|
----- Original Message -----
From: Megawati Solihin
Sent: Tuesday, January 17, 2006 8:59 PM
Subject: [rp70plus] Berawal dari Perjalanan Bhiksu Tong
Oleh: D Henry Basuki FILSAFAT agama Buddha sangat kental dengan filsafat etnis Tionghoa yang bermuara di negeri Tiongkok. Hal itu bermula ketika Kaisar Li Sin Min mengutus Bhiksu Tong Sam Cong untuk mengambil Kitab Suci Tripitaka dari India melalui "jalan sutra utara". Jalan tersebut demikian melegenda, hingga melahirkan kisah klasik See Yu, yang melalui tayangan televisi demikian terkenal sebagai serial film "Kera Sakti". Orang Tionghoa, secara tradisional menganut paham dari filsafat yang diajarkan Konghucu, Laocu, dan Buddha. Dalam kehidupan sehari-hari, ketiga ajaran, baik dari Konghucu, Laocu maupun Buddha dianut karena mengajarkan moral, baik hubungan horizontal maupun vertikal. Konghucu tidak pernah menceritakan kehidupan sesudah kematian, sementara Laocu banyak meletakkan kenyataan untuk disadari secara menyeluruh, sedangkan Buddha menceritakan bahwa seluruhnya ada 31 alam kehidupan. Menyelesaikan tumimbal lahir melalui rentetan kehidupan itu adalah keadaan tanpa kelahiran yang disebut nirwana. Kisah tentang kehidupan sesudah mati, jadi rancu karena ada sementara orang yang "setengah matang" sudah mengajarkan ajaran baik moral etik maupun filsafat kepada generasi penerus. Yang jelas, ketika Guru Mulia itu mengajarkan tentang adanya Tuhan Yang Maha Esa, paham tersebut dicampuradukkan dengan paham yang sebelumnya sudah ada tentang "Kerajaan Akhirat". Itulah yang sering kita jumpai dalam kisah klasik Tionghoa, walau terdapat unsur agama Buddha yang mempunyai pegangan Kitab Suci Tripitaka. Kebingungan Tradisi Tahun Baru Imlek dapat dirayakan dengan menyesuaikan agama yang dianut. Tidak dapat disangkal, karena melekatnya tradisi Buddha dalam masyarakat Tionghoa, maka terjadi kerancuan mana yang tradisi Tionghoa dan mana yang tradisi Buddha. Hal itu terjadi juga pada masalah kelenteng dan vihara. Kelenteng tidak dikenal di luar Indonesia, karena dalam bahasa Tionghoa, tempat pemujaan tersebut disebut tong, bio ataupun si. Bila kelenteng itu bernama "si", sama dengan vihara yang bermotif Tionghoa. Namun tidak demikian bila dinamakan tong atau bio. Yang dipuja dalam kelenteng itu pun ada "dewa" yang ada dalam agama Buddha, umumnya Bodhisatva ataupun dewa yang dikenal berdasarkan tradisi atau ajaran Laocu atau Tao. Tidak mustahil terjadi kebingungan yang bagaikan benang kusut di masyarakat. Hal tersebut juga dialami orang-orang beretnis Tionghoa sekalipun, karena masyarakat Tionghoa heterogen. Bagi masyarakat Tionghoa yang menganut paham "tradisional", rentetan perayaan Tahun Baru Imlek dimulai seminggu sebelumnya, berupa "sesuci". Dipercaya bahwa seminggu sebelum tahun baru, para dewa penjaga segala aspek kehidupan, baik dewa dapur, dewa penunggu bumi, dewa penunggu laut, maupun dewa-dewa yang ada dalam paham agama Buddha akan "naik" menghadap Tuhan Yang Maha Esa untuk "melaporkan" umat asuhannya. Mereka akan "turun" kembali ke bumi menjelang Tahun Baru Imlek dengan sentral kelenteng atau "rumah keluarga". Juga menjelang datangnya Tahun Baru Imlek dilaksanakan acara "perjamuan" untuk menghaturkan makan malam kepada para leluhur, dilengkapi menghaturkan berbagai "keperluan", baik "uang", "credit card", "ponsel", "rumah", "kendaraan", "radio", "televisi", bahkan "pelayan" pun disediakan. Cara penyampaian benda-benda tersebut dengan cara dibakar sesaat sebelum penutupan upacara penghormatan. Pada tepat Tahun Baru Imlek yang jatuh pada tanggal 1 bulan pertama (cia gwee) menurut penanggalan Tionghoa yang diperhitungkan secara lunar (secara bulan=candrasengkala), pada tradisi Tionghoa dilaksanakan "perayaan" dengan menghormat kepada yang lebih tua atau yang dituakan. Dengan demikian, anak wajib berkunjung ke orang tua, adik berkunjung ke kakak, keponakan ke paman dan bibi, cucu ke kakek-nenek, bahkan karyawan ke majikan. Dalam kunjungan itu disampaikan ucapan selamat Tahun Baru Imlek sambil mendoakan kesejahteraan dan kebahagiaan, juga ada yang saling memaafkan. Orang tua atau yang dituakan itu menghargai kunjungan tersebut dengan memberikan angpau kepada anak-anak yang belum menikah. Kemudian pada tanggal 9, sebagai simbol angka tertinggi pada bulan kesatu itu dilaksanakan acara sembahyang menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Pada hari itu peserta upacara tidak makan daging sebagai simbol "sesuci". Setengah bulan kemudian, tanggal 15 merupakan penutup rangkaian perayaan pada Tahun Baru Imlek, yaitu acara "Pesta Lampion" atau Cap Go Meh. Acara tersebut dilakukan di tepi laut, di tempat-tempat hiburan sebagai "puncak" peringatan yang menandai bahwa rentetan perayaan Tahun Baru Imlek sudah selesai dan kembali berkarya sesuai dengan profesi masing-masing serta jangan memanjakan diri dengan hiburan. Saling Pengertian Baik Kota Semarang maupun Jateng, ada makanan khas yaitu lontong cap go meh. Seluruh rangkaian acara Tahun Baru Imlek itu, segala aspek yang melekat pada budaya Tionghoa ditampilkan, baik permainan barongsai, naga, musik yang kim maupun perhitungan ramalan berdarkan shio yang tahun 2004 (tarich Tionghoa 2555) ini merupakan shio kera. Dipandang dari perspektif agama Buddha, dalam Kitab Suci Tripitaka tidak disebut adanya Perayaan Tahun Baru Imlek. Ada hal unik, kebetulan acara Cap Go Meh bertepatan dengan perayaan Magha Puja, walau keduanya tidak ada hubungannya. Dalam perkembangannya, ketika tradisi dan budaya Tionghoa dibatasi selama masa Orde Baru, banyak kelenteng yang punya "dewa" dari agama Buddha disebut vihara. Dengan demikian, perayaan Tahun Baru Imlek dilaksanakan di vihara yang punya sejarah demikian. Bagi vihara yang tidak berasal dari kelenteng, jelas tidak ada perayaan Tahun Baru Imlek. Pada era reformasi ini, sudah jelas bahwa tradisi dan budaya Tionghoa dapat menunjukkan eksistensinya. Sebab, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan masyarakat Indonesia. Dengan demikian, diharapkan adanya saling pengertian dengan setiap etnis yang ada, sehingga chauvinisme yang mungkin timbul dari masing-masing etnis dapat ditempatkan pada posisinya. Dengan demikian tidak menganggap kecil atau menganggap jelek salah satu atau lebih etnis lain. Keterbukaan melalui berbagai dialog perlu sering dilaksanakan, karena kerukunan di dalam tubuh seluruh bangsa Indonesia sangat diperlukan sebagai ketahanan nasional untuk bersama membangun negara kita. Berawal dari perjalanan Bhiksu Tong itulah melekatnya acara Tahun Baru Imlek dilaksanakan di vihara yang bemotifkan agama Buddha, sehingga memungkinkan timbul kerancuan apakah Tahun Baru Imlek merupakan salah satu hari raya agama Buddha. (29s) ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
- [Dharmajala] Fw: [rp70plus] Berawal dari Perjalanan Bhiksu... Setiawan
- [Dharmajala] Re: Fw: [rp70plus] Berawal dari Perjalan... ching ik/ djoni
