Kompas, Sabtu, 19 November 2005
 
 
 
Hangat-hangat Tahi Ayam
Jakob Sumardjo
Sejak zaman Orde Baru, di Indonesia ada banyak cerita, tetapi tidak ada pengakhirannya. Banyak cerita duka tidak selesai. Semua cerita menyedihkan dari bangsa ini berakhir open ending. Setiap orang boleh membubuhkan akhir cerita itu. Kita ini bangsa tanpa ingatan, tanpa sejarah.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang hangat-hangat tahi ayam. Ribut bukan main jika suatu peristiwa sedang berlangsung, dari gaji DPR yang melambung hingga pemenggalan kepala siswi-siswi di Poso, Sulawesi Tengah. Hampir semua orang yang masih merasa punya pikiran mengemukakan pendapatnya. Dan jika pendapat itu dibantah, ia marah, seolah- olah kebenaran itu hak monopolinya.
Mengapa bangsa ini mudah terbakar sesaat? Mengapa kita menyukai hangatnya tahi ayam? Suatu persoalan belum selesai diceritakan sudah beralih pada cerita lain. Ini tak lain karena bangsa ini masih hidup dalam kebudayaan lisan. Kita belum memasuki periode bangsa literer, bangsa suka membaca. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang masih mengandalkan epistemologi pengetahuannya, kesadarannya, dari mendengar dan menonton. Bangsa dengan budaya lisan yang menonjol.
Hanya permukaan
Budaya lisan itu terbatas ruang cakrawalanya, yakni hanya mengenal dimensi ruang dan waktu sesaat. Sikap hidup semacam ini menggantungkan diri pada kesadaran kolektif, bukan solidaritas umum yang universal. Perspektif pandangannya pendek. Dan karena epistemologinya lisan, emosi lebih berperan daripada pikiran rasionalnya. Segala sesuatu hanya dilihat permukaannya, yakni yang terindera. Orang-orang semacam ini biasanya tidak punya jarak dengan obyek-obyek inderawinya. Subyek mudah sekali menjadi obyek. Prinsip partisipan. Peristiwa dilihat sebagai peristiwa inderawi, tidak pernah bisa menangkap substansinya. Dunia ini isinya keanekaragaman, aneka perbedaan. Mereka tidak mampu melihat struktur- struktur peristiwa.
Budaya ini berbeda dengan mereka yang literer. Manusia literer mampu berpikir abstrak, melihat substansi peristiwa. Cakap dalam melihat hubungan-hubungan peristiwa dalam strukturnya yang tetap. Orang begini tidak mudah dihasut karena tidak melihat berdasar inderawi, tetapi akal budi. Mereka mampu mengambil jarak dengan segala sesuatu di luar dirinya. Segala sesuatu dilihat obyektif, apa adanya, bukan bagaimana tampaknya. Orang- orang ini kritis, berbuat setelah matang pemikirannya karena ia melihat perspektif aneka kemungkinannya.
Budaya lisan ini bukan hanya menghinggapi mereka yang kurang pendidikannya, tetapi juga mereka yang sudah mencapai gelar pendidikan tinggi. Dengan mudah kita bisa melihat bagaimana demo kaum terpelajar tak ubahnya seperti demo kaum gelandangan. Baku tinju kita lihat di meja-meja dewan perwakilan, di ruang pengadilan, di gerbang kekuasaan. Semua ini memalukan karena kita kembali ke zaman primitif, kapan budaya lisan kolektif masih hidup segar. Semua persoalan diselesaikan dengan emosi partisipasi secara wadag, yakni kekerasan. Manusia menanggalkan akal budi untuk memenangkan kebenarannya sendiri.
Manusia lisan mengandalkan kesadarannya diisi radio dan televisi, mengobrol, gosip, SMS, pidato, koran kuning, tabloid, dan gurauan-gurauan. Semua ini gejala-gejala permukaan yang diangkat menjadi persoalan substansial. Tontonlah acara televisi sekarang ini, isinya gosip melulu. Acara-acara dialog para pakarnya, yang kadang kemasukan juga pakar gosip.
Lihatlah pemandangan di kampus-kampus. Para mahasiswa cukup menyelipkan selembar buku catatan di saku belakang celananya. Mereka alergi terhadap buku- buku tebal sehingga tak pernah menyentuhnya apalagi membacanya. Perpustakaan kampus sepi pengunjung, juga dari dosen-dosennya. Komik dan tabloid laku di mana-mana. Bacaan wajib pun malas dibelinya. Acara favorit mereka kalau bukan kriminal, ya celoteh kaum selebriti.
Orang-orang literer
Orang-orang literer, menurut hasil penelitian Kooyman tahun 1970, di Indonesia hanya dua persen dari sekitar 100 juta orang dewasa. Mereka ini orang-orang yang gila baca. Bukan hanya spesifikasi bidang ilmu saja yang dibaca, melainkan juga buku-buku yang mengasah kepekaan budaya intelektualnya. Tiga puluh lima tahun kemudian mungkin jumlah kaum literer semacam ini sudah meningkat tiga atau empat kali, tetapi belum mencapai 10 persen penduduk Indonesia.
Fenomena segera terlihat saat kita mampir ke toko-toko buku. Sebuah buku rata-rata dicetak 2.000 sampai 3.000 eksemplar dan baru habis setahun atau dua tahun kemudian. Lihatlah eksemplar surat kabar yang paling terkenal di Indonesia pun, tirasnya tidak mencapai 10 persen dari jumlah penduduk dewasa sekarang ini.
Beban kelisanan bangsa sepenuhnya ada di tangan kementerian pendidikan. Bagaimana membuat generasi muda kita melek baca dan bukan melek huruf. Dulu, tahun 1950-an, di beberapa kecamatan didirikan perpustakaan rakyat. Tahun 1960-an perpustakaan semacam itu lenyap, diganti sejumlah perpustakaan swasta yang diisi buku-buku komik atau novel picisan. Gejala ini kian mendorong manusia Indonesia menuju budaya lisan. Manusia yang malas mengasah akal budi dan gemar memanjakan diri dengan imaji-imaji kenikmatan dan kemudahan.
Kita lebih bangga membangun mal dan supermarket daripada gedung-gedung perpustakaan. Bahkan, pemerintah dan departemennya menjauhi buku-buku. Mereka hanya membaca laporan-laporan resmi dan acara televisi. Bung Karno dahulu menyurati sastrawan Iwan Simatupang, dan Sutan Syahrir dipanggil oom oleh Chairil Anwar, seperti John Kennedy rajin membaca puisi-puisi Robert Frost. Kini para pejabat lebih kenal penyanyi, pelawak, dan pemain sinetron daripada Pramudya Ananta Toer yang sering dicurigai.
Bertandanglah ke rumah-rumah para pemimpin kita, di ruang tamunya penuh hiasan suvenir luar negeri dan potret-potret keluarga serta dirinya. Pemandangan begini berbeda dengan zaman Bung Hatta, Nasution, Syahrir, Natsir, Bung Karno, Rendra, Pramudya, dan Arifin C Noer, yang buku-bukunya menyerbu seluruh rumah.
Tetaplah kita ini bukan bangsa literer. Bagaimana pemimpin, begitulah yang dipimpin. Bangsa yang suka ngomong daripada menulis, ngobrol daripada membaca. Tidak pernah punya catatan sehingga mudah lupa, dan baru ingat ketika peristiwa yang sama berulang. Hangat-hangat tahi ayam.
Kisah-kisah tanpa ending, cerita tanpa struktur.
Jakob Sumardjo Esais
 


Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke