Kompas, Rabu,
Oleh: Sumarno
Sudah merdeka selama 60 tahun, bangsa
Walaupun mengekspor produk bahan pangan, secara keseluruhan posisi neraca ekspor-impor pangan masih negatif.
Indikasi masih adanya kekurangan dalam penyediaan bahan pangan nasional juga ditunjukkan oleh rendahnya kualitas gizi sebagian besar masyarakat lapisan bawah. Contoh yang paling aktual adalah terjadinya busung lapar di berbagai daerah. Walaupun dalam hal ketahanan pangan rakyat secara individu sering menjadi perdebatan antara pilihan kelimpahan produksi pangan nasional dan kemampuan ekonomi rakyat untuk membeli pangan, namun adalah menjadi tugas pemerintah untuk mencukupi ketersediaan pangan nasional melalui berbagai kebijakan dan program.
Kehidupan bangsa
Sumber daya lahan terbatas
Bayangan sebagian besar masyarakat bahwa
Lahan pertanian tergarap untuk usaha tanaman bahan pangan yang kini tersedia hanya 7,8 juta hektar lahan basah dan 6,43 juta hektar lahan kering. Sayangnya, lebih dari 80 persen bahan pangan kita masih dihasilkan dari lahan basah yang relatif sempit tersebut. Dari lahan basah tadi, yang memiliki prasarana irigasi teknis hanya 2,21 juta hektar; lahan beririgasi setengah teknis dan irigasi pedesaan sekitar 2,6 juta hektar; dan sisanya lahan tadah hujan, rawa lebak, dan lahan pasang surut (Tabel 1). Sebagai perbandingan,
Ketersediaan lahan tergarap (cultivated farm land) per kapita dapat dijadikan indikator kekuatan daya dukung sumber daya lahan pertanian terhadap kecukupan penyediaan pangan nasional. Ditinjau dari indikator tersebut, Indonesia memang tergolong negara pertanian yang memiliki daya dukung lahan pertanian sangat lemah.
Apabila kita pakai lahan pertanian basah sebagai dasar perhitungan, ketersediaan lahan Indonesia hanya 354 meter persegi per kapita. Kalau lahan kering yang menyediakan bahan pangan pokok kurang dari 20 persen diikutkan sebagai dasar perhitungan, ketersediaan lahan per kapita hanya 646 meter persegi per kapita tetap tergolong terendah di dunia (Tabel 2).
Negara-negara pertanian di dunia pada umumnya memiliki ketersediaan lahan di atas 1.000 meter persegi per kapita. Dari data ini kita menjadi tahu, mengapa Indonesia selalu kekurangan produksi bahan pangan, walaupun berbagai program dan proyek telah dilaksanakan. Kita juga menjadi tahu mengapa India dan China yang jumlah penduduknya begitu besar dapat berswasembada pangan, dan mengapa Thailand dan Vietnam dapat mengekspor bahan pangan.
Lebih baik menyadari akan keterbatasan tersedianya sumber daya lahan pertanian sehingga kita tahu persis apa yang harus kita lakukan daripada merasa memiliki lahan luas yang subur tetapi tidak nyata. Selama ini kita merasa tidak kekurangan suatu apa, tetapi nyatanya sulit untuk pencukupan pangan nasional.
Perlu tambahan lahan
Terbetik kabar bahwa pemerintah akan menambah luasan pertanian. Merupakan kebijakan yang sangat tepat bahwa dalam revitalisasi pertanian, perikanan, dan kehutanan yang telah dicanangkan, pemerintah akan membuka lahan basah dan lahan kering hingga masing-masing mencapai 15 juta hektar. Walaupun target ini sangat ambisius, namun adanya kesadaran menyediakan lahan garapan pertanian (cultivated farm land) secara luas guna pencukupan produksi bahan pangan itu perlu mendapatkan dukungan semua pihak.
Pertanyaannya, kapan tekad tersebut dapat diwujudkan. Masih perlu dijabarkan lagi berapa hektar rencana penyediaan lahan per tahun, di mana akan dibuka, dan oleh siapa, bagaimana peruntukan lahan tersebut (untuk usaha produksi apa dan untuk siapa), bagaimana cara pemilikan lahan oleh penggarapnya, dan masih banyak lagi pertanyaan yang perlu disediakan jawabannya secara transparan dan jelas.
Dari segi manfaat, penambahan lahan akan menjamin kecukupan produksi bahan pangan, termasuk daging dan susu, bila memungkinkan, menyediakan lapangan pekerjaan, membangun ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan, dan memberikan dampak perkembangan ekonomi bagi wilayah terisolir di luar Jawa. Yang tidak kalah pentingnya dari pembukaan lahan baru tersebut adalah mengurangi beban berat bagi lahan pertanian di Pulau Jawa yang sudah dikelola terlalu intensif sehingga sering tidak lagi mempertimbangkan kelestarian lingkungan.
Hanya dengan menambahkan luas lahan pertanian baru itulah kekurangan produksi pangan nasional dapat diatasi secara berkelanjutan. Upaya yang lain adalah penyelesaian sementara atau program tambal sulam. Kita tinggal tunggu pelaksanaannya.
Sumarno Mantan Dirjen Hortikultura, Departemen Pertanian
Yahoo! for Good
Click here to donate to the Hurricane Katrina relief effort.
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
