PATRIAK SUCI -MAZHAB SUKHAVATI (2)
by: Ching Ik


Pendahuluan

        Mazhab Sukhavati atau disebut dengan mazhab JingTu (Tanah 
Suci), atau juga  mazhab LianZong (aliran Teratai) adalah salah satu 
dari 8 mazhab Mahayana yang berkembang di China. Meskipun  telah 
menjadi sebuah mazhab yang berdiri sendiri, namun penerapan ajaran 
Tanah Suci telah diapresiasikan oleh semua mazhab Mahayana yang ada. 
Dengan demikian mazhab Sukhavati boleh dikatakan merupakan sebuah 
mazhab yang telah mencakup semua mazhab Mahayana, hanya penekanannya 
secara khusus pada tekad terlahir di tanah suci Buddha untuk 
melanjutkan cita cita mencapai Anuttara Samyaksambuddha. 
        Dari sekian banyak praktisi Mahayana yang bermunculan di 
China dari sejak masuknya agama Buddha ke negeri ini, sebagian besar 
dari mereka walaupun telah berlatih selama berpuluh puluh tahun, 
namun pada saat menjelang kemangkatannya, mereka akan mengerahkan 
seluruh konsentrasi mereka untuk dapat terlahir di tanah suci Buddha 
untuk melanjutkan cita cita mereka. Sesungguhnya cita cita seperti 
ini bukanlah sebagai tujuan akhir seperti yang telah disalah 
mengerti. Tujuan akhir dari setiap praktisi Mahayana tidak 
terkecuali dari praktisi tanah suci adalah meraih Anutttara 
Samyaksambuddha - pencerahan sempurna. Hyang Buddha bersabda bahwa 
semua makhluk hidup memiliki benih kebuddhaan. Dengan adanya benih 
kebuddhaan, Hyang Buddha mengatakan bahwa adalah pasti bagi mereka 
yang ingin meraih pencerahan sempurna dengan berlatih. Prinsip ini 
telah ditanamkan secara konkrit dalam ajaran Mahayana. Hanya saja 
penerapannya memiliki dua jalur yang berbeda seperti yang diutarakan 
oleh sesepuh Mahayana -Nagarjuna. Yakni, Jalan Sulit dan Jalan 
Mudah. Secara umum, Jalan Sulit itu digambarkan sebagai jalan yang 
memerlukan waktu yang panjang untuk meraih Anuttara Samyaksambuddha. 
Waktu yang ditempuh mungkin dapat berlangsung berkalpa kalpa 
lamanya. Selama dalam masa berlatih, kita harus menyempurnakan 6 
Paramitha dan memerlukan banyak pengorbanan. Sedangkan jalan Mudah 
adalah jalan yang selain mengandalkan kekuatan sendiri, campur 
tangan Buddha turut berperan untuk membantu kita dalam mengarungi 
sang Jalan. Maka pilihan terbaik agar dapat memuluskan sang jalan 
adalah terlahir di tanah suci Buddha, sebuat tempat yang telah 
dimanifestasikan Buddha untuk keperluan ini. 
Ada sebuah perumpamaan untuk menggambarkan keunggulan dari Jalan 
Mudah dibandingkan dengan Jalan Sulit. Seorang praktisi diibaratkan 
sebagai seekor ulat. Kemudian dunia samsara ini diibaratkan sebagai 
sebatang bambu panjang. Jika Sang ulat yang berada di dalam bambu 
ini, maka dengan cara apakah agar dapat keluar darinya? Ulat ini 
akan menelusuri jalur bambu untuk mencapai ujungnya. Pada jalur 
pertama, dia akan terhalang oleh dinding pembatas seperti yang ada 
pada setiap bambu. Maka dia-pun harus melubangi dinding pembatas 
satu persatu. Setelah berhasil dia akan menempuh lagi jalur berikut 
dan seterusnya  untuk dapat mencapai ke ujung bambu. Setelah 
mencapai ke ujung bambu, ulat ini akan melubangi dinding terakhir 
baru akan berhasil keluar dari bambu. Inilah yang disebut sebagai 
Jalan Sulit yang ditempuh ulat untuk keluar dari bambu. Sesungguhnya 
untuk keluar dari bambu ini tidaklah sesulit yang ditempuh oleh ulat 
ini, seandainya ulat ini melubangi saja bagian sisi bambu, maka 
beliau pun dapat  langsung keluar dari lubang samping yang 
dilubanginya. Inilah yang disebut Jalan Mudah. Dan praktisi tanah 
suci inilah diibaratkan orang yang menempuh Jalan Mudah. Namun pada 
intinya Jalan Mudah tidak dapat begitu saja diterima oleh setiap 
individu. Bagi mereka yang tidak memiliki keyakinan yang kuat 
terhadap Jalan Mudah akan menjadi sulit untuk menerapkan jalan ini, 
dengan demikian maka  sesuatu yang mudah bisa menjadi sulit juga. 
Bagi mereka yang menempuh jalan Sulit, jika mentalitas dan sikap 
batin mereka sangat teguh, maka kesulitan kesulitan yang muncul 
tidak akan menggoyahkan mereka, maka menempuh Jalan Sulit bukan 
menjadi masalah. Namun yang menjadi inti persoalan di sini adalah 
dengan paradigma apa dalam mengukur mentalitas dan sikap batin 
kita?   Itulah yang menjadi sebab mengapa para praktisi Mahayana 
dari berbagai mazhab bertekad terlahir di Tanah suci Buddha. 
Berbagai bentuk Samadhi telah mereka raih, berbagai pengetahuan 
dharma telah mereka kuasai, dengan berbagai cara mereka tempuh untuk 
mengikis kekotoran batin, namun mereka sadar bahwa sebelum buah 
kesucian benar benar mereka capai, maka adalah sangat beresiko dan 
berbahaya bila membiarkan kesadaran mereka ikut ditelan oleh detik 
detik menuju kematian. Sebelum mencapai kesucian dan bila kematian 
tiba, maka kita tidak memiliki kekuatan untuk mengendalikan kemana 
kita akan dilahirkan kembali. Dan seandainya kita lahir ditempat 
yang baik, seberapa besar tingkat kemungkinan kita akan meneruskan 
pelatihan kita sebagai kelanjutan dari jalan masa lalu kita? Apakah 
kita akan terus sanggup menyesuaikan diri dengan perubahan jaman dan 
berlatih dengan tingkat kemajuan yang linear? Bagaimana jika kita 
akhirnya tersandung godaan yang lebih dashyat?  Maka tidak 
berlebihan bila para praktisi memilih tanah suci Buddha sebagai 
naungan terakhir mereka dengan pertimbangan pada resiko di atas. 
Mengutip apa yang pernah dipaparkan oleh Master JingKong, beliau 
mengatakan bahwa lebih lebih di masa sekarang ini, sangat kecil 
kemungkinannya untuk mencapai kesucian dengan bermeditasi saja. 
Sedangkan sang Buddha telah memberikan pesan yang sangat krusial 
yang masih tidak banyak disadari oleh para penganutnya sendiri. 
Dalam Saddharmapundarika Sutra, Buddha mengatakan bahwa Triloka (3 
alam) ini bagaikan rumah yang sedang terbakar dan tidak ada yang 
aman di sini. Namun hal ini tampaknya luput dari perhatian orang, 
lebih lebih di jaman sekarang ini. Dengan berbagai kemajuan 
teknologi yang memberi kehidupan menjadi lebih nyaman, manusia di 
dunia ini sudah bagaikan para dewa penghuni surga. Tidak ada lagi 
yang tertarik dengan berlatih seperti halnya para dewa yang telah 
mabuk dengan kesenangan kesenangan surgawi. 
Jika mengutip dari Sutra, maka akan menjadi lebih jelas lagi bahwa 
sesungguhnya jalan terbaik untuk terbebas dari kehidupan samsara ini 
pada masa sekarang adalah mempraktekkan metode Nianfo. Dalam kitab 
Chandra-garbha Sutra (bagian dari Maha Samnipata Sutra) 
mengatakan, "Di jaman akhir dharma, berjuta-juta orang berlatih, 
satu orangpun sulit ditemukan mencapai kesucian, hanya dengan metode 
Nianfo-lah yang dapat menyeberangkan orang dari Samsara".    
Banyak orang memandang rendah para praktisi Tanah suci telah 
mempraktekkan metode sederhana yang hanya cocok buat para orang tua  
yang tidak berpengetahuan. Bagi mereka melafal nama Buddha adalah 
masalah mudah yang tidak ada artinya. Namun  jika diperhatikan lebih 
jauh, bahkan para bodhisattva yang telah mencapai tingkatan yang   
tinggi   pun memilih Tanah suci sebagai tempat belajarnya. Sesepuh 
dari mazhab TienTai –bhiksu ZhiYi- adalah praktisi besar, namun 
menjelang kemangkatan beliau memilih Tahan Suci Buddha sebagai 
naungan terakhirnya. Bhiksu YuanZhao adalah sesepuh besar dari 
mazhab Vinaya pada masa dinasti Song mengatakan bahwa hidupnya untuk 
menggalakkan praktek Vinaya namun saat kematian tiba naungannya 
adalah tanah suci Buddha. Bhiksu YenShou adalah praktisi Chan yang 
mendapatkan otoritas sebagai pewaris ajaran Chan juga beralih 
menjadi praktisi Tanah Suci.  
Bodhisatva Samanthabhadra dengan 10 tekadnya yang tertuang dalam  
kitab Avatamsaka Sutra bernaung pada Tanah Suci Amitabha Sutra. 
Beliau juga menasihati Sudhana untuk terlahir di Tanah Suci Buddha 
Amitabha. Bodhisatva Manjusri yang disebut sebagai symbol dari 
Kebijaksanaan juga memilih Tanah Suci Buddha sebagai tempat berlatih 
terbaik. Bodhisatva Avalokitetsvara dan Mahasthamaprapta adalah 
Bodhisatva tingkat tinggi yang bernaung pada Tanah suci Buddha.  
        Berbagai kisah nyata keajaiban dan kesaksian tentang para 
praktisi yang disambut oleh manifestasi Buddha Amitabha ke alam 
Sukhavati telah tersimpan dalam berbagai catatan kuno di China. Dari 
bhiksu, bhiksuni hingga perumah tangga yang tidak berpengetahuan 
tentang ajaran Buddha, mereka semua berhasil terlahir di negeri 
Buddha  dengan ciri ciri munculnya peristiwa ajaib menjelang 
kemangkatan mereka dengan melafal nama Buddha. Ada yang melihat 
Buddha dengan cahaya gemilang datang menyambut. Ada yang melihat 
pemandang alam Sukhavati dengan wujud kecermelangannya. Ada yang 
melihat bunga teratai dengan cahaya emas. Berbagai musik surgawi 
berkumandang, berbagai jenis wewangian muncul menyerbak ke sepenjuru 
ruangan. Semua ini tidak sekedar disaksikan oleh mereka sendiri. 
Kadang pendamping mereka juga melihatnya secara beramai ramai. 
Setelah dikremasi, abu jenasah mereka kemudian ditemukan berbagai 
relik relik yang menakjubkan.  Mereka semua adalah saksi nyata yang 
di mana hingga sekarang boleh dikatakan belum diketahui secara 
luas.  
        Kunci keberhasilan para praktisi sesungguhnya terletak pada 
kekuatan tekad dan keyakinan. Kekuatan tekad dan keyakinan yang 
kemudian dilandasi oleh praktek Sila dan kebajikan kemudian 
diintegrasikan ke dalam pelafalan nama Buddha. Jadi sesungguhnya 
pelafalan nama Buddha tidak hanya sekedar mengucapkannya. Pikiran 
yang terpusat hingga mencapai suatu keadaan Samadhi adalah hal yang 
krusial. Dengan demikian, Jalan Mudah yang tampaknya mudah 
sesungguhnya tidak semudah apa yang dibayangkan. Hal ini pernah 
diungkapkan oleh upasaka LiBingNan –seorang praktisi Tanah Suci
yang 
tinggal di Taiwan. Beliau memperhatikan bahwa dari sekian ribu orang 
mempraktekkan Nianfo di Taiwan, tidak lebih dari 10 orang yang 
berhasil terlahir di tanah suci Buddha. Menurut beliau kegagalan ini 
dikarenakan tidak ada landasan keyakinan dan tekad yang teguh. 
Melafal naman Buddha hanya sekedar melafal. Meskipun melafalnya 
sepuluh ribu kali, jika keyakinan dan tekad yang tipis, maka hal ini 
sama sulitnya. Jika kemelekatan terhadap duniawi masih kuat, mereka 
tidak rela meninggalkan dunia Saha ini. Upasaka LiBingNan sendiri 
meninggal pada usia 90 lebih, saat menjelang kemangkatan, berbagai 
peristiwa ajaib pun muncul. Namun kemelekatan pada peristiwa ajaib 
adalah sama buruknya dengan kemelekatan pada pandangan salah. 
Seorang praktisi sejati perlu memiliki pandangan yang benar. 
Peristiwa ajaib hanya semacam "casting" pelengkap saja yang
tidak 
perlu dijadikan sasaran praktisi.  
Banyak orang bertanya tanya bahwa hanya dengan berkeyakinan saja 
mengapa bisa membuat seseorang terlahir di tanah suci Buddha. Dalam 
ajaran Tanah suci, ada 3 faktor yang menjadi bekal untuk terlahir di 
Tanah suci. Pertama, Keyakinan. Kedua adalah tekad dan ketiga adalah 
praktek. Ketiga factor ini dijalankan dengan benar maka keberhasilan 
akan tercapai.  Perlu diketahui, bahwa konteks "keyakinan" di
sini 
seharusnya di pandang secara mendalam. Jika kita perhatikan, mereka 
yang menjadi pelafal nama Buddha mungkin akan dinilai bahwa mereka 
telah memiliki keyakinan yang baik, tetapi tidak sedikit juga mereka 
yang  terperosot dan gagal. Dalam kitab Dhammapda Atthakata terdapat 
kisah  bagaimana Matthakundali terlahir di alam surga hanya dengan 
berkeyakinan pada sang Buddha. Di sini konteks keyakinan sungguh 
tidak dapat kita pandang secara sederhana.  Setelah memiliki 
keyakinan, syarat yang harus dipenuhi adalah tekad. Jika tidak 
memiliki tekad, maka sekalipun Buddha muncul di depan kita tidak ada 
gunanya juga. Setelah membangkitkan tekad, tentu kita harus 
mempraktekkan sang Jalan. 
Para praktisi tanah suci menilai bahwa mempraktekkan Nianfo dengan 
tekad terlahir di Tanah suci merupakan alternative terbaik yang 
dipilih Buddha dan sebagai wujud konkrit dari welas asih para 
Buddha. Dengan mengikuti teladan para sesepuh terdahulu, 
sesungguhnya kita telah diberi petunjuk yang baik ,di mana pada masa 
sekarang ini apa yang disebut sebagai dharma sudah semakin sulit 
dikenali dan sekalipun telah mengenalinya kita tetap mengalami 
berbagai hambatan untuk merealisasikannya jika tidak memilih Jalan 
Mudah seperti yang telah dinasihati para bodhisattva.  





Sekilas Sejarah masuknya agama Buddha ke China


        Tidak ada catatan konkret mengenai tahun kepastian kapan 
agama Buddha masuk ke China untuk pertama kalinya. Tetapi penafsiran-
penafsiran yang dilakukan oleh para sejarahwan meyakini bahwa masa 
dinasti Han Timur (abad pertama masehi) adalah masa agama Buddha 
mendapat perhatian secara resmi dari pihak kerajaan. Selain 
penafsiran ini, terdapat beberapa catatan sejarah yang mengatakan 
agama Buddha telah dikenal pada masa yang lebih awal. Salah satu 
penafsiran mengenai masa yang lebih awal diacu berdasarkan catatan 
sejarah dari kitab "WeiLue" karya YuHuan yang hidup pada masa
Tiga 
Kerajaan (abad ke 3 M). Di mana tertulis bahwa pada masa 
pemerintahan kaisar HanAiDi era YuanShou tahun pertama (tahun 2 SM), 
murid dari FuSi bernama JingLu mendapatkan bimbingan secara lisan  
dari YiChun-  utusan kerajaan Kusana (wilayah perbatasan dengan 
China, sekarang sekitar Afghanistan dan Uzbekistan) tentang ajaran 
kitab "FuTuJing (Kitab suci Buddha)". Adapun pendapat ini
juga 
diperkuat oleh fakta bahwa agama Buddha  telah berkembang pesat di 
kerajaan Kusana sejak lebih kurang tahun 130 SM. Dari beberapa 
catatan yang ada, bahkan terdapat pendapat yang menyatakan agama 
Buddha telah dikenal jauh lebih awal, namun karena tidak ada bukti 
bukti kuat yang mendukung tentang catatan tersebut, maka para 
sejarahwan pun  belum bisa memastikan kebenarannya. 
        Meskipun telah terdapat catatan sejarah mengenai masa yang 
lebih awal ini, namun hal ini belum bisa ditetapkan sebagai masa 
resmi masuknya agama Buddha, karena pergerakan agama Buddha masih 
sebatas pengenalan dan belum terdapatnya vihara, bhiksu dan kitab 
suci di daratan China. Hingga pada masa dinasti Han Timur, agama 
Buddha baru-lah mendapat perhatian serius dari kerajaan yang dipicu 
oleh kisah tentang mimpi sang kaisar. Dalam kisah tersebut di mana 
disebutkan bahwa  kaisar HanMingDi (tahun 64 M) bermimpi seseorang 
bertubuh keemasan terbang ke dalam istana. Keesokan harinya sang 
kaisar lalu bertanya kepada para pejabat istana, dan salah satu 
pejabat bernama FuYi menjawab, "Di wilayah barat terdapat orang
suci 
yang disebut Buddha, mungkin orang yang baginda mimpikan itu adalah 
Beliau". Kemudian Kaisar pun memerintahkan 18 orang utusan
berangkat 
menuju wilayah barat mencari tahu tentang ajaran Buddha. Berselang 
beberapa tahun kemudian para utusan kembali dengan membawa kitab 
suci dan patung Buddha beserta bhiksu dari kerajaan Kusana. Kemudian 
mereka ditempatkan di HongLu Si. HongLu Si merupakan departemen 
khusus untuk tamu dari luar negeri di lingkungan kerajaan (HongLu Si 
secara harfiah dapat berarti Departemen HongLu). Karena ketertarikan 
yang besar akan ajaran Buddha, akhirnya Kaisar bersedia  mendirikan 
sebuah tempat baru lagi dengan nama BaiMa Si yang berarti Departemen 
Kuda Putih (Diambil nama Kuda Putih adalah untuk menghormati Kuda 
Putih yang mengangkut kitab suci Buddha) agar para bhiksu tersebut 
dapat menetap di China dan melakukan kegiatan pengajaran dan 
penerjemahan ajaran Buddha. Karena merupakan tempat kegiatan agama 
Buddha, maka tentu saja pengertian BaiMa Si berubah menjadi vihara 
di mana pada awalnya sesungguhnya merupakan nama departemen 
dilingkungan kerajaan. Maka inilah vihara yang pertama muncul  di 
China. Kemudian oleh bhiksu Kasyapa Matanga dan Dharmalaksa, 
diterjemahkanlah kitab suci yang pertama dengan judul 
SiShiErZhangJing (Sutra Empat Puluh Dua Bagian). Dengan demikian 
maka agama Buddha baru mulai berkembang secara resmi di China dan 
sejak itu-pun semakin banyak kitab suci mengalir masuk dan 
diterjemahkan. 


