1. banyak aliran di mahayana jadi mungkin ada yang membolehkan
  2. kembali tergantung peraturan di aliran msg2
  3. seharusnya bukan termasuk persembahan karena itu dibeli. Kalau tiket dipersembahkan umat, itu jadi persembahan bukan disengaja (tujuan persembahan adalah transportasi, bukan dana makanan)
  4. jgn membiarkan munculnya pikiran negatif.. netral2 saja diusahakan melatih pikiran postif selalu timbul dulu “mungkin bhiksu itu menderita penyakit mag yang kambuh jika telat makan”, “mungkin dia sibuk sehingga tidak sempat makan siang”, “mungkin dia merasa lebih berat membuang makanan daripada memakan daging (cover makanan kalau sudah dibuka pasti dibuang oleh garuda)” dll
  5. salah kalau tidak segera sadar kurang latihan meditasi sehingga suatu kejadian dapat mengguncangkan pikiran sedemikian lama

 

ini hanya komentar sejauh pengetahuan saya….. semoga berguna.

 


From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Susy Muliawati
Sent: Thursday, December 01, 2005 8:29 PM
To: [email protected]
Subject: [Dharmajala] seorang bhiksu

 

hai teman2,

mohon pandangannya atas pengalaman saya yang kurang menyenangkan..

sekitar 2 minggu lalu ketika saya pulang dari Batam menuju Jakarta dengan naik Garuda, saya bertemu dengan seorang bhiksu (saya pastikan Beliau adalah bhiksu mazab Mahayana dari jubah yang dikenakan).

kebetulan Beliau duduk bersebrangan dengan saya, sama2 di gang.

Dari pembicaraan beliau dengan laki2 di sebelahnya, Beliau baru saja memberikan ceramah di suatu vihara di Batam (mohon maaf saya tdk bermaksud menguping)

 

Tiba saat makan malam diberikan (saya naik pesawat terakhir dari Batam), ternyata menunya adalah nasi goreng daging sapi giling + ikan masak saus putih.

Sang bhiksu yang sudah menerima makanan tsb sempat bertanya ke pramugari apakah ada makanan vegetarian.

Pramugrari menjawab "sebentar Pak."

Tetapi saat pramugari baru saja meninggalkan Beliau, ternyata bhiksu tsb langsung menyantap menu yang disediakan tsb.

Ketika saya perhatikan, ternyata Beliau mungkin sangat lapar sehingga menyantap hidangan tsb dengan lahapnya.

 

yang menjadi pertanyaan saya:

1. Apakah bhiksu yang menganut mazab mahayana boleh memakan daging?

2. Apakah hanya bhiksu yang menjalani bodhisattva sila saja yang tidak memakan daging?

3. Apakah ada peraturan atau sila untuk anggota Sangha agar tidak menolak makanan / persembahan yang diberikan dari siapapun, tdk perduli makanan tsb adalah daging atau bukan? menurut saya, makanan di pesawat terbang bukanlah persembahan, tetapi bagian dari flight service

4. Apakah yang sebaiknya kita lakukan sebagai umat awam bila mengalami peristiwa seperti yang saya alami?

5. Salahkah saya kalau saya menjadi kecewa, krn terguncang dengan melihat peristiwa itu kurang lebih sekitar 1 minggu, padahal yang saya lihat cuma hal sepele, yaitu seorang bhiksu memakan daging, bukan membunuh ataupun berbuat asusila?

 

Dari pembicaraan Beliau, saya bisa mengetahui jelas, dari Sangha manakah Beliau, tetapi tdk akan saya utarakan disini.

 

Terima kasih sebelumnya.

Susy

 




** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke