Robby,
 
Saya kira anda mengaitkan sesuatu yang tidak terkait. Yang dibahas itu kan Buddha, bukan Sanghyang Adi Buddha. Sanghyang Adi Buddha sudah diterima sebagai satu "istilah" yang merepresentasikan Ketuhanan di Indonesia. Dalam literatur Indonesia tidak pernah kita menulis sebagian saja seperti "Adi Buddha".
 
Jadi mari kita bahas kata Buddha saja. Apakah dengan penambahan prefiks Sang menjadi lebih hormat?  Dari kamus mana itu yah?
 
Jika memang perlu memberikan prefiks, yah banyak prefiks lain yang bisa digunakan. Mengapa tidak menggunakan yang umum saja seperti Yang Mulia Buddha Gautama. Demikian pula seharusnya digunakan untuk para Arahat seperti Yang Mulia Arahat Sariputra.
 
salam,
Harryson
 
 
Robby C <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Rekan-rekan sedhamma
 
Terima kasih atas masukan-masukan yang diberikan pada saya. Namun ada beberapa orang bertanya “Buddha itu sebuah nama, atau gelar?”
 
Jelas Buddha bukan nama seseorang, tetapi Buddha bukan hanya gelar. Buddha juga digunakan untuk merujuk pada seseorang.
 
BUDDHA SEBAGAI GELAR
 
Kalau Buddha sebagai gelar saja, maka kalau seseorang menunjuk Buddha saja, orang akan bertanya Buddha siapa? Seperti orang berkata Dokter, Presiden. Dokter siapa? Presiden siapa? Kecuali orang menuliskan Presiden SBY atau Presiden Suharto. Maka dengan penulisan lengkap Presiden ini menjadi gelar, menjadi penghormatan.
 
BUDDHA UNTUK MERUJUK SESEORANG
 
Kalau dalam suatu tulisan kita menulis Buddha saja, dan orang menjadi mengerti bahwa yang dimaksud adalah Buddha Gotama, maka tentu Buddha di sini bukan gelar. Seperti saya tuliskan diatas, kalau gelar saja, kita tentu tidak akan mengerti Buddha siapakah yang dimaksud. Jadi dengan menulis Buddha saja, dan orang mengerti bahwa itu Buddha Gotama, Buddha disini digunakan untuk merujuk pada seseorang, yaitu Buddha Gotama.
 
Sudah menjadi budaya timur kalau kita merujuk pada seseorang yang kita hormati, maka kita menggunakan prefik penghormatan. Karena itu timbul kalimat-kalimat seperti “Pak Dokter”, “Ibu Presiden”. Ini wajar sekali. Sudah diterima umum. Sudah menjadi kebiasaan. Karena ‘Presiden’ dalam kalimat ‘Ibu Presiden” adalah untuk merujuk pada seseorang yaitu Ibu Megawati. Jadi untuk menghormati beliau di TV-TV di koran-koran, kita menuliskan “Ibu Presiden”. Dan tidak ada yang memprotes.
 
RASA HORMAT
 
Sewaktu koran-koran atau TV-TV menyebutkan “Ibu Presiden” atau “Bapak Presiden”, faktanya tidak ada yang protes. Entah karena hal itu benar, atau karena hal itu baik. Kalau Presiden saja diberi prefik penghormatan, mengapa kita umat Buddha tidak memberi prefik penghormatan dengan menuliskan Buddha saja ketimbang Sang Buddha, atau Sri Buddha, atau Guru Buddha, atau yang lain-lainnya. Apalagi kalau untuk SBY kita menulis “Bapak Presiden” sedang untuk Siddharta Gotama kita menulis “Buddha” saja. Karena kata Buddha dan Presiden mempunyai sifat kata yang sama.
 
Bukankah budaya menghormati ini harus kita tanamkan pada umat Buddha. Kalau ada orang menganggap salah, walau sebenarnya menurut saya tidak salah, tetap saja memberi prefik penghormatan ini lebih memberi pendidikan, lebih memberi contoh yang baik, lebih menanamkan pikiran baik daripada menuliskan Buddha saja.
 
Apa perlunya kita mengubah kebiasaan baik ini? Kalau mau mengubah, kenapa sebutan Sanghyang Adi Buddha tidak diganti saja menjadi Adi Buddha dengan berpikir bahwa Adi Buddha adalah gelar yang sangat tinggi? Kalau nanti orang terbiasa menyebut Buddha saja, akhirnya nanti kalimat ‘Namo Sanghyang Adi Buddha’ akan diganti juga. Buntutnya kemudian akan timbul konflik, yang akarnya dari mengubah tulisan Sang Buddha menjadi Buddha saja. Kalau timbul konflik, bukankah konflik itu kita yang menanam juga. Kita juga tidak perlu protes kalau UUD salah menulis Mahaesa menjadi Maha Esa. Karena akan timbul konfilk. Akhirnya yang keliru itu dibenarkan saja karena sudah menjadi kebiasaan. (seperti pendapat Hendri)
 
SARAN
 
Kita yang bergabung dalam FPBI, sedikit banyak ikut memberi andil dalam perkembangan Buddha Sasana. Cobalah kita bersikap arif. Kadang kita tidak harus membenarkan yang benar, kalau hal itu akan berakibat buruk. Ada pepatah, anak kecil itu sifatnya ‘ngeyelan’, tidak peduli benar atau salah, kalau keinginannya tidak dipenuhi dia akan ngambek. Remaja itu ‘idealis’, kalau ada yang dianggap salah harus dibetulkan. Orang tua itu ‘bijak’, benar atau salah itu nomor dua, yang paling penting hasilnya atau akibatnya baik.
 
Salam Metta
Be Good Be Happy
Robby

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Krishnanda
Sent: Monday, December 12, 2005 08:10
To: [email protected]
Subject: Re: [Dharmajala] RE: [FPBI] Transkirp audio file -> Nada yang Berbeda jadi Lagu yang Indah
 
Salam dalam Dharma,
Saya ingin bertanya: apa Buddha itu sebuah nama, atau gelar? Menurut saya, Buddha adalah gelar, menjadi sebutan yang paling terhormat, paling mulia. Jangan bandingkan dengan nama orang (seperti Marto, yang masih mesti ditambah sebutan Pak atau Bu). Maaf, saya tidak bermaksud mengajari.  Kalau mau menyebut Buddha historis dengan namanya lengkap: Buddha Gotama (saya tidak menulis Gautama lagi, karena dalam bahasa Indonesia au dituliskan o seperti kata anggauta ditulis baku anggota). Sehubungan dengan cara berbahasa dan penulisan: perlu diingat bahasa adalah konvensi. Menurut Buddha sendiri seseorang seharusnya tidak merusak dan menyimpang dari batas-batas perjanjian linguistik (M. III, 230). Penganut agama Buddha hendaknya tidak berbahasa yang bisa diartikan lain oleh sesama bangsa Indonesia yang tidak beragama Buddha. Dan bahasa Indonesia bukan Jawa. Barangkali masih ada pendapat lain? Terimakasih. 
Krishnanda
----- Original Message -----
From: Robby C
Sent: Sunday, December 11, 2005 10:34 AM
Subject: [Dharmajala] RE: [FPBI] Transkirp audio file -> Nada yang Berbeda jadi Lagu yang Indah
 
Saya sangat setuju bahwa ini adalah diskusi yang sehat. Kita tidak ingin membuat suatu keputusan, apalagi memaksakan kehendak kita pada yang lain. Tetapi diskusi ini perlu dibabar supaya setiap orang mengerti mengapa ada yang begini dan ada yang begitu, sehingga semua orang mendapatkan manfaat.
 
Memang umat Buddha ini cukup unik. Karena bagaimana menyebut Gurunya sendiri banyak yang tidak sependapat. Tetapi itu karena agama kita menjunjung kebebasan berpikir. Penggunaan kata Sang sudah umum digunakan, dipakai di paritta suci. Bahkan aliran Buddhayana menggunakan kata Sanghyang Adi Buddha. Inilah kebiasaan yang sudah kita pakai sejak lama. Dan bukankah bahasa itu adalah budaya, bukankah bahasa timbul dari kesepakatan bersama. Mengapa harus di ubah?
 
Karena banyak rekan kita yang sulit menerima audio file, maka ceramah itu saya transkrip saja. Transkrip audio file itu adalah sbb:
 
Saya sering memberitahukan kepada wartawan-wartawan. Cobalah berhati-hati menulis tentang “Buddha”. Jangan menyebutkan “Buddha Sidharta” atau “Sidharta Gautama”. Tetapi pendiri Agama Buddha, Guru Agung umat Buddha adalah “Buddha Gautama”. Buddha Gautama sering juga disebut sebagai Buddha Sakyamuni. Yang kalau di lafal mandarin menjadi Se-cia-mo-ni. Sakya ini suku. Seperti ada Suku Jawa, Suku Bali, Suku Bugis. Di jaman Sang Buddha ada Suku Sakya, Suku Waji, Suku Mala. Nah “muni” artinya orang suci, “Orang suci dari Suku Sakya”. Tradisi Mahayana senang menyebut Buddha Sakyamuni dari pada Buddha Gotama. Tetapi sesungguhnya sama, Seciamoni Buddha itu adalah Buddha Gotama.
 
Sering disebut dengan gelar-gelar lain. Yang paling terkenal adalah Dharmaraja, karena rajanya Dharma. Dalam arti yang menemukan dan mampu mengajarkan dengan baik. Tetapi ada sebutan lain yang cukup di kenal di dunia buddhis hanya tidak dikenal di Indonesia. Sang Buddha dan semua Buddha sering disebut juga dengan “Jina”. Bahasa indonesia ini bisa disalah mengertikan seperti berzina. Jina artinya “Penakluk”. Sang Buddha itu mempunyai gelar atau sering disebut dengan sebutan yang lain adalah ‘jina’, Yang telah menaklukan, menaklukkan hawa nafsunya sendiri. Dan masih banyak lagi.
 
Kalau beliau membahasakan dirinya sendiri, sebagai pengganti ‘I’ bahasa Inggris, beliau menyebutkan Tathagata. Tathagata artinya Yang sedemikian, Yang seperti ini. Jadi  beliau tidak menggunakan kata saya tetapi beliau menggunakan Tathagata, Yang seperti ini. Kalau kita bertemu dengan Sang Buddha. Dan menyapa Sang Buddha, kalimat apa yang digunakan. Apakah menggunakan Samma Sambuddha, “Apakah Buddha berkenan datang ke rumah saya?”, ataukah “ Apakah Dharmaraja berkenan datang ke rumah saya?” Kalau kita bertemu dengan Sang Buddha, untuk membahasakan beliau kita menggunakan ‘bhante’ atau ‘bhadante’. Sebagai pengganti ‘you’ bahasa Inggris. Kalau kita menceritakan keadaan Sang Buddha kepada orang lain, “Oh kemarin Sang Buddha baru kotbah di tempat ini” Orang jaman dulu tidak menyebut ‘Buddha’, tetapi orang menyebut Bhagava sebagai pengganti ‘he’ bahasa Inggris.
 
Sehingga sampai sekarang di dunia buddhis, orang merasa tidak enak untuk menyebut “Buddha” atau “Buddha Gotama” saja, tanpa penghormatan di depan. Seperti kita menyebut murid beliau, Ananda, Sariputra, Mogalana, itu tidak sopan. Harus ada penghormatan. Karena kita menyebut pembantu saja pakai ‘mbok’, ‘bu’. Bu Marto, Pak Marto. Itu Ananda, Itu Sariputra, Itu Mogalana, Itu Anurudha, Itu Kassapa, Itu Pak Marto. Wah ‘Pak Marto’ lebih terhormat. Harus ada penghormatan di depan. Kalau dalam tulisan, biasa disebut Yang Ariya karena memang mahluk suci. Atau kalau mau sederhana ya bhante untuk memudahkan berbicara.
 
Demikian juga Buddha Gotama. Kalau bahasa Inggris memang punya kaidah lain. Dalam bahasa inggris, bertemu dengan orang yang lebih tua juga pakai ‘you’, bertemu dengan pimpinan juga pakai ‘you’, tidak lain. Meskipun ada Your Excelency. Your Venerable. Tetapi kaidah di timur ini, yang dihormati harus pakai penghormatan. Wong orang sebaya saja kita panggil Mas, Mas Anton, Mas Hadi. Tetapi untuk Buddha, masak Buddha saja, “Oh itu buddha, patung buddha, sariputra, Mogalana.”
 
Nah di Indonesia ini sudah kaprah memakai ‘Sang’. Meskipun pernah terjadi perdebatan, “Sang itu terlalu sederhana. Biasanya digunakan untuk dongeng-dongeng, Sang Kancil, Sang Pelanduk, kadang-kadang Sang Pencuri, Sang dengan Si itu hampir sama. Sang Kodok. Wah Sang Buddha dengan Sang Kodok, itu bagaimana?”
 
Kalau di Thailand mereka menggunakan “Phra Buddha Chao”. Kalau di terjemahkan dalam bahasa Inggris adalah “The Lord Buddha”. Nah Lord itu diterjemahkan apa? Atau Yang Mulia Buddha. Dulu pernah di gunakan Yang Maha Suci Buddha Gotama. Bagi kita cocok sekali, tetapi bagi penganut agama lain dianggap menTuhankan Buddha. Karena konsep agama lain, yang Maha-Maha itu hanya Tuhan. Dan Buddha itu manusia. Kalau Buddha diberi penghormatan Yang Maha Suci, kok sama dengan Tuhan. Padahal menurut pengertian Buddhis, Tuhan itu tidak bisa diberi penghormatan seperti manusia. Maha mendengar, maha tahu, Maha Suci. Tidak, Tuhan itu Maha Sempurna, Maha Esa, cukup. Yang bisa Maha Suci itu manusia. Itu menurut konsep Agama Buddha.
 
Kalau di lontar-lontar, kitab-kitab jawa kuno, bagaimana bhante orang membahasakan Sang Buddha Gotama pada jaman itu? Dia menulis, “Bhatara Buddha”. Pernah mau digunakan kalimat ini, “Bhatara Buddha”. Eh, nanti orang salah mengerti dikira Buddha itu seperti Bhatara Narada. Susah. Bhatara Guru, Bhatara Kresna, nah ini Bhatara Buddha. Bhatara itu sebenarnya penghormatan. Lalu pernah digunakan juga Hyang Buddha. Hyang ini hampir sama dengan Yang. Tetapi ini agak salah. Hyang ini untuk membahasakan yang tidak tampak, dewa-dewa dan sebagainya.
 
Jadi sulit, sampai sekarang ini ‘polemik’. Bagaimana untuk memberikan penghormatan yang pantas kepada Buddha Gotama. Dan sudah terlanjur dengan Sang Buddha. Sudah terlanjur itu. Ya pendeknya ada penghormatan, saudara jangan njambal. Di Asia ini kalau orang memanggil nama njambal itu menjadi tidak sopan. Jangan njambal tetapi harus pakai penghormatan. Kalau kita memanggil Pak Marto, Bu Marto, kok ini Buddha. Lebih terhormat Pak Marto. Kalau Pak Buddha mungkin lebih baik dari pada Buddha saja.
 


SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS





__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke