|
Aku punya beberapa komentar. Namun satu hal yg pasti adalah:
tidak diragukan lagi, keluhan yg Anda berikan sangat disetujui. Karena ini demi
keharmonisan & kemajuan komunitas Buddhis kita. OK, sekarang yg saya ingin
singgung adalah:
- Berdana mengandung awalan aktiv,
artinya kita yg menentukan mo dana ato tdk. Dana sendiri memiliki unsur
keiklasan [ini idealnya lho]. Kesimpulan dr point
ini: tidak harus berdana, jika memang ada keraguan [misalnya
kecurigaan atas objek terdonasi].
- Dari pada mengeluh di belakang orang terdonasi [yg dicurigai
itu], mending selesaikan di tempat. Misalnya kita bigung apakah minta dana dgn
cara demikian adalah betul ato salah, yah tanyakan langsung kepada org
bersangkutan. Meskipun kita tahu bahwa "tdk ada pencuri yg akan mengaku", tapi
setidaknya dia sudah tidak senyaman sebelumnya. Kesimpulan dr
point ini: kita harus mengeluh kepada sumber permasalahan;
setidaknya itu akan mengkondisikan org tersebut utk lebih bisa
mempertimbangkan ulang perbuatannya. Jika dia sering bertemu dgn "umat" yg
berani bertanya atau menegur; tentunya akan menjadi lebih beda. Aku sendiri
pernah menegur, seperti pd e-mail sebelumnya yg aku ceritakan di daerah Mangga
Dua.
- Beberapa saat lalu, di Singapura ada beberapa "Bhiksu palsu"
ditangkap karena aksi sejenis ini. Ini tentunya sulit diterapkan di Indonesia.
Tapi memang ada beberapa tradisi di China, yakni Bhiksu yang turun ke
masyarakat, membacakan keng & tangan berlaku seperti meminta. Bicara
seperti ini bisa menyinggung pandangan inter sekte lagi. Tapi memang ada
kenyataan bahwa vinaya pd sekte tertentu yg melarang rohaniawannya memegang
uang. Dan juga ada larangan ke tempat umum tanpa ditemani dayaka [pembantu],
bahkan hingga kepada pandangan & tatapan mata pun
diatur. Kesimpulan dr point ini: memang ada
kemungkinan "Bhiksu palsu". Atau memang Bhiksunya tidak palsu, namun
tindakannya salah. Namun yg pasti: dengan pengertian kita sebagai umat yg baik
& benar, tentunya hal seperti ini tidak akan bertahan lama. Org Kristen
& Islam tdk mungkin berdana kepada rohaniwan Buddhis; so, yg pasti adalah
kita2 ini. Nah, jika kita2 ini juga mengerti & memutuskan utk tdk
"mendukung" kesalahan/kepalsuan mereka, lha mereka bisa dapat "korban" dr mana
lagi?
- Aku sekian kali pernah bersinggungan dgn Muslim yg mengkritik
penggalang dana di bus2 yg mengatasnamakan pembangunan masjid ato musolah.
Mereka mengkritik langsung yg menyatakan bahwa mereka tahu bahwa banyak yg
menipu. Nah, mereka berani sekali mengkritik "saudara" mereka
sendiri. Aku juga sering mendengar kritikan dr non-Muslim yg mengkritik
aktivitas tersebut dengan nada merendahkan. Kesimpulan dr point
ini: apakah kita tidak pernah berpikir bahwa juga ada
non-Buddhis yg akan mengkritik oknum rohaniwan Buddhis tersebut; seperti
halnya yg non-Muslim mengkritik pembawa kotak dana di bus2? Dengan jubah &
kepala plontos saja sudah sering diledekin oleh org lain, apalagi plus
aktivitas fundraising tsb. "MEMALUKAN!" itulah kata yg aku lontarkan kepada
Bhiksu di Mangga Dua. Jadi kita juga harus berani mengkritik pihak kita yg
keliru.
- Saran saya utk Sdr. Rinto Jiang yg begitu baik karena sudah
sharing di sini. Sebaiknya kontak ke Vihara Avalokitesvara [Mangga Besar yah?
Ato ada di tempat lain juga?] dan berikan komentar yg memang muncul dr pikiran
Anda. Jika mereka membenarkan adanya Bhiksu2 dr vihara mereka yg mengadakan
aktivitas demikian & Anda pribadi masih tidak setuju; sampaikan saja,
bahwa hal ini tidak nyaman utk kita sebagai umat. Mereka harus tahu! Jika
sebaliknya tidak ada Bhiksu dr vihara mereka yg demikian, artinya Anda sudah
membantu vihara tersebut utk waspada & bisa bereaksi dr penyalahgunaan
nama viharanya...
Thx...
----- Original Message -----
Sent: Thursday, October 20, 2005
09:49
Subject: [Dharmajala] [budaya_tionghua]
OOT: Waspadalah dalam hal berdana
-------- Original Message --------
Namo
Buddhaya,
Kejadian ini dialami oleh istri saya pada tanggal 18 Okt
2005 di Mega Mall Pluit. Ketika lagi berbelanja sesuatu, istri saya
didekati oleh seorang Bikkhu (Jubah abu2). Beliau mengaku bahwa dia berasal
dari Vihara Avalokitesvara di Mangga besar. Setelah basa basi dalam bah
Mandarin beliau memperlihatkan gambar Dewi Kwan Im dan meminta istri saya
untuk berdana. Sebagai umat Buddhist, tentunya istri saya
tidak keberatan untuk berdana apalagi kegiatan ini diminta lansung oleh
seorang anggota Sangha.
Ketika istri saya kasihkan uang lembaran 50rg,
eh malah ditolak sambil mengeluarkan lembaran kertas seolah2 banyak umat
yang telah berdana diatas jumlah 100rb - 300rb. Apakah ini merupakan salah
satu cara berdana menurut ajaran Buddhist ? Walapun merasa agak aneh,
akhirnya istri saya kembali mengeluarkan uang lembaran 100rb, pada saat
waktu itu 50rb masih berada di tangan Bikkhu itu. Secara cepat Bikkhu itu
bilang 150rb ya (dlm bahasa Mandarin). Spontan istri bilang tidak, minta
50rb-nya dikembalikan. Akhirnya istri saya hanya mengeluarkan 100rb dan
Bikkhu-nya langsung pergi dengan dana tsb.
Dari kejadian diatas,
yang akan saya pertanyakan : 1. Apakah kelakuan "Bhikkhu" ini sesuai
dengan apa yang sering kita lakukan di Vihara (tidak ada pemaksaan dalam
hal jumlah uang yang akan didanakan). 2. Apakah Bikkhu itu adalah Bikkhu
benaran dan dari Vihara yang disebut diatas ?
Mohon jikalau diantara
anggota Millis ini mengalami hal yang sama atau merupakan salah satu
pengurus di Vihara Avalokitesvara, semoga dapat memberikan penjelasan
yang lebih lanjut atas kegiatan ini.
Mungkin saja "Bikkhu" (palsu) ini
hanya menyamar dengan memakai jubah anggota Sangha dan mengatas-namakan
Vihara tertentu untuk kepentingan mereka sendiri alias penipu.
Tolong mail ini disebar-luaskan, terutama vihara-vihara agar lebih
informatif kepada umat2nya.
Salam
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|