zentao ba wrote:
> Saya menanyakan satu persatu orang dalam komunitas kristen tersebut
> bagaimana latar belakang mereka sebelum menjadi Kristen.
> Kebanyakan memang ke klenteng dan vihara, sembahyang lalu pulang, dan
> mereka memang tidak mengetahui bahkan kulit-kulit luar ajaran Buddha.
> Masalahnya kalo mereka mengaku mantan Buddhist meskipun mereka sama
> sekali tidak mengerti dan memahami Buddhisme, apakah kita bisa
> menyalahkan mereka?
>
Apakah saya bisa disebut anak lulusan (mantan) SMA kalau 1x1 aja saya
jawab 5 duduk di bangku SMU aja ngak pernah
tapi saya (mantan) pemakai seragam SMA (naik kelas SD dan SMP lagi) ??
maksud saya...koq belum punya modal (pemahaman dasar) sudah bisa
mengatakan pernah mempelajari ???
> Tentang yang broken home, katanya sich dia ikut retret Kristen, trus
> dia mengalami Tuhan di sana sehingga depresinya hilang. Menurut saya
> wajar aja, karena sewaktu retret banyak orang yang care dan peduli
> dengan dia.sementara teman-teman viharanya tidak ada yang mau
> menyokong dan peduli pada dia. Wajar donk kalo dia pindah ke kristen...
Kalau itu wajar,...saya jg mantan orang yang kecewa dengan orang yang
menyebutkan dirinya *Buddhist* tapi yang diurus dan dipikirkan adalah
melulu dirinya sendiri...lingkungan sekitar dan orang sekitar tidak
diperdulikan sama sekali.....
tapi sepertinya Andapun hanya seorang *mantan*
kalau Anda masih ragu..saran saya yuk ikutan retret untuk pemula 1 kali
aja...
memang waktunya singkat cuman 3 hari...tapi lumayan setidaknya tempat
*berjinjit* (belum berdiri sempurna) bisa di dapatkan
>
> Semoga saja, kaum Buddhist bisa lebih aktif lagi dalam melakukan
> kegiatan kemanusiaan dan pendidikan Buddhist melalui pendirian
> sekolah-sekolah.
>
> Saya sendiri pada awalnya juga Buddhist cung cung cep cep. Belasan
> tahun sekolah Katolik dan ketika di jakarta, saya memasuki organisasi
> Buddhist di universitas saya dan saya sangat kecewa karena orang-orang
> Buddhist yang saya temui di sana pengetahuan dan pemahaman
> Buddhismenya sangat rendah. Kebanyakan hanya mengagungkan dan selalu
> membicarakan konsep karma dalam Buddhisme.
Karena konsep karmalah yang selalu diangkat....
kebanyakan mengangkat konsep karma dengan tujuan untuk menakut-nakuti
(setidaknya ini menurut saya)...supaya pada berbuat baik..tidak berbuat
jahat dll dll dll
sama seperti dengan konsep surga dan neraka...ngak beda jauh koq
saya sendiri, tidak begitu suka pembicaraan mengenai karma...apalagi
yang pegang kalkulator karma (semua dihitung untung rugi buat karmanya)
menurut saya dengan pemahaman mengenai karma yg berlebihan maka kita
bertindak tanduk bukan lagi alami..tapi karena kita ketakutan....
dan selalu mengharapkan pahala untuk setiap perbuatan baik...
tapi karena kita masih manusia biasa yang baru belajar, maka konsep
karma kadang bisa membantu kita dan kadang itulah yang diharapkan...
sama seperti apa yang Anda katakan di atas
"Masalahnya kalo mereka mengaku mantan Buddhist meskipun mereka sama
sekali tidak mengerti dan memahami Buddhisme, apakah kita bisa
menyalahkan mereka?"
jadi bisakah kita menyalahkan mereka yang belum memahami ?? saya
rasa...kita tidak bisa menyalahkan mereka...
harusnya kita menyalahkan diri kita sendiri..karena kita sudah tahu dan
tidak memberikan pemahaman yang benar...
Buddha aja tidak pelit memberikan DhammaNya bagi kita...harusnya kita
sebagai umatnya juga tidak boleh pelit
memberikan apa yang kita ketahui kepada orang lain yg bersumber dari Beliau.
hehehe, saya juga sama seperti Anda dulu....
tapi apakah kita bisa meyalahkan orang yang NATO yang tidak mau mencari
pemahaman dan belajar ?
harusnya kita menyalahkan diri kita tidak berusaha mengajak orang yang
NATO untuk mencari pemahaman dan belajar.....
>
> Padahal inti dari ajaran Buddhisme bukan lah mengenai karma.
>
> Beruntung ada media internet tempat saya untuk mendalami Buddhisme.
> Saya juga menemukan guru meditasi dan mengikuti retret vipassana di
> sini. Jika tidak, mungkin saja saya sekarang bukan seorang Buddhis
> karena tawaran dari tetangga tentu lebih menarik ( percaya aja,semua
> karma buruk saya langsung ditebus, asyik ga ? ).
>
memang jadinya asik banget...tapi apakah benar semua karma buruk kita di
tebus ??? sudah ada buktinya belum ???
saya butuhkan bukti, bukan kata-kata janji yang belum pasti....kecuali
yang janjiin itu Tuhan langsung yg ngomong sama saya....
ini yang ngomong pendeta juga bukan koq...dan lagian masak sih pastur
bisa menjanjikan sesuatu yang dia sendiri juga belum buktikan
kembali lagi..sepertinya Anda jg sudah menemukan jawab yang tepat
heheheheheh
> Kasih kesaksian donk gimana ceritanya anda yang semula Kristen and ga
> boleh ke vihara, tiba-tiba bisa mengenal dan tertarik kepada agama Buddha.
> saya menemukan bahwa bagi orang -orang Kristen, membaca buku Buddhist
> dan ke vihara sangat dilarang. Saya yakin anda dulu pun antipati
> terhadap Buddhis, Bagaimana ceritanya kok bisa tiba-tiba tertarik
> dengan Buddhisme?
>
> With metta,
>
> Feri
saya bukan Kristen, memang saya tidak boleh ke vihara...apa mau di kata
saya dari Medan...dan teman2 yang berasal dari sana juga kemungkinan
besar tahu kenapa.....
sebaiknya kita tidak menggunakan kata *kesaksian*, *sharring* sepertinya
lebih tepat...karena kita tidak bisa memberikan kesaksian, hanya bisa
berbagi pengalaman saja....
saya tidak antipati terhadap ajaranNya, hanya karena kebodohan saya maka
saya tidak mengetahui ajaranNya (skr juga masih belum koq) dan kesulitan
mencari jalur ke sana (skr sudah menemukan jalur)
pada suatu ketika ada muncul pertanyaan....
kapan saya menolong diri saya sendiri kalau saya hanya menolong orang lain ?
apakah benar dengan menolong orang lain saya juga menolong diri saya
sendiri ?
apakah bisa dalam proses menolong orang lain saya juga menolong diri
saya sendiri?
btw,
menjadi seorang yg disebut Buddhist gampang koq...
1. ke vihara tung tung chep sudah dipandang orang lain sebagai Buddhist
2. ikut program meditasi,...trus kita belajar meditasi dengan berbagai
metoda...jadi deh Buddhist
3. datang saja ke vihara pas ada Waisak, Asadha, Kathina dll dll trus
daftar wisudi....dapat deh KTB (Kartu Tanda Buddhist baca: kartu wisudi)
hanya dengan sedikit mantra dan di kepret pake air sana sini....cuman
yang ini masih KTB TEMBAK...
sama seperti kalau kita mengurus SIM tembak....ngak usah repot2 test
teori dan praktek, ngak usah tahu mengenai rambu2 lalu lintas cukup tahu
hijau jalan-kuning tancap gas - merah berhenti,..bisa dapat SIM dan
hasilnya yah jalanan semeraut..karena kurang pemahaman mengenai rambu
lalu lintas serta etika berlalu lintas...tapi mereka dapat SIM dan
disebut Supir (bawa mobil)
sama seperti KTB Tembak...kurang pemahaman tapi bisa dapat KTB dan
hasilnya jalan hidupnya semeraut karena kurang pemahaman mengenai
ajaran Buddhist, tapi mereka disebut sebagai Buddhist karena bisa
menunjukkan KTB
lihatkan, gampang koq menjadi (mendapat pengakuan sebagai) Buddhist
yang sulit adalah menjalani kehidupan sebagai Buddhist...ini butuh
belajar dan pemahaman...bukan teori dan konsep
tapi coba lihat yang di Kristen....
mau mendapatkan KTK (Kartu Tanda Kristen) orang tersebut harus melalui
tahapan pendidikan (belajar pemahaman dasar) 1 minggu 1x kalau ngak salah
selama 3 bulan..setelah itu baru di beri KTK dan dilantik....dan rata2
yang menyebut dirinya *K* memiliki pemahaman dasar (ngak harus jadi
pakar, yang penting
ada pemahaman dasar)
jadi kenapa beda ? kenapa kita tidak seperti itu ???
yah salah kita, sudah tahu koq ngak mau melakukan perubahan....
with metta
yamin
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/