--- In [email protected], Yamin Prabudy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya ingin coba diskusi dengan kk cong ik/ djoni...
> saya banyak snip snap ya ...
> 
>  > [/snap]
> Apakah seorang yang mempelajari Ajaran Buddha tidak
> boleh berkutat dengan kajian2 dan hal-hal duniawi ?
> OK jangan pake kata "tidak boleh" deh rasanya extrim
> Apakah seorang yang mempelajari Ajaran Buddha sudah
> sudah tidak terlalu mengurus masalah duniawi ??
> Emangnya yang mempelajari Ajaran Buddha itu tinggal di
> mana ?? 
> --------
Cg ik 
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa orang yang mempelajari 
Buddhisme sudah tidak mengurus masalah duniawi. Jika kita rangkaikan 
keseluruhan ajaran Buddha, akan ditemukan bahwa ajaran Buddha 
bersifat tahapan. Bagi mereka yang belum sanggup melepaskan 
kemelekatannya pada kehidupan duniawi, sang Buddha mengajarinya 
tentang hokum2 duniawi seperti perbuatan baik. Perlu diketahui 
bahwa  kemelekatan terhadap noda batin para makhluk hidup adalah 
persoalan yang dianggap paling serius bagi sang Buddha, itulah yang 
menjadi belenggu kita terombang-ambing dalam samsara. Namun bila 
kita bersikeras untuk bergelu dengan nya, apaboleh buat jika itu 
yang masih ingin kita lekati, baiklah jika kita ingin terus berkutat 
dengan masalah kenikmatan indria tapi mari ktia jauhkan diri dari 
perbuatan buruk. Jika anda termasuk makhluk yang berada dalam 
tahapan seperti ini, ya silahkan tapi Buddha mengingatkan bahwa hati 
hati lho harus jauhi dari perbuatan buruk. Jika anda termasuk dalam 
tahapan orang yang sudah jenuh dengan kenikmatan indriya dan 
memandang lebih jernih tentang makna dukha, maka tidak mungkin 
Buddha memaksa anda untuk menjalankan jalan yang sama dengan orang 
di tahapan sebelumnya. Jadi ini bukan persoalan boleh mengurus 
masalah duniawi atau tidak. Tergantung kecenderungan pribadi orang 
juga. Jadi itulah yang saya maksudkan tentang perbedaan buddhisme 
dengan agama lain. Kita memang tidak dapat secara lansung terlepas 
dari ketergantungan duniawi, tetapi kita secara bertahap belajar 
untuk mengikis kemelekatan kita padanya (bukan menjauhinya). Inlah 
yang disebut melatih diri. 
 
---------
> [/snap]
> Saya masih binggung, sebenarnya arti dari dharma itu
> apa sih ? Ajaran Buddha ? Kebenaran Sejati ? atau apa
> sih ?
> apakah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang
> tumbuh2an, alam semesta, dll itu termasuk kebenaran
> ngak ?
> apakah dengan mengetahu bumi mengeliling matahari,
> berotasi pada sumbunya itu bisa disebut kebenaran
> sejati ngak ?
> 
---------
Cg ik
. ilmu pengetahuan itu masih berkembang terus bukan? Jika sesuatu 
masih bisa berkembang, apakah dapat disebut kebenaran? Ilmu 
pengetahuan abad pertama apakah dapat dianggap sebagai kebenaran? 
Tidak. Sebab beberapa abad kemudian ditemukan teori sains yang 
berhasil mematahkan teori sains abad pertama. Lalu apakah sains abad 
ke 17 dapat disebut kebenaran? Tidak. Pada abad 20 ditemukan teori 
sains yang berhasil mematahkan teori sains abad 17. John Dalton 
menemukan partikel terkecil dari suatu benda adalah atom, apakah 
disebut kebenaran? Ya pada masa itu. Tetapi tidak pada masa 
sekarang. Lalu apakah teori sains masa sekarang merupakan kebenaran? 
Ya untuk masa sekarang. Tapi belum tentu untuk masa depan. Sains 
berkembang terus seiring dengan berjalannya dimensi ruang dan waktu. 
Kapan dapat ditemukan kebenaran akhir oleh  metode sains? Tidak 
tahu, yang jelas sekarang ini adalah sangat naïf jika mengatakan 
sains sebagai kebenaran sedangkan dia sendiri tidak memiliki pijakan 
yang kokoh akan teorinya sendiri, dan itulah sebabnya berbagai fakta 
baru dari teori itu terus ditemukan dan terus demikian.
 ---------
> [/snap]
> maksudnya apa ya ? sebagai pelatihan diri ? kalau saya
> tidak memiliki pengetahuan duniawi (akal budi saya)
> bagaimana bisa melatih diri ? apakah harus menjadi
> seorang yang non duniawi dulu ?
> ----------
Cg ik
Tidak memiliki pengetahuan duniawi memang betul tidak akan bisa 
melatih diri. Namun saya tidak bermaksud mengatakan harus keluar 
dari duniawi untuk melatih diri. Masalahnya adalah jika menjadikan 
sains sebagai sarana melepas kemelekatan akan noda2 batin, itu tentu 
tidak mungkin bagi orang awam. Buktinya orang yang berkutat dalam 
sains akan menambah kemelekatannya dalam samsara. (saya bukan anti 
sains lho, Cuma ingin mengingatkan saja tentang kelemahannya yakni 
tidak dapat mengikis noda batin yang merupakan inti untuk terbebas 
dari dukha). 
-----------
 > [/snap]
> 
> selama ini saya salah dong ya mempelajari sains dan
> berkutat dengannya,.. sia-sia dong belajar sekian
> tahun untuk dapat gelar S1, karena tidak ada
> manfaatnya...
> siapa yang bisa mematahkan sains tentang bumi berotasi
> pada porosnya dan berputar mengeliling matahari, siapa
> yang bisa mematahkan sains kalau 1+1 = 2 ? 
> 
> saya merasa koq jadinya pandangan tentang pengetahuan
> dan ilmu pengetahuan menjadi sempit ya.....
> 
> Bukankah akan lebih bijak kalau kita menerapkan apa
> yang kita ketahuan dari Ajaran Buddha ke dalam
> pengembangan ilmu pengetahuan ? well we are try to
> easy our life.. contohnya... siapa sih yang memilih
> berjalan kaki dari Jakarta ke Medan, jika ada mobil
> dan pesawat serta kapal laut... bukankah itu semua
> teknologi.
> siapa sih yang mau berjalan kaki jauh untuk
> mengirimkan pesan kalau ada telp ? bukankah itu juga
> sains.....
> 
> yang tidak boleh kita lupakan, kita hidup di dunia....
> kebetulan kita mempunyai peruntungan yang besar untuk
> belajar Ajaran Buddha, tapi bukan karena itu trus kita
> lupa kalau kita hidup di dunia.. dan duniawi dalam
> porsi tertentu sangat kita butuhkan....
> ----------- 
Cg ik
Tidak akan sia sia bila dia dapat memberi manfaat kepada anda. 
Tetapi akan merugikan jika hanya menambah keserakahan, kebencian dan 
kegelapan batin. Pada sisi tertentu sains memang ada manfaatnya. 
Singkatnya, kita harus bijak memperlakukannya. Sekali lagi, saya 
tidak bermaksud antipati pada sains, saya cuma ingin mengingatkan 
akan kelemahannya (pasti ada dong…ya?) , dan ternyata pesan saya 
salah dipahami. Ya maklum mungkin atas kebodohon saya tidak pandai 
dalam menyampaikan pendapat. Atau memang mungkin pendapat saya 
salah. Saya sangat setuju anda mengatakan "bukankah akan lebih bijak 
kalau kita menerapkan apa yang kita …..dari ajaran Buddha k dalam 
pengembangan sains?" 
Tapi saya sungguh khawatir bila orang lalu lupa akan tujuan hakiki, 
dan larut dalam kekaguman akan penemuan penemuan baru mereka. Begitu 
lah inti maksud saya, semoga dapat dimaklumi. 

Amithofo..

Chg ik.
  






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Click here to rescue a little child from a life of poverty.
http://us.click.yahoo.com/rAWabB/gYnLAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke