Kompas, Senin, 08 Agustus 2005
Refleksi Memahami Bumi
Oleh: M Baiquni
Anak-anak terlihat riang saat ibu guru Darmawati mengumumkan ada kegiatan bermain dan menggambar seusai upacara Hari Pendidikan Nasional 2 Mei lalu.
Sekolah Dasar Aneuk Laot terletak di Pulau Weh, Aceh, merupakan sekolah di kawasan pesisir yang terhindar dari tsunami. Karena itu, SD ini menampung anak-anak korban tsunami dari Banda Aceh maupun Pulau Weh.
Keceriaan anak-anak pagi itu dapat menyembunyikan duka dan trauma akibat tsunami. Acara menggambar dan mewarnai merupakan salah satu upaya untuk mengekpresikan kreativitas sekaligus melepaskan stres akibat bencana tsunami yang melanda permukiman mereka. Sekitar 70 anak kelas IV-VI SD, termasuk belasan anak kelas I SLTP, berkumpul untuk mendapat pengarahan dari para guru setelah upacara. Kegiatan ini dibagi dua kelompok, mewarnai untuk anak kelas IV dan V, dan menggambar untuk anak kelas VI dan kelas I SLTP.
Untuk kegiatan mewarnai, disediakan dua jenis gambar, bertema lingkungan kehidupan laut dan bencana tsunami. Ketika ditawarkan untuk memilih salah satu, gambar tsunami lebih banyak dipilih ketimbang lingkungan laut. Dua jenis gambar ini sengaja dirancang Erda Rindarsih dan mahasiswa dari Yogyakarta sebagai bentuk penelitian minat anak terhadap lingkungan. Di satu sisi menampilkan gambaran potensi berupa keindahan kehidupan bawah laut dan gambar lain menampilkan sisi kewaspadaan akan ancaman bencana alam tsunami.
Mewarnai gambar
Pilihan sebagian besar anak untuk mewarnai gambar tsunami dapat dimaknai bahwa anak-anak cukup cermat mengikuti berita tsunami dan dampak yang ditimbulkannya. Anak-anak yang terkena bencana tsunami masih dilanda kesedihan, tetapi begitu besar rasa ingin tahu terhadap fenomena tsunami. Hal ini tidak terlepas dari pemberitaan tsunami yang banyak dimuat di televisi dan media massa serta menjadi pembicaraan orang.
Dunia anak adalah spontanitas yang tulus dan halus. Ketika tiba giliran penentuan pemenang, semua menunjukkan perhatian serius. Para pemenang diminta mempresentasikan gambar atau mendongeng tentang gambar yang telah ia buat. Satu demi satu pemenang menyampaikan cerita di balik gambarnya di depan teman-teman dan guru-gurunya. Canda ria dan kemeriahan mengomentari penuturan teman yang berbicara di depan, tetapi suasana haru tiba-tiba melingkupi saat giliran anak korban tsunami menceritakan gambarnya.
Cerita yang lancar tiba-tiba terhenti, suasana hening dan anak itu tertunduk meneteskan air mata mengingat keluarganya yang telah tiada. Ibu Darmawati memeluk anak itu dan teman-temannya terharu. Acara diteruskan dengan penerimaan hadiah dan ditutup dengan doa.
Kisah itu menunjukkan, anak-anak lebih tertarik belajar dengan metode bermain dan menggambar, sebagai ekspresi dan aktualisasi diri. Mengenal bumi sebagai bagian pendidikan geografi lebih menarik apabila dikemukakan dengan bermain, bersimulasi, dan berimajinasi.
Geografi Indonesia yang berupa negara kepulauan yang besar atau disebut benua maritim memiliki keragaman ekosistem wilayah dan kemajemukan sosial budaya masyarakatnya. Indonesia yang dianggap kaya sumber daya alam atau sering disebut gemah ripah loh jinawi sebenarnya menyimpan potensi rawan bencana, seperti banjir dan kekeringan, kebakaran hutan, kerusakan lingkungan, gempa bumi, dan tsunami. Karena itu, pemahaman dasar geografi Indonesia seyogianya dikembangkan sejak dini dan digunakan untuk memperkenalkan lingkungan alam dan budaya sebagai basis pembangunan.
Proses belajar
Metode bermain sebagai proses belajar dapat dilakukan dengan mengajak anak-anak berjalan-jalan mengenal lingkungan sekitar. Banyak permainan yang dikembangkan melalui pramuka atau kegiatan remaja dapat diinovasi untuk pendidikan cinta lingkungan dan membangun kerja sama kelompok serta membentuk kepemimpinan. Mengamati fenomena alam, tumbuhan, hewan, dan kehidupan manusia yang dapat dilihat, dirasakan, atau dialami.
Pendidikan cinta alam perlu dihadirkan sejak dini dengan cara langsung mengalami dan menghayati kehidupan di sekitarnya sehingga anak-anak memiliki pengalaman. Bukan dihafalkan sebagaimana banyak dikembangkan pada masa lalu sehingga informasi hanya singgah sebentar di pikiran lalu lupa.
Rasa ingin tahu anak-anak perlu ditumbuhkembangkan secara dialogis, dengan bimbingan guru atau kakaknya. Proses dialogis ini dapat menimbulkan sikap kritis terhadap hal-hal baru yang ia lihat dan alami. Rasa ingin tahu itu biasanya lalu diwujudkan dalam tindakan ingin mencoba dan menumbuhkan kreasi. Bersimulasi membuat miniatur bentukan terumbu karang dari tanah liat, membuat pesawat terbang dari kertas, atau mainan mobil dari kayu, merupakan cara untuk menuangkan kreativitas anak-anak.
Tidak jarang di antara mereka mengembangkan kreasinya dengan tekun dan genius sehingga menemukan keasyikan tersendiri dalam mempelajari model tiruan atau simulasi. Tantangan saat ini adalah bagaimana esensi dan substansi belajar tetap berlangsung dan kreativitas anak terus berkembang, di tengah segala macam mainan buatan pabrik dan mudah dibeli. Barangkali kita masih ingat saat kecil, kreasi atau kenakalan sering mewarnai permainan bersama teman-teman, seperti bermain pasaran (simulasi jual beli), masak-memasak, membuat rumah di atas pohon, atau membuat mainan sendiri.
Aspek penting
Berimajinasi merupakan aspek penting dalam penalaran. Tentu saja diperlukan medium dan guru yang mampu memberi inspirasi anak dalam menggali rasa ingin tahu yang besar. Imajinasi dihadirkan saat realitas yang ada dan cara pandang mata kita terbatas pada jarak, ruang, dan waktu. Melalui bimbingan guru dalam wujud tutur kata yang dirangkai dalam cerita hingga menggunakan globe bola dunia sebagai media merangsang imajinasi.
Pendidikan geografi sejak dini mendorong imajinasi anak untuk melintasi ruang dan waktu. Imajinasi merupakan pengalaman menjelajahi ruang dan waktu, memahami wilayah beragam dan masyarakat yang majemuk. Rasa cinta tanah air, satu nusa dan satu bangsa dapat dihadirkan dalam proses dialektika sesama anak maupun dengan gurunya. Peran media masa begitu gencar dalam membangun imajinasi anak-anak. Betapa film kartun selalu disukai anak-anak yang terus ingin menonton sepuas-puasnya dan enggan belajar?
Wisata keluarga merupakan bentuk pembelajaran yang amat penting dalam masa perkembangan anak. Anak dapat belajar bersama orangtuanya melalui suatu perjalanan dan menikmati kehidupan yang berbeda dari biasanya.
Belajar di tengah kehangatan keluarga akan memberi bekal kemandirian dan kasih sayang sejati. Orangtua, sanak famili, dan masyarakat di sekitarnya juga menjadi narasumber belajar yang dapat membentuk watak dan perilaku anak.
Anak-anak korban tsunami memerlukan pendekatan yang tulus dari orang-orang di sekitarnya. Bermain dan belajar bersama anak-anak SD Aneuk Laot, Pulau Weh, yang terletak di pinggiran, memberi pengalaman baru dan haru. Sebenarnya anak-anak selalu bersemangat dengan metode dan hal-hal baru dalam proses belajarnya. Sesekali mereka merindukan kehadiran orang luar yang peduli dan memiliki pengalaman untuk saling berbagi cerita. Bagi kita, orangtua, bermain dan belajar bersama anak-anak menimbulkan semangat baru. Masa depan bumi ini ada di tangan mereka.
M Baiquni Dosen Fakultas Geografi dan Peneliti Puspar UGM
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
