Rabu, 09 November 2005

Akan Timbul Krisis atau Resesi?

M Sadli

Akhir Oktober lalu masyarakat terkejut karena inflasi bulanan melonjak sampai 8,75 persen. Untuk inflasi satu bulan ini terasa amat tinggi. Inflasi 8,75 persen satu tahun saja tidak lagi bisa dibilang inflasi rendah.

Ekonomi Indonesia sering dihinggapi inflasi, tidak seperti Malaysia dan Thailand. Bank Indonesia (BI) menyebut core inflation Indonesia berkisar 7-8 persen setahun.

Inflasi inti adalah inflasi yang ”selalu ada”, seolah berakar, disebabkan kebiasaan kebijakan moneter dan/atau kebijakan fiskal yang kurang ketat, juga karena sikap atau antisipasi publik yang di Indonesia terlalu biasa hidup dalam inflasi. Orang awam sering lebih suka menyimpan barang ketimbang uang. Di atas inflasi inti ini ada pengaruh inflasi ”satu kali” (once over) yang disebabkan kenaikan harga BBM. Mengapa inflasi once over tinggi (sekali), mengapa ini tidak hanya dalam kisaran 3-5 persen, lebih sulit diterangkan. Salah satu keterangan adalah karena kenaikan harga BBM juga amat tinggi, rata-rata 125 persen, yang menimbulkan kejutan.

Bisakah disimpulkan, kebijakan pemerintah ”salah”? Mengapa kenaikan harga BBM tahun 2005 tidak 50 persen saja dan tahun 2006 dikoreksi lagi? Pilihan itu memang ada. Tetapi pemerintah melihatnya sebagai dilema, lebih baik sekali pukul. Ini dipandang lebih ringan ketimbang harus ”digantung dua kali”.

Setelah kenaikan harga BBM yang tinggi tetapi once over, keadaan di pasar bisa menjadi lebih tenang. Jika orang masih mengantisipasi kejutan kedua tahun depan, suasana di pasar (uang) tidak akan tenteram yang pada dirinya ikut memicu inflasi berlanjut. Tetapi, semua bersifat pandangan spekulatif, tidak terlalu pasti.

Namun, justru karena ketidakpastian itu maka proses pengambilan keputusan pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla memakan waktu lama.

Presiden harus diyakinkan dulu, karena dialah pengambil keputusan terakhir. Akibatnya, timing keputusan tidak bisa baik. Soal pilih waktu, akan selalu ”salah”: tiga bulan sebelum Lebaran tidak mungkin karena proses deliberasi intern pemerintah; dekat Lebaran juga salah karena harga cenderung naik; sesudah Lebaran dekat Natal dan akhir tahun; jika ditangguhkan sampai tahun depan APBN bisa jebol.

Batu ujian

Jika inflasi akibat kenaikan harga BBM akan berlalu karena once over, apakah inflasi 2006 bisa kembali ke sekitar core inflation? Inilah harapan Bank Indonesia. Tetapi itu penuh persyaratan. Kebijakan moneter BI harus ketat (tight money policy) dengan mempertahankan tingkat bunga SBI tinggi. Ini sudah dilakukan BI. Tetapi efektivitas pelaksanaan kebijakan moneter BI masih bisa dipertanyakan. Di masa lalu sebagian penyebab core inflation tinggi karena BI kurang konsekuen. Dalam sejarah BI dibebani tugas menstimulasi ekonomi, artinya memajukan laju pertumbuhan ekonomi. Jika BI menaikkan tingkat suku bunga, neraca BI sebagai perusahaan dirugikan. Dampaknya, APBN pemerintah tidak menguntungkan karena beban bunga meningkat. Maka, ”tangan BI tidak terlalu lepas”.

Dari kebijakan fiskal, pemerintah harus memperketat fiscal policy. Secara politis ini selalu tidak mungkin. DPR juga berwenang menentukan APBN, dan sikapnya kadang populis. Sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal juga bisa kurang lancar jika (antara) para menteri ekonomi dan Dewan Gubernur BI kurang bisa bekerja sama, yang di masa lalu telah terjadi. Jika nanti ada perombakan kabinet, teamwork bidang ekonomi ini harus diperbaiki.

Selain itu, inflasi November dan Desember akan menjadi batu ujian. Jika inflasi November menjadi rendah, ini bisa menjadi bukti, ”pemerintah pada jalur yang benar” (on the right track). BI dan Keuangan harus mampu menyemburkan angin kepercayaan di pasar. Jika tidak, sentimen ketidakpastian akan meniup angin inflasi.

Pencetus resesi?

Apakah inflasi tinggi sekali di bulan Oktober bisa mencetuskan resesi ekonomi, mengulangi krisis 1997/1998, atau menimbulkan hiperinflasi? Kiranya tidak.

Laju pertumbuhan ekonomi selama beberapa tahun ini stabil, bahkan membaik sedikit dari kisaran lima persen ke enam persen. Untuk Asia, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tahun 2005 hanya China dan India. Maka sama sekali tidak ada indikasi akan timbul resesi. Resesi diawali oleh laju pertumbuhan negatif.

Jika inflasi November dan seterusnya kembali ke kisaran inflasi inti, pasti tidak ada hiperinflasi. Hiperinflasi bisa muncul jika timbul ”spiral harga yang memecut harga”. Untuk itu, jumlah uang yang beredar harus meningkat banyak. Krisis 1997 tidak akan terulangi karena kurs rupiah relatif stabil pada Rp 10.000 per dollar AS. Krisis 1997 diawali jatuhnya kurs rupiah.

Sebagai bank sentral, sejak krisis 1997, BI memiliki banyak pengalaman dan keahlian. Kinerja Departemen Keuangan tergantung kualitas menteri. Setahun lalu diambil keputusan, menteri keuangan tidak boleh ”terlalu dekat IMF” (Sri Mulyani) atau ”suka menentang IMF” (Rizal Ramli). Dicarilah figur ”netral”. Tetapi itu menimbulkan soal baru dalam koordinasi di antara menteri-menteri ekonomi.

Figur Menko Perekonomian sering dilihat sebagai masalah. Apakah seorang ”saudagar” yang tidak mengerti seluk-belum makro-ekonomi bisa berkinerja baik? Mungkin tidak ideal, tetapi pejabat sekarang mau mendengarkan saran-saran para ekonom, dibantu dua ekonom muda yang ahli (M Ikhsan dan Ch Basri).

Berbagai indikator sektor riil juga tidak menunjukkan krisis atau resesi. Kinerja ekspor cukup baik. Laju pertumbuhan tahunan lebih dari 10 persen. Kelompok ekspor nonmigas yang kinerja ekspornya baik adalah hasil manufaktur nonpadat karya (seperti nontekstil), tetapi lebih padat teknologi dan modal (capital goods and machinery). Indikator investasi, impor barang modal dan bahan baku juga tinggi.

Anomali ekonomi

Saat ini, anomali ekonomi terbesar adalah inflasi satu bulan yang amat tinggi, tetapi tidak akan merusak ekonomi. Di lain pihak, pembagian pendapatan amat timpang. Adakah jalan keluar lain selain menaruh semua beban di pundak konsumen BBM? Misal, apakah ”ngemplang utang” bukan alternatif bagi pemerintah?

Secara hipotetis bisa, tetapi akan menimbulkan masalah lebih besar dan lama. Lebih besar karena akan timbul dua masalah APBN. Pertama, defisit tetap besar dan pasar uang takut kepada pemerintah, segan membeli obligasi kecuali jika suku bunganya tinggi sekali. Kedua, kesulitan demikian akan berlangsung hingga tahun depan. Untuk ”ngemplang utang” juga diperlukan pemerintah yang sudah putus asa dan nekat, seperti Argentina. Kiranya Indonesia belum demikian.

Meski demikian, ini semua tidak berarti prospek ekonomi tahun depan akan lancar dan baik. Semester pertama amat mungkin masih akan terasa goncangannya (after shocks). Pemerintah berharap laju pertumbuhan PDB 6,2 persen. Tetapi, sebaiknya jangan berharap terlalu banyak.

Pertumbuhan 5,5 persen pasti bisa dicapai. APBN pemerintah juga lebih terkendali dan dalam batas-batas tertentu lebih mampu memberi stimulus fiskal untuk menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan absolut. Yang penting, selalu mewaspadai bahaya inflasi.

M Sadli Ekonom Senior dan Mantan Menteri


Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke