| Kompas, Senin, 12 September 2005 |
|
Pilih Kail atau Ikan
Dalam kaitan pembelaan terhadap rakyat miskin, pemerintah akan memberikan subsidi langsung. Setiap rumah tangga akan mendapatkan Rp 100.000 per bulan. Kepedulian pemerintah terhadap nasib masyarakat miskin berkaitan dengan rencana menaikkan harga bahan bakar minyak tentunya kita hormati. Keputusan untuk menaikkan harga BBM pasti akan memberatkan masyarakat dan terutama masyarakat miskinlah yang pertama-tama akan terkena dampaknya. Tetapi kita diingatkan juga bahwa pemberian subsidi langsung dalam bentuk uang tunai membawa konsekuensi yang tidak ringan. Pertama adalah moral hazard bahwa itu merupakan sesuatu yang harus selalu mereka terima. Di tengah masyarakat yang etos kerjanya rendah, maka akan semakin kuatlah pemahaman bahwa kita tidak perlu bekerja keras karena ada cara yang lebih mudah, yakni menerima bantuan. Kedua, bagaimana kita mampu mempunyai data yang akurat dan sistem distribusi yang terjamin. Lagi-lagi kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kita lemah dalam melakukan pendataan dan korup dalam melaksanakan berbagai pekerjaan. Kita tidak menutup kenyataan bahwa tidaklah mungkin sistem subsidi langsung dilakukan sampai menunggu adanya data yang lebih valid. Tetapi menjadi pekerjaan rumah kita bahwa sambil berjalan, benar-benar dijamin adanya perbaikan dalam sistem pendataan masyarakat maupun pendistribusiannya. Ketiga, seperti diingatkan oleh peneliti seperti Mayling Oey-Gardiner, bagaimana kita mampu melakukan pendataan yang terus-menerus. Sebab, bukan mustahil mereka yang sekarang tergolong miskin esok tidak lagi menjadi miskin. Sebaliknya orang yang kemarin tidak miskin, kini masuk dalam kelompok miskin. Oleh karena itu, selanjutnya perlu dipikirkan cara lain yang lebih baik, lebih adil, lebih layak, lebih efektif, dan tidak justru menimbulkan kerusakan. Bukankah kita mengenal prinsip, dalam membantu orang lebih baik kita memberikan kailnya daripada memberikan ikannya? Segala macam pemberian bantuan janganlah sampai menimbulkan ketergantungan. Setiap orang justru harus kita dorong agar bisa mandiri sehingga mereka tetap bisa mempunyai harga diri dan bermartabat. Dalam kaitan pemberdayaan masyarakat, mungkin lebih baik kita memberikan bantuan untuk kegiatan produktif daripada sekadar untuk makan. Pemberian kredit yang disubsidi tentunya akan berdampak lebih positif daripada sekadar subsidi langsung yang tidak jelas penggunaannya, kecuali untuk urusan perut. Pengalaman kredit Bimas dan Inmas memang menimbulkan kebocoran anggaran. Tetapi bukankah dengan pemberian subsidi langsung Rp 100.000 per rumah tangga per bulan juga tidak membawa dampak apa-apa kepada negara, kecuali uang itu akan habis dibagikan dan pemerintah sekadar menjadi lebih populis? Jangan lupa, di tengah masyarakat sebenarnya masih berlaku prinsip bahwa utang itu merupakan sesuatu yang harus dikembalikan. Prinsip itu rusak karena adanya sistem yang korup. Itulah yang harus kita perbaiki. |
Yahoo! for Good
Watch the Hurricane Katrina Shelter From The Storm concert
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
