Kompas, Jumat, 16 September 2005

Patriot Indonesia Terakhir

Oleh: RISWANDHA IMAWAN

Bahaya kehilangan jati diri akibat keblinger (tergila-gila) oleh kemajuan peradaban bangsa lain, sudah lama diingatkan oleh pemikir bangsa Indonesia. Ironisnya, peringatan itu diperhatikan secara serius oleh bangsa lain hingga mereka selamat dari dampak buruk globalisasi. Sementara bangsa Indonesia sendiri mengabaikannya, hingga makin terpuruk oleh arus globalisasi.

Marah Roesli melalui karyanya, Salah Asuhan (1928), menggambarkan tokoh Hanafi yang mendapat pendidikan ”Barat” (Eropa), tergila-gila oleh nilai dan ide yang dipelajari, akhirnya memandang bangsanya sendiri sebagai bangsa terbelakang. Bung Karno dalam buku Dibawah Bendera Revolusi (1961) mengingatkan bahwa penjajah pertama di Indonesia adalah VOC, sebuah sarekat dagang Belanda. Penjajahan bermula dari soal ekonomi. Karena itu, Bung Karno mengingatkan bahwa kelak musuh bagi keutuhan bangsa Indonesia adalah neoliberalisme, neokapitalisme, dan neo-imperialisme.

Dalam struktur argumen berbeda, bahaya yang sama diingatkan kembali oleh John Perkins melalui buku The Confession of an Economic Hit-man (2004). Rezim politik di muka bumi ini dipaksa ramah kepada kepentingan kaum kapitalis di balik impian modernisasi bangsa-bangsa di dunia ketiga, kalau tidak ingin ”kejadian (politik) yang aneh” akibat perbuatan the jackal atau intervensi langsung menimpa satu negara.

Bukan arena bebas nilai

Apa sebenarnya yang ingin mereka ingatkan? Dua hal penting. Pertama, selama negeri Indonesia kaya, selama itu ancaman stabilitas diobok-obok terus mengintai. Konkretnya, bila sumber daya alam kita sudah habis, kita menjadi miskin, dan para kapitalis tidak melihat ada lagi keuntungan ekonomi yang bisa mereka ambil, maka barulah pengobok-obokan itu berakhir. Kedua, tidak mungkin satu negara (bangsa) bertahan di arus globalisasi bila tidak menentukan irama permainan. Globalisasi bukan arena yang bebas nilai, di mana tiap negara bisa menentukan irama pergaulan dunia. Ada nilai liberalisasi dan kapitalisasi mendominasinya.

Banyak syarat untuk bisa survive di tengah arus globalisasi. Terpenting adalah satu negara tidak boleh kehilangan kehormatannya, kedaulatannya. Untuk itu dibutuhkan seorang pemimpin berjiwa patriot. Dia bisa hadir dari mana saja. Tidak mutlak dari kalangan militer, sebab patriotisme milik tiap warga negara yang sadar akan harkat diri bangsanya.

Ilustrasinya bisa dijumpai di film The Last Samurai. Kaisar Meiji yang gandrung akan modernisasi Barat, nyaris melupakan jati diri bangsa Jepang. Sang guru, Katsumoto, melakukan perlawanan untuk mengingatkannya. Demi menjaga harkat dan jati diri bangsa Jepang, Katsumoto rela bertarung dengan senjata modern milik tentara Kekaisaran, dan mengakhiri hidupnya dengan berharakiri. Kisah itu ditutup dengan penyerahan samurai milik Katsumoto. Samurai pemberian Kaisar kepada leluhur Katsumoto yang dibawa oleh Kapten Nathan Algren itu diserahkan kembali ke Kaisar dengan pesan terakhir dari Katsumoto ”agar sang Kaisar mengenang para leluhur yang pernah menggenggam samurai itu, dan untuk apa mereka mati”. Sejak itu Kaisar Meiji menyatakan modernisasi Jepang tidak boleh tercerabut dari harkat dan jati diri bangsa Jepang.

Bila alur cerita di atas kita refleksikan ke keadaan bangsa dan negara Indonesia saat ini, rasanya kita membutuhkan sosok Katsumoto. Saat ini banyak pemimpin kita yang berpendidikan Barat menjadi Hanafi baru. Megalomania membuat mereka memandang rendah buah pikiran pemikir bangsa Indonesia, dan lebih bangga mendapat pujian dari bangsa lain daripada dari bangsanya sendiri. Apa pun dikorbankan, dihalalkan, demi mendapatkan pengakuan dunia internasional. Susahnya, itu dilakukan dengan mengorbankan kehormatan dan kedaulatan bangsa Indonesia.

Para petinggi negara ini lupa bahwa politik digerakkan oleh kepentingan. Karena itu, ”kepentingan nasional lebih penting dari persahabatan”. Lupa bahwa sekelompok kijang akan tetap memakan rumput, sekalipun temannya mati diterkam dan dicabik-cabik seekor singa tepat di depan matanya. Lupa bahwa kehormatan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar dan bermartabat sedang menuju ke kehancuran akibat penyakit megalomania yang mereka derita.

Rapat jarak jauh

Simak saja realita ini. Berdasarkan MOU Helsinki, pasukan TNI hanya boleh berpatroli dalam radius 750 meter dari markasnya. Sementara (pasukan) GAM— atau Tentra Neugara Atjeh, istilah yang mereka pilih—dan AMM bisa berkeliaran ke mana saja tanpa batas. Padahal, sudah tugas TNI menjaga kedaulatan Republik Indonesia, di tiap jengkal tanah dan air dari Merauke hingga ke Sabang.

Coba direnungkan, Thailand adalah negara terbesar kedua di Asia dalam bidang perikanan. Padahal, panjang pantainya tidak ada apa-apanya dibandingkan panjang pantai Indonesia. Demikian pula Malaysia, menjadi pengekspor utama minyak kelapa sawit dan karet di dunia. Padahal, hutan dan kebun kelapa sawit di daratan Malaysia tidak seluas di Indonesia.

Lalu, dari mana datangnya ikan, kelapa sawit, dan karet itu? Dari bumi dan laut Indonesia. Ikannya dicuri, sementara pohon kelapa sawit dan pohon karet tumbuh di bumi Indonesia, namun melalui kekuatan kapital pohon itu jadi milik mereka. Bukti empiriknya bisa kita saksikan bila berkunjung ke negeri mereka. Pohon mereka dipelihara, tidak ditebang kecuali benar-benar dibutuhkan. Sementara hutan kita dibabat habis untuk diklaim sebagai hasil bumi mereka.

Semua terjadi karena secara ekonomi kita tergantung, secara budaya moralitas bangsa kita sudah rusak parah, secara politik ideologi kita tidak jelas, dan secara teknologi amat jauh tertinggal. Seluruh fondasi yang dibutuhkan untuk kita bisa berdiri tegak dengan penuh kehormatan, tampak mulai rapuh.

Nasionalisme anak bangsa Indonesia mengalami kemunduran yang parah. Sekalipun secara teatrikal ditampilkan dalam bentuk tari dan nyanyi, itu tidak lebih dari sebatas pertunjukan khas celebrities yang dalam waktu sekejap akan dilupakan. Gebyar teater politik yang ditampilkan, menggelar rapat kabinet sampai sepuluh jam tanpa hasil konkret, atau memimpin rapat jarak jauh untuk mendemonstrasikan kemampuan menggunakan teknologi, berbanding terbalik dengan realita keseharian rakyat.

Harga kebutuhan pokok meningkat akibat ”rencana” kenaikan BBM babak kedua tahun ini, kelangkaan minyak tanah yang terjadi menyeluruh di seluruh Indonesia, wabah penyakit merebak, kualitas pendidikan makin acakadut, sampai ke penderitaan anak bangsa yang dihinakan di negeri orang dengan pekerjaan rendahan dan siksaan bak hewan, seakan bukan menjadi bagian dari gebyar panggung politik yang dimainkan.

Realita kehidupan rakyat yang makin mencekik, tetap dibaca sebagai ongkos setimpal bagi kehendak untuk hidup makmur. Ironisnya, dasarnya adalah nasihat para hit-man yang oleh Perkins diakui sebagai instrumen bekerjanya mekanisme ultraliberalisasi, yang produk akhirnya adalah neokolonialisme dan neo-imperialisme, seperti diramalkan Bung Karno.

Untuk menghindarinya, kita membutuhkan pemimpin yang mampu bertindak decisive, berani mengambil keputusan, sadar akan harkat dan martabat bangsanya. Bukan pemimpin yang sudah dipercaya untuk mengambil keputusan, lalu rapat puluhan jam, dan melahirkan serangkaian alternatif baru lagi untuk kembali dipikirkan. Kita butuh pemimpin yang berani menyatakan menolak globalisasi (seperti dilakukan mantan PM Malaysia, Mahathir Mohamad), menetapkan kurs tukar rupiah maupun cicilan utang sesuai dengan kekuatan bangsa Indonesia sendiri, dan yakin pada buah pikiran anak bangsanya.

Siapa pun orangnya, mengikuti logika munculnya the jackal yang digambarkan Perkins, mungkin dia akan dikenang sebagai the last Indonesian patriot.

Riswandha Imawan Guru Besar Ilmu Politik UGM

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke