Dear All,
 
ikut sharing pendapatan pribadi saya.

kita akan menghadapi tantangan dan kendala yang segunung karena 1
alasan yang sangat prinsipil. Mayoritas Buddhis cuma bisa OMDO. Bisa
kasih pendapat, tapi tidak mau menyingsingkan lengan baju untuk terjun
merealisasikan apa yang dia katakan. Singkat kata, untuk menjalankan
langkah2 yang telah dijabarkan Pa Hud, masing2 wihara dan organisasi
Buddhis akan tersengal-sengal bagaikan orang bengek yang diminta untuk
lari sejauh 100 meter. Tidak cukup orang yang peduli, terlebih-lebih
tidak cukup orang yang peduli dan mau meluangkan waktu, terlebih-lebih
lagi orang peduli yang mau meluangkan cukup banyak waktu. Mayoritas
cuma bisa OMDO. Mau hasil tapi tidak mau usaha. Pandai kasih pendapat
tapi tidak kasih upaya.

Benar, banyak yang hanya memberikan pendapat tetapi jika perlu turun lapangan pada kabur semua, tetapi MASIH BANYAK sekali umat budhis yang mau menyingsingkan lengan baju untuk turun lapangan, kita sering dengar ada baksos di sana dan sini oleh umat budhis dalam komunitas kecil. Why ? Karena masing2x mencari nama untuk vihara/komunitas sendiri, sehingga komunitas budhis yang sudah kecil menjadi lebih kecil lagi.Karena tidak adanya kekompakkan.

Saat ini Budhis dibagi 2 besar yaitu : Walubi dan Kasih. Dari kedua ini saja masing2x sudah terpecah2 ?!?

Bukan saya tidak sepaham dengan mendirikan sekolah Buddhis. Saya
sangat mendukung langkah tersebut bahkan saya pernah menuliskan sebuah
artikel mengenai Pendidikan Buddhis dan bersama-sama teman2
mengorganisir dialog interaktif serta peluncuran buku yang berjudul
"Mencari Format Pendidikan Buddhis Abad 21" pada bulan Mei tahun 2003
lalu.

Saya sangat setuju dengan pembangunan sekolah, tetapi saya pikir koordinasi yang mau mendirikan sekolah sebaiknya menyalurkan lebih banyak dana & waktu untuk perbaikan kurikulum pada sekolah budhis yang ada saat ini.Jika nutu sudah bagus baru diperbanyak sekolah untuk wilayah yang berjauhan.

Saya sendiri tidak pernah turun lapangan untuk survey sekolah2x budhis di Jakarta tetapi informasi yang saya dapat bahwa sekolah budhis yang ada saat ini mutu sangat dibawah standard. Mengapa sibuk membuat yang baru sedangkan yang ada saja masih belum benar ?!? Benarkan saja yang sudah ada dulu.

Sekolah memang diperlukan tetapi sekolah yang bermutu. Jangan menggunakan konsep membangun vihara sebanyak-banyaknya tetapi bhiksu yang diperlukan untuk membimbing pada saat kebaktian MANA ?!? Ajaran Dharma ?!?

Untuk membangun sesuatu itu TIDAKLAH TERLALU SUSAH tetapi  MEMPERTAHANKANNYA AKAN SANGAT SULIT.

 

 

  


Start your day with Yahoo! - make it your home page

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke