Sudah beberapa kali di hari minggu pagi, di dalam pasar muara karang-pluit, saya menemukan seorang pria suku tionghoa dengan rambut yg sangat pendek (bukan botak polos), berpakaian jubah abu2 (seperti jubah bhiksu mahayana) dan mengenakan tasbih di leher, membawa sebuah patta kecil ditangannya. Dari cara berdirinya, sepertinya dia sedang mengemis pada pengunjung pasar.  Saya belum pernah menegur atau memberinya dana.

Dari pengamatan saya, sepertinya dia bukan seorang bhikkhu, melainkan seorang pengemis yg berimprovisasi berpakaian seolah2 bhikkhu.

 

Sepertinya belum pernah ada pengemis berpakaian pastor atau pendeta berkeliaran di pasar… bisa2 digebuki preman pasar yg notabene suku batak.

 

 

 

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Rinto Jiang
Sent: Thursday, October 20, 2005 9:50 AM
To: Milis Dharmajala; Milis Mabindo; Milis MUBI; Milis SP
Subject: [Dharmajala] [budaya_tionghua] OOT: Waspadalah dalam hal berdana

 

-------- Original Message --------

Subject:

[budaya_tionghua] OOT: Waspadalah dalam hal berdana

Date:

Wed, 19 Oct 2005 19:35:18 -0700 (PDT)

From:

Isone <[EMAIL PROTECTED]>

To:

[email protected]



Namo Buddhaya,

Kejadian ini dialami oleh istri saya pada tanggal 18
Okt 2005 di Mega Mall Pluit. Ketika lagi berbelanja
sesuatu, istri saya didekati oleh seorang Bikkhu
(Jubah abu2). Beliau mengaku bahwa dia berasal dari
Vihara Avalokitesvara di Mangga besar. Setelah basa
basi dalam bah Mandarin beliau memperlihatkan gambar
Dewi Kwan Im dan meminta istri saya untuk berdana.
Sebagai umat Buddhist, tentunya istri saya tidak
keberatan untuk berdana apalagi kegiatan ini diminta
lansung oleh seorang anggota Sangha.

Ketika istri saya kasihkan uang lembaran 50rg, eh
malah ditolak sambil mengeluarkan lembaran kertas
seolah2 banyak umat yang telah berdana diatas jumlah
100rb - 300rb. Apakah ini merupakan salah satu cara
berdana menurut ajaran Buddhist ? Walapun merasa agak
aneh, akhirnya istri saya kembali mengeluarkan uang
lembaran 100rb, pada saat waktu itu 50rb masih berada
di tangan Bikkhu itu. Secara cepat Bikkhu itu bilang
150rb ya (dlm bahasa Mandarin). Spontan istri bilang
tidak, minta 50rb-nya dikembalikan. Akhirnya istri
saya hanya mengeluarkan 100rb dan Bikkhu-nya langsung
pergi dengan dana tsb.

Dari kejadian diatas, yang akan saya pertanyakan :
1. Apakah kelakuan "Bhikkhu" ini sesuai dengan apa
yang sering kita lakukan di Vihara (tidak ada
pemaksaan dalam hal jumlah uang yang akan didanakan).
2. Apakah Bikkhu itu adalah Bikkhu benaran dan dari
Vihara yang disebut diatas ?

Mohon jikalau diantara anggota Millis ini mengalami
hal yang sama atau merupakan salah satu pengurus di
Vihara Avalokitesvara, semoga dapat memberikan
penjelasan yang lebih lanjut atas kegiatan ini.

Mungkin saja "Bikkhu" (palsu) ini hanya menyamar
dengan memakai jubah anggota Sangha dan
mengatas-namakan Vihara tertentu untuk kepentingan
mereka sendiri alias penipu.
 
Tolong mail ini disebar-luaskan, terutama
vihara-vihara agar lebih informatif kepada umat2nya.

Salam





** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke