| Komaps, Sabtu, 19 November 2005 |
| Tidak Ada Kunci Inggris untuk Semua Konflik sidik pramono Indonesia dengan keberagaman yang dipunyainya adalah sebuah wilayah dengan potensi konflik yang bisa kapan saja muncul. Bahkan, tanpa menghitung dinamika mobilisasi penduduk sekalipun, potensi konflik itu bisa muncul di mana-mana. Kekerasan yang terjadi sekarang di Indonesia bukan lagi konflik tradisional. Masalah
datang bertubi- tubi. Tidak salah jika sosiolog Imam Budidarmawan Prasodjo menyebut Indonesia kini terpaksa masuk situasi dalam darurat kompleks. Berikut petikan perbincangan Kompas dengan Imam di rumahnya di kawasan Jalan Proklamasi, Jakarta, awal pekan ini yang juga dipakai sebagai kantor Yayasan Nurani Dunia. Setelah Reformasi 1998 tiba- tiba konflik bermunculan. Pada rezim otoritarian, konflik diredam dan tidak muncul. Konflik terjadi di bawah karpet, dikontrol di bawah birokrasi. Pada periode 1989-1990, kekuasaan otoriter mulai kendor, dihajar krisis. Saat blok Barat dan Timur hancur, format politik menjadi demokratis atau tidak, melanggar HAM atau bukan. Rezim yang awalnya selalu mendapat support, secara internasional tidak mendapat grip, di lokal dihadapkan pada krisis. Akhirnya, potensi konflik dan ketidakpuasan muncul. Konflik lokal tidak mungkin terpisah dari konflik di tingkat makro. Apa yang terjadi di Indonesia berhubungan dengan yang
di atas, pada saat yang bersamaan di tingkat nasional terkait juga dengan konflik di tingkat lokal. Ada semacam urutan, sekalipun setiap kasus belum tentu ada keterkaitan kuat. Pada tahun 1965, konflik ideologi di Indonesia merupakan imbas konflik makro, global setting yang saat itu kebetulan konfliknya ideologis. Pada tahun 1980-an, tembok Berlin runtuh, muncul sebuah setting baru. Terjadi perubahan potensi konflik, perang ideologi yang mengerucut terus menjadi gerakan lebih kecil, identitasnya primordial, plus new social movement. Seperti di Perancis, gabungan ekonomi dan imigran serta ujungnya identitas asal kelompok dan agama juga. Global setting seperti itu, fokus konflik menjadi terfragmentasi. Ini memang era konflik fragmentasi sosial, ibaratnya tawuran tidak menggerombol gede tetapi lebih ruwet. Multiple identity, multiple loyalty sehingga bisa menjadi bahan peledak multiple causes of conflict. Termasuk soal teror yang terjadi belakangan
ini? Teror hal yang baru. Sejarah bergerak terus. Dulu kita dihadapkan pada ethnic cleansing, pada hal yang berkaitan dengan identitas politik. Dulu konflik massal, sekarang tidak. Yang disebarkan teror adalah efek ketakutan, sementara enemy-nya tak jelas. Dulu ada konflik suku yang jelas siapa dan tempatnya di mana. Ini beda, sehingga orang akhirnya menduga-duga. Ini benar-benar berhadapan dengan teori. Bagaimana menyelesaikannya? Konflik tak bisa dihilangkan. Yang bisa adalah dikelola, potensi konflik ditransformasikan. Tetapi, kalau kita mengelolanya salah, akhirnya menjadi konflik terbuka. Seperti anak, main bola itu kan bagaimana konflik terorganisasi. Tetapi kalau tidak terorganisasi, itu kan bisa jadi konflik terbuka. Bagaimana Anda melihat Indonesia, kaitannya dengan masalah konflik? Indonesia ini negeri yang subur untuk membaca global setting. Kalau ibarat video, begitu sekarang di-pause, kita sudah bisa melihat
keragaman kita. Kita ini bukan polyethnic state, tapi multination state, kita ini bangsa-bangsa. Persinggungan antaridentitas makin intensif. Ada masalah struktural yang ruwet, masing-masing wilayah punya karakteristik tersendiri. Kita tak bisa membuat kunci inggris untuk semua konflik. Conflict resolution is an art, bukan science yang bisa pakai juklak, bisa jadi resep untuk semua. Kita punya teori resolusi konflik, tapi di lapangan harus ada kreativitas. Untuk Indonesia? Masyarakat punya mekanisme sendiri yang alamiah, local wisdom untuk mengendorkan ketegangan. Tetapi, itu lama tidak muncul karena represi birokrat. Pada era Soeharto terlihat aman, tetapi bukan aman yang natural. Kita punya local wisdom, tetapi tak dipertahankan. Produk lama tak ter-maintain, produk baru tidak muncul. Local wisdom memang konteks lama. Ibaratnya ada virus baru, antivirusnya juga harus di-update. Lantas, cukupkah local wisdom itu untuk menyelesaikan konflik model
baru? Yang kita hadapi adalah arus besar, dari yang makro sampai lokal. Orang bisa berargumen, apa yang bisa Anda lakukan kalau sebabnya orang rebutan makanan karena harga BBM mahal, policy pertanian yang tidak adil? Kalau begitu, struktur kebijakan pusat yang bisa meredam itu semua. Memang apa artinya local wisdom ketika dihadapkan pada masalah struktural pusat. Tetapi paling tidak, ini menunda konflik terbuka. Paling tidak local wisdom merupakan jalan alternatif secara kreatif meskipun kebijakan yang tidak adil itu akan memicu konflik. Saya bilang, lakukan apa yang kita bisa. Sama seperti ngomongin korupsi, ada pakta integritas, pengawasan tapi Keppres 80 (Tahun 2003 mengenai Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang Jasa Pemerintah) masih jalan. Akhirnya, siapa pun yang masuk ke wilayah itu akan berhadapan dengan mark up, dengan korupsi. Enggak dosen, enggak pencoleng, sama saja. Orang strukturalis tidak percaya dengan omongan saya. Tetapi, apa lagi dong kalau
begitu? Bagaimana Anda melihat resolusi konflik di Indonesia? Harus dilihat betul, jangan yang dilakukan malah menjadi timbunan baru. Kalau mengikuti teori kerumunan, kalau pemimpinnya didamaikan, pengikutnya ikut. Tetapi, apa benar pemimpin kerumunan itu bisa konsisten, apa betul mereka punya wibawa? Oleh karena itu, saya membuat alternative approach. Kenapa tak merajut antarelemen. Kenapa hanya kepala, tidak seluruh tubuh yang dirajut? Limbah dan akar Bagi Imam, perhimpunan antarorang mestinya tidak dimulai dari kesamaan identitas. Orang berhimpun mestinya dimulai dari mimpi. Ketika konflik di Ambon pecah awal tahun 1999, bersama sejumlah akademisi dan wartawan, berdirilah Yayasan Nurani Dunia. Imam mengaku yang dikerjakannya itu adalah cuci piring pascakonflik, yang digelutinya adalah soal penanganan bantuan untuk pengungsi atau infrastruktur yang rusak. Dengan Nurani Dunia, Imam dan kawan-kawan mencoba
merealisasi model masyarakat yang responsif. Sejumlah sekolah dibangun bersama masyarakat yang terlibat, mulai dari perencanaan sampai kemudian pengelolaannya. Namun, Imam menyadari model pembangunan partisipatif, model gotong royong, tidak seluruhnya pas untuk seluruh proyek. Membangun pencakar langit kan tidak gotong-royong, katanya. Bagaimana konsep ini Anda kerjakan? Dasarnya, dengan local wisdom yang dipunyainya, masyarakat bisa mengatasi sendiri masalahnya. Namun, selama ini pembangunan tak pernah bottom-up. Padahal, local wisdom bukan sekadar bagaimana agar masyarakat tak berantem, tapi juga soal bagaimana menyelesaikan pembangunan yang tak partisipatif. Tema saya adalah bagaimana membuat model. Saya berkeyakinan masyarakat kerumunan harus diubah jadi masyarakat terorganisasi. Organisasinya bukan mobilisasi, tapi partisipasi. Untuk segala yang berkaitan dengan akar konflik, Imam menggelutinya dengan sejawatnya di Universitas Indonesia dalam
lembaga Center for Research on Inter-group Relations and Conflict Resolution FISIP UI dengan jaringan setidaknya 12 perguruan tinggi di Indonesia. Salah satu hasil kajiannya adalah pendekatan Ceric menuju perdamaian berkelanjutan. Dalam konflik, yang dibutuhkan adalah aksi bantuan kemanusiaan secara cepat yang bersifat sementara. Berikutnya yang mesti secara berkelanjutan dilakukan adalah pembangunan masyarakat partisipatif. Selanjutnya, program keamanan dan perlindungan terpadu dibutuhkan untuk interaksi pihak yang terlibat konflik. Interaksi dari ketiga hal itu adalah terbangunnya wilayah damai. Penciptaan wilayah damai juga butuh sistem informasi dan koordinasi terpadu. Berikutnya adalah kembalinya kepercayaan masyarakat yang memungkinkan terjadinya dialog perdamaian, terbangunnya komunitas dialogis. Itu tidak bisa terbentuk begitu saja, harus difasilitasi, kata suami Gitayana serta ayah dari Rauf Prasodjo dan Adila Prasodjo. Pilihan
Pasca-Pemilu 1999 yang disebut paling demokratis sejak Pemilu 1955, Imam sempat dipercaya menjadi anggota KPU pada Maret 2001. April 2003, Imam memilih mundur, kembali berkonsentrasi ke kampus. Ketika akhirnya belitan masalah menimpa anggota KPU, kabar itu bukan hal yang mengejutkan. Bagi Imam, pengalaman di KPU menunjukkannya bagaimana banyak yang saru bisa terjadi di situ. Sampai sekarang saya menikmati posisi sebagai pekerja sosial yang netral. Saya bisa bekerja sama dengan siapa saja, segala kelompok. Saya tidak punya kelompok, tapi saya punya tujuan, tegas Imam. Menurut Imam, reformasi tidak jalan antara lain karena tidak jelas ideologinya. Kalaupun jelas apa yang akan dilakukan, tetapi situasinya kompleks. Ketika sebagian kalangan bermimpi tentang adanya revolusi, Imam menilai semuanya harus dihitung matang. Revolusi butuh pegangan ideologi yang kuat, organisasi yang tertata baik, dan juga uang untuk membiayai semuanya. Tanpa ketiga faktor itu,
yang terjadi hanya ekspresi kemarahan. Bukan lagi revolusi, tapi riot. Saya tidak mau itu. Revolusi dan riot itu dua kosakata yang berbeda sekali, katanya. |
Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
| Religion and spirituality | Spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
