Kepedulian Sosial di Tengah Arus Kapitalisme
Oleh NASRULLAH NARA
Arus kapitalisme tak selamanya menjebak perusahaan pada hitungan materialistis. Di antara deru mesin-mesin produksi masih terselip tanggung jawab sosial perusahaan-perusahaan swasta. Itu diwujudkan dalam bentuk interaksi sosial dengan
masyarakat sekitarnya.
Adalah bidang pendidikan yang merupakan salah satu jembatan interaksi sosial paling guyub. Berbeda halnya dengan bidang kesehatan, uluran tangan perusahaan di bidang pendidikan umumnya langsung disambut antusias oleh masyarakat.
Maklum, dalam situasi ekonomi yang makin sulit, makin banyak anak usia sekolah yang tidak bisa mengenyam bangku sekolah. Pada sisi lain, dengan dalih keterbatasan anggaran, pemerintah cenderung melemparkan tanggung jawab pembiayaan pendidikan kepada masyarakat.
Bantuan pembiayaan pendidikan dari PT Pembangunan Jaya Ancol kepada-anak-anak yang sulit menuntaskan pendidikan dasar sembilan tahun di Pademangan Barat, Jakarta Utara, adalah salah satu contohnya.
Tahun lalu,
setamat dari SD negeri, Suriadi Suteja, Sari Lasmiyatun, Ari Irwansyah, dan puluhan bocah di kawasan Pademangan, tak berani bermimpi untuk melanjutkan ke SMP. Selain karena biaya pendidikan yang terus melangit, mereka memang sejak usia dini sudah dikondisikan membantu orangtua mencari nafkah. Usia belia anak-anak itu terampas bermacam-macam pekerjaan yang mereka harus geluti bersama orangtua, mulai dari memulung, berdagang asongan, hingga menjadi tukang pikul di pasar.
Bagi mereka, layanan program wajib belajar sembilan tahun (SD-SMP) adalah sesuatu yang sangat mahal. Apalagi bagi orangtua mereka, anak-anak itu adalah alat produksi.
Namun, dua tahun terakhir, berkat kemitraan PT Pembangunan Jaya Ancol dan Yayasan Sekolah Rakyat untuk mengelola SMP Terbuka, mereka kini bisa bersekolah tanpa harus meninggalkan kewajiban membanting tulang
mencari nafkah.
Di tempat kegiatan belajar Mandiri Mulia di Jalan Industri RT 01 RW 014 Pademangan Barat, kini terdapat dua kelas. Kelas I terdiri atas 26 siswa, dan kelas II sebanyak 24 siswa.
Terhadap siswa-siswa tersebut, PT Pembangunan Jaya Ancol tak hanya menanggung biaya kegiatan belajar, termasuk pengadaan buku-buku dan guru pamong. Lebih dari itu, perusahaan pengelola kawasan wisata dan rekreasi Ancol tersebut bahkan mengganti ongkos transportasi siswa. Setiap siswa disubsidi transportasi Rp 10.000 per hari.
Paling tidak, itu merupakan kompensasi atas tidak aktifnya anak-anak itu membantu orangtua mereka mencari nafkah pada jam-jam belajar, ujar Budi Karya Sumadi, Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol.
Tentu saja perusahaan-perusahaan lain pun punya cara berbeda dalam mewujudkan tanggung jawab sosial serupa pada masyarakat sekitar meski dengan bentuk berbeda-beda. Sebutlah misalnya GE (General Electric) Indonesia, yang membantu menekan beban biaya masyarakat untuk pendidikan.
Memang, bantuan biaya tidak langsung pada individu siswa. Akan tetapi, dengan membantu pengadaan buku, bangku-meja sekolah, dan alat-alat peraga di sekolah, setidaknya pengelola sekolah tidak lagi seenaknya menarik macam-macam pungutan kepada siswa.
Di Jakarta, GE Indonesia punya sekolah binaan, seperti SD Negeri 12 Bendungan Hilir, SMA Negeri 24, dan SMA Negeri 35. Itu belum termasuk sekolah-sekolah binaan di Daerah Istimewa Yogyakarta, di mana GE punya kantor cabang. Terhadap sekolah-sekolah binaannya itu, GE membantu biaya pengadaan mobiler, biaya operasional
kegiatan belajar, dan buku-buku. Untuk komponen-komponen seperti itu, sekolah bersangkutan tidak lagi memungut biaya dari orangtua siswa.
Sewaktu-waktu, jajaran GE terjun langsung mengecek ke sekolah. Dari situlah terjadi interaksi sosial yang jauh lebih bermakna ketimbang menyumbang ke individu, tutur Dodong Cahyono, Ketua Relawan GE.
Cara yang lebih jamak ditempuh Toyota melalui Yayasan Toyota & Astra. Sejak tahun 1974, industri otomotif tersebut telah memberikan beasiswa kepada sekitar 30.000 siswa SD-SMA.
Bantuan seperti itu juga dilakoni oleh Sampoerna Foundation. Dengan menghimpun sumbangan dari berbagai perusahaan maupun perorangan, lembaga nirlaba ini setiap tahun menyalurkan beasiswa kepada 1.000 siswa SD, 2.000 siswa SMP, dan 3.000 siswa SMA.
Tidak sedikit perusahaan swasta menyalurkan kepeduliannya melalui lembaga nirlaba. Sejumlah industri bahan bangunan menyalurkan sumbangannya untuk pembangunan gedung sekolah melalui Yayasan Nurani Dunia. Yayasan yang dipimpin sosiolog Imam Prasodjo tersebut menjadi jembatan sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan partisipasi masyarakat.
Pemerintah menyediakan separuh dana pembangunan sekolah. Swasta mencukupi kekurangannya. Masyarakat setempat membantu dengan tenaga kerja dan bahan bagunan lokal seperti pasir dan batu kali.
Dalam 2-3 tahun terakhir, berkat sinergi tersebut, cukup banyak SD di pelosok yang dibantu pembangunan gedungnya. Di antaranya di Desa Tanggulangit, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, dan di Desa Cisarua, Purwakarta, Jawa Barat.
Saling menjaga
Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi mengakui, kepedulian sosial tersebut merupakan bagian dari panggilan nurani untuk memakmurkan masyarakat sekitar. Apalagi masyarakat sekitar perusahaan juga tak segan-segan ikut membantu jika terjadi ancaman terhadap perusahaan.
Budi menceritakan, saat terjadi kerusuhan Mei 1998, ketika Jakarta dilanda kerusuhan dan penjarahan, warga Pademangan yang bermukim tak jauh dari lokasi perkantoran dan lokasi usaha ikut berjaga-jaga. Mereka tak ingin perusahaan ini jadi sasaran amuk massa, papar Budi.
Ketulusan warga tentu tidak tumbuh begitu saja. Selama ini, PT Pembangunan Jaya Ancol memang memberi ruang bagi warga sekitar untuk turut mencari nafkah di dalam dan sekitar Taman
Impian Jaya Ancol. Misalnya, berdagang maupun dipekerjakan di lingkungan perusahaan.
Direktur Pemasaran dan Komunikasi Sampoerna Foundation Sapto H Sakti menilai, kepedulian perusahaan di bidang pendidikan adalah investasi jangka panjang. Masyarakat terdidik potensial sejahtera. Masyarakat yang sejahtera akan membuka pangsa pasar lebih luas.
Yahoo! Personals
Single? There's someone we'd like you to meet.
Lots of someones, actually. Yahoo! Personals
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
| Religion and spirituality | Spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