Berbagai mazhab agama Buddha di China

Sejak agama Buddha masuk ke China, kegiatan penerjemahan kitab suci 
menjadi salah satu tujuan yang sangat penting dan mendapatkan 
perhatian serius dari pihak kerajaan. Boleh dikatakan kegiatan 
penerjemahan tersebut mendapat perlindungan secara langsung dari 
kerajaan. Sedangkan proses penejermahan kitab suci berlangsung 
secara ketat dan peserta kegiatan penerjemahan bahkan diseleksi 
secara ketat di mana jumlah peserta dapat berjumlah hingga ratusan 
orang. Ini mengindikasikan bahwa penerjemahan kitab suci Buddha di 
China dilakukan secara sangat hati hati. Dengan maraknya kegiatan 
penerjemahann kitab suci, maka agama Buddha berkembang secara pesat, 
berbagai kajian tentang kitab suci pun dilakukan, dan  masing masing 
mengfokuskan diri untuk melakukan kajian terhadap kitab suci yang 
dianggap paling cocok dengan pandangannya. Dengan demikian maka 
muncullah berbagai mazhab yang dipicu bukan berdasarkan perpecahan 
tetapi lebih pada memprioritaskan  kitab suci yang dianggap terbaik 
oleh masing masing praktisi.  Hingga pada masa dinasti Tang, agama 
Buddha mencapai puncak kejayaannya.  Sedangkan mazhab yang 
bermunculan adalah sebagai berikut:
Dari aliran Hinayana:
1.      Mazhab JuShi (Abhidharma Kosa). Mazhab ini memprioritaskan 
pada kitab Abhidharma Kosa karya Vasubandhu. 
2.      Mazhab ChengShi (Satyasiddhi).  Prioritas pada kitab 
Satyasiddhi Sastra karya Harivarman

Dari aliran Mahayana:
1.      Mazhab Lu (Vinaya). Prioritas pada kitab ShiFenLu (Empat 
bagian Vinaya) dari aliran Dharmagupta
2.      Mazhab Chan (Dhyana). Mazhab ini tidak menekankan pada 
pentingnya kitab suci, melainkan kontemplasi diri melalui pemahaman 
langsung tentang hakikat Buddha untuk meraih pencerahan. Meskipun 
demikian, mazhab ini tetap memiliki acuan kitab yang dianjurkan oleh 
patriak pertamanya –Bodhidharma- yakni kitab Lankavatara Sutra. 
3.      Mazhab TienTai. Prioritas pada kitab Saddharmapundarika 
Sutra.
4.      Mazhab HuaYan (Avatamsaka). Prioriotas pada kitab Avatamsaka 
Sutra
5.      Mazhab MiZong (Tantrayana). Prioritas pada semua kitab suci 
yang dikategorikan dalam divisi Tantra.
6.      Mazhab FaXiang (Dharmalaksana). Prioritas pada kitab 
Samdhinirmocana Sutra, Yogacara bhumi Sastra dan 
Vijnaptimatratasiddhi-sastra.
7.      Mazhab SanLun (Trisastra). Prioritas pada kitab Madhyamika 
Sastra, Sata Sastra, Dvadasanikaya Sastra.
8.      Mazhab JingTu (Sukhavati). Prioritas pada kitab Amitabha 
Sutra, Maha Sukhavati-vyuha Sutra dan Amitayurdhyana Sutra. 


 
Tanah suci Buddha dan mazhab Sukhavati

Berbagai mazhab agama Buddha yang berkembang di China sebagian besar 
merupakan dari aliran Mahayana. Meskipun aliran Hinayana juga pernah 
dipelajari secara luas dan menjadi salah satu aliran yang dianut, 
namun aliran ini tidak bertahan lama. 
Bagaimana dengan sejarah perkembangan mazhab Sukhavati ?
Pada prinsipnya Tanah suci Buddha merupakan bagian tak terpisahkan 
dari keseluruhan bentuk ajaran Mahayana. Jika memperhatikan seluruh 
mazhab Mahayana yang berkembang di China, tidak ada satupun mazhab 
yang tidak mengenal Tanah Suci Buddha. Hal ini seiring dengan 
diterjemahkannya berbagai kitab suci menyangkut berbagai Tanah Suci 
Buddha. Di antaranya seperti kitab suci yang menyangkut Tanah suci 
dari Buddha Aksobhya, Baisajyaguru, Amitabha dan bodhisattva 
Maitreya. 
Sebelum kemunculan mazhab Sukhavati, pada masa dinasti Jin Timur 
telah dikenal ajaran tentang bodhisattva Maitreya beserta tanah suci-
nya yang dipopulerkan oleh bhiksu DaoAn. Ajaran ini berdasarkan 
kitab tentang keluhuran tanah suci Bodhisatva Maitreya yang berdiam 
di surga Tusita. Dikatakan bahwa  Tanah suci Bodhisatva Maitreya 
terletak di Bagian Dalam surga Tusita yang terpisah dari Bagian luar 
Tusita. Kelahiran di tanah Suci-nya Bodhisatva Maitreya menjadi 
fokus dari beberapa praktisi pada jaman tersebut, dan tokoh tokoh 
yang dianggap telah terlahir di tanah suci bodhisattva Maitreya 
adalah Asanga dan XuanZhuang. Kemudian fokus pada ajaran tentang 
tanah Suci bodhisattva Maitreya tampaknya tidak begitu berkembang.  
Sedangkan mazhab Sukhavati merupakan mazhab yang secara khusus 
memfokuskan diri pada tanah suci Buddha Amitabha.  Adapun awal 
perkembangan mazhab ini diprakarsai oleh bhiksu HuiYuan di gunung Lu 
pada masa dinasti Jin (abad ke 5 M). Bersama 123 orang rekannya, 
HuiYuan menyelenggarakan upacara sumpah tekad untuk terlahir di 
Tanah Suci Buddha (Sukhavati). Kemudian mereka berlatih bersama 
dengan mempraktekkan Nianfo dan dari situlah kemudian terbentuk 
pusat ajaran Tanah suci pertama di China. Dengan adanya pusat ajaran 
yang memfokuskan pada ajaran Tanah suci, maka pengkajian ajaran ini 
mendapat sambutan yang cukup marak. Berbagai tokoh tokoh ajaran ini 
pun kemudian bermunculan seperti TanLuan, DaoChuo, ShanDao, 
ChengYuan, di mana kisah tentang mereka akan tertuang dalam riwayat 
singkatnya. Para praktisi Mahayana dari berbagai mazhab lain  juga 
tidak ketinggalan dengan mengkaji tentang konsep Tanah suci dan 
bahkan tidak sedikit dari mereka yang meskipun telah memprioritaskan 
pada sutra Mahayana lain, namun dalam batin mereka, tekad terlahir 
di tanah suci Buddha merupakan tujuan terakhir menjelang kemangkatan 
mereka. Sebagai contoh, sesepuh utama dari mazhab TienTai –bhiksu 
ZhiZi- sebagai bapak dari ajaran TienTai juga memilih tanah suci 
Buddha Amitahba sebagai naungan terakhirnya. Kemudian sesepuh dari 
mazhab Vinaya –YuanZhao; sesepuh dari mazhab Chan –YenShou. 
Mungkin timbul pertanyaan bahwa dari berbagai tanah suci Buddha yang 
ada, mengapa Sukhavati menjadi pilihan yang paling populer dan 
menjadi mazhab yang berdiri sendiri? Hal ini tidak terlepas dari 
pengkajian yang mendalam dari para praktisi dengan kesimpulan bahwa 
di antara 10 penjuru lokadhatu dan semua Buddha dari 3 masa , Buddha 
Amitabha memiliki tekad yang paling luhur, metode ajaran Nya yang 
paling praktis dan sederhana, dimana dengan praktek melafal nama 
Buddha baik bagi bhiksu/ni maupun umat awam akan terlahir di Tanah 
suci Buddha, kemudian  ikatan jodohnya yang paling dekat dengan 
dunia ini.  Seperti yang telah dipaparkan oleh Sang Buddha Sakyamuni 
sendiri bahwa terdapat Buddha yang memancarkan cahaya sejauh satu 
yojana, dua yojana, tiga yojana, atau sejauh satu negeri Buddha, 100 
negeri Buddha, namun cahaya Buddha yang pancarkan oleh Buddha 
Amitabha adalah tak terbatas dan oleh sebab itu juga Buddha ini 
disebut Buddha Amitayur (Cahaya Tanpa Batas). Sang Buddha Sakyamuni 
sendiri menganjurkan para siswa-nya untuk bertekad terlahir di Tanah 
suci Buddha untuk berlatih lebih lanjut. Dari berbagai kitab kajian 
tentang Tanah suci Buddha, Buddha Amitabha menduduki posisi yang 
paling utama seperti  yang ditulis oleh  tokoh seperti Nagarjuna dan 
Vasubandhu. Atas dasar hal inilah maka mazhab Tanah Suci akhirnya 
timbul menjadi satu mazhab tersendiri yang para praktisinya berasal 
dari berbagai mazhab dan golongan. 
 

Kitab Suci mazhab Sukhavati

Meskipun ajaran Tanah suci Buddha Amitabha baru mulai mendapat 
sambutan yang luas pada akhir abad ke 4  yang diprakarsai oleh 
bhiksu HuiYuan, namun sesungguhnya kitab suci Buddha yang menyangkut 
ajaran  ini telah muncul dan diterjemahkan pada masa yang sangat 
awal. 
Pada masa dinasti Han Timur (abad ke 2 M), bhiksu asal kerajaan 
Kusana bernama Lokaraksha tiba di kota LuoYang dan menerjemahkan 
berbagai kitab suci Buddha. Kitab terjemahannya yang menyangkut 
ajaran tanah suci Amitabha, yakni:
1.      WuLiangQingJingPingDengJueJing (Maha Sukhavati-vyuha Sutra)
2.      BanZhouSanMeiJing (Pratyutpannasamadhi Sutra)

Selain kitab tersebut, kemudian dari waktu ke waktu kitab lain yang 
menyangkut ajaran ini pun bermunculan satu persatu. Perlu diketahui 
bahwa kitab suci Buddha yang jumlahnya sangat besar itu tidaklah 
mungkin dapat dibawa secara langsung sekaligus ke China pada masa 
itu. Oleh karena itu, adalah wajar jika kitab suci Buddha yang masuk 
ke China diterjemahkan satu per satu secara bertahap. Lagi pula juga 
tidak diketahui berapa sesungguhnya jumlah kitab Suci Buddha secara 
lengkap khususnya menyangkut ajaran Mahayana 
Konon dikatakan bahwa adalah Nagarjuna-lah yang menemukan kitab suci 
Mahayana yang sempat tersimpan dalam waktu yang lama di istana raja 
naga. Dalam istana raja naga, kitab suci Mahayana tersimpan dalam 
jumlah yang tak terhitung. Sebagai contoh, kitab Avatamsaka Sutra 
yang ada dalam bentuk sekarang hanya-lah sebuah Avatamsaka Sutra 
dalam versi yang paling kecil. Dalam versi yang paling besar, isi 
dari kitab ini dapat berjumlah "berjuta juta" jilid. Karena 
Nagarjuna merasa kitab besar ini sangat sulit dipahami maka beliau 
pun hanya mengambil kitab yang kecil saja. Hal demikian memang 
diluar pemahaman awam, namun adalah kenyataan bahwa kemunculan kitab 
suci Mahayana adalah masih merupakan sebuah misteri. Berbagai 
penafsiran dilakukan, namun tidak ada bukti yang kuat. Meskipun 
demikian, hal ini tidak mengurangi keyakinan para praktisi Mahayana 
akan nilai kitab suci tersebut. Jika ditilik dari sejarah perpecahan 
antara sekte Sthavirada dan Mahasanghika (cikal bakal Mahayana) pada 
masa awal, sesungguhnya doktrin doktrin Mahayana telah ada pada masa 
tersebut. Cuma di sini ada kemungkinan karena kurangnya catatan yang 
menyangkut sejarahnya, maka mau tidak mau beberapa hal penting 
mengenai kronologi awal munculnya kitab Mahayana menjadi kabur. 
 
Kitab suci mazhab Sukhavati yang paling utama ada 4,  yang terdiri 
dari 3 sutra dan satu kitab komentar, yaitu:
1.      GuanWuLiangShouFoJing (Amitayur-dhyana Sutra) .
Terdapat 2 versi terjemahannya :
              1.GuanWuLiangShouFoJing .
Diterjemahkan oleh JiangLiangYeShe pada masa dinasti Song era 
dinasti Utara Selatan (abad ke-5 M).
              2.GuanWuLiangShouFoJing
Diterjemahkan oleh Dharmamitra  pada masa dinasti Song era dinasti 
Utara Selatan (abad ke 5 M)
        
2.   FoShuoAMiToJing (Amitabha Sutra).
Terdapat 3 versi penerjemahan kitab ini, yakni:
              1.FoShuoAMiToJing 
Diterjemahkan oleh bhiksu asal kerajaan Kucha (Asia Tengah) – 
Kumarajiva pada tahun 402 M
              2.FoShuoXiaoWuLiangShouJing
Diterjemahkan oleh bhiksu Gunabhadra sekitar tahun 446 M
              3.ChenZhanJingTuFoSheShouJing
Diterjemahkan oleh bhiksu XuanZhuang pada tahun 650 M.

Dari 3 versi ini, yang ada hingga sekarang ini hanya tinggal 
terjemahan Kumarajiva dan XuanZhuang.

3.  WuLiangShouJing (Maha Sukhavati-vyuha Sutra).
Terdapat 12 versi terjemahan kitab ini:
          1.WuLiangShouJing (2 jilid). 
Diterjemahkan oleh bhiksu asal Persia –AnShiGao, pada  abad ke 2
M. 
Masih menjadi pertanyaan apakah benar kitab ini adalah terjemahan 
bhiksu AnShiGao, karena sejauh yang diketahui, semua kitab 
terjemahan AnShiGao merupakan kitab Hinayana. 
         2.WuLiangQingJingPingDengJueJing (4 jilid).
Diterjemahkan oleh bhiksu Lokaraksha pada abad ke 2 M. 
         3.FoShuoAMiToSanYeSanFoShaLouFoTanGuoDuRenDaoJing (2 jilid).
Diterjemahkan oleh bhiksu ZhiQian pada masa Tiga kerajaan (abad ke 3 
M). 
         4.WuLiangShouJing (2 jilid).
Diterjemahkan oleh bhiksu Sanghavarman pada 252 M. 
         5.WuLiangQingJingPingDengJueJing (2 jilid).
Diterjemahkan oleh bhiksu BaiTing pada masa tiga kerajaan (abad ke 3 
M).
         6.WuLiangShouJing (2 jilid)
Diterjemahkan oleh bhiksu Dharmapala pada masa dinasti Jin Barat 
(antara abad ke 3 – 4 M).
         7.WuLiangShouZhiZhenDengJueJing (2 jilid)
Diterjemahkan oleh bhiksu Dharmabala pada masa dinasti Jin Timur 
(abad ke 4 M)
         8.XinWuLiangShouJing (2 jilid).
Diterjemahkan oleh bhiksu JueXian pada masa dinasti Jin Timur (abad 
ke 4 M).
         9.XinWuLiangShouJing (2 jilid).
Diterjemahkan oleh bhiksu BaoYun pada masa dinasti Jin Timur (abad 
ke 4 M).
        10.XinWuLiangShouJing (2 jilid).
Diterjemahkan oleh bhiksu Dharmamitra pada masa dinasti utara 
selatan (abad ke 5 M).
        11.WuLiangShouRuLaiHui (2 jilid).
Diterjemahkan oleh bhiksu Bodhiruci pada masa dinasti Tang (awal 
abad ke 8 M).
        12.DaCengWuLiangShouZhuangYanJing (3 jilid)
Diterjemahkan oleh bhiksu Dharmabhadra pada masa dinasti Song 
(antara abad ke 10-12 M)

Dari ke 12 versi tejemahan kitab Maha Sukhavati-vyuha Sutra, hanya 
tingggal 5 versi yang masih ada hingga sekarang, yakni kitab nomor 
2,3,4,11 dan 12.

4.  Satu kitab komentar yakni: WuLiangShouJingYouPoTiShe/ 
WangShenLun (Maha Sukhavati-vyuha Upadesa) karya Vasubandhu. 
Diterjemahkan oleh Bodhiruci di abad ke 6 M.  

Demikianlah kitab dari mazhab Sukhavati dengan sebutan 3 Sutra 1 
Sastra. Selain kitab tersebut, juga terdapat kitab karya para 
patriak yang jumlah nya sangat banyak Dengan mengutamakan 3 sutra 
dan 1 sastra, para praktisi mazhab ini diharapkan menjadikan kitab 
tersebut sebagai prioritas utama untuk berlatih. Namun tidak berarti 
kitab suci Buddha lainnya secara keseluruhan diabaikan. Tujuan dari 
prioritas tersebut adalah agar seorang praktisi dapat berlatih pada 
satu metode secara spesifik. Ajaran Buddha dikatakan memiliki 84.000 
metode. Oleh sebab itu, memprioritaskan satu metode sebagai sarana 
berlatih adalah sangat penting dan itu pula visi yang diperlihatkan 
oleh setiap mazhab Mahayana yang ada. Di samping prioritas 3 Sutra 
Satu Sastra ini, sesungguhnya masih terdapat banyak kitab besar lain 
yang menyinggung tentang Buddha Amitabha. Seperti Avatamsaka Sutra, 
Shuranggama Sutra, Saddharmapundarika Sutra. Maka tidak mengherankan 
jika setiap mazhab Mahayana yang berlatih pada metode masing masing, 
namun pada akhirnya bernaung pada tanah Suci Buddha Amitahba.    

        
Latar belakang pengokohan patriak Tanah Suci  

Dari sejak awal munculnya mazhab Sukhavati pada masa dinasti Jin 
Timur (akhir abad ke 4 M) hingga saat sekarang ini, terdapat 13 
tokoh yang dihormati sebagai patriak pewaris mazhab ini. Namun 
penobatan sebagai patriak pada tokoh-tokoh tersebut bukanlah 
diturunkan berdasarkan transmisi ajaran dari guru kepada murid 
secara langsung.  Dengan kata lain, penobatan tokoh tersebut diukur 
dari kontribusi sang tokoh dalam menyebar luaskan ajaran Tanah suci 
dan bahwa  tidak selalu terdapat hubungan langsung antara patriak 
satu dengan lainnya. Persinggungan mengenai penobatan patriak itu 
juga baru mulai dimunculkan pada masa dinasti Song. Tapi perlu di 
ketahui bahwa jauh sebelum dinasti Song, di masa dinasti Tang 
terdapat  4 tokoh yang telah dianggap sebagai sesepuh ajaran Tanah 
suci. Keempat orang tersebut adalah : 
1.      Mahaguru HuiYuan
2.      Mahaguru TanLuan
3.      Mahaguru DaoChuo
4.      Mahaguru ShanDao
Namun saat itu tidak ada maksud sama sekali untuk menempatkan posisi 
mereka sebagai pewaris ajaran Tanah suci.   
Pada masa dinasti Song,  bhiksu ZhongXiao (1151-1214) baru 
menempatkan 6 tokoh ajaran Tanah Suci sebagai patriak dengan garis 
silsilah sebagai berikut: 
1.      Patriak Pertama : HuiYuan.
2.      Patriak kedua : ShanDao
3.      Patriak ketiga : FaZhao
4.      Patriak keempat : ShaoKang
5.      Patriak kelima : XingChang
6.      Patriak keenam : ZhongZhe

Kemudian di jaman yang sama, bhiksu ZhiPan dalam 
kitabnya "FoZhuTongJi (Catatan silsilah Buddha)", beliau
menggaris 
bawahi terdapat  5 aliran agama Buddha yakni mazhab TienTai (Fahua), 
Chan (Chan/Dhyana), Huayen (Avatamsaka), Faxiang (Yogacara), Mizhong 
(Tantra), dan Luzhong (Vinaya), di mana beliau tidak menempatkan 
ajaran Tanah suci sebagai sebuah mazhab yang berdiri sendiri namun 
menampilkan 7 praktisi ajaran tanah suci sebagai patriak dengan 
urutan sebagai berikut: 


1. HuiYuan              5. ShaoKang
2. ShanDao              6. YenShou
3. ChengYuan            7. XingChang
4. FaZhao

Pada masa itu, bhiksu ZhongXiao dan ZhiPan sama-sama merupakan 
penganut mazhab TienTai.  ZhongXiao memasukkan 6 tokoh dalam garis 
silsilah, sedangkan Zhipan memasukkan 7 tokoh. Sedangkan kedua versi 
penempatan nama itu terdapat sedikit perbedaan di mana nama Zhongzhe 
tidak terdapat pada versi Zhipan dan ada penambahan tokoh seperti 
YenShou dan XingChang pada versi Zhipan. Jika dilihat urutan 13 
tokoh patriak yang ada sekarang ini, sebagian urutannya diambil 
berdasarkan versi dari bhiksu ZhiPan.  Sesungguhnya penempatan tokoh 
tersebut dalam urutan patriak hanyalah untuk menampilkan para guru 
yang menitik beratkan ajaran Tanah suci. Saat itu, yang disebut 
dengan mazhab Jingtu (Tanah Suci) dalam arti sebagai sebuah mazhab 
yang berdiri sendiri belumlah ada. Namun latar belakang sejarah 
munculnya mazhab ini tidak terlepas dari sang tokoh pelopor
–HuiYuan 
di abad ke 5 M.  HuiYuan mendirikan pusat ajaran Tanah suci di 
vihara Donglin dengan nama perkumpulan Teratai. 
Hingga pada masa dinasti Yuan (era sesudah dinasti Song), 
bermunculan sekte sesat bernama BaiLianJiao (sekte teratai putih). 
Sekte ini dianggap telah  mengambil sekaligus melencengkan doktrin 
ajaran Buddha. Sesungguhnya istilah Teratai Putih sebelumnya sudah 
lama dikenal sebagai nama perkumpulan ajaran Tanah suci di gunung 
Lu.  Melihat kondisi yang memprihatinkan ini, saat itu bhiksu PuDu 
dari vihara DongLin  kemudian menulis buku "LianZhongBaoJian 
(Permata cermin mazhab Teratai)"  dan "LuShanFuJiaoJi
(Kumpulan 
ajaran dari gunung Lu)" untuk mengantisipasi ajaran sesat dari
sekte 
Teratai Putih. Dalam bukunya, bhiksu Pudu menulis bahwa pada masa 
kaisar Song-Gaozhong, bhiksu Ziyuan menggalakkan praktek Nianfo dan 
menulis praktek pertobatan Teratai putih, dan dari situlah kemudian 
baru muncul istilah mazhab Teratai putih, sebuah nama lain dari 
mazhab JingTu (Tanah suci). Inilah salah satu cikal bakal munculnya 
mazhab JingTu yang berdiri sendiri.   Akan tetapi pengokohan patriak 
pada mazhab ini masih belum pernah dibicarakan pada saat itu.   
Hingga pada masa pertengahan dinasti Qing (abad ke 17 M), barulah  
mulai dibicarakan untuk mengokohkan patriak mazhab JingTu yang 
diambil berdasarkan versi tulisan Zhipan dan memutuskan untuk 
memasukkan bhiksu LianCi sebagai patriak ke 8. Selanjutnya pada masa 
pemerintahan kaisar Qing-DaoGuang, bhiksu WuKai mengajukan 
pengangkatan  bhiksu Ouyi sebagai patriak ke 9, XingAn sebagai 
patriak ke 10, dan CheWu sebagai patriak ke 11.  Hingga pada era 
nasionalis China, bhiksu YinGuang menyisipkan nama bhiksu JieLiu 
sebagai patriak ke 10, dan nama bhiksu  XingAn dan CheWu diurutkan 
menjadi patriak ke 11 dan 12. Setelah kemangkatan bhiksu YinGuang, 
para murid menobatkannya sebagai patriak ke 13.  
Dengan demikian maka lengkaplah sudah silsilah patriak mazhab 
Sukhavati dengan 13 tokohnya yang dapat kita lihat dalam urutan 
sebagai berikut: 


