras membawa putrinya yang
berumur 12 tahun (duduk di SD) mengikuti retret MMD Akhir Pekan selama 3
hari 2 malam yang bahkan untuk orang dewasa terkenal "keras". Sekalipun
sudah saya peringatkan, ibu itu tetap berkeras membawa putrinya
bermeditasi. Akhirnya sudah bisa diduga sebelumnya: anak itu lebih banyak
tidur di kamar atau jalan-jalan di luar.
Begitu pula pengalaman beberapa tahun lalu ketika rekan-rekan di
Samarinda
mengundang saya untuk membimbing "MMD Akhir Pekan untuk Remaja", yang
diikuti oleh sekitar 15 anak berusia antara 12 - 18 tahun. Sebagian besar
anak-anak itu didorong oleh orang tua mereka, yang tidak mau kalah dengan
orang tua-orang tua lainnya, bukan karena kemauan si anak sendiri. Jadi
sang anak dikorbankan demi kebanggaan orang tua. Hasilnya sudah bisa
diramalkan sebelumnya: retret itu menjadi berantakan.
Di lain pihak ada pengalaman lain yang merupakan "success story": pada
suatu kali, sepasang suami istri mengikuti retret MMD Akhir Pekan membawa
putrinya yang berusia 15 tahun dan duduk di SMP. Sang putri dapat
mengimbangi orang tuanya, duduk diam sampai 1 jam. Mungkin ini yang
dimaksud oleh Rekan Anthony Muliadi dengan "satu di antara seribu anak".
Tapi sebetulnya tidak juga. Setelah saya selidiki, ternyata gadis itu
sudah
terbiasa bermeditasi di rumah bersama kedua orang tuanya. Dan ini sudah
bertahun-tahun dilakukannya.
Dari pengalaman Rekan Moggalana, ada beberapa hal yang perlu saya
komentari:
(1) Menggunakan riwayat Siddhartha muda, cerita Jataka dsb untuk
membangkitkan minat anak-anak pada umumnya pada meditasi kiranya kurang
tepat, malah merugikan. Riwayat-riwayat seperti itu hanya tepat untuk
para
calon bhikkhu yang diharapkan untuk mencapai pembebasan. Jadi jelas angka
kegagalannya besar untuk anak-anak biasa. Meditasi untuk anak-anak harus
dikaitkan dengan dunia anak-anak, yakni dunia tubuh, pancaindra dan
fantasi
mereka.
Secara umum dapat dikatakan mengajarkan meditasi untuk anak-anak dalam
konteks ajaran agama, apalagi konteks Agama Buddha yang mengajarkan
pembebasan, kiranya kurang menguntungkan. Kalau meditasi diajarkan dari
sudut pandang si anak, dari minat dan perhatian si anak, maka saya yakin
PUTRA Rekan Moggalana pun akan tertarik juga pada meditasi, sekali ia
merasakan manfaatnya. (Mengajarkan MMD untuk orang dewasa saja perlu
banyak-banyak dikaitkan dengan manfaat dalam hidup sehari-hari, bukan
untuk
mencapai nibbana.)
(2) Saya sependapat bahwa dunia anak-anak adalah dunia fantasi, dunia
bermain, dan tidak tepat kiranya mengajak anak-anak untuk bersikap serius
merenungkan masalah-masalah yang disadari oleh orang dewasa. Tetapi
jangan
lupa bahwa anak pun bisa SERIUS dalam dunianya sendiri. Inilah yang bisa
kita manfaatkan, mengajarkan meditasi yang relevan dengan dunia
anak-anak.
Kita ingin menghaslkan 'anak yang bermeditasi', bukan "orang dewasa kecil
yang bermeditasi".
(3) Mengajar meditasi pada anak berusia di atas 10 tahun membutuhkan
perhatian, kesabaran dan ketekunan jauh lebih besar dibandingkan dengan
mengajar meditasi pada anak-anak berusia 3-5 tahun atau 6-10 tahun.
Sebabnya ialah karena anak yang besar sudah lebih terbiasa dengan pikiran
yang liar tak terkendali dibandingkan anak yang lebih kecil, sehingga
jauh
lebih sukar untuk belajar diam; tapi bukan mustahil.
(4)
>anak-anak HARUS menikmati DUNIA FANTASI nya seutuhnya dan sang orang tua
>tidak berhak untuk cawe-cawe.
>Segala permainan telah menjadi partner baru dan menyita perhatian
>anak-anak, bahkan mejadi SANGAT lebih penting daripada lainnya, bahkan
>cinta kasih orang tuanya.
>Disinilah manusia dewasa harus memutar otaknya lebih keras, agar bisa
>merebut kembali perhatian sang ANAK dan harus bersaing ketat dengan Play
>Station, Nitendo, Videogames, Computer games etc.
===
Lho, kenapa kok orang tua "tidak berhak untuk cawe-cawe"? Saya malah
berpendapat sebaliknya.
Kalau orang tua ingin merebut perhatian sang anak, ia tidak boleh merasa
dan menganggap Play Station, videogames dsb itu sebagai "saingan" atau
"musuh" bagi orang tua. Orang tua harus masuk ke dalam dunia anak-anak.
Orang tua jangan menghakimi Play Station dsb itu sebagai "orang luar".
Orang tua harus mau ikut bermain Play Station, Nintendo dsb bersama
anak-anak mereka. Permainan-permainan itu harus bisa dijadikan konteks
untuk berkomunikasi dengan anak.
Tapi masalahnya: apakah orang tua punya waktu dan minat untuk
melakukan itu
semua? Berapa menit kita menyediakan waktu kita yang "sangat berharga"
bagi
anak-anak kita SETIAP HARI? Malah yang menggejala sekarang ialah
sebaliknya: orang tua menyodorkan permainan-permainan itu kepada anak
supaya ia sendiri bisa bebas dari kewajiban berkomunikasi dengan anak
(yang
membutuhkan waktu tidak sedikit setiap harinya).
Berapa banyak orang tua yang secara psikologis mau dan tidak kikuk untuk
"menjadi anak-anak" kembali--menjadi anak-anak di abad ke-21 yang jauh
berbeda dengan dunia anak-anak ketika mereka sendiri masih kecil
dulu--untuk bisa berkomunikasi secara efektif dengan anak-anak mereka dan
bukan sekadar menuntut anak-anak untuk menjadi "orang dewasa kecil"?
(5)
>Kenapa kok gak ada Umat Buddhis yang memodifikasi Game tsb menjadi,
>siapa yang BERBUAT banyak KEBAIKAN maka dia akan menuainya di
>kehidupan mendatang yang lebih baik??
===
Mungkin games-nya tidak perlu diubah, bahkan games yang penuh
kekerasan pun
tidak perlu diubah dan anak tidak perlu dilarang memainkannya. Yang perlu
adalah: jadikan games itu konteks untuk berkomunikasi dengan anak. Untuk
itu tentu kita HARUS MAU menyediakan waktu kita setiap hari untuk anak
dengan bermain games bersama mereka. Mengubah games agar sesuai dengan
"moralitas Buddhis" tidak ada gunanya, kalau games itu hanya dijadikan
alat
untuk membebaskan orang tua dari kewajiban berkomunikasi dengan anak.
Di Barat ada rating untuk film yaitu "PG" (Parental Guidance), artinya
film
itu mungkin penuh adegan kekerasan tapi boleh ditonton oleh anak-anak
dengan didampingi dan dibimbing oleh orang tua.
***
Kembali kepada masalah meditasi untuk anak-anak, saya sendiri bermimpi,
bahwa pada suatu hari kelak semua sekolah minggu Buddhis di Indonesia
akan
mengajarkan paket meditasi untuk anak-anak. Sekali lagi, paket meditasi
untuk anak-anak(!), karena ingin menghasilkan "anak-anak yang
bermeditasi",
bukan "orang dewasa kecil yang bermeditasi".
Saya sekarang tengah mengumpulkan dan menerjemahkan 'success stories'
mengenai meditasi untuk anak-anak. Saya punya pengalaman mengajar
meditasi
(untuk orang dewasa). Saya ingin berkomunikasi dengan para guru sekolah
minggu yang mempunyai latar belakang pendidikan dan mempunyai banyak
pengalaman dengan anak-anak, untuk mengembangkan sebuah paket meditasi
untuk anak-anak.
Semoga bermanfaat.
Salam,
Hudoyo
--- End forwarded message ---
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
| Religion and spirituality | Spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
