Suhu Permukaan Indonesia Alami Peningkatan
Jakarta, Kompas - Sebagian besar wilayah Indonesia mengalami peningkatan suhu permukaan 0,5-1 derajat Celsius dibandingkan rata-rata tahun 1951-1980. Peningkatan suhu permukaan Bumi terutama disebabkan peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer.
Dampak pemanasan global itu,
pekan lalu, disinggung dalam Catatan Akhir Tahun Yayasan Pelangi Indonesia. Dengan merujuk kepada data NASA Goddard Institute for Space Studies (GISS), Pelangi menyebutkan bahwa tahun 2005 merupakan tahun terpanas sejak seabad terakhir.
Berbeda dengan kondisi tahun 1998, yang sebelumnya dinyatakan sebagai tahun terpanas selama seabad terakhir, pada 2005 tidak terjadi El Nino. Secara global, Bumi mengalami peningkatan suhu 0,8 derajat Celsius sejak seabad yang lalu.
Suhu yang semakin meningkat, menurut Pelangi, sejalan dengan peningkatan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer. GRK dihasilkan oleh kegiatan manusia, seperti penggunaan bahan bakar fosil terutama pada pembangkit listrik dan kendaraan bermotor, kegiatan industri, serta penebangan hutan.
Namun, di sisi lain upaya
menahan penambahan GRK terus dilakukan. Di antaranya melalui Protokol Kyoto yang menyediakan mekanisme bagi negara berkembang, yakni Mekanisme Pembangunan Bersih (CDM). CDM memungkinkan negara berkembang mendapatkan insentif dari negara maju atas kegiatannya mengurangi emisi gas rumah kaca.
Pelangi menilai perkembangan CDM di Indonesia masih belum optimal. Masyarakat luas maupun kalangan pebisnis belum banyak yang memahami keuntungan yang dapat diperoleh dari CDM.
CDM masih perlu promosi yang gencar, terutama kepada para pengembang proyek pada sektor-sektor yang potensial, seperti energi dan kehutanan. Sosialisasi juga perlu bagi lembaga-lembaga finansial sebab proyek CDM memerlukan investasi awal yang lumayan besar sebelum menghasilkan keuntungan.
Selain itu, meningkatnya harga
bahan bakar minyak juga bisa menjadi salah satu pendorong berkembangnya CDM, dengan semakin meningkatnya usaha yang beralih ke energi terbarukan, yang sangat besar potensinya untuk dijadikan proyek CDM. Di samping panas bumi yang potensinya setara dengan 20.000 MW, Indonesia masih memiliki banyak sumber energi alternatif yang belum tergarap optimal, seperti energi surya, angin, biomassa, dan biogas.
Menyinggung pertemuan para negara peratifikasi Konvensi Perubahan Iklim dan Protokol Kyoto di Montreal (Kanada) pada Desember 2005, Pelangi menyebutnya sebagai hal yang menggembirakan. Sidang itu antara lain menyepakati pembentukan komite penaatan yang akan merumuskan penalti bagi negara maju yang tidak memenuhi target penurunan emisi GRK-nya hingga periode komitmen pertama berakhir, tahun 2012. (LAM)
Yahoo! DSL Something to write home about. Just $16.99/mo. or less
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
