Teknokrat, Politikus, dan Saudagar
Oleh: MAKMUR KELIAT
Baru-baru ini penulis membuka kembali buku yang diedit oleh John Williamson, The Political Economy of Policy Reform (1994). Dalam bagian pendahuluannya Williamson menyatakan, semakin banyaknya para ekonom yang menduduki jabatan dalam pemerintahan yang kemudian kerap disebut sebagai teknokrat, atau bahkan kadang disebut dengan technopol.
Teknokrat atau technopol ini berbeda dengan politikus. Jika politikus menduduki jabatan pemerintahan karena dukungan para pemilih atau konstituennya, teknokrat lebih karena pengakuan terhadap keterampilan teknis dan profesionalnya. Jika politikus akan selalu berupaya semaksimal mungkin untuk melindungi kepentingan pemilih atau partainya, teknokrat tidak pernah memiliki konstituensi yang jelas dan tersegmentasi.
Teknokrat juga berbeda dengan saudagar. Gagasan tentang kebaikan atau kesejahteraan umum (general good) hampir tidak dikenal oleh para saudagar. Kepentingan utama para saudagar biasanya sangat sempit dan pragmatis. Hampir semua saudagar berupaya untuk memperoleh proteksi dari pemerintah dengan tujuan untuk mendapatkan rente ekonomi (economic rents). Instrumen untuk mencapai tujuan ini biasanya akan dilakukan dengan berperilaku sebagai kelompok penekan (pressure groups), terutama dengan memberikan dukungan dana bagi para politikus.
Ini tidak berarti bahwa teknokrat ketika menduduki jabatan dalam pemerintahan tidak memiliki kepentingan pribadi. Sebagai manusia tentu saja mereka juga tidak luput dari keinginan untuk memaksimumkan kesejahteraan pribadinya. Namun, yang membedakannya dengan saudagar adalah pada tujuannya. Legitimasi teknokrat ketika menduduki jabatan pemerintahan adalah untuk menciptakan dan mengelola sistem ekonomi untuk kesejahteraan umum. Karena itu, jika kebijakan ekonomi yang dirancang oleh para teknokrat membuat masyarakat umum semakin menderita, reputasinya sebagai teknokrat akan memudar dan cacat.
Tekanan dari dua sisi
Perbedaan hakikat antara teknokrat, politikus, dan saudagar ini akan menciptakan kesulitan yang sangat besar bagi suatu pemerintah untuk meluncurkan pembaruan ekonomi. Teknokrat selalu berhadapan dengan tekanan dari dua sisi, yaitu dari para politikus yang berada di parlemen dan dari para saudagar dengan kemampuannya untuk memobilisasi dana untuk memengaruhi politikus. Dalam negara demokratik ada dua cara yang biasanya dapat dilakukan untuk menata hubungan antara teknokrat, politikus, dan saudagar ini.
Cara pertama adalah dengan membuka ruang diskusi publik yang sangat luas terhadap berbagai isu ekonomi yang berkembang di masyarakat. Peran media, baik cetak maupun elektronik, akan memainkan peran yang sangat penting untuk menyebarluaskan berbagai sudut pandang yang dihasilkan melalui diskusi publik itu.
Cara yang kedua adalah dengan menarik garis demarkasi antara teknokrat, politikus, dan saudagar. Intinya adalah para politikus dan saudagar sebaiknya tidak diberikan ruang untuk menduduki jabatan-jabatan dalam pemerintahan terutama yang berhubungan dengan kementerian ekonomi.
Jika kita melihat kerumitan yang ada di Indonesia, cara pertama sebenarnya sudah dan tengah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir ini. Namun dalam kaitannya dengan cara kedua, terdapat benang kusut yang jelas terpampang di depan mata kita. Kita bisa melihat tidak adanya garis demarkasi yang jelas antara teknokrat, saudagar, dan politikus. Kita bisa melihat beberapa nama yang ada di parlemen (baik di DPR maupun DPD) yang bisa dikategorikan sebagai saudagar dan sekaligus politikus. Tidak mengherankan jika kita kemudian menemukan pula politikus yang berperilaku sebagai saudagar yang diindikasikan dengan maraknya isu tentang pencaloan yang terjadi di DPR.
Hal yang sama juga terlihat dalam tataran eksekutif. Adanya fenomena Thaksinisasimeminjam nama Perdana Menteri Thailand yang berlatar belakang sebagai saudagarmulai terlihat melanda Indonesia. Terdapat kementerian-kementerian yang berkaitan dengan kebijakan ekonomi dan keuangan maupun yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya ekonomi dijabat oleh saudagar dan politikus. Walau ada beberapa figur yang dapat dianggap mewakili teknokrat, namun secara keseluruhan dominasi saudagar dan politikus jelas terlihat dalam tataran eksekutif.
Ringkasnya, baik dalam tataran eksekutif maupun legislatif, ada dua fenomena yang bisa kita temukan. Fenomena pertama adalah saudagar yang menjadi politikus dan politikus yang berperilaku sebagai saudagar. Fenomena kedua adalah koalisi saudagar dan politikus ini telah mengakibatkan tidak maksimalnya peran teknokrat dalam merumuskan dan meluncurkan kebijakan pembaruan ekonomi.
Kredibilitas kian berkurang
Pertimbangan-pertimbangan pragmatis jangka pendek sebagai hasil dari pertarungan politik lebih mengemuka dibandingkan dengan pertimbangan jangka panjang untuk kesejahteraan umum. Akibat akhirnya adalah gejala ketidakpastian hukum menjadi semakin parah dan kredibilitas pembuat kebijakan akan semakin berkurang di mata publik.
Adakah jalan keluar dari situasi kemelut ini? Isu penggantian kabinet mungkin dapat dipakai sebagai momentum setidaknya di tataran kabinet atau kementerian. Namun substansi penggantian itu sebaiknya ditujukan untuk menarik garis pemisah antara teknokrat dengan politikus dan saudagar, khususnya pada kementerian-kementerian yang berkaitan dengan kebijakan ekonomi, keuangan dan pengelolaan sumber daya alam.
Jika ini tidak berhasil dilakukan, penggantian kabinet tidak akan membawa perubahan yang substansial. Ia hanya akan menghasilkan apatisme yang semakin besar di masyarakat karena dipandang sebagai kompromi politik baru antara saudagar yang berperilaku sebagai politikus dengan politikus yang berperilaku sebagai saudagar.
MAKMUR KELIAT Direktur Eksekutif, Center for East Asian Cooperation Studies (CEACoS), Departemen Hubungan Internasional, FISIP Universitas Indonesia
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
| Religion and spirituality | Spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
