PATRIAK SUCI -MAZHAB SUKHAVATI (2)
by: Ching Ik
Pendahuluan
Mazhab Sukhavati atau disebut dengan mazhab JingTu (Tanah
Suci), atau juga mazhab LianZong (aliran Teratai) adalah salah satu
dari 8 mazhab Mahayana yang berkembang di China. Meskipun telah
menjadi sebuah mazhab yang berdiri sendiri, namun penerapan ajaran
Tanah Suci telah diapresiasikan oleh semua mazhab Mahayana yang ada.
Dengan demikian mazhab Sukhavati boleh dikatakan merupakan sebuah
mazhab yang telah mencakup semua mazhab Mahayana, hanya penekanannya
secara khusus pada tekad terlahir di tanah suci Buddha untuk
melanjutkan cita cita mencapai Anuttara Samyaksambuddha.
Dari sekian banyak praktisi Mahayana yang bermunculan di
China dari sejak masuknya agama Buddha ke negeri ini, sebagian besar
dari mereka walaupun telah berlatih selama berpuluh puluh tahun,
namun pada saat menjelang kemangkatannya, mereka akan mengerahkan
seluruh konsentrasi mereka untuk dapat terlahir di tanah suci Buddha
untuk melanjutkan cita cita mereka. Sesungguhnya cita cita seperti
ini bukanlah sebagai tujuan akhir seperti yang telah disalah
mengerti. Tujuan akhir dari setiap praktisi Mahayana tidak
terkecuali dari praktisi tanah suci adalah meraih Anutttara
Samyaksambuddha - pencerahan sempurna. Hyang Buddha bersabda bahwa
semua makhluk hidup memiliki benih kebuddhaan. Dengan adanya benih
kebuddhaan, Hyang Buddha mengatakan bahwa adalah pasti bagi mereka
yang ingin meraih pencerahan sempurna dengan berlatih. Prinsip ini
telah ditanamkan secara konkrit dalam ajaran Mahayana. Hanya saja
penerapannya memiliki dua jalur yang berbeda seperti yang diutarakan
oleh sesepuh Mahayana -Nagarjuna. Yakni, Jalan Sulit dan Jalan
Mudah. Secara umum, Jalan Sulit itu digambarkan sebagai jalan yang
memerlukan waktu yang panjang untuk meraih Anuttara Samyaksambuddha.
Waktu yang ditempuh mungkin dapat berlangsung berkalpa kalpa
lamanya. Selama dalam masa berlatih, kita harus menyempurnakan 6
Paramitha dan memerlukan banyak pengorbanan. Sedangkan jalan Mudah
adalah jalan yang selain mengandalkan kekuatan sendiri, campur
tangan Buddha turut berperan untuk membantu kita dalam mengarungi
sang Jalan. Maka pilihan terbaik agar dapat memuluskan sang jalan
adalah terlahir di tanah suci Buddha, sebuat tempat yang telah
dimanifestasikan Buddha untuk keperluan ini.
Ada sebuah perumpamaan untuk menggambarkan keunggulan dari Jalan
Mudah dibandingkan dengan Jalan Sulit. Seorang praktisi diibaratkan
sebagai seekor ulat. Kemudian dunia samsara ini diibaratkan sebagai
sebatang bambu panjang. Jika Sang ulat yang berada di dalam bambu
ini, maka dengan cara apakah agar dapat keluar darinya? Ulat ini
akan menelusuri jalur bambu untuk mencapai ujungnya. Pada jalur
pertama, dia akan terhalang oleh dinding pembatas seperti yang ada
pada setiap bambu. Maka dia-pun harus melubangi dinding pembatas
satu persatu. Setelah berhasil dia akan menempuh lagi jalur berikut
dan seterusnya untuk dapat mencapai ke ujung bambu. Setelah
mencapai ke ujung bambu, ulat ini akan melubangi dinding terakhir
baru akan berhasil keluar dari bambu. Inilah yang disebut sebagai
Jalan Sulit yang ditempuh ulat untuk keluar dari bambu. Sesungguhnya
untuk keluar dari bambu ini tidaklah sesulit yang ditempuh oleh ulat
ini, seandainya ulat ini melubangi saja bagian sisi bambu, maka
beliau pun dapat langsung keluar dari lubang samping yang
dilubanginya. Inilah yang disebut Jalan Mudah. Dan praktisi tanah
suci inilah diibaratkan orang yang menempuh Jalan Mudah. Namun pada
intinya Jalan Mudah tidak dapat begitu saja diterima oleh setiap
individu. Bagi mereka yang tidak memiliki keyakinan yang kuat
terhadap Jalan Mudah akan menjadi sulit untuk menerapkan jalan ini,
dengan demikian maka sesuatu yang mudah bisa menjadi sulit juga.
Bagi mereka yang menempuh jalan Sulit, jika mentalitas dan sikap
batin mereka sangat teguh, maka kesulitan kesulitan yang muncul
tidak akan menggoyahkan mereka, maka menempuh Jalan Sulit bukan
menjadi masalah. Namun yang menjadi inti persoalan di sini adalah
dengan paradigma apa dalam mengukur mentalitas dan sikap batin
kita? Itulah yang menjadi sebab mengapa para praktisi Mahayana
dari berbagai mazhab bertekad terlahir di Tanah suci Buddha.
Berbagai bentuk Samadhi telah mereka raih, berbagai pengetahuan
dharma telah mereka kuasai, dengan berbagai cara mereka tempuh untuk
mengikis kekotoran batin, namun mereka sadar bahwa sebelum buah
kesucian benar benar mereka capai, maka adalah sangat beresiko dan
berbahaya bila membiarkan kesadaran mereka ikut ditelan oleh detik
detik menuju kematian. Sebelum mencapai kesucian dan bila kematian
tiba, maka kita tidak memiliki kekuatan untuk mengendalikan kemana
kita akan dilahirkan kembali. Dan seandainya kita lahir ditempat
yang baik, seberapa besar tingkat kemungkinan kita akan meneruskan
pelatihan kita sebagai kelanjutan dari jalan masa lalu kita? Apakah
kita akan terus sanggup menyesuaikan diri dengan perubahan jaman dan
berlatih dengan tingkat kemajuan yang linear? Bagaimana jika kita
akhirnya tersandung godaan yang lebih dashyat? Maka tidak
berlebihan bila para praktisi memilih tanah suci Buddha sebagai
naungan terakhir mereka dengan pertimbangan pada resiko di atas.
Mengutip apa yang pernah dipaparkan oleh Master JingKong, beliau
mengatakan bahwa lebih lebih di masa sekarang ini, sangat kecil
kemungkinannya untuk mencapai kesucian dengan bermeditasi saja.
Sedangkan sang Buddha telah memberikan pesan yang sangat krusial
yang masih tidak banyak disadari oleh para penganutnya sendiri.
Dalam Saddharmapundarika Sutra, Buddha mengatakan bahwa Triloka (3
alam) ini bagaikan rumah yang sedang terbakar dan tidak ada yang
aman di sini. Namun hal ini tampaknya luput dari perhatian orang,
lebih lebih di jaman sekarang ini. Dengan berbagai kemajuan
teknologi yang memberi kehidupan menjadi lebih nyaman, manusia di
dunia ini sudah bagaikan para dewa penghuni surga. Tidak ada lagi
yang tertarik dengan berlatih seperti halnya para dewa yang telah
mabuk dengan kesenangan kesenangan surgawi.
Jika mengutip dari Sutra, maka akan menjadi lebih jelas lagi bahwa
sesungguhnya jalan terbaik untuk terbebas dari kehidupan samsara ini
pada masa sekarang adalah mempraktekkan metode Nianfo. Dalam kitab
Chandra-garbha Sutra (bagian dari Maha Samnipata Sutra)
mengatakan, "Di jaman akhir dharma, berjuta-juta orang berlatih,
satu orangpun sulit ditemukan mencapai kesucian, hanya dengan metode
Nianfo-lah yang dapat menyeberangkan orang dari Samsara".
Banyak orang memandang rendah para praktisi Tanah suci telah
mempraktekkan metode sederhana yang hanya cocok buat para orang tua
yang tidak berpengetahuan. Bagi mereka melafal nama Buddha adalah
masalah mudah yang tidak ada artinya. Namun jika diperhatikan lebih
jauh, bahkan para bodhisattva yang telah mencapai tingkatan yang
tinggi pun memilih Tanah suci sebagai tempat belajarnya. Sesepuh
dari mazhab TienTai bhiksu ZhiYi- adalah praktisi besar, namun
menjelang kemangkatan beliau memilih Tahan Suci Buddha sebagai
naungan terakhirnya. Bhiksu YuanZhao adalah sesepuh besar dari
mazhab Vinaya pada masa dinasti Song mengatakan bahwa hidupnya untuk
menggalakkan praktek Vinaya namun saat kematian tiba naungannya
adalah tanah suci Buddha. Bhiksu YenShou adalah praktisi Chan yang
mendapatkan otoritas sebagai pewaris ajaran Chan juga beralih
menjadi praktisi Tanah Suci.
Bodhisatva Samanthabhadra dengan 10 tekadnya yang tertuang dalam
kitab Avatamsaka Sutra bernaung pada Tanah Suci Amitabha Sutra.
Beliau juga menasihati Sudhana untuk terlahir di Tanah Suci Buddha
Amitabha. Bodhisatva Manjusri yang disebut sebagai symbol dari
Kebijaksanaan juga memilih Tanah Suci Buddha sebagai tempat berlatih
terbaik. Bodhisatva Avalokitetsvara dan Mahasthamaprapta adalah
Bodhisatva tingkat tinggi yang bernaung pada Tanah suci Buddha.
Berbagai kisah nyata keajaiban dan kesaksian tentang para
praktisi yang disambut oleh manifestasi Buddha Amitabha ke alam
Sukhavati telah tersimpan dalam berbagai catatan kuno di China. Dari
bhiksu, bhiksuni hingga perumah tangga yang tidak berpengetahuan
tentang ajaran Buddha, mereka semua berhasil terlahir di negeri
Buddha dengan ciri ciri munculnya peristiwa ajaib menjelang
kemangkatan mereka dengan melafal nama Buddha. Ada yang melihat
Buddha dengan cahaya gemilang datang menyambut. Ada yang melihat
pemandang alam Sukhavati dengan wujud kecermelangannya. Ada yang
melihat bunga teratai dengan cahaya emas. Berbagai musik surgawi
berkumandang, berbagai jenis wewangian muncul menyerbak ke sepenjuru
ruangan. Semua ini tidak sekedar disaksikan oleh mereka sendiri.
Kadang pendamping mereka juga melihatnya secara beramai ramai.
Setelah dikremasi, abu jenasah mereka kemudian ditemukan berbagai
relik relik yang menakjubkan. Mereka semua adalah saksi nyata yang
di mana hingga sekarang boleh dikatakan belum diketahui secara
luas.
Kunci keberhasilan para praktisi sesungguhnya terletak pada
kekuatan tekad dan keyakinan. Kekuatan tekad dan keyakinan yang
kemudian dilandasi oleh praktek Sila dan kebajikan kemudian
diintegrasikan ke dalam pelafalan nama Buddha. Jadi sesungguhnya
pelafalan nama Buddha tidak hanya sekedar mengucapkannya. Pikiran
yang terpusat hingga mencapai suatu keadaan Samadhi adalah hal yang
krusial. Dengan demikian, Jalan Mudah yang tampaknya mudah
sesungguhnya tidak semudah apa yang dibayangkan. Hal ini pernah
diungkapkan oleh upasaka LiBingNan seorang praktisi Tanah Suci
yang
tinggal di Taiwan. Beliau memperhatikan bahwa dari sekian ribu orang
mempraktekkan Nianfo di Taiwan, tidak lebih dari 10 orang yang
berhasil terlahir di tanah suci Buddha. Menurut beliau kegagalan ini
dikarenakan tidak ada landasan keyakinan dan tekad yang teguh.
