Selasa, 25 Oktober 2005

3 Juta Keluarga Memaksa Masuk Daftar

Jakarta, Kompas - Badan Pusat Statistik mencatat, terdapat sekitar tiga juta keluarga yang memaksa ingin terdaftar sebagai rumah tangga miskin yang berhak mendapatkan bantuan langsung tunai sebesar Rp 300.000 per tiga bulan. Di samping itu, BPS juga menemukan adanya pemaksaan yang meningkat terhadap petugas di lapangan.

”Sekarang yang terjadi adalah pemaksaan. Banyak petugas kami tak berani pulang ke rumah karena rumahnya dilempari atau diancam,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Choiril Maksum saat ditemui menjelang rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Senin (24/10).

Choiril menegaskan, pihaknya akan mengklarifikasi ketiga juta keluarga itu secara langsung.

”Sekarang banyak yang minta masuk daftar karena mereka tahu akan mendapatkan uang, tetapi belum tentu miskin semuanya. Mereka sebagian besar tercatat di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Bahkan di Brebes, Jawa Tengah, ada dua desa yang seluruh penduduknya memaksa ingin masuk ke dalam daftar BLT,” katanya.

Choiril menyebutkan, hingga saat ini BPS telah menarik kembali 40.000 dari sekitar 7 juta Kartu Kompensasi BBM yang telah diserahkan kepada penduduk. ”Kartu itu kami tarik kembali karena penerimanya tidak layak mendapatkan BLT,” ujar Choiril.

>d<Sementara itu, puluhan warga merusak Kantor Kepala Desa Banyumas, Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, karena tak terdata sebagai penerima BLT. Peristiwa itu mengakibatkan seorang penduduk terluka karena pukulan warga yang mengamuk.

Seorang warga miskin yang datang setelah perusakan, Sukarni (35), mengatakan, pendataan warga miskin di desanya berlangsung tak adil. Pasalnya, warga yang memiliki kendaraan bermotor mendapatkan dana BLT, sedangkan dia yang pencuci pakaian justru tak terdata.

Kepala Kepolisian Resor Langkat Ajun Komisaris Besar Anang Syarief mengatakan, belum ada yang ditahan dalam perusakan ini karena situasinya masih panas.

Di Kabupaten Brebes 20 warga yang tergabung dalam Forum Pengabdi Masyarakat berunjuk rasa di halaman Kantor DPRD Kabupaten Brebes. Mereka minta perlindungan hukum karena merasa terancam oleh warga yang tak mendapatkan BLT. Mereka mencatat lima ketua RT di Desa Pagejugan, Kecamatan Brebes, mengundurkan diri, Kantor Kepala Desa Kaligangsa Wetan rusak akibat amuk massa, sedangkan seorang kepala dusun di Desa Kaligangsa Wetan, Sukro, terluka akibat dianiaya warganya.

Dinilai curang

Di Desa Demangharjo, Kecamatan Warurejo, Kabupaten Tegal, ratusan warga menuntut salah satu perangkat desa setempat, Warjuki, diturunkan. Warjuki dinilai curang saat mendata penduduk sehingga data yang diperoleh tak akurat. Hal serupa dilakukan sekitar 30 orang di Kota Medan, yang menuntut pemecatan pemimpin di desa mereka kepada Wali Kota Medan Abdillah.

Sementara itu, Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Masyhudi Ridwan mengatakan, Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh telah memerintahkan kejaksaan negeri dan kejaksaan tinggi di Indonesia untuk menindaklanjuti laporan penyimpangan BLT. ”Jika hasil penyelidikan dan telaah menemukan cukup bukti penyimpangan, statusnya dapat ditingkatkan ke penyidikan. BLT kan bantuan negara dari pemerintah,” katanya.

Penyimpangan BLT dapat dikaitkan dengan UU No 20/2001 tentang Pemberantasan Korupsi. Pasal 2 Ayat (2) menyebutkan, korupsi yang dilakukan dalam keadaan tertentu dapat dijatuhi pidana mati. Keadaan tertentu itu terkait dengan dana yang diperuntukkan bagi penanggulangan keadaan bahaya, bencana alam nasional, penanggulangan akibat kerusuhan sosial yang meluas, penanggulangan krisis ekonomi dan moneter, serta penanggulangan korupsi. (oin/WIE/HAM/idr/DWA)


Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke