Aku punya beberapa komentar. Namun satu hal yg pasti adalah: tidak diragukan lagi, keluhan yg Anda berikan sangat disetujui. Karena ini demi keharmonisan & kemajuan komunitas Buddhis kita. OK, sekarang yg saya ingin singgung adalah:
  1. Berdana mengandung awalan aktiv, artinya kita yg menentukan mo dana ato tdk. Dana sendiri memiliki unsur keiklasan [ini idealnya lho]. Kesimpulan dr point ini: tidak harus berdana, jika memang ada keraguan [misalnya kecurigaan atas objek terdonasi].
  2. Dari pada mengeluh di belakang orang terdonasi [yg dicurigai itu], mending selesaikan di tempat. Misalnya kita bigung apakah minta dana dgn cara demikian adalah betul ato salah, yah tanyakan langsung kepada org bersangkutan. Meskipun kita tahu bahwa "tdk ada pencuri yg akan mengaku", tapi setidaknya dia sudah tidak senyaman sebelumnya. Kesimpulan dr point ini: kita harus mengeluh kepada sumber permasalahan; setidaknya itu akan mengkondisikan org tersebut utk lebih bisa mempertimbangkan ulang perbuatannya. Jika dia sering bertemu dgn "umat" yg berani bertanya atau menegur; tentunya akan menjadi lebih beda. Aku sendiri pernah menegur, seperti pd e-mail sebelumnya yg aku ceritakan di daerah Mangga Dua.
  3. Beberapa saat lalu, di Singapura ada beberapa "Bhiksu palsu" ditangkap karena aksi sejenis ini. Ini tentunya sulit diterapkan di Indonesia. Tapi memang ada beberapa tradisi di China, yakni Bhiksu yang turun ke masyarakat, membacakan keng & tangan berlaku seperti meminta. Bicara seperti ini bisa menyinggung pandangan inter sekte lagi. Tapi memang ada kenyataan bahwa vinaya pd sekte tertentu yg melarang rohaniawannya memegang uang. Dan juga ada larangan ke tempat umum tanpa ditemani dayaka [pembantu], bahkan hingga kepada pandangan & tatapan mata pun diatur. Kesimpulan dr point ini: memang ada kemungkinan "Bhiksu palsu". Atau memang Bhiksunya tidak palsu, namun tindakannya salah. Namun yg pasti: dengan pengertian kita sebagai umat yg baik & benar, tentunya hal seperti ini tidak akan bertahan lama. Org Kristen & Islam tdk mungkin berdana kepada rohaniwan Buddhis; so, yg pasti adalah kita2 ini. Nah, jika kita2 ini juga mengerti & memutuskan utk tdk "mendukung" kesalahan/kepalsuan mereka, lha mereka bisa dapat "korban" dr mana lagi?
  4. Aku sekian kali pernah bersinggungan dgn Muslim yg mengkritik penggalang dana di bus2 yg mengatasnamakan pembangunan masjid ato musolah. Mereka mengkritik langsung yg menyatakan bahwa mereka tahu bahwa banyak yg menipu. Nah, mereka berani sekali mengkritik "saudara" mereka sendiri. Aku juga sering mendengar kritikan dr non-Muslim yg mengkritik aktivitas tersebut dengan nada merendahkan. Kesimpulan dr point ini: apakah kita tidak pernah berpikir bahwa juga ada non-Buddhis yg akan mengkritik oknum rohaniwan Buddhis tersebut; seperti halnya yg non-Muslim mengkritik pembawa kotak dana di bus2? Dengan jubah & kepala plontos saja sudah sering diledekin oleh org lain, apalagi plus aktivitas fundraising tsb. "MEMALUKAN!" itulah kata yg aku lontarkan kepada Bhiksu di Mangga Dua. Jadi kita juga harus berani mengkritik pihak kita yg keliru.
  5. Saran saya utk Sdr. Rinto Jiang yg begitu baik karena sudah sharing di sini. Sebaiknya kontak ke Vihara Avalokitesvara [Mangga Besar yah? Ato ada di tempat lain juga?] dan berikan komentar yg memang muncul dr pikiran Anda. Jika mereka membenarkan adanya Bhiksu2 dr vihara mereka yg mengadakan aktivitas demikian & Anda pribadi masih tidak setuju; sampaikan saja, bahwa hal ini tidak nyaman utk kita sebagai umat. Mereka harus tahu! Jika sebaliknya tidak ada Bhiksu dr vihara mereka yg demikian, artinya Anda sudah membantu vihara tersebut utk waspada & bisa bereaksi dr penyalahgunaan nama viharanya...
Thx...
 
 
----- Original Message -----
Sent: Thursday, October 20, 2005 09:49
Subject: [Dharmajala] [budaya_tionghua] OOT: Waspadalah dalam hal berdana

-------- Original Message --------
Subject: [budaya_tionghua] OOT: Waspadalah dalam hal berdana
Date: Wed, 19 Oct 2005 19:35:18 -0700 (PDT)
From: Isone <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]


Namo Buddhaya,

Kejadian ini dialami oleh istri saya pada tanggal 18
Okt 2005 di Mega Mall Pluit. Ketika lagi berbelanja
sesuatu, istri saya didekati oleh seorang Bikkhu
(Jubah abu2). Beliau mengaku bahwa dia berasal dari
Vihara Avalokitesvara di Mangga besar. Setelah basa
basi dalam bah Mandarin beliau memperlihatkan gambar
Dewi Kwan Im dan meminta istri saya untuk berdana.
Sebagai umat Buddhist, tentunya istri saya tidak
keberatan untuk berdana apalagi kegiatan ini diminta
lansung oleh seorang anggota Sangha.

Ketika istri saya kasihkan uang lembaran 50rg, eh
malah ditolak sambil mengeluarkan lembaran kertas
seolah2 banyak umat yang telah berdana diatas jumlah
100rb - 300rb. Apakah ini merupakan salah satu cara
berdana menurut ajaran Buddhist ? Walapun merasa agak
aneh, akhirnya istri saya kembali mengeluarkan uang
lembaran 100rb, pada saat waktu itu 50rb masih berada
di tangan Bikkhu itu. Secara cepat Bikkhu itu bilang
150rb ya (dlm bahasa Mandarin). Spontan istri bilang
tidak, minta 50rb-nya dikembalikan. Akhirnya istri
saya hanya mengeluarkan 100rb dan Bikkhu-nya langsung
pergi dengan dana tsb.

Dari kejadian diatas, yang akan saya pertanyakan :
1. Apakah kelakuan "Bhikkhu" ini sesuai dengan apa
yang sering kita lakukan di Vihara (tidak ada
pemaksaan dalam hal jumlah uang yang akan didanakan).
2. Apakah Bikkhu itu adalah Bikkhu benaran dan dari
Vihara yang disebut diatas ?

Mohon jikalau diantara anggota Millis ini mengalami
hal yang sama atau merupakan salah satu pengurus di
Vihara Avalokitesvara, semoga dapat memberikan
penjelasan yang lebih lanjut atas kegiatan ini.

Mungkin saja "Bikkhu" (palsu) ini hanya menyamar
dengan memakai jubah anggota Sangha dan
mengatas-namakan Vihara tertentu untuk kepentingan
mereka sendiri alias penipu.
 
Tolong mail ini disebar-luaskan, terutama
vihara-vihara agar lebih informatif kepada umat2nya.

Salam




** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke