Kompas, Senin, 08 Agustus 2005
ANALISA EKONOMI
Oleh: Faisal Basri
Minggu lalu ada dua berita penting, tetapi kurang bergaung. Pertama, proyeksi penduduk Indonesia 2000-2025 (Kompas, 3 Agustus 2005). Tak seperti proyeksi ekonomi pada umumnya yang kerap melenceng jauh, proyeksi penduduk memiliki tingkat ketepatan yang relatif tinggi. Hal ini disebabkan besaran-besaran yang digunakan dalam model proyeksi ekonomi lebih bersifat sebagai variabel, sedangkan yang digunakan dalam proyeksi penduduk lebih bersifat sebagai parameter.
Hasil proyeksi menunjukkan bahwa dalam 15 sampai 20 tahun ke depan penduduk usia produktif (15-64 tahun) meningkat cukup signifikan, bahkan proporsinya akan mencapai tingkat tertinggi. Sebaliknya, penduduk usia muda (0-14 tahun), khususnya anak balita (0-4 tahun), akan mengalami penurunan secara berarti. Sementara itu, penduduk lanjut usia (di atas 64 tahun) lambat laun akan bertambah walaupun proporsinya masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara maju yang sudah memasuki tahap aging population.
Peningkatan jumlah penduduk dari 205,8 juta jiwa pada tahun 2000 menjadi 273,7 juta jiwa pada tahun 2005 di satu sisi berpotensi menambah kompleksitas masalah, seperti ketersediaan pangan, pengangguran, kemiskinan, urbanisasi, daya dukung alam dan lingkungan, pendidikan, dan kesehatan. Namun, di sisi lain, perubahan komposisi penduduk yang menghasilkan proporsi tertinggi pada kelompok usia produktif merupakan peluang emas bagi Indonesia untuk memacu produktivitas dan daya saing.
Kuncinya ialah bagaimana kita mempersiapkan diri agar penduduk usia produktif yang akan berkiprah 15 sampai 20 tahun ke depan memiliki pendidikan dan keahlian yang memadai, sehat, dan sigap beradaptasi menghadapi gelombang perubahan yang kian cepat dengan topangan information and communication technology (ICT).
Berita kedua ialah tentang pertemuan internasional membahas tujuan pembangunan milenium (Millennium Development Goals/MDGs). Harian ini memuat berita bahwa hampir mustahil
Di tengah pesimisme yang merebak di dalam negeri, menyembul nada yang cukup menghibur dari Jeffrey Sachs, tokoh kunci di balik perumusan MDGs dan pengarang buku The End of Poverty, Economic Possibilities for Our Future. Ia mengatakan kondisi
Jeffrey Sachs benar adanya. Namun, keberhasilan masa lalu tampaknya kian redup karena pascakrisis kita mengalami dimishing marginal returns. Perbaikan ekonomi yang terjadi kalah cepat dengan tambahan jumlah dan kompleksitas masalah yang muncul. Kita kehilangan kreativitas dan inovasi kebijakan. Pemerintahan kian kerap menatap ke masa lalu, misalnya dengan pemikiran untuk mengaktifkan kembali program-program seperti posyandu dan kontak tani. Program-program tersebut terbukti ampuh pada masanya, tetapi niscaya jauh dari memadai untuk menyelesaikan masalah dewasa ini.
Tepat kiranya apa yang dikatakan Mikhail Gorbachev: If what you have done yesterday still looks big to you, you have not done much today.
Berpacu
Sekadar lebih baik dari masa lalu tidaklah cukup. Kita harus mampu berpacu dengan negara-negara tetangga yang maju pesat agar kita secara relatif tak semakin tertinggal. Tengok saja berbagai indikator yang terkait dengan pembangunan sumber daya manusia. Indeks pendidikan kita paling rendah di negara-negara Asia Timur di luar Kamboja dan Laos. Dengan Vietnam saja kita kalah.
Tahun 2005 Indonesia berada di urutan ke-10 dari 14 negara di Asia Pasifik dalam hal kinerja negara dalam mendukung pendidikan dasar. Kita hanya mendapat nilai E (A terbaik dan F terburuk). Sri Lanka saja memperoleh nilai B dan Vietnam C. Berdasarkan data UNESCO, dalam hal kemampuan membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan pun angka kita terendah, ketiganya di bawah 400 (371 untuk reading literacy rate, 367 untuk mathematical literacy rate, dan 393 untuk scientific literacy rate). Bandingkan dengan Thailand yang masing-masing mencapai 431,432, dan 436.
Kita masih saja berkubang dengan persoalan-persoalan di seputar kurikulum yang tak kunjung jelas juntrungannya, soal gedung sekolah yang rusak, masalah guru bantu, dana kompensasi untuk pendidikan, kontroversi ujian nasional, dan segala macam tetek-bengek lainnya.
Kita masih jauh dari menyentuh hakikat pendidikan dan indikator-indikator dasar keberhasilan sistem dan proses pendidikan. Para pejabat dan beberapa tokoh pendidikan sekalipun memandang tak ada yang salah dengan sistem pendidikan kita, semata-mata karena silau dengan keberhasilan segelintir anak Indonesia yang menjuarai berbagai lomba di tingkat dunia. Keberhasilan mereka bukanlah produk dari sistem pendidikan kita, melainkan bawaan sejak lahir yang merupakan karunia Tuhan (innate ability).
Departemen Pendidikan Nasional tak pernah menetapkan output pendidikan sebagai target. Mereka cuma sibuk mengutak-atik input lewat alokasi anggaran. Kalau caranya terus begini, puluhan triliun rupiah akan menguap habis tanpa jejak.
Tengok pula indikator-indikator kesehatan. Seperempat anak balita berat badannya di bawah normal (under weight). Hanya 64 persen ibu-ibu melahirkan didampingi oleh tenaga medis. Kita merupakan negara yang penduduknya pengidap TBC terbesar ketiga di dunia serta pengidap malaria terbesar di dunia, di luar Afrika. Kepedulian kita sangat rendah terhadap sangat cepatnya peningkatan kasus HIV/AIDS. Keadaan Indonesia sekarang mirip dengan Afrika Selatan sepuluh tahun yang lalu. Apakah kita baru akan terenyak ketika satu dari tiga pekerja kita telah terjangkit HIV/AIDS, seperti keadaan di Afrika Selatan dewasa ini?
Kondisinya semakin memilukan dengan bermunculannya secara simultan wabah polio, busung lapar, demam berdarah, muntaber, dan flu burung. Menghadapi keadaan yang sudah sangat parah ini, sangat ironis apabila anggaran negara untuk kesehatan hanya 0,6 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Betapa kikirnya kepedulian penguasa dan politisi karena praktis tak ada satu negara pun di kawasan Asia Pasifik yang alokasi dana publik untuk kesehatan di bawah satu persen. Sebagai perbandingan, Vietnam dan Filipina masing-masing menyediakan 1,5 persen, China menyediakan 2,0 persen, serta Thailand dan Malaysia masing-masing menyediakan 2,1 persen.
Departemen Kesehatan cuma mengurusi rakyatnya setelah terjangkit penyakit. Bukankah, sesuai namanya, Departemen Kesehatan mengemban tugas mengembangkan program-program untuk membuat komunitas dan penduduk kita sehat?
Pilar ketiga yang harus dibangun untuk mempersiapkan penduduk Indonesia mampu menghadapi dinamika perubahan adalah ICT. Alih-alih menyisihkan dana lebih banyak untuk meningkatkan penetrasi ICT ke seluruh pelosok Tanah Air, justru pemerintah berencana sebagaimana diutarakan Wakil Presiden membeli kembali saham PT Indosat.
Tak pernah pula kita mendengar pemikiran untuk mencanangkan program âsatu desa satu saluran telepon dan satu akses internet. Dengan penargetan tersebut, niscaya kita bisa membuka keterisolasian daerah, mengirimkan paket-paket pendidikan lewat internet di tengah kelangkaan guru dan paket bahan ajaran, serta menyebarkan informasi pasar kepada jutaan petani produsen.
Menjelang peringatan 60 tahun proklamasi kemerdekaan, sudah saatnya kita mulai merajut masa depan dengan kesadaran baru, mengubah pola pikir, dengan meningkatkan kemampuan mengantisipasi perubahan.
Kesempatan kita sama besarnya untuk membuat negeri ini runtuh atau berjaya.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
| Religion and spirituality | Spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
