Kali ini saya tanggapi dengan cara normal:
Ya, namanya agama itu kan buatan manusia, ajarannya
diturunkan dari Yang Di Atas. Namun yang nerima ya
tetap saja manusia. Ditulis lagi oleh manusia, dan
disebarkan oleh manusia. Semuanya bersifat seperti
manusia, tidak sempurna. Tetapi manusia itu cerdik,
keagungan agamanya dibuat agar sulit diusik. Jadi,
dengan begitu, mereka bisa menjadikan agamanya sebagai
tameng dalam menjalankan aksi kekerasan.
Seharusnya, agama itu urusan pribadi seseorang. Hanya
saja, ada beberapa orang yang lemah mental, sering
menemukan dirinya sulit untuk sendirian, maka mereka
membentuk komunitas. Kemudian mereka merasa bahagia,
dan berniat berbagi dengan orang lain, oleh karena itu
mereka mengajak banyak orang, dalam hal ini bukan cuma
umat dari agama yang beda, namun juga yang sama.
Intinya mereka itu baik kan? Yang menanggapi gak baik
itu yang jahat kan? Tapi ada juga yang agak maksa,
kalo yang ini ya jelas, yang jahat.
Saya rasa bukan masalah orang lain mengajak agar
pindah agama atau apa, namun itu karakter
masyarakatnya yang begitu. Jangankan oleh kegiatan
sosial, dengan acara komersial seperti "Uang Kaget"
atau "Bedah Rumah" saja sepertinya para korban siap
melakukan apa saja demi berterima kasih.
Saya pernah membaca buku mengenai kisah kebijaksanaan
kuno negeri Tirai Bambu tentang Tzu Chi. Di buku itu
dikisahkan ada seorang penangkap ikan yang congak
sedang berjalan ke rumah orang kaya untuk menjual
hasil tangkapannya. Di tengah jalan ia bertemu dengan
pengemis tua, pengemis itu meminta sedekah padanya.
Namun, dengan pongahnya ia memainkan suara gemerincing
koin2 di hadapan pengemis itu. Ia berjanji akan
memberikan uang tersebut jika pengemis yang jelas
lebih tua itu mau memanggilnya "paman". Jelas saja
sang pengemis marah sambil berkata, "Huh! Aku memang
miskin, tapi punya harga diri!" si penangkap ikan
menimpali sembari menatap pengemis yang menjauh itu,
"Mahkluk rendahan, sok gengsi!"
Ceritanya saya potong sampai disini. Benarkah yang
dikatakan si penangkap ikan itu? Atau lebih benar
tindakan si pengemis itu? Guru saya di sekolah pernah
ikut dalam kegiatan sosial di Papua (yang rata2 masih
menganut kepercayaan animisme dan dinamisme). Beliau
ketika memberikan sekardus Indomie kepada masyarakat
setempat, ia sempat terkejut karena mereka amat
berterima kasih sampai rela mengikuti kepercayaan guru
saya (anda pasti tahulah...). Kata orang lain, itu
pemurtadtan, tapi kata guru saya, "siapa yang mau
menukar imannya dengan sekardus mie instan?" + walau
tidak diminta? Bodoh memang...bodoh memang...
______________________________________________________
Yahoo! for Good
Watch the Hurricane Katrina Shelter From The Storm concert
http://advision.webevents.yahoo.com/shelter
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/