Ika Polim
Dear All Bros & Siss,
 
Saya Mendapatkan Pertanyaan Mengenai Ttg Buddhisme : Apakah Konsep Anatta Mendukung Paham Nihilisme ?.
Saya Terus Terang Sangat Kaget & Meminta Bantuan Pemikiran Ttg Hal Di Atas.
Dari Ini Saya Baru Tersadar Bahwa Umat Buddha, Mau Tidak Mau, Harus Sangat Banyak Tahu Ttg Apa Yg Diyakininya ; Orang 2 Di Luar Sana Saja Banyak Tahu Ttg Buddhisme , Mengapa Kita, Termasuk Saya, Tidak Berusaha Meng 'Up Grade' Diri Sendiri ?
 
Trims Buat Setiap Bantuan Pemikian Bro & Sis !!

Tejakalyano
ANATTA – LAKHANA

Corak yang menimbulkan pengertian bahwa bentuk materi dan Batin itu sebagai sesuatu “Tanpa Aku yg kekal” adalah disebut ANATTA Lakkhana.

Kalau kita meninjau perkataan Anatta, maka perlu kiranya dimengerti terlebih dahulu arti perkataan Atta.
Atta dalam artinya yang umum adalah: inti atau dasar,sari ,pati, susunan atau Lapisan.

Yang dimaksudkan dengan dasar atau lapisan adalah :
Sesuatu seperti yang telah diterangkan di muka yang berkenaan dengan kebenaran Mutlak , dalam perumpaan dari tanah yang merupakan dasar atau inti atau lapisan dari sebuah periuk.

Perkataan ‘PERIUK’ , hanyalah merupakan NAMA, yang menunjukkan sebuah gambaran pikiran atau anggan ( Santhan Pannatti) : ia bukanlah Nama dari tanah. Dan sebuah gambaran pikiran atau angan  angan itu tidaklah mempunyai inti atau lapisan atau dasar, seperti halnya unsur unsur benda atau lapisan atau dasar ; disini tanah sendiri adalah tidak mempunyai inti atau lapisan

Andaikan ada pertanyaan: Apakah ada sebuah periuk di dunia?
Maka orang yang tidak membedakan antara dua macam kebenaran yaitu Kebenaran Mutlak (Paramatha Sacca) dan Kebenaran umum/ relatif (Samutti Sacca) , akan menjawab , bahwa periuk itu ada.

Dalam hal ini lalu harus dinyatakan dengan menunjuk sebuah periuk. Jadi ia menunjuk kepada sebuah periuk tanah dan berkata “ Apakah ini bukan periuk ?” ,  Tetapi sebenarnya hal ini tidaklah tepat, bahwaasanya ia mengatakan tanah adalah periuk : itu adalah pernyataan yang Keliru.
Apa Sebab pernyataan itu keliru ???
Karena, sebenarnya menurut Kesunyataan, tanah itu adalah unsur materi yang tidak mempunyai inti sari atau lapisan;  sedangkan periuk itu hanyalah merupakan suatu KONSEPSI atau bentuk pikiran yang tidak mempunyai inti atau lapisan; yang kosong adanya.

Dalam menyatakan bahwa tanah itu adalah periuk, pada hakekatnya mencoba untuk membuat lapisan tanah itu menjadi inti sari dari periuk, yang sebenarnya dalam kenyataan periuk itu adalah Gambaran dari pikiran yang sama sekali tidak mempunyai sari dari unsur materi.

Disini nyatalah bahwa periuk yang tidak kelihatan , atau tidak ada menjadi periuk ygan ada atau kelihatan, dan tanah tersebut lalu menjadi ATTA dari Periuk, sehingga tanah dan periuk menjadi suatu benda yang sama; dan kesamaan dari sesuatu ini adalah kacau atau membingungkan dengan kesamaan dari benda benda lainnya.

Dengan alasan ini , maka kita menyebutkan bahwa pernyataan itu keliru,. Dalam uraian ini ‘ Tanah’ adalah merupakan sesuatu yang dipersamakan dengan PANCA KHANDA ( Jasmani, pencerapan, perasaan, pikiran dan kesadaran ), sedangkan periuk adalah merupakan sesuatu yang berkenaan dengan MAKHLUK atau AKU atau PRIBADI.
Persis seperti halnya tanah menjadi inti sari periuk di dalam pernyataan bhawa tanah itu periuk: demikian juga halnya bahwa Panca(Lima)Khanda itu adalah Atta atau inti sari dari Makhluk atau Prribadi, lalu DIKATAKAN BAHWA LIMA KHANDA ADALAH MAKHLUK atau PRIBADI.
INILAH ARTINYA ATTA.




Sekarang kita meninjau tentang ANATTA !………………

Dalam menyebutkan “Periuk Tanah” , kalau orang dapat memastikan bahwa tanah itu suatu benda dan periuk itu sesuatu yang lain , dan bahwa tanah adalah materi yang tidak mempunyai inti atau lapisan , dan periuk itu hanyalah suatu konsepsi pikiran , dan juga bahwa tanah itu bukanlah periuk dan periuk bukanlah tanah. Dan demikian juga adalah tidak benar, kalau mengatakan bahwa tanah itu sebuah periuk  dan periuk itu tanah ; dengan demikian tanah itu tidaklah akan menjadi inti atau Atta dari periuk tersebut tetapi ia akan menjadi inti atau Atta dari periuk tersebut, tetapi ia akan tetap menjadi Anatta, kosong dari segala isi atau inti : demikian juga pada saat periuk tersebut kelihatannya kosong seperti ruangan , karena ia hanyalah suatu KONSEPSI dari BENTUK.
Demikian pula akan tercapai suatu kesimpulan atau pandangan yang sama seperti itu, bila kita dapat menetapkan bahwa  Kelima Khanda adalah materi menurut kenyataan, sedangkan makhluk atau pribadi adalah bentuk pikiran, karena itu bentuk bentuk tersebut bukan pula makhluk atau pribadi, dan sebaliknya juga makhluk atau pribadi , ini adalah penyebutan yang keliru, dan kalau makhluk atau pribadi itu disebut bentuk adalah juga salah. Dalam hal ini Lima Khanda tidaklah menjadi intisari atau lapisan dari makhluk atau pribadi , tetapi menjadi Anatta yang merupakan kebalikan dari intisari atau lapisan .

Dan juga, makhluk atau pribadi itu jelas dan terang sekali adalah Kosong atau hampa ; karena itu ia adalah hanya merupakan konsepsi belaka yang berasal dari keadaan serta kelanjutan dari bentuk atau lima khanda itu.
Demikianlah keterang dari ANATTA

Jadi,

Dalam Buddha Dhamma diajarkan bahwa segala sesuatu adalah anatta, yang artinya tidak ada yang disebut sebagai diri, hal ini bisa terjadi karena segala sesuatu selalu berubah. Kita yang saat ini, telah berbeda dengan kita yang satu menit yang lalu, juga berbeda dengan kita di satu menit yang akan datang. Perbedaan paling pokok adalah adanya perbedaan usia, ada beda satu menit yang lalu dan satu menit yang akan datang. Karena adanya perbedaan waktu, maka otomatis, kita juga berbeda dimensi tempatnya, karena secara alamiah, bumi berputar sekitar 33 Km per detik, jadi, dalam satu menit, kita sudah berpindah tempat sekitar 1800 Km, dengan demikian, kalau dimensi waktu dan ruang sudah berbeda, bagaimana kita bisa disebut sebagai mahluk yang sama...? Inilah yang disebut sebagai anatta.

Namun, dalam kehidupan kita ini, dalam keseharian, sering kita merasakan suka dan duka. Hal ini bisa muncul justru karena pikiran kita menganggap diri kita kekal, dan memiliki atta. Artinya, kita akan merasa bahagia kalau kita membandingkan keinginan kita yang lalu dengan pencapaian kita yang sekarang. Sebaliknya, jika kita merasakan bahwa keinginan kita yang lalu tidak tercapai di saat yang sekarang, maka kita akan menjadi sedih. Padahal, dengan menyadari anatta, maka kita akan selalu hidup saat ini, tidak ada lagi suka dan duka, karena mengetahui bahwa itu semua hanyalah permainan pikiran kita. Dengan demikian, pikiran kita menjadi netral, terbebas dari ketamakan, kebencian dan kegelapan batin, sehingga dalam tahap ini, manusia kemudian disebut melakukan KIRIYA, bukan kamma lagi.

Apabila orang sudah mencapai kesucian dan hanya melaksanakan kiriya, maka dia akan terbebas dari perbuatan berdasarkan ketamakan, kebencian dan kegelapan batin, yang akhirnya membebaskannya dari kelahiran kembali. lebih jelasnya.,
 

Semoga Bermamfaat !
Mettacittena:
Tejakalyano
sumber :  1.Vijja Dhamma ; hal.106-109, UP.Abhayahema K,Tri Sattva Buddhist Centre.
                    2. Tanya Jawab Dhamma , Bhante Utammo Thera, Semanggi Phala




,"
DISCLAIMER :

The information contained in this communication (including any attachments) is privileged and confidential, and may be legally exempt from disclosure under applicable law. It is intended only for the specific purpose of being used by the individual or entity to whom it is addressed. If you are not the addressee indicated in this message (or are responsible for delivery of the message to such person), you must not disclose, disseminate, distribute, deliver, copy, circulate, rely on or use any of the information contained in this transmission.

We apologize if you have received this communication in error; kindly inform the sender accordingly. Please also ensure that this original message and any record of it is permanently deleted from your computer system. We do not give or endorse any opinions, conclusions and other information in this message that do not relate to our official business.

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke