Kompas, Senin, 08 Agustus 2005
Pesan Moral dari Pinggiran
Urusan pendidikan tak selamanya hanya berkutat pada hitungan rupiah. Dengan nurani, pengelola SD Negeri Gegerkalong 1 dan 2 yang terletak satu kompleks di pinggiran Kota Bandung, Jawa Barat, menerawang hak warga negara untuk memperoleh hak pendidikan. Tanpa latah mematok pungutan seperti lazimnya sekolah-sekolah di kota besar, kedua sekolah ini beroperasi tanpa masalah berarti. Malah, dengan cairnya biaya operasional sekolah dari pemerintah Agustus ini, iuran biasanya Rp 20.000 per bulan, akan dipangkas jadi separuhnya. Uniknya lagi, dengan semangat sauyunan (kebersamaan), dua sekolah ini tak hanya menampung rata-rata anak-anak dari keluarga miskin, tetapi juga yang berkelainan fisik dan mental. Di antara 460 murid di dua SD tersebut, terdapat sekitar 40 anak dengan gangguan fisik dan mental. Ada yang terbatas penglihatannya, mengalami kelumpuhan gerak, keterbelakangan mental, kelambanan intelegensi, kesulitan artikulasi, hingga kesulitan interaksi sosial. Mereka umumnya anak-anak buruh pabrik, buruh pasar, dan pegawai kantoran yang bermukim di Kelurahan Isola, Kecamatan Sukasari, tepi barat Kota Bandung. Sekitar 80 persen murid kami dari keluarga miskin, termasuk yang berkeliaran itu, ujar Yati Daryati, Kepala SD Negeri Gegerkalong Girang 1 akhir Juli lalu. Hal senada dikemukakan Kepala SD Negeri Gegerkalong 2, Resmi Bahrum. Semangat membuka diri terhadap anak-anak berkelainan tersebut berangkat dari kesadaran untuk memberikan layanan pendidikan kepada anak-anak usia wajib belajar (7-15 tahun). Bersamaan dengan itu, keinginan yang kuat dari orangtua penyandang ketunaan di kawasan Sukasari untuk menyekolahkan anak-anaknya makin tumbuh. Mereka nekat mendaftarkan anaknya di sini. Lagi pula, di balik kuatnya tekad menyekolahkan putra-putrinya, mereka memang tak punya ongkos untuk mengakses sekolah luar biasa, cerita Resmi. Bagi orangtua dari anak berkelainan di Sukasari, menyekolahkan anaknya di sekolah luar biasa (SLB), selain butuh biaya operasional yang relatif lebih mahal dari sekolah biasa, juga membutuhkan ongkos transportasi. Maklum, SLB umumnya terletak di tengah kota. Kalau pun ada di pinggiran kota, lokasinya tak mudah dijangkau dari semua sisi. Paling tidak butuh biaya transportasi ke sekolah yang kira-kira setara dengan penghasilan mereka sehari. Saling memahami Bagaimana menyiasati agar proses belajar mengajar tetap optimal? Solusi utamanya, tidak mewajibkan anak membeli buku pelajaran. Buku tahun lalu di kelas yang sama diwariskan kepada murid tahun sekarang. Selama kebutuhan belajar bisa dipenuhi tanpa ongkos, maka itulah yang ditempuh. Untuk soal pekerjaan rumah, anak-anak diminta menyalin dari kreasi guru, tanpa harus bergantung pada buku cetakan. Rupanya, di balik keterbatasan dan siasat itulah, tumbuh rasa kebersamaan dan saling memahami antarsiswa yang biasa maupun luar biasa. Pola duduk siswa di ruang belajar diformat berkelompok. Dalam satu kelompok, ada siswa yang berkebutuhan khusus. Secara bergantian siswa yang biasa wajib membantu rekannya yang berkelainan, terutama dalam hal mencerna pelajaran. Kesediaan dua sekolah itu menerima murid berkelainan adalah bentuk panggilan jiwa dari sekolah umum untuk melayani siswa berkebutuhan khusus. Wajar jika Pemerintah Provinsi Jawa Barat menjadikan dua sekolah ini sebagai perintis sekolah inklusif. Menurut pengawas pendidikan luar biasa Dinas Pendidikan Jawa Barat, Dedi Kustawan, mengatakan, pola yang dikembangkan di Gegerkalong juga diujicobakan pada sekitar 70 SD se-Jawa Barat. Di Jabar, tercatat sekitar 3.000 anak usia pendidikan dasar menyandang ketunaan. Namun baru sekitar 800 yang terlayani. Sebanyak 247 SLB yang bertebaran di Jabar tak mampu menampung mereka. Sekolah inklusif tentu punya andil dalam wajib, kata Budi Hermawan, staf Dinas Pendidikan Jabar. Saat ini sekitar 1,5 juta anak di Indonesia yang berkelainan. Karena terbatasnya sarana pendidikan luar biasa, baru sekitar 50.000 di antaranya yang mengenyam pendidikan. Sesuai Deklarasi Salamanca 1994 dan UU Sistem Pendidikan Nasional, anak berkelainan harus mendapatkan pendidikan setara dengan anak-anak lainnya. Menggalakkan sekolah inklusif, merupakan jawabannya, di samping terus mengembangkan SLB yang memang dari awal beritikad melayani anak berkebutuhan khusus. (NASRULLAH NARA)
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