Patriak  Nama                    Pusat Ajaran
  1     HuiYuan           vihara DongLin di gunung Lu
  2     ShanDao           vihara Guangming di Chang an
  3     ChengYuan         Pusdiklat Banzhou (vihara MiTuo) di Nanyue 
(gunung Heng?)
  4     FaZhao (WuHui)     vihara Zhulin di gunung Wutai
  5     ShaoKang           XinDing di gunung Wu long
  6     YenShou (YongMing) vihara YongMing di HangZhou
  7     XingChang          vihara ZhaoQing di Hangzhou
  8     LianCi (ZhuHong)   gunung YunXi di HangZhou
  9     OuYi  (ZhiXu)      Vihara LingFeng di TianMu
 10     JieLiu (XingChe)   Vihara PuRen di gunung Yu
 11     SheXian (XingAn)   Vihara FanTian di HangZhou
 12     CheWu (JiXing)     Vihara Zifu di gunung Hongluo
 13     YinGuang           Vihara LingYan di SuZhou


Selain ke 13 praktisi Tanah suci ini yang telah diangkat sebagai 
patriak, ada beberapa praktisi lain yang juga tidak boleh diabaikan 
atas kontribusinya pada penyebaran ajaran Tanah suci. Mereka adalah 
bhiksu TanLuan, DaoChuo dan HuiRi. Ada beberapa kalangan yang merasa 
sangat tidak adil dengan diabaikannya  ke 3 tokoh tersebut dalam 
daftar patriak. Tetapi apapun alasannya, ke tiga praktisi tersebut 
tetap mendapat tempat yang sangat dihormati oleh para penganut 
mazhab ini dan posisi mereka sesungguhnya juga disejajarkan dengan 
para patriak. 
Yang menarik adalah bahwa meskipun bhiksu TanLuan dan DaoChuo tidak 
dimasukkan dalam daftar nama patriak mazhab tanah suci di tempat 
asalnya, namun nama mereka justru muncul dalam daftar patriak aliran 
JodoShu (tanah suci) di Jepang. Tentu hal ini tidak terlepas dari 
pengaruh ajaran ShanDao (patriak ke 2) yang berkembang di Jepang. 
Sesungguhnya ShanDao merupakan murid dari DaoChuo.  Sedangkan 
TanLuan adalah tokoh ajaran Tanah suci yang dikagumi oleh DaoChuo. 
DaoChuo sendiri mendapatkan inspirasinya tentang keunggulan ajaran 
Tanah suci berdasarkan tulisan TanLuan.
Aliran Jodoshu di Jepang sendiri  memiliki silsilah patriak versi 
mereka sendiri. Mereka menyebutnya sebagai "7 sesepuh dari 3
negara" 
dengan urutan sebagai berikut : 
Dari India:
1.      Nagarjuna (abad 2-3 M)
2.      Vasubandhu (abad 4-5 M)
Dari China:
3.   TanLuan (Jp. Donran) (476-542 M) 
5.      DaoChuo (Jp. Doshaku)(562-645 M) 
6.      ShanDao (Jp. Chando) (613-681 M)  
Dari Jepang:
7.      Genshin (942-1017 M) 
8.      Honen (1133-1212 M)    
Dibawah garis tangan Honen, aliran tanah suci secara perlahan-lahan 
terbentuk dalam beberapa aliran seperti Jodoshu, Jodoshinshu, Seizan 
Jodoshu, dan Jishu.
Mungkin timbul pertanyaan bahwa mengapa TanLuan, DaoChuo dan ShanDao 
yang menjadi bagian dari silsilah patriak di tubuh Jodoshu bukan 
patriak lainnya seperti HuiYuan. Salah satu alasan yang bisa kita 
telusuri adalah bahwa bapak pendiri aliran tanah suci di Jepang  –
Honen- mempelajari ajaran Tanah suci berdasarkan kitab karya bhiksu 
ShanDao. Meskipun beliau sendiri tidak pernah menjadi murid ShanDao 
secara langsung, namun keyakinannya pada ajaran Tanah suci tidak 
terlepas dari jasa kitab karya ShanDao, maka tidak heran jika beliau 
menjadikan bhiksu ShanDao sebagai patriak. Dengan penempatan ShanDao 
sebagai patriak maka secara otomatis guru dari bhiksu ShanDao yakni 
DaoChuo dan TanLuan juga mendapatkan tempatnya di sisi penganut 
Jodoshu.  
Perkembangan mazhab Tanah suci di China yang dimulai dari sebuah 
ajaran yang merupakan bagian dari berbagai mazhab Mahayana hingga 
menjadi sebuah mazhab yang berdiri sendiri melalui proses yang cukup 
panjang. Semua ini tidak terlepas dari kegigihan para patriak dalam 
menyebar luaskan  doktrin Tanah suci. Ditambah lagi bahwa 
sesungguhnya para sesepuh Mahayana seperti Nagarjuna dan Vasubandhu 
juga merupakan praktisi yang menyanjung doktrin Tanah suci dan 
terdapat  kisah kelahiran mereka di alam Sukhavati, maka 
terbentuknya mazhab ini di China sebenarnya adalah bagaikan bunga 
yang telah mekar  berkat benih yang telah ditanamkan oleh para 
sesepuh jauh sebelum ajaran ini masuk ke China.  
 
(BERSAMBUNG)...




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke