Mereka Bisa Sekolah Lagi
Oleh NASRULLAH NARA
Sejak 10 tahun lalu, Bugel (36) melakoni peruntungan hidup di Jakarta dengan mengais-ngais tumpukan sampah. Tanpa peduli teriknya sinar matahari, pria itu saban hari menggumuli tumpukan sampah di sepanjang sisi rel kereta api jurusan Kota-Senen.
Di sana, ia biasa menemukan barang-barang bekas: dari berupa botol kaca dan plastik, kaleng susu, hingga peralatan rumah tangga dari aluminium, besi, dan karet. Satu demi satu, barang-barang semacam itu dimasukkannya ke karung yang selalu tergelayut di pundaknya.
Selanjutnya, barang-barang pulungannya diserahkan ke bandar yang tinggal di kawasan Ancol, Jakarta Utara. Oleh bandar, hasil pulungan Bugel sehari rata-rata dihargai antara Rp 15.000 hingga Rp 20.000.
Empat tahun belakangan, ketika putranya, Suriadi Suteja, mulai tumbuh sebagai bocah, Bugel tidak lagi sendirian. Anaknya yang bersekolah di sebuah SD tersebut acap kali diajak serta mengais sampah.
Awalnya, sang anak hanya diajak setelah pulang dari sekolah, dari siang
hingga petang. Lama- lama, Bugel merasa terbantu juga dengan keikutsertaan anaknya. Akhirnya Suriadi mulai sering bolos sekolah untuk menemani sang ayah memulung dari pagi hingga petang.
Maklum, uang dari hasil memulung sudah tidak memadai untuk biaya dapur, tutur Narwati (32), istri Bugel.
Dengan berbagai catatan di rapor, tahun 2004, Suriadi akhirnya memang bisa tamat SD. Ia sebetulnya ingin melanjutkan sekolah ke SMP. Batinnya menangis dan iri setiap kali menyaksikan teman sebayanya berseragam putih-biru melintasi gang sempit depan rumah petak kontrakan, di mana ia bersama ayah bundanya bermukim.
Dengan makin beratnya beban biaya hidup, Narwati pun tak pernah mencoba bermimpi bisa menyekolahkan anaknya hingga ke tingkat lebih lanjut. Perempuan asal Purworejo, Jawa Tengah, itu
mengaku uang dari hasil memulung hanya cukup untuk membeli bahan kebutuhan pokok sehari-hari.
Sekarang, dengan kenaikan harga BBM, rasanya hidup makin berat, ujarnya. Tak heran jika pembayaran kontrakan Rp 100.000 per bulan untuk rumah petak yang dihuninya di kawasan Pademangan acap kali menunggak.
Di usia belia, Suriadi terpaksa mengikuti jejak sang ayah sebagai pemulung. Di kawasan yang sama, bocah lainnya, Sari Lasmiyatun (13), ketika tamat SD tahun 2004, juga terpaksa ikut merasakan kerasnya kehidupan di Ibu Kota. Dalam usia yang masih terbilang belia, ia pun harus banting tulang dengan berdagang asongan. Setiap hari, bocah perempuan itu membantu ibunya, Nasiyem, mengelola warung kopi kaki-lima di kawasan Ancol.
Setali tiga uang, Sri Warningsih dan adiknya, Wulansari, juga tak
bisa melanjutkan sekolah setelah tamat SD. Kedua bocah perempuan itu memang belum diajak oleh ayahnya, Suaidi, untuk ikut bekerja sebagai kuli angkut pasar. Namun, dengan penghasilan sang ayah yang hanya pas buat mengepulkan asap dapur, mustahil mereka bisa bersekolah lagi. Uang dari membantu sang ibu sebagai tukang cuci pakaian juga tak bisa diharapkan karena biaya sekolah memang terus membubung.
Untunglah, sejak pertengahan 2004, nasib baik menghampiri anak-anak itu. Di sela-sela kesibukan membantu orangtua mencari nafkah, mereka tetap bisa mengenyam bangku sekolah. Yayasan Sekolah Rakyat bekerja sama dengan PT Pembangunan Jaya Ancol menyediakan layanan pendidikan fleksibel.
Mereka bisa mengikuti kegiatan belajar-mengajar sebagaimana lazimnya anak-anak lainnya, tanpa harus kehilangan fungsi mereka sebagai alat produksi bagi
keluarga. Jam belajar disesuaikan dengan waktu kesibukan mereka: pukul 13.00-17.00. Di luar jam belajar, mereka bisa kembali membantu orangtua mencari nafkah.
Layanan pendidikan yang bertujuan membantu pemerintah dalam program wajib belajar sembilan tahun tersebut tak lepas dari kegigihan para aktivis Yayasan Sekolah Rakyat alias YSR. Guna membumikan niat tulus PT Pembangunan Jaya Ancol selaku penyandang dana, mereka keluar-masuk gang mencari tempat kegiatan yang layak.
Pengelola SD Islam Hidayatul Mutaallimin menawarkan bangunannya dijadikan tempat belajar. Bangunan yang terletak di Jalan Industri Dalam III, RT 01 RW 014, Pademangan Barat, Jakarta Utara, itu bersebelahan dengan Masjid Nurul Falah. Di sana terdapat dua barak berukuran 20 x 8 meter.
Barak yang satu disekat menjadi
dua ruang kelas. Barak lainnya dijadikan ruang pertemuan. Dalam waktu berkala, pengelola Yayasan Sekolah Rakyat berdialog dengan orangtua murid.
Program ini bisa berjalan berkat keikhlasan berkorban pihak-pihak terkait, ujar Misbah Fikrianto, Manajer Program Yayasan Sekolah Rakyat.
Guna menyelami persoalan warga yang dibantu, sesekali pihak Pembangunan Jaya Ancol terjun berdialog dengan orangtua murid. Inilah wujud konkret tanggung jawab sosial perusahaan yang sekarang turut menentukan dalam pencitraan lembaga bisnis. Siapa menyusul?
Yahoo! Shopping
Find Great Deals on Gifts at Yahoo! Shopping
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
