SUARA PEMBARUAN DAILY
Cina Benteng Hadapi Imlek dengan Penuh
Kesulitan
"Saya Belum Masak, Berasnya Gak Ada"
TANGERANG - Perayaan Tahun Baru Cina atau Imlek
tinggal beberapa hari lagi. Namun, tak sedikit etnis Tionghoa di Tangerang
yang tidak bisa berbuat banyak karena mereka sama sekali tidak memiliki
persiapan bahan makanan untuk dimasak saat Imlek tiba.
"Untung ada bantuan dan pembagian sembako, saya
kini bisa merencanakan menu masakan untuk Imlek nanti," kata Nancy Kim Ong
(35) kepada Pembaruan di Tangerang, Kamis (26/1).
Ia tampak kepayahan. Di tangan kirinya terdapat
bungkusan plastik berisi beras tiga liter, empat plastik mi instan, dan
sebungkus biskuit serta amplop merah atau ang pao berisi uang.
Sedangkan di tangan kanannya bergelayut putri bungsunya berusia dua tahun.
Bungkusan itu adalah sembako bantuan untuk warga
keturunan Tionghoa Tangerang yang miskin atau dikenal dengan Cina Benteng yang
akan merayakan Imlek. Nancy sendiri sudah menunggu bantuan itu sejak pagi.
Setelah melampaui antrean di antara ratusan warga
lainnya, dia tergopoh-gopoh menuju rumahnya di Gang Rizka RT 03/RW 04,
Kelurahan Karawaci, Kota Tangerang. Maklum, sesiang itu, dia belum masak untuk
anak-anaknya.
Padahal hari sudah menunjuk pukul 11.00 WIB.
"Saya memang belum masak, berasnya gak ada," ujarnya.
Nancy menuturkan, kenaikan harga beras sekarang
ini makin membuat hidupnya tambah sengsara. Jangankan untuk perayaan Imlek,
untuk makan sehari-hari saja dia susah.
Suaminya hanya bekerja sebagai pedagang bubur.
Modalnya dipinjam dari bank keliling yang harus dibayar setiap hari.
"Paling banyak dia bisa bawa pulang uang ke rumah
Rp 20.000. Uang itu habis untuk beli beras, minyak tanah, dan lauk sekadar
tahu atau tempe," katanya.
Jangan dikata untuk sekolah anak-anaknya. Dari
lima anaknya, hanya satu yang sekolah di kelas II SD. Lainnya sudah tidak
sekolah.
Bahkan anak keempatnya bernama Tanu, yang kini
berusia 14 tahun, tidak pernah menginjak bangku sekolah. "Jangankan sekolah,
makan saja susah," katanya.
Kesulitan menghadapi hidup ini seperti Nancy ini
banyak dialami oleh warga keturunan Cina Benteng lainnya. Mereka bukan saja
sulit mendapatkan pekerjaan yang layak, tetapi juga pendidikan yang baik juga
sangat sulit mereka capai.
Banyak anak mereka yang putus sekolah, bahkan
tidak sekolah sama sekali, karena mereka tidak punya biaya dan tidak punya
identitas. Warga Cina Benteng ini kesulitan untuk mengurus kewarganegaraan
ataupun akte kelahiran. Apalagi banyak di antara keturunan mereka yang tidak
menikah di catatan sipil, tetapi hanya secara adat.
Bantuan
Warga Cina Benteng juga sangat sedikit yang
mendapatkan bantuan langsung, sehingga kehidupan mereka cukup memprihatinkan.
Oleh karena itu, adanya bantuan seperti yang dilakukan oleh Solidaritas
Masyarakat Islam Tionghoa (SMIT) Tangerang dan Perkumpulan Islam Tionghoa
Indonesia (PITI) sangat membantu warga masyarakat Cina miskin ini.
Menurut Ketua PITI, Trisno Adi alias Chin Ci Sin,
bantuan itu merupakan bentuk solidaritas kerukunan umat beragama. "Ini bentuk
perhatian sesama, mudah-mudahan berarti bagi mereka," katanya.
Hal senada juga diungkapkan Ketua SMIT, Edi
Sulaiman. Dia menyatakan, bantuan yang sudah diberikan sejak tujuh tahun lalu
dalam rangka perayaan Imlek, adalah untuk berbagi kebahagiaan kepada warga
keturunan yang tidak kebagian subsidi langsung tunai (SLT) dari pemerintah.
"Pemberian ini kecil, tapi kami ingin sedikit
berbagi rasa gembira terutama kaum keturunan yang merayakan Imlek, khususnya
mereka yang tak dapat SLT. Tujuan utama lainnya adalah menyambung tali kasih
sesama antarumat beragama," kata Edi.
Pemberian 1.000 paket sembako hari itu, tidak
hanya dilakukan di Karawaci, tetapi juga di tiga lokasi lainnya di Kelurahan
Kedaung Wetan, Kelurahan Sewan Kecamatan Neglasari dan Kawasan Shinta,
Karawaci. (132)
Last modified: 27/1/06