Rekan2, saudara2 sekalian. Saya pernah berpikir kalo makan daging pun berbeda dari jenis dagingnya. Contoh, saya merasa kalau makan daging kerang itu sia-sia. Kenapa? Coba begini deh, seekor sapi dewasa bila dikorbankan mungkin bisa memberi makan bagi sekitar 5-10 orang, tapi dibutuhkan 100 ekor kerang untuk melakukan hal yang sama. Artinya, 100 nyawa bagaimana? Dari dulu sampai sekarang saya sering mendengar ungkapan seperti, tidak boleh makan sapi, umat Buddha yang "sedikit" lebih maju diharuskan demikian. Ayah sayapun demikian, saya merasa ada yang janggal.

Kalo inti dari salah satu doktrin bahwa kita harus mengambil jalan tengah (jangan terlalu ekstrim), berarti kita memang gak bisa sepenuhnya gak membunuh, setidaknya mengurangi pembunuhan. Begitu yang saya tangkap dari postingan om Yamin. Berarti pernyataan saya cukup relevan dong?

Dari forum Buddhis tetangga, saya mendapati bahwa istilah vegetarian itu bukan berasal dari kata "vegetable" atau sayuran seperti kebanyakan orang mengira. Tapi berasal dari kata "veget" atau segar/sehat, karena pola makan yang seperti demikian. Lalu, ada yang bilang kalo tingkatan vegetarian itu bermacam-macam. Ada yang gak makan daging sapi aja, tapi daging yang lain masih makan. Ada yang bilang kalo vegetarian tingkat selanjutnya, mereka gak makan daging dari hewan yang di darat, tapi makan seafood. Nah, ini dia yang membuat saya jadi heran.

Kalo orang Buddhis dikaitkan dengan vegetarian dan membuat tingkatan-tingkatan semacam ini, apakah mereka gak sadar kalo makan seafood itu malah menghilangkan lebih banyak nyawa. 20 ekor kerang untuk satu-dua orang, 5-10 ekor udang untuk 1-2 orang, 1 ekor ikan untuk satu-dua orang, sementara 1 ekor sapi untuk lima hingga sepuluh orang. Pembunuhannya pun lebih sadis, dibakar dan dimasak hidup-hidup (makin segar katanya). Sementara sapi dipenggal begitu saja, hanya hidupnya dipenjara. Kalo ayam, saya rasa itu sia-sia juga... karena biasanya 1 ekor bisa untuk 3 orang saja. Ibarat 1 orang berkorban nyawa untuk hidup orang-orang lainnya. Semakin banyak yang ditolong, semakin baik kan?



Yamin Prabudy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Berikut ini adalah salah satu tanya jawab antara Bhante Thich Nhat Hanh dengan para peserta Retret di Plum Vilage yang diterjemahkan oleh Bro JL
Peserta retret:
Saya masih bingung dengan bagian kalimat dari Latihan Perhatian Murni Pertama…Pertanyaan saya adalah apakah dibenarkan, manakala diserang, orang menjadi berkekerasan dalam membela diri baik di tingkat individu ataupun di tingkat kolektif,  ketika sebuah negara diserang negara lain, tidakkah mereka memiliki hak untuk membela diri mereka dan kadang itu akan terjadi dalam bentuk kekerasan dan bahkan pembunuhan.

Bhante Thich Nhat Hanh:
 Kekerasan bisa dilihat dalam berbagai bentuk. Kadang dari tampak luarnya tidak terlihat kekerasan, tapi di dalamnya sungguh penuh dengan kekerasan. Kami menyebutnya kekerasan institusional atau kekerasan yang melembaga. Begitu banyak dari kita yang merupakan korban kekerasan institusional. Masyarakat diatur sedemikian rupa sehingga banyak orang tidak memiliki hak dan peluang untuk menjadi terbebas dari kemiskinan dan penindasan, dan lain sebagainya. Maka, walaupun rakyat tidak menggunakan senapan dan bom, kekerasan tetap ada di sana, karena pengorganisasian masyarakat menyangkal banyak orang hak untuk terbebas dari penindasan, ketidaksetaraan, dan diskriminasi. Itulah sebabnya mengapa hal pertama yang hendak saya ajak anda lihat adalah bahwa kekerasan kadang tersembunyi dan kita sebaiknya mempraktikkan melihat secara mendalam untuk melihat wajah sejati kekerasan.
 Hal kedua yang hendak saya ajak anda lihat adalah bahwa tidak bakalan ada ketidakkekerasan yang sempurna. Yang jadi soal adalah berusaha untuk melakukan sesedikit mungkin kekerasan dan itulah latihan kita. Misalnya kita mengatakan bahwa kita tidak ingin membunuh binatang—itulah sebabnya mengapa kita menjadi vegetarian. Setiap kali kita makan selada atau merebus sayur, kita merasa lebih baik, dan kita mungkin saja mempunyai kesan bahwa kita tidak membunuh satu makhluk hidup pun. Tapi sebenarnya setiap kali kita merebus air, banyak makhluk kecil yang mati. Kita tidak tahu bahwa hidangan-hidangan sayuran kita tidak sepenuhnya vegetarian [peserta tertawa]. Tapi sudah jelas sekali bahwa makan sayur-sayuran  menimbulkan jauh lebih sedikit rasa sakit dibanding memakan daging. Cara kita memelihara ayam, ternak, memperlakukan binatang, sungguh sangat sarat dengan kekerasan. Sehingga bahkan di kala kita meminum segelas susu, kita tahu itu tidak sepenuhnya tanpa kekerasan. Cara mereka memperlakukan para sapi, cara mereka merengut anak sapi dari induknya, cara mereka memotong anak sapi…tahukah anda bahwa di negeri ini dan di banyak negera lainnya, anak sapi hanya berhak hidup seratus hari. Anak sapi tidak punya hak untuk berlari atau bergerak, mereka meninggalkannya di satu tempat, dan seratus hari kemudian mereka potong ia untuk dijadikan makanan. Jadi biar pun kita hanya minum sedikit susu, kita masih bisa merasakan rasa sakit itu di dalam diri kita. Itulah sebabnya mengapa banyak dari kami lebih milih minum susu kacang kedelai daripada susu sapi.
Biar pun anda tidak dalam militer, anda bisa penuh kekerasan. Biasanya kita pikir orang militer penuh kekerasan dan kita, orang sipil kurang dipenuhi kekerasan. Namun sebenarnya kita telah mendukung militer dalam banyak cara. Dan beberapa dari kita yang tidak dalam militer mungkin jauh lebih dipenuhi kekerasan dibanding para jenderal atau para komandan militer lainnya. Kita sudah terbiasa melihat militer sebagai penuh kekerasan dan non militer sebagai tanpa kekerasan, tapi itu tidak benar. Biar pun anda adalah seorang jenderal yang memimpin sebuah operasi militer, anda masih bisa mempraktikkan beberapa kadar non kekerasan. Anda bisa gelar operasi militer anda sedemikian rupa sehingga hanya sedikit orang sipil yang akan terbunuh. Masihlah mungkin untuk menaruh elemen kasih sayang ke dalam hati kaum militer. Anda bisa memenangkan kemenangan itu, tapi ada banyak cara untuk memenangkan kemenangan itu. Jika anda memiliki kasih sayang dalam diri anda, anda akan mampu mengampuni nyawa banyak orang, apakah mereka adalah orang sipil atau dari kaum militer. Itulah sebabnya mengapa saya pikir kita-kita yang bekerja untuk tanpa kekerasanharus menjaga agar persahabatan kita dengan pihak tentara tetap hidup dan terbuka, dan kita bisa bantu tentara menjadi berkurang kekerasannya dan memiliki pandangan yang lebih manusiawi dalam memandang situasi. Orang-orang dalam tentara memiliki kapasitas untuk bangun, untuk mengerti dan mengasihi, sebagaimana halnya kita. Mari jangan sampai kita membuat mereka kehilangan peluang untuk menyirami benih-benih kasih sayang, pengertian, dan cinta kasih dalam diri mereka. Bersahabatlah dengan orang militer dan anda pun akan punya kesempatan untuk membawa ajaran dan praktik kasih sayang ke dalam lingkungan militer sekalipun.
Kala kita tersesat di hutan, jika kita ingin pulang ke rumah, mungkin kita akan mengandalkan Bintang Utara sebagai tanda untuk membantu kita mengetahui arah mana yang akan kita tempuh. Misalkan kita ingin ke arah utara: kita melihat Bintang Utara untuk menuju ke arah utara. Tapi kita tidak berniat untuk sampai ke Bintang Utara [peserta tertawa]. Kita tidak perlu sampai di sana, yang kita perlukan hanyalah bergerak ke arah utara. Demikian pula dengan kekerasan dan non kekerasan. Kita tidak perlu sempurna dalam praktik Latihan Perhatian Murni Pertama; sebenarnya, tidak seorang pun yang dapat menjalankan Latihan Perhatian Murni Pertama dengan sempurna. Buddha juga harus makan sayur-sayuran seperti halnya kita, jadi kita tahu makanan Beliau pun tidak sepenuhnya vegetarian. Dan setiap kali Beliau berjalan dan bergerak, bisa saja Beliau menginjak mati serangga-serangga yang ada di bawah telapak kaki-Nya. Sebagai manusia anda harus berjalan, makan, minum, dan itulah sebabnya mengapa anda tidak bisa sepenuhnya non kekerasan. Tapi yang penting adalah anda berusaha untuk sebanyak mungkin tanpa kekerasan dan anda olah kasih sayang, sehingga setiap hari anda semakin berbelas kasih, semakin tanpa kekerasan, dan itu adalah seni. Untuk tahu bagaimana caranya setiap hari menjadi semakin berbelas kasih, bagaimana menerapkan Latihan Perhatian Murni secara lebih baik, kita harus kumpul sebagai Sangha dan membacakan Latihan Perhatian Murni serta berbagi gagasan, agar dapat memahami Latihan itu secara lebih mendalam dan menemukan cara-cara yang lebih baik untuk mempraktikkan Latihan Perhatian Murni ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena itu, harap ingatlah Bintang Utara. Kita tidak harus sempurna dan kadang kita harus menggunakan sarana yang tidak sepenuhnya tanpa kekerasan; tapi anda berada dalam posisi untuk memahami penderitaan orang, anda mempunyai energi kasih sayang dalam diri anda, anda bisa campur tangan sehingga orang-orang di sekitar anda dan diri anda setiap hari menjadi semakin tanpa kekerasan. Itu saja akan membuat Buddha bahagia.

-------------------------------



Yahoo! Shopping
Find Great Deals on Holiday Gifts at Yahoo! Shopping

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke