aku sepakat dengan uraian sdri. Safira....
Aku jg masih perlu belajar & mengamalkan lbh byk lagi riwayat Sang Buddha dan ajarannya...yg mana aku sendiri msh payah =)
Aku senang bisa belajar dr berbagai macam makhluk, seperti Siddhatta sebelum jadi Buddha dan salah satu kata Buddha yang penuh makna: Ehipassiko =)
Terima kasih untuk Sdri Safira yang memberiku satu pelajaran berharga lagi hari ini.
Semoga aku masih bisa belajar banyak dari pengalaman Sdri Safira dan saudara-saudara kita lainnya.... =)
 
PS: Dan semoga juga bisa dipraktikkan dengan baik =)
 
 
 
-------Original Message-------
 
Date: 12/01/05 13:57:40
Subject: RE: [Dharmajala] Kelapa Gading 27/11/2005
 
Kalau mau jujur, kita harus tiru pola pikir dan
kelakuan dari para Buddha dan Boddhisatva.
 
Aku tidak merasa bahwa aku belajar dari saudara/i kita
yang di kristen. Aku justru sedang belajar Buddha
Dharma yang dibabarkan oleh Sang Buddha 2500 tahun
yang lalu. Kalau ada kesamaan dalam hal tindakan, yah
itulah yang disebut persamaan dan bukan peniruan.
Kenapa? Kalau kita mau membaca sejarah atau riwayat
hidup sang Buddha, maka kita akan tahu bahwa sang
Buddha juga melayani semua mahluk, tidak terbatas cuma
sampai manusia.
 
Sang Buddha itu punya jadwal loh, jam brapa sampai jam
brapa Beliau tidur, makan, meditasi, dan berdhamma
desana, dll. Dengan mata bathinnya, beliau selalu
memonitor siapa saja yang membutuhkan bantuannya, maka
beliau akan mendatanginya dan menolongnya. (klo aku
tidak salah baca dan salah ingat)n byk lagi lainnya.
So itulah yang aku tiru dari Sang Buddha, begitu juga
cerita dari para Boddhisatva.
 
Maaf Rat, memang dulu saya juga punya pikiran seperti
kamu bahwa kita bisa belajar banyak dari sdr/i di " K
", ternyata setelah mulai bedah buku Dhamma, aku baru
tahu hal hal yang luar biasa dari Sang Buddha yang
lebih patut kita tiru (bisa atau tidak itu urusan lain
lagi, itu namanya proses pembelajaran). Semua
dilakukan karena kesadaran, tanpa pamrih, tanpa
kekerasan, dan dilakukan dengan cinta kasih yang
universal, byk lagi deh.
 
Bisa saja orang lain bilang, wah niru orang K nih.
Wow, aku suka bilang sama saudaraku atau temanku bahwa
aku mencontoh dan mencoba belajar dari Sang Buddha,
Beliau punya moral yang sangat luar biasa, 2500 tahun
yang lalu sudah diajarkan. Kenapa aku harus mencontoh
" K ". Saranku mari kita saling menggali potensi
Dhamma. Mungkin hari ini aku yang berbagi pengalaman,
next time mungkin Sdr/i lainnya yang berbagi ke aku.
 
w/ metta
 
 
 
 
 
 
--- Ratna <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 
> Wow, cerita Sdri Safira inspiratif banget!
> Benar sekali byk hal yg justru bisa dipelajari dr
> teman2 Kristen kita
> (positifnya kita tiru, negatifnya kita kembangkan
> supaya jadi positif => ),
> bagaimana menyebarkan Dhamma tanpa membuat orang
> lain kesal.
> Aku setuju bahwa kita bisa mengkondisikan kamma baik
> orang lain berbuah. Dan
> Dhamma akan diterima pada saat yang tepat, waktu yg
> tepat, orang yg tepat,
> kondisi yang sesuai, penyebarannya dengan cinta
> kasih, tanpa pamrih, penuh
> kebijaksanaan, dan lain-lainnya.....
>
> Dan semuanya memang ga instan alias butuh proses.
> Tetap Viriya!
>
> Salam Metta,
> Ratna
>
>
>
> -------Original Message-------
>
> From: safira luiz
> Date: 12/01/05 12:23:02
> Subject: RE: [Dharmajala] Kelapa Gading 27/11/2005
>
> Apa yang dikatakan oleh Bro Anwar sebenarnya sih
> benar. Aku pribadi setuju banget.
>
> Aku pribadi sedang melakukan hal yang disebut oleh
> Bro
> Anwar tsb.  Awalnya orang dicetyaku bilang " Wah,
> Nani
> kok door to door gitu yah " kita ini Buddhist loh
> dan
> Buddhist tdk seperti itu. Coba deh jangan mencoreng
> CITRA Buddhist itu sendiri. Untuk mengenal Dhamma
> orang itu harus punya karma baik baru bisa dia
> bertemu
> Dhamma.
>
> Aku sangat sangat mengerti, tapi aku kan bisa
> mengkondisikan agar karma baik dia berbuah dan
> mengenal Dhamma, Bukan?
>
> Lalu kujelaskan bahwa apa yang kulakukan tdk sama
> dengan orang kristen yang melakukan misionaris.
> Jelas
> Beda. Rumah yang aku datangi adalah rumah umat
> Buddha
> tung tung cep dan itu juga kenalan dari Saudara.
> Walau
> aku tidak kenal dengannya, aku berusaha untuk
> belajar
> mengenalnya. Main main kerumahnya, ngobrol dan
> mencari
> tahu apa kebutuhannya. Aku tidak langsung bilang yuk
> ke cetya dll. tidak seperti itu. Pendekatan ku lebih
> halus.
>
> Akhirnya, memang ada hasil walau lama. Memang dia
> pribadi tidak tertarik dengan Dhamma. TAPI, setiap
> orang punya kebutuhan bukan? Kulirik anaknya yg
> masih
> di SD. ternyata si Ibu ini curhat bahwa dia khawatir
> anaknya nanti punya konsep kristen krn sekolahnya di
> sekolahan kristen. dll. Wah, langsung saja
> kutawarkan
> anaknya untuk kebaktian di cetya dan dia setuju
> banget. Awal yang baik bukan dan aku percaya, suatu
> hari nanti dia akan melihat Buddha Dhamma melalui
> anaknya. Itulah yang aku sebut kita mengkondisikan
> karma baik mereka berbuah agar bisa melihat Buddha
> Dhamma.
>
> Tidak perlu ngotot, yang penting org yang mau kita
> kondisikan karma baiknya berbuah itu jangan sampai
> merasa bahwa kita ini mau menjejalkan sesuatu yang
> tidak dia inginkan. Jangan sampai kehadiran kita
> membuat mereka tidak nyaman. Jangan sampai mereka
> berpikir bahwa demi Dhamma baru mau aku bantu klo
> tidak nanti nanti ajalah.
>
> Dan akhir tahun ini tepatnya tanggal 30 Desember,
> kami
> mengundang umat tung tung cep disekitar cetya untuk
> makan malam bersama guna mempererat tali
> persaudaraan.
> di undangan sih tulisnya kaya gitu. tapi intinya sih
> selain makan malam tar ada acara kebaktian dan
> Dhammadesana juga acara permainan. Yah sekalian
> promotion gitu.
>
> Oh ya, aku tidak minta dana sama mereka karena
> mereka
> belum mengerti Dhamma. Biarkan mereka mengerti
> Dhamma
> dulu. Dana akan keluar dengan sendirinya tanpa
> diminta.
>
> Thx u. Semoga pengalamanku bermanfaat untuk Sdr/i
> semua.
>
> W/ Metta
>
>
>
>
> --- Dharmayoga Anwar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> > ide bagus hehehe, ya kenapa sih umat Buddha tidak
> > sampe melakukan itu, klo mo bangun/renov vihara
> > misalnya kita galang dari kalangan sendiri, sedang
> > dari teman2 kita ini bisa begitu berani menggalang
> > di
> > luar kalangannya sendiri, kenapa? apa betul
> pamali?
> > apakah ini suatu tindakan rendah? atau kita
> sendiri
> > yang klewat gengsi, naif? Kenapa ga sekali2 kita
> > dateng aja ke rumah tetanggga itu ajak dana untuk
> > vihara,skolah Buddhist, panti asuhan Buddhist dll
> > kan
> > kamma baik juga buat mereka? atau klo mereka ajak
> ke
> > gereja, sekali2 kita ajak juga ke vihara? sama2
> > manusia yang makan nasi,asal Jangan Maksa, saya
> > pikir
> > y not?  Mohon pencerahan dari sodara2 sekalian,
> mari
> > klo bisa kita bahas ini secara mendalam dan secara
> > bijak, tidak hanya komen2 aja, karena dari sini
> > sepertinya kliatan sesuatu yang mungkin bisa
> disebut
> > ekslusifitas (atau kepasifan???) umat Buddha,
> trims.
> >
> > --- Agusman Surya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > > Saya penduduk Kelapa Gading juga.
> > >
> > >
> > >
> > > Just sharing : Alkisah seorang tetangga saya
> > adalah
> > > pendeta Kristen
> > > (masih muda). pada suatu minggu pagi sekitar jam
> > > 06:00, ibunya sang
> > > pendeta mengetok pintu rumah saya. kebetulan
> yang
> > > membuka pintu rumah
> > > saya adalah pembantu rumah tangga saya. si ibu
> ini
> > > ingin ketemu saya,
> > > pembantu saya bilang : bapak masih tidur. eh si
> > ibu
> > > malah ngotot :
> > > tolong dibangunin saja, saya mau kasih proposal
> > > minta sumbangan
> > > pembangunan gereja.. Amitofo !!!
> > >
> > >
> > >
> > > Padahal dia tahu persis saya sekeluarga adalah
> > > Buddhis soalnya anaknya
> > > yg pendeta itu pernah datang ke rumah saya dan
> > > jelas-jelas dia melihat
> > > ada altar Buddha di rumah saya. lagian di bagian
> > > depan rumah saya juga
> > > ada tempat sembahyang "Thi-kong". (tipikal rumah
> > > orang medan).
> > >
> > >
> > >
> > > Akhir cerita, pembantu saya jelas tidak berani
> > > membangunkan saya,
> > > proposal tersebut ditinggal begitu saja di meja
> > > tamu, saya minta
> > > pembantu saya untuk mengembalikan proposal itu,
> > > tanpa menyumbang
> > > sepeserpun. emangnya cuma mereka aja yg punya
> > > keyakinan pada Tuhannya.
> > > umat Buddha juga punya "sad-saddha". gitu lho !!
> >
> > >
> > >
> > >
> > > Hm. Kalo misalnya saya yg menyodorkan proposal
> > > pembangunan vihara kepada
> > > mereka. kira-kira apa reaksinya yah ?  hehehe.
> :-)
> > >
> > >
> > >
>
>
>
>
=== message truncated ===
 
 
 
 
 
__________________________________
Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005
 
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
--------------------------------------------------------------------~->
 
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
 
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
 
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
 
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
 
<*> To visit your group on the web, go to:
 
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
 
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
 
 
 
Add FUN to your email - CLICK HERE!

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke