| Rabu, 05 Oktober 2005 |
|
Pemerintah Harus Berupaya Stop Pelelangan Arca
Jakarta, Kompas - Sembari terus menelusuri status perolehan dan keaslian arca Buddha asal Indonesia yang akan dilelang oleh Balai Lelang Christie di Amsterdam, pemerintah harus segera berupaya menghentikan atau minimal menunda pelelangannya. Sebab, jika sudah terlelang akan semakin sulit menelusurinya. Prof Dr Mundardjito, arkeolog senior dari Universitas Indonesia, mengungkapkan, Selasa (4/10), pemerintah sebaiknya segera mengirim tenaga ahli untuk mengecek atau meneliti benda-benda yang akan dilelang tersebut. Pengiriman tenaga yang kompeten itu dinilai perlu karena sulit untuk mendeteksi keaslian benda cagar budaya hanya berdasarkan gambar semata. Pemerintah dapat melakukan tindakan yang sama ketika terjadi kasus arca eks Borobudur yang akan dilelang oleh Balai Lelang Christie di New York tempo hari. Balai Lelang Christie yang mempunyai nama besar juga pasti berpikir ulang untuk menjualnya seandainya benda itu terbukti ilegal, kata Mundardjito. Saat ini, sebanyak 12 arca Buddha asal Indonesia tengah ditawarkan kepada kolektor lewat mekanisme pelelangan di Balai Lelang Christie Amsterdam, Belanda. Arca yang terbuat dari emas, perak, dan perunggu dan dijadwalkan akan dilelang pada 18 Oktober 2005 itu disebutkan berasal dari masa abad ketujuh dan kedelapan. Arca-arca yang disebut-sebut ditemukan di Kalimantan tersebut penawarannya dibuka 10.000-40.000 euro (Kompas, 1 dan 4 Oktober 2005). Menurut Mundardjito, ada berbagai kemungkinan lolosnya benda tersebut dan kemudian diperdagangkan di luar negeri. Pada zaman kolonial Belanda memang disinyalir banyak arca yang beredar secara liar, bahkan dihadiahkan oleh para pejabat Belanda ke berbagai pihak. Untuk kasus demikian lebih sulit mengklaimnya sehingga pemerintah harus membuat perjanjian atau bernegosiasi dengan pemilik terakhirnya, katanya. Dapat saja benda itu dikoleksi secara turun-temurun. Dan dalam setiap pemindahan benda cagar budaya dari satu tangan ke tangan yang lain seharusnya memang diregister. Namun, terbuka pula kemungkinan benda tersebut beredar dan diperdagangkan secara ilegal. Oleh karena itu, dia berpandangan, pada akhirnya semua bergantung pada sejauh mana arca itu dianggap penting, terutama secara historis. Jika memang penting, pemerintah tak perlu ragu mengirim tenaga untuk segera mengecek dan kemudian mengklaim agar lelang dihentikan. Diakui bahwa suatu peninggalan menjadi penting jika bentuknya langka, ditemukan di tempat yang sebelumnya tidak pernah ada temuan, dan jumlahnya terbatas. Dalam kasus arca Buddha misalnya, ia mempunyai gaya tersendiri dan dapat saja memberikan gambaran perkembangan agama Buddha di Tanah Air. Mantan Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Dr Harry Truman Simanjuntak juga sependapat seharusnya pemerintah dapat menahan rencana pelelangan benda-benda bersejarah asal Indonesia itu. Menurut dia, benda cagar budaya seharusnya tidak bisa diperdagangkan di luar negeri oleh karena dilindungi. Seperti terungkap dalam Ayat (2) Pasal 15 Undang-Undang Cagar Budaya, disebutkan bahwa tanpa izin dari pemerintah setiap orang dilarang memperdagangkan, memperjualbelikan atau memperniagakan benda cagar budaya. Sebelum ada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Cagar Budaya, juga sudah berlaku monumenten ordonantie yang di antaranya mengatur pemindahan dan perlindungan benda cagar budaya, kata Harry Truman Simanjuntak. Terkait kasus ini, pemerintah harus tegas dalam bertindak. Sebagai langkah awal, pemerintah dapat menghubungi Atase Kebudayaan Indonesia di Belanda untuk dapat aktif ikut membantu mengecek dan menelusuri status perolehan benda tersebut. Termasuk menyangkut keaslian benda tersebut. Peninggalan arkeologi itu tidak terbarui dan sekecil apa pun layak diperjuangkan. Karena ia dapat melengkapi data arkeologi yang sudah ada dan tentunya ini sangat berharga terutama bagi para peneliti, ujarnya. (INE) |
Yahoo! for Good
Click here to donate to the Hurricane Katrina relief effort.
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
| Religion and spirituality | Spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