Melafal naman Buddha hanya sekedar melafal. Meskipun melafalnya
sepuluh ribu kali, jika keyakinan dan tekad yang tipis, maka hal ini
sama sulitnya. Jika kemelekatan terhadap duniawi masih kuat, mereka
tidak rela meninggalkan dunia Saha ini. Upasaka LiBingNan sendiri
meninggal pada usia 90 lebih, saat menjelang kemangkatan, berbagai
peristiwa ajaib pun muncul. Namun kemelekatan pada peristiwa ajaib
adalah sama buruknya dengan kemelekatan pada pandangan salah.
Seorang praktisi sejati perlu memiliki pandangan yang benar.
Peristiwa ajaib hanya semacam "casting" pelengkap saja yang
tidak
perlu dijadikan sasaran praktisi.
Banyak orang bertanya tanya bahwa hanya dengan berkeyakinan saja
mengapa bisa membuat seseorang terlahir di tanah suci Buddha. Dalam
ajaran Tanah suci, ada 3 faktor yang menjadi bekal untuk terlahir di
Tanah suci. Pertama, Keyakinan. Kedua adalah tekad dan ketiga adalah
praktek. Ketiga factor ini dijalankan dengan benar maka keberhasilan
akan tercapai. Perlu diketahui, bahwa konteks "keyakinan" di
sini
seharusnya di pandang secara mendalam. Jika kita perhatikan, mereka
yang menjadi pelafal nama Buddha mungkin akan dinilai bahwa mereka
telah memiliki keyakinan yang baik, tetapi tidak sedikit juga mereka
yang terperosot dan gagal. Dalam kitab Dhammapda Atthakata terdapat
kisah bagaimana Matthakundali terlahir di alam surga hanya dengan
berkeyakinan pada sang Buddha. Di sini konteks keyakinan sungguh
tidak dapat kita pandang secara sederhana. Setelah memiliki
keyakinan, syarat yang harus dipenuhi adalah tekad. Jika tidak
memiliki tekad, maka sekalipun Buddha muncul di depan kita tidak ada
gunanya juga. Setelah membangkitkan tekad, tentu kita harus
mempraktekkan sang Jalan.
Para praktisi tanah suci menilai bahwa mempraktekkan Nianfo dengan
tekad terlahir di Tanah suci merupakan alternative terbaik yang
dipilih Buddha dan sebagai wujud konkrit dari welas asih para
Buddha. Dengan mengikuti teladan para sesepuh terdahulu,
sesungguhnya kita telah diberi petunjuk yang baik ,di mana pada masa
sekarang ini apa yang disebut sebagai dharma sudah semakin sulit
dikenali dan sekalipun telah mengenalinya kita tetap mengalami
berbagai hambatan untuk merealisasikannya jika tidak memilih Jalan
Mudah seperti yang telah dinasihati para bodhisattva.
Sekilas Sejarah masuknya agama Buddha ke China
Tidak ada catatan konkret mengenai tahun kepastian kapan
agama Buddha masuk ke China untuk pertama kalinya. Tetapi penafsiran-
penafsiran yang dilakukan oleh para sejarahwan meyakini bahwa masa
dinasti Han Timur (abad pertama masehi) adalah masa agama Buddha
mendapat perhatian secara resmi dari pihak kerajaan. Selain
penafsiran ini, terdapat beberapa catatan sejarah yang mengatakan
agama Buddha telah dikenal pada masa yang lebih awal. Salah satu
penafsiran mengenai masa yang lebih awal diacu berdasarkan catatan
sejarah dari kitab "WeiLue" karya YuHuan yang hidup pada masa
Tiga
Kerajaan (abad ke 3 M). Di mana tertulis bahwa pada masa
pemerintahan kaisar HanAiDi era YuanShou tahun pertama (tahun 2 SM),
murid dari FuSi bernama JingLu mendapatkan bimbingan secara lisan
dari YiChun- utusan kerajaan Kusana (wilayah perbatasan dengan
China, sekarang sekitar Afghanistan dan Uzbekistan) tentang ajaran
kitab "FuTuJing (Kitab suci Buddha)". Adapun pendapat ini
juga
diperkuat oleh fakta bahwa agama Buddha telah berkembang pesat di
kerajaan Kusana sejak lebih kurang tahun 130 SM. Dari beberapa
catatan yang ada, bahkan terdapat pendapat yang menyatakan agama
Buddha telah dikenal jauh lebih awal, namun karena tidak ada bukti
bukti kuat yang mendukung tentang catatan tersebut, maka para
sejarahwan pun belum bisa memastikan kebenarannya.
Meskipun telah terdapat catatan sejarah mengenai masa yang
lebih awal ini, namun hal ini belum bisa ditetapkan sebagai masa
resmi masuknya agama Buddha, karena pergerakan agama Buddha masih
sebatas pengenalan dan belum terdapatnya vihara, bhiksu dan kitab
suci di daratan China. Hingga pada masa dinasti Han Timur, agama
Buddha baru-lah mendapat perhatian serius dari kerajaan yang dipicu
oleh kisah tentang mimpi sang kaisar. Dalam kisah tersebut di mana
disebutkan bahwa kaisar HanMingDi (tahun 64 M) bermimpi seseorang
bertubuh keemasan terbang ke dalam istana. Keesokan harinya sang
kaisar lalu bertanya kepada para pejabat istana, dan salah satu
pejabat bernama FuYi menjawab, "Di wilayah barat terdapat orang
suci
yang disebut Buddha, mungkin orang yang baginda mimpikan itu adalah
Beliau". Kemudian Kaisar pun memerintahkan 18 orang utusan
berangkat
menuju wilayah barat mencari tahu tentang ajaran Buddha. Berselang
beberapa tahun kemudian para utusan kembali dengan membawa kitab
suci dan patung Buddha beserta bhiksu dari kerajaan Kusana. Kemudian
mereka ditempatkan di HongLu Si. HongLu Si merupakan departemen
khusus untuk tamu dari luar negeri di lingkungan kerajaan (HongLu Si
secara harfiah dapat berarti Departemen HongLu). Karena ketertarikan
yang besar akan ajaran Buddha, akhirnya Kaisar bersedia mendirikan
sebuah tempat baru lagi dengan nama BaiMa Si yang berarti Departemen
Kuda Putih (Diambil nama Kuda Putih adalah untuk menghormati Kuda
Putih yang mengangkut kitab suci Buddha) agar para bhiksu tersebut
dapat menetap di China dan melakukan kegiatan pengajaran dan
penerjemahan ajaran Buddha. Karena merupakan tempat kegiatan agama
Buddha, maka tentu saja pengertian BaiMa Si berubah menjadi vihara
di mana pada awalnya sesungguhnya merupakan nama departemen
dilingkungan kerajaan. Maka inilah vihara yang pertama muncul di
China. Kemudian oleh bhiksu Kasyapa Matanga dan Dharmalaksa,
diterjemahkanlah kitab suci yang pertama dengan judul
SiShiErZhangJing (Sutra Empat Puluh Dua Bagian). Dengan demikian
maka agama Buddha baru mulai berkembang secara resmi di China dan
sejak itu-pun semakin banyak kitab suci mengalir masuk dan
diterjemahkan.
Berbagai mazhab agama Buddha di China
Sejak agama Buddha masuk ke China, kegiatan penerjemahan kitab suci
menjadi salah satu tujuan yang sangat penting dan mendapatkan
perhatian serius dari pihak kerajaan. Boleh dikatakan kegiatan
penerjemahan tersebut mendapat perlindungan secara langsung dari
kerajaan. Sedangkan proses penejermahan kitab suci berlangsung
secara ketat dan peserta kegiatan penerjemahan bahkan diseleksi
secara ketat di mana jumlah peserta dapat berjumlah hingga ratusan
orang. Ini mengindikasikan bahwa penerjemahan kitab suci Buddha di
China dilakukan secara sangat hati hati. Dengan maraknya kegiatan
penerjemahann kitab suci, maka agama Buddha berkembang secara pesat,
berbagai kajian tentang kitab suci pun dilakukan, dan masing masing
mengfokuskan diri untuk melakukan kajian terhadap kitab suci yang
dianggap paling cocok dengan pandangannya. Dengan demikian maka
muncullah berbagai mazhab yang dipicu bukan berdasarkan perpecahan
tetapi lebih pada memprioritaskan kitab suci yang dianggap terbaik
oleh masing masing praktisi. Hingga pada masa dinasti Tang, agama
Buddha mencapai puncak kejayaannya. Sedangkan mazhab yang
bermunculan adalah sebagai berikut:
Dari aliran Hinayana:
1. Mazhab JuShi (Abhidharma Kosa). Mazhab ini memprioritaskan
pada kitab Abhidharma Kosa karya Vasubandhu.
2. Mazhab ChengShi (Satyasiddhi). Prioritas pada kitab
Satyasiddhi Sastra karya Harivarman
Dari aliran Mahayana:
1. Mazhab Lu (Vinaya). Prioritas pada kitab ShiFenLu (Empat
bagian Vinaya) dari aliran Dharmagupta
2. Mazhab Chan (Dhyana). Mazhab ini tidak menekankan pada
pentingnya kitab suci, melainkan kontemplasi diri melalui pemahaman
langsung tentang hakikat Buddha untuk meraih pencerahan. Meskipun
demikian, mazhab ini tetap memiliki acuan kitab yang dianjurkan oleh
patriak pertamanya Bodhidharma- yakni kitab Lankavatara Sutra.
3. Mazhab TienTai. Prioritas pada kitab Saddharmapundarika
Sutra.
4. Mazhab HuaYan (Avatamsaka). Prioriotas pada kitab Avatamsaka
Sutra
5. Mazhab MiZong (Tantrayana). Prioritas pada semua kitab suci
yang dikategorikan dalam divisi Tantra.
6. Mazhab FaXiang (Dharmalaksana). Prioritas pada kitab
Samdhinirmocana Sutra, Yogacara bhumi Sastra dan
Vijnaptimatratasiddhi-sastra.
7. Mazhab SanLun (Trisastra). Prioritas pada kitab Madhyamika
Sastra, Sata Sastra, Dvadasanikaya Sastra.
8. Mazhab JingTu (Sukhavati). Prioritas pada kitab Amitabha
Sutra, Maha Sukhavati-vyuha Sutra dan Amitayurdhyana Sutra.
Tanah suci Buddha dan mazhab Sukhavati
Berbagai mazhab agama Buddha yang berkembang di China sebagian besar
merupakan dari aliran Mahayana. Meskipun aliran Hinayana juga pernah
dipelajari secara luas dan menjadi salah satu aliran yang dianut,
namun aliran ini tidak bertahan lama.
Bagaimana dengan sejarah perkembangan mazhab Sukhavati ?
Pada prinsipnya Tanah suci Buddha merupakan bagian tak terpisahkan
dari keseluruhan bentuk ajaran Mahayana. Jika memperhatikan seluruh
mazhab Mahayana yang berkembang di China, tidak ada satupun mazhab
yang tidak mengenal Tanah Suci Buddha. Hal ini seiring dengan
diterjemahkannya berbagai kitab suci menyangkut berbagai Tanah Suci
Buddha. Di antaranya seperti kitab suci yang menyangkut Tanah suci
dari Buddha Aksobhya, Baisajyaguru, Amitabha dan bodhisattva
Maitreya.
Sebelum kemunculan mazhab Sukhavati, pada masa dinasti Jin Timur
telah dikenal ajaran tentang bodhisattva Maitreya beserta tanah suci-
nya yang dipopulerkan oleh bhiksu DaoAn. Ajaran ini berdasarkan
kitab tentang keluhuran tanah suci Bodhisatva Maitreya yang berdiam
di surga Tusita. Dikatakan bahwa Tanah suci Bodhisatva Maitreya
terletak di Bagian Dalam surga Tusita yang terpisah dari Bagian luar
Tusita. Kelahiran di tanah Suci-nya Bodhisatva Maitreya menjadi
fokus dari beberapa praktisi pada jaman tersebut, dan tokoh tokoh
yang dianggap telah terlahir di tanah suci bodhisattva Maitreya
adalah Asanga dan XuanZhuang. Kemudian fokus pada ajaran tentang
tanah Suci bodhisattva Maitreya tampaknya tidak begitu berkembang.
Sedangkan mazhab Sukhavati merupakan mazhab yang secara khusus
memfokuskan diri pada tanah suci Buddha Amitabha. Adapun awal
perkembangan mazhab ini diprakarsai oleh bhiksu HuiYuan di gunung Lu
pada masa dinasti Jin (abad ke 5 M). Bersama 123 orang rekannya,
HuiYuan menyelenggarakan upacara sumpah tekad untuk terlahir di
Tanah Suci Buddha (Sukhavati). Kemudian mereka berlatih bersama
dengan mempraktekkan Nianfo dan dari situlah kemudian terbentuk
pusat ajaran Tanah suci pertama di China. Dengan adanya pusat ajaran
yang memfokuskan pada ajaran Tanah suci, maka pengkajian ajaran ini
mendapat sambutan yang cukup marak. Berbagai tokoh tokoh ajaran ini
pun kemudian bermunculan seperti TanLuan, DaoChuo, ShanDao,
ChengYuan, di mana kisah tentang mereka akan tertuang dalam riwayat
singkatnya. Para praktisi Mahayana dari berbagai mazhab lain juga
tidak ketinggalan dengan mengkaji tentang konsep Tanah suci dan
bahkan tidak sedikit dari mereka yang meskipun telah memprioritaskan
pada sutra Mahayana lain, namun dalam batin mereka, tekad terlahir
di tanah suci Buddha merupakan tujuan terakhir menjelang kemangkatan
mereka. Sebagai contoh, sesepuh utama dari mazhab TienTai bhiksu
ZhiZi- sebagai bapak dari ajaran TienTai juga memilih tanah suci
Buddha Amitahba sebagai naungan terakhirnya. Kemudian sesepuh dari
mazhab Vinaya YuanZhao; sesepuh dari mazhab Chan YenShou.
Mungkin timbul pertanyaan bahwa dari berbagai tanah suci Buddha yang
ada, mengapa Sukhavati menjadi pilihan yang paling populer dan
menjadi mazhab yang berdiri sendiri? Hal ini tidak terlepas dari
pengkajian yang mendalam dari para praktisi dengan kesimpulan bahwa
di antara 10 penjuru lokadhatu dan semua Buddha dari 3 masa , Buddha
Amitabha memiliki tekad yang paling luhur, metode ajaran Nya yang
paling praktis dan sederhana, dimana dengan praktek melafal nama
Buddha baik bagi bhiksu/ni maupun umat awam akan terlahir di Tanah
suci Buddha, kemudian ikatan jodohnya yang paling dekat dengan
dunia ini. Seperti yang telah dipaparkan oleh Sang Buddha Sakyamuni
sendiri bahwa terdapat Buddha yang memancarkan cahaya sejauh satu
yojana, dua yojana, tiga yojana, atau sejauh satu negeri Buddha, 100
negeri Buddha, namun cahaya Buddha yang pancarkan oleh Buddha
Amitabha adalah tak terbatas dan oleh sebab itu juga Buddha ini
disebut Buddha Amitayur (Cahaya Tanpa Batas). Sang Buddha Sakyamuni
sendiri menganjurkan para siswa-nya untuk bertekad terlahir di Tanah
suci Buddha untuk berlatih lebih lanjut. Dari berbagai kitab kajian
tentang Tanah suci Buddha, Buddha Amitabha menduduki posisi yang
paling utama seperti yang ditulis oleh tokoh seperti Nagarjuna dan
Vasubandhu. Atas dasar hal inilah maka mazhab Tanah Suci akhirnya
timbul menjadi satu mazhab tersendiri yang para praktisinya berasal
dari berbagai mazhab dan golongan.
Kitab Suci mazhab Sukhavati
Meskipun ajaran Tanah suci Buddha Amitabha baru mulai mendapat
sambutan yang luas pada akhir abad ke 4 yang diprakarsai oleh
bhiksu HuiYuan, namun sesungguhnya kitab suci Buddha yang menyangkut
ajaran ini telah muncul dan diterjemahkan pada masa yang sangat
awal.
Pada masa dinasti Han Timur (abad ke 2 M), bhiksu asal kerajaan
Kusana bernama Lokaraksha tiba di kota LuoYang dan menerjemahkan
berbagai kitab suci Buddha. Kitab terjemahannya yang menyangkut
ajaran tanah suci Amitabha, yakni:
1. WuLiangQingJingPingDengJueJing (Maha Sukhavati-vyuha Sutra)
2. BanZhouSanMeiJing (Pratyutpannasamadhi Sutra)
Selain kitab tersebut, kemudian dari waktu ke waktu kitab lain yang
menyangkut ajaran ini pun bermunculan satu persatu. Perlu diketahui
bahwa kitab suci Buddha yang jumlahnya sangat besar itu tidaklah
mungkin dapat dibawa secara langsung sekaligus ke China pada masa
itu. Oleh karena itu, adalah wajar jika kitab suci Buddha yang masuk
ke China diterjemahkan satu per satu secara bertahap. Lagi pula juga
tidak diketahui berapa sesungguhnya jumlah kitab Suci Buddha secara
lengkap khususnya menyangkut ajaran Mahayana
Konon dikatakan bahwa adalah Nagarjuna-lah yang menemukan kitab suci
Mahayana yang sempat tersimpan dalam waktu yang lama di istana raja
naga. Dalam istana raja naga, kitab suci Mahayana tersimpan dalam
jumlah yang tak terhitung. Sebagai contoh, kitab Avatamsaka Sutra
yang ada dalam bentuk sekarang hanya-lah sebuah Avatamsaka Sutra
dalam versi yang paling kecil. Dalam versi yang paling besar, isi
dari kitab ini dapat berjumlah "berjuta juta" jilid. Karena
Nagarjuna merasa kitab besar ini sangat sulit dipahami maka beliau
pun hanya mengambil kitab yang kecil saja. Hal demikian memang
diluar pemahaman awam, namun adalah kenyataan bahwa kemunculan kitab
suci Mahayana adalah masih merupakan sebuah misteri. Berbagai
penafsiran dilakukan, namun tidak ada bukti yang kuat. Meskipun
demikian, hal ini tidak mengurangi keyakinan para praktisi Mahayana
akan nilai kitab suci tersebut. Jika ditilik dari sejarah perpecahan
antara sekte Sthavirada dan Mahasanghika (cikal bakal Mahayana) pada
masa awal, sesungguhnya doktrin doktrin Mahayana telah ada pada masa
tersebut. Cuma di sini ada kemungkinan karena kurangnya catatan yang
menyangkut sejarahnya, maka mau tidak mau beberapa hal penting
mengenai kronologi awal munculnya kitab Mahayana menjadi kabur.
Kitab suci mazhab Sukhavati yang paling utama ada 4, yang terdiri
dari 3 sutra dan satu kitab komentar, yaitu:
1. GuanWuLiangShouFoJing (Amitayur-dhyana Sutra) .
Terdapat 2 versi terjemahannya :
1.GuanWuLiangShouFoJing .
Diterjemahkan oleh JiangLiangYeShe pada masa dinasti Song era
dinasti Utara Selatan (abad ke-5 M).
2.GuanWuLiangShouFoJing
Diterjemahkan oleh Dharmamitra pada masa dinasti Song era dinasti
Utara Selatan (abad ke 5 M)
2. FoShuoAMiToJing (Amitabha Sutra).
Terdapat 3 versi penerjemahan kitab ini, yakni:
1.FoShuoAMiToJing
Diterjemahkan oleh bhiksu asal kerajaan Kucha (Asia Tengah)
Kumarajiva pada tahun 402 M
2.FoShuoXiaoWuLiangShouJing
Diterjemahkan oleh bhiksu Gunabhadra sekitar tahun 446 M
3.ChenZhanJingTuFoSheShouJing
Diterjemahkan oleh bhiksu XuanZhuang pada tahun 650 M.
Dari 3 versi ini, yang ada hingga sekarang ini hanya tinggal
terjemahan Kumarajiva dan XuanZhuang.
3. WuLiangShouJing (Maha Sukhavati-vyuha Sutra).
Terdapat 12 versi terjemahan kitab ini:
1.WuLiangShouJing (2 jilid).
Diterjemahkan oleh bhiksu asal Persia AnShiGao, pada abad ke 2
M.
Masih menjadi pertanyaan apakah benar kitab ini adalah terjemahan
bhiksu AnShiGao, karena sejauh yang diketahui, semua kitab
terjemahan AnShiGao merupakan kitab Hinayana.
2.WuLiangQingJingPingDengJueJing (4 jilid).
Diterjemahkan oleh bhiksu Lokaraksha pada abad ke 2 M.
3.FoShuoAMiToSanYeSanFoShaLouFoTanGuoDuRenDaoJing (2 jilid).
Diterjemahkan oleh bhiksu ZhiQian pada masa Tiga kerajaan (abad ke 3
M).
4.WuLiangShouJing (2 jilid).
Diterjemahkan oleh bhiksu Sanghavarman pada 252 M.
5.WuLiangQingJingPingDengJueJing (2 jilid).
Diterjemahkan oleh bhiksu BaiTing pada masa tiga kerajaan (abad ke 3
M).
6.WuLiangShouJing (2 jilid)
Diterjemahkan oleh bhiksu Dharmapala pada masa dinasti Jin Barat
(antara abad ke 3 4 M).
7.WuLiangShouZhiZhenDengJueJing (2 jilid)
Diterjemahkan oleh bhiksu Dharmabala pada masa dinasti Jin Timur
(abad ke 4 M)
8.XinWuLiangShouJing (2 jilid).
Diterjemahkan oleh bhiksu JueXian pada masa dinasti Jin Timur (abad
ke 4 M).
9.XinWuLiangShouJing (2 jilid).
Diterjemahkan oleh bhiksu BaoYun pada masa dinasti Jin Timur (abad
ke 4 M).
10.XinWuLiangShouJing (2 jilid).
Diterjemahkan oleh bhiksu Dharmamitra pada masa dinasti utara
selatan (abad ke 5 M).
11.WuLiangShouRuLaiHui (2 jilid).
Diterjemahkan oleh bhiksu Bodhiruci pada masa dinasti Tang (awal
abad ke 8 M).
12.DaCengWuLiangShouZhuangYanJing (3 jilid)
Diterjemahkan oleh bhiksu Dharmabhadra pada masa dinasti Song
(antara abad ke 10-12 M)
Dari ke 12 versi tejemahan kitab Maha Sukhavati-vyuha Sutra, hanya
tingggal 5 versi yang masih ada hingga sekarang, yakni kitab nomor
2,3,4,11 dan 12.
4. Satu kitab komentar yakni: WuLiangShouJingYouPoTiShe/
WangShenLun (Maha Sukhavati-vyuha Upadesa) karya Vasubandhu.
Diterjemahkan oleh Bodhiruci di abad ke 6 M.
Demikianlah kitab dari mazhab Sukhavati dengan sebutan 3 Sutra 1
Sastra. Selain kitab tersebut, juga terdapat kitab karya para
patriak yang jumlah nya sangat banyak Dengan mengutamakan 3 sutra
dan 1 sastra, para praktisi mazhab ini diharapkan menjadikan kitab
tersebut sebagai prioritas utama untuk berlatih. Namun tidak berarti
kitab suci Buddha lainnya secara keseluruhan diabaikan. Tujuan dari
prioritas tersebut adalah agar seorang praktisi dapat berlatih pada
satu metode secara spesifik. Ajaran Buddha dikatakan memiliki 84.000
metode. Oleh sebab itu, memprioritaskan satu metode sebagai sarana
berlatih adalah sangat penting dan itu pula visi yang diperlihatkan
oleh setiap mazhab Mahayana yang ada. Di samping prioritas 3 Sutra
Satu Sastra ini, sesungguhnya masih terdapat banyak kitab besar lain
yang menyinggung tentang Buddha Amitabha. Seperti Avatamsaka Sutra,
Shuranggama Sutra, Saddharmapundarika Sutra. Maka tidak mengherankan
jika setiap mazhab Mahayana yang berlatih pada metode masing masing,
namun pada akhirnya bernaung pada tanah Suci Buddha Amitahba.
Latar belakang pengokohan patriak Tanah Suci
Dari sejak awal munculnya mazhab Sukhavati pada masa dinasti Jin
Timur (akhir abad ke 4 M) hingga saat sekarang ini, terdapat 13
tokoh yang dihormati sebagai patriak pewaris mazhab ini. Namun
penobatan sebagai patriak pada tokoh-tokoh tersebut bukanlah
diturunkan berdasarkan transmisi ajaran dari guru kepada murid
secara langsung. Dengan kata lain, penobatan tokoh tersebut diukur
dari kontribusi sang tokoh dalam menyebar luaskan ajaran Tanah suci
dan bahwa tidak selalu terdapat hubungan langsung antara patriak
satu dengan lainnya. Persinggungan mengenai penobatan patriak itu
juga baru mulai dimunculkan pada masa dinasti Song. Tapi perlu di
ketahui bahwa jauh sebelum dinasti Song, di masa dinasti Tang
terdapat 4 tokoh yang telah dianggap sebagai sesepuh ajaran Tanah
suci. Keempat orang tersebut adalah :
1. Mahaguru HuiYuan
2. Mahaguru TanLuan
3. Mahaguru DaoChuo
4. Mahaguru ShanDao
Namun saat itu tidak ada maksud sama sekali untuk menempatkan posisi
mereka sebagai pewaris ajaran Tanah suci.
Pada masa dinasti Song, bhiksu ZhongXiao (1151-1214) baru
menempatkan 6 tokoh ajaran Tanah Suci sebagai patriak dengan garis
silsilah sebagai berikut:
1. Patriak Pertama : HuiYuan.
2. Patriak kedua : ShanDao
3. Patriak ketiga : FaZhao
4. Patriak keempat : ShaoKang
5. Patriak kelima : XingChang
6. Patriak keenam : ZhongZhe
Kemudian di jaman yang sama, bhiksu ZhiPan dalam
kitabnya "FoZhuTongJi (Catatan silsilah Buddha)", beliau
menggaris
bawahi terdapat 5 aliran agama Buddha yakni mazhab TienTai (Fahua),
Chan (Chan/Dhyana), Huayen (Avatamsaka), Faxiang (Yogacara), Mizhong
(Tantra), dan Luzhong (Vinaya), di mana beliau tidak menempatkan
ajaran Tanah suci sebagai sebuah mazhab yang berdiri sendiri namun
menampilkan 7 praktisi ajaran tanah suci sebagai patriak dengan
urutan sebagai berikut:
1. HuiYuan 5. ShaoKang
2. ShanDao 6. YenShou
3. ChengYuan 7. XingChang
4. FaZhao
Pada masa itu, bhiksu ZhongXiao dan ZhiPan sama-sama merupakan
penganut mazhab TienTai. ZhongXiao memasukkan 6 tokoh dalam garis
silsilah, sedangkan Zhipan memasukkan 7 tokoh. Sedangkan kedua versi
penempatan nama itu terdapat sedikit perbedaan di mana nama Zhongzhe
tidak terdapat pada versi Zhipan dan ada penambahan tokoh seperti
YenShou dan XingChang pada versi Zhipan. Jika dilihat urutan 13
tokoh patriak yang ada sekarang ini, sebagian urutannya diambil
berdasarkan versi dari bhiksu ZhiPan. Sesungguhnya penempatan tokoh
tersebut dalam urutan patriak hanyalah untuk menampilkan para guru
yang menitik beratkan ajaran Tanah suci. Saat itu, yang disebut
dengan mazhab Jingtu (Tanah Suci) dalam arti sebagai sebuah mazhab
yang berdiri sendiri belumlah ada. Namun latar belakang sejarah
munculnya mazhab ini tidak terlepas dari sang tokoh pelopor
HuiYuan
di abad ke 5 M. HuiYuan mendirikan pusat ajaran Tanah suci di
vihara Donglin dengan nama perkumpulan Teratai.
Hingga pada masa dinasti Yuan (era sesudah dinasti Song),
bermunculan sekte sesat bernama BaiLianJiao (sekte teratai putih).
Sekte ini dianggap telah mengambil sekaligus melencengkan doktrin
ajaran Buddha. Sesungguhnya istilah Teratai Putih sebelumnya sudah
lama dikenal sebagai nama perkumpulan ajaran Tanah suci di gunung
Lu. Melihat kondisi yang memprihatinkan ini, saat itu bhiksu PuDu
dari vihara DongLin kemudian menulis buku "LianZhongBaoJian
(Permata cermin mazhab Teratai)" dan "LuShanFuJiaoJi
(Kumpulan
ajaran dari gunung Lu)" untuk mengantisipasi ajaran sesat dari
sekte
Teratai Putih. Dalam bukunya, bhiksu Pudu menulis bahwa pada masa
kaisar Song-Gaozhong, bhiksu Ziyuan menggalakkan praktek Nianfo dan
menulis praktek pertobatan Teratai putih, dan dari situlah kemudian
baru muncul istilah mazhab Teratai putih, sebuah nama lain dari
mazhab JingTu (Tanah suci). Inilah salah satu cikal bakal munculnya
mazhab JingTu yang berdiri sendiri. Akan tetapi pengokohan patriak
pada mazhab ini masih belum pernah dibicarakan pada saat itu.
Hingga pada masa pertengahan dinasti Qing (abad ke 17 M), barulah
mulai dibicarakan untuk mengokohkan patriak mazhab JingTu yang
diambil berdasarkan versi tulisan Zhipan dan memutuskan untuk
memasukkan bhiksu LianCi sebagai patriak ke 8. Selanjutnya pada masa
pemerintahan kaisar Qing-DaoGuang, bhiksu WuKai mengajukan
pengangkatan bhiksu Ouyi sebagai patriak ke 9, XingAn sebagai
patriak ke 10, dan CheWu sebagai patriak ke 11. Hingga pada era
nasionalis China, bhiksu YinGuang menyisipkan nama bhiksu JieLiu
sebagai patriak ke 10, dan nama bhiksu XingAn dan CheWu diurutkan
menjadi patriak ke 11 dan 12. Setelah kemangkatan bhiksu YinGuang,
para murid menobatkannya sebagai patriak ke 13.
Dengan demikian maka lengkaplah sudah silsilah patriak mazhab
Sukhavati dengan 13 tokohnya yang dapat kita lihat dalam urutan
sebagai berikut:
Patriak Nama Pusat Ajaran
1 HuiYuan vihara DongLin di gunung Lu
2 ShanDao vihara Guangming di Chang an
3 ChengYuan Pusdiklat Banzhou (vihara MiTuo) di Nanyue
(gunung Heng?)
4 FaZhao (WuHui) vihara Zhulin di gunung Wutai
5 ShaoKang XinDing di gunung Wu long
6 YenShou (YongMing) vihara YongMing di HangZhou
7 XingChang vihara ZhaoQing di Hangzhou
8 LianCi (ZhuHong) gunung YunXi di HangZhou
9 OuYi (ZhiXu) Vihara LingFeng di TianMu
10 JieLiu (XingChe) Vihara PuRen di gunung Yu
11 SheXian (XingAn) Vihara FanTian di HangZhou
12 CheWu (JiXing) Vihara Zifu di gunung Hongluo
13 YinGuang Vihara LingYan di SuZhou
Selain ke 13 praktisi Tanah suci ini yang telah diangkat sebagai
patriak, ada beberapa praktisi lain yang juga tidak boleh diabaikan
atas kontribusinya pada penyebaran ajaran Tanah suci. Mereka adalah
bhiksu TanLuan, DaoChuo dan HuiRi. Ada beberapa kalangan yang merasa
sangat tidak adil dengan diabaikannya ke 3 tokoh tersebut dalam
daftar patriak. Tetapi apapun alasannya, ke tiga praktisi tersebut
tetap mendapat tempat yang sangat dihormati oleh para penganut
mazhab ini dan posisi mereka sesungguhnya juga disejajarkan dengan
para patriak.
Yang menarik adalah bahwa meskipun bhiksu TanLuan dan DaoChuo tidak
dimasukkan dalam daftar nama patriak mazhab tanah suci di tempat
asalnya, namun nama mereka justru muncul dalam daftar patriak aliran
JodoShu (tanah suci) di Jepang. Tentu hal ini tidak terlepas dari
pengaruh ajaran ShanDao (patriak ke 2) yang berkembang di Jepang.
Sesungguhnya ShanDao merupakan murid dari DaoChuo. Sedangkan
TanLuan adalah tokoh ajaran Tanah suci yang dikagumi oleh DaoChuo.
DaoChuo sendiri mendapatkan inspirasinya tentang keunggulan ajaran
Tanah suci berdasarkan tulisan TanLuan.
Aliran Jodoshu di Jepang sendiri memiliki silsilah patriak versi
mereka sendiri. Mereka menyebutnya sebagai "7 sesepuh dari 3
negara"
dengan urutan sebagai berikut :
Dari India:
1. Nagarjuna (abad 2-3 M)
2. Vasubandhu (abad 4-5 M)
Dari China:
3. TanLuan (Jp. Donran) (476-542 M)
5. DaoChuo (Jp. Doshaku)(562-645 M)
6. ShanDao (Jp. Chando) (613-681 M)
Dari Jepang:
7. Genshin (942-1017 M)
8. Honen (1133-1212 M)
Dibawah garis tangan Honen, aliran tanah suci secara perlahan-lahan
terbentuk dalam beberapa aliran seperti Jodoshu, Jodoshinshu, Seizan
Jodoshu, dan Jishu.
Mungkin timbul pertanyaan bahwa mengapa TanLuan, DaoChuo dan ShanDao
yang menjadi bagian dari silsilah patriak di tubuh Jodoshu bukan
patriak lainnya seperti HuiYuan. Salah satu alasan yang bisa kita
telusuri adalah bahwa bapak pendiri aliran tanah suci di Jepang
Honen- mempelajari ajaran Tanah suci berdasarkan kitab karya bhiksu
ShanDao. Meskipun beliau sendiri tidak pernah menjadi murid ShanDao
secara langsung, namun keyakinannya pada ajaran Tanah suci tidak
terlepas dari jasa kitab karya ShanDao, maka tidak heran jika beliau
menjadikan bhiksu ShanDao sebagai patriak. Dengan penempatan ShanDao
sebagai patriak maka secara otomatis guru dari bhiksu ShanDao yakni
DaoChuo dan TanLuan juga mendapatkan tempatnya di sisi penganut
Jodoshu.
Perkembangan mazhab Tanah suci di China yang dimulai dari sebuah
ajaran yang merupakan bagian dari berbagai mazhab Mahayana hingga
menjadi sebuah mazhab yang berdiri sendiri melalui proses yang cukup
panjang. Semua ini tidak terlepas dari kegigihan para patriak dalam
menyebar luaskan doktrin Tanah suci. Ditambah lagi bahwa
sesungguhnya para sesepuh Mahayana seperti Nagarjuna dan Vasubandhu
juga merupakan praktisi yang menyanjung doktrin Tanah suci dan
terdapat kisah kelahiran mereka di alam Sukhavati, maka
terbentuknya mazhab ini di China sebenarnya adalah bagaikan bunga
yang telah mekar berkat benih yang telah ditanamkan oleh para
sesepuh jauh sebelum ajaran ini masuk ke China.
(BERSAMBUNG)...
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/