Namo Buddhaya, Mohon maaf, menurut saya posting2 itu tidak harus ditujukan bagi pribadi-pribadi tertentu saja, karena memang tidak mengandung sesuatu yang pribadi. Bahkan saya melihat diskusinya sudah cukup baik. Maaf, sekali lagi sekedar kritik untuk Anda. Justru saya melihat bahwa gaya bahasa Anda yang kurang atau agak susah dimengerti. Saya harus membacanya berulang-ulang baru bisa mengerti. Saya juga bisa protes pada moderator mengapa tulisan Anda ini dapat diloloskan. Ini adalah mailing list umum dan saya rasa kita boleh membahas apa saja yang ada hubungannya dengan Buddhisme, terutama yang berhubungan dengan SEB (Socially Engaged Buddhism). Hermeneutika juga ada hubungannya dengan SEB bukan? Kalau Anda keberatan menghapus terus, maka saya sarankan agar setting account Anda diganti pada "no-email" saja (seperti yang saya lakukan). Untuk keterangan lebih lanjut silakan hubungi saya via japri di [EMAIL PROTECTED] Nah, dengan demikian masalah Anda akan terpecahkan.
Semoga bermanfaat, Salam metta, Tan --- In [email protected], Gunawan Garuda Nusa <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Tabekkkkkkkkk,3x > > Yang budiman para netter yg membahas masalah ini, > Semoga niat kalian yang mulia dapat menyebar dan tercerap oleh anggota milis ini. > Semoga pendapat saya juga tidak menyinggung moderator. > > Maaf... maaf .... sekali lagi maaf jika > pertanyaan dan peryataan saya menyinggung keberadaan media ini. Kalau toh akhirnya opini saya > dianggap bodoh dan atau tidak mengerti keberadaan milis ini anggap saja KENTUT yang di buang > tapi kebanyakan lingkungan(orang) tidak menerima karena bau. > > Pertanyaan dan peryataan saya adl: > > 1.Jika memang jawaban ini ditujukan pribadi apakah tidak sebaiknya > teman2 budiman sekalian, apakah tidak sebaiknya via Japri saja?? > Kalau ini memang aturan main milis ini mohon maaf bagi moderator sekalian atas kebodohan saya. > Setelah berkembang pembicaraan yg jauh atau tidak saya tidak merasakan > adanya pembatasan oleh moderator. Mengapa?? > > 2.Jika untuk kebebasan untuk pencerahan atau apapun itu MOnggo mawon... > Tapi Ego saya keluar, mengatakan yang tertulis seperti ini. > Apakah tidak sebaiknya ada pembatasan. > Akhirnya saya (atau kami jika diperkenankan) yang tidak merasa perlu menanggapi merasa > tersentuh pemikirannya: Apakah netter mengerti Etika bermilis atau saya yg tidak mengerti etika > ber > milis :O mohon penjelasan dari tang budiman sekalian. > > Terus terang saya merasa lelah menghapus posting2 yg sifatnya pribadi, meskipun > saya mengatakannya tanpa mempertimbangkan adanya karma baik yang dihasilkan dari mendelete > mail/posting tsb. > > Selanjutnya ada kalimat yang akan dapat menghancurkan tujuan milis yang mulia ini. > Namun tak sanggup Ambo mengatakannyo..... > > Mohon arahannya dari yang budiman sekalian yang lebih/telah terbuka wawasannya... > > Salam, > > Yang bertanya .... > > > --- Yamin Prabudy <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > [snip] > > > Wawasan tataran bawah dalam buddhisme bukanlah visi > > > utama apa yang > > > ingin disampaikan oleh Buddha. Wawasan tataran bawah > > > Buddhisme itu > > > hanya sebagai sebuah upaya kausalya dari sang Buddha > > > dalam > > > membimbing semua makhluk hidup secara bertahap. Jika > > > mengatakan > > > bahwa mau masuk surga silahkan, utk apa sang Buddha > > > memperingatkan > > > bahwa Triloka bagaikan rumah yang sedang terbakar? > > > Itulah sebabnya > > > sang Buddha lalu mengatakan bahwa orientasi utama > > > ajarannya secara...... > > [/snap] > > > > bukankah kalimat seperti ini merupakan penafsiran ? > > > > Beberapa hari yang lalu saya ada menonton acara Dialog > > Today di Metro TV, kebetulan yang dibahas adalah > > masalah Islam masa depan.. pembicaranya cukup > > bonafid.. > > trus ada muncul masalah penafsiran... > > > > sang pembicara mengatakan.... > > penafsiran satu ayat Al-Quran bisa banyak tergantung > > pemahaman masing-masing.... dan itu adalah hal yang > > wajar-wajar saja (perbedaan pendapat boleh dong) yang > > tidak boleh adalah mem-fatwa atau klaim penafsiran > > satu kelompok/golongan yang paling benar karena ini > > bisa menyesatkan > > > > saya sebagai pemula (terutama saya...saya tidak tahu > > istilah-istilah bahasa Pali/ Sanskrit yg keren2) > > membutuhkan penafsiran-penafsiran yang disampaikan > > dalam bentuk buku, ceramah dharma, diskusi dharma > > supaya saya mudah mencernanya... saya rasa kalau > > dikasih Tripitaka/Tipitaka tidak akan saya baca karena > > kebodohan saya yang tidak mampu menterjemahkannya > > dalam bahasa sehari-hari... > > > > [snip] > > > Tidakkah disadari bahwa kita2 ini pada masa kalpa > > > yang tak terhitung > > > sudah terlalu lama berpijak pada bumi. Ternyata > > > benar apa yang > > > dikatakan sang Buddha bahwa dunia ini disebut > > > sebagai dunia Saha. > > > > > [/snap] > > > > sayang saya tidak menyadari sedang menginjak bumi, > > saya tidak menyadari sedang berjalan di atas bumi, > > saya tidak menyadari bahwa kita hidup di atas bumi, > > menurut saya kalau kita bisa menyadari segala hal ini > > (menginjak bumi, berjalan di atas bumi, hidup di atas > > bumi) sepertinya sudah lama sekali saya akan berada di > > alam surga atau nibanna....... > > > > padahal Thay pernah bilang > > Berjalan di atas air, berjalan di udara, berjalan di > > atas awan...bukan merupakan keajaiban, keajaiban > > terbesar adalah berjalan di bumi, di atas rumput yang > > hijau > > > > [snip] > > Socially > > > Engaged Buddhism akan menjadi tidak relevan juga > > > jika tidak > > > mengaitkanya dengan upaya mengikis noda batin, > > > membebaskan diri dari > > > belenggu samsara. Untung saja misi dari organisasi > > > yang diprakarsai > > > oleh YM Thich Nhat Hanh tidak mengabaikan upaya > > > ini. > > [/snap] > > > > Yup, Thay mengajarkan kita harus melakukan SEB dengan > > landasan mindfulness (perhatian murni).. menyadari apa > > yang sesungguh terjadi saat ini di dalam dan di luar > > diri kita.... > > pada saat kita bernafas kita menyadari kita sedang > > bernafas, dengan memperhatikan nafas kita, maka tubuh > > dan pikiran kita menyatu..dengan cara ini kita akan > > berada pada kekinian yang menakjubkan > > > > [snip] > > > Taruhlah hermeneutika > > > Buddhisme telah mati sejak Nagarjuna, bukankah itu > > > lebih baik karena > > > penafsiran2 ajaran Buddha oleh orang dijaman akhir > > > dharma seperti > > > sekarang justru semakin membuat orang bingung > > > karena tidak adanya > > > pencapaian spiritual utk menafsirkan ajaran Buddha, > > > bukannya > > > memajukan buddhisme tetapi mendistorsinya. > > [/snap] > > > > artinya tidak ada orang yang berani menterjemahkan apa > > yang pernah diajarkan oleh Sang Buddha dong ya ?? > > kalau tidak ada yang berani menterjemahkan dengan > > alasan taktu mendistorsi bukankah jadinya > > kemunduran... > > karena tidak ada pemahaman lagi > > saya umat awam mana ngerti kalau di suruh baca > > Tripitaka/Tipitaka apalagi memahami sendiri.. membaca > > aja aku sulit > > > > dan itulah yang terjadi di Indonesia..... > > kita sempat membanggakan kalau dulu (dulu ni ye) > > Indonesia adalah tempat orang2 belajar Agama > > Buddha.... > > sekarang Indonesia adalah tempat orang-orang > > mempelajari agama Buddha..... > > kita membeo karena tidak berani mengeluarkan buah > > pikiran.. sementara apapun yang kita baca, pemahaman > > apapun yang kita baca itu semua adalah produk > > import... > > lihat saja buku-buku terbitan Karaniya,BiP, dll.. > > Import semua > > karena takut mendistorsi...maka tidak ada penulis yg > > orang Indonesia... apakah orang2 Indonesia bodoh dan > > tidak punya pemahaman akan Buddhism?? wah saya rasa > > tidak...saya yakin ada yang punya kemampuan seperti > > itu...cuman belum keluar dari pertapaan/sarangnnya > > saja > > > > Kalau begitu saya angkat 1 contoh... > > "Tidak akan ada guru ilmu pengetahuan apapun, karena > > setiap orang (guru) takut kalau apa yang disampaikan > > itu akan terjadi distorsi, takut salah mengajar. > > karena tidak ada guru yang memiliki *sedikit* > > pemahaman, maka murid-murid belajar sendiri dari buku2 > > yang ada...dan tanpa adanya bimbingan akhirnya tidak > > ada yang mengerti sama sekali, atau pemahamannya > > jauh-jauh lebih sedikit dibandingkan sang guru yang > > ketakutan mendistorsi ilmu pengetahuan .. lama > > kelamaan lama kelamaan akhirnya ilmu pengetahuan itu > > hilang dengan sendirinya" > > > > Nah ini sih mental tahu..... > > > > Pendapat saya, memang kita bisa melakukan > > kesalahan..kita bisa salah menyampaikan sesuatu..kita > > bisa salah memahami sesuatu....karena tahu akan batas > > kemampuan kita, tentu kita tidak boleh berhenti > > mengasah diri (belajar). > > > > demikian juga dalam hal penafsiran, kita tahu batas > > kemampuan kita...tapi bukan berarti kita tidak boleh > > menyampaikan apa yang kita pahami dan takut akan > > terjadi distorsi...malah kita harus mengeluarkan apa > > yg kita pahami, diskusikan dengan orang lain .. dengan > > cara seperti ini bukankah akhirnya kita memiliki > > tambahan ilmu,tambahan pemahaman?? > > > > salah itu wajar, distorsi dalam penafsiran itu sah-sah > > saja.. yang tidak wajar adalah tidak belajar dari > > kesalahan dan tidak berani mengemukakan pemahaman > > (akhirnya sesat sendiri), dan ngotot benar sediri > > > > ini lah pendapat dari pemahaman saya... > > wajar kalau salah (membela diri dulu) karena saya > > masih pelajar yang belajar.... > > > > > > metta, > > > > > > yamin > > > > > > > > > > __________________________________ > > Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005 > > http://mail.yahoo.com > > > > > > > > ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar > > diri saya ** > > > > ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami > > benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** > > > > ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar > > mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** > > > > ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi > > perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke > > banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur > > kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** > > Yahoo! Groups Links > > > > > === message truncated === > > > > > __________________________________ > Yahoo! FareChase: Search multiple travel sites in one click. > http://farechase.yahoo.com > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Click here to rescue a little child from a life of poverty. http://us.click.yahoo.com/rAWabB/gYnLAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
