|
Bayangkan bagaimana pertentangan batin remaja Buddhis yg telah mengenal Pancasila Buddhis sejak ia SD/ sekolah minggu tapi harus melakukan pembunuhan tersebut jika ia tidak mau mendapat nilai buruk untuk praktikumnya. Ada berapa banyak orang yang mengalaminya?
Bagaimanakah solusi "simalakama" ini?
-------Original Message-------
Date: 01/27/06 23:25:02
Subject: [Dharmajala] Mari kita renungkan: Percobaan Mengerikan
Rekan-rekan yang terkasih dalam Dharma,
Saya diberitahu bahwa hingga saat ini murid-murid SMU masih
melakukan percobaan membedah berbagai hewan2 seperti kodok, kelinci,
dan lain sebagainya. Menurut saya percobaan ini sangat biadab dan
bertentangan dengan Buddhadharma. Meskipun demikian, saya tetap
mencari-cari juga alasan-alasan ilmiah bagi praktikum kejam semacam
ini. Adakah manfaatnya bagi ilmu pengetahuan? Mungkin orang yang
mendukung praktikum kejam ini akan mengatakan "ya." Tetapi benarkah
begitu? Kita akan mengkritisi "manfaat bagi ilmu pengetahuan ini."
Jika tujuannya untuk mencari tahu anatomi katak atau burung, maka
ini bukan satu-satunya cara. Anatomi ini seharusnya dapat
digambarkan dengan sebuah alat peraga tiga dimensi, sebagaimana
halnya anatomi tubuh manusia, yang sudah ada patung tiga dimensinya.
Selain itu, anatomi kodok dan lain sebagainya seharusnya telah lama
diketahui manusia sehingga tidak perlu terus menerus membedah kodok
dari tahun ke tahun. Mencoba sesuatu yang sudah diketahui sebenarnya
adalah suatu pemborosan. Jika ingin mengetahui anatomi kodok, dan
lain sebagainya seharusnya cukup dengan melihat gambarnya.
Barangkali ada yang memprotes bahwa ini dilakukan untuk meningkatkan
jiwa ilmuwan seorang anak. Tetapi benarkah demikian? Apakah semangat
eksprimental hanya dapat ditingkatkan dengan cara semacam itu? Tidak
dapatkah bila obyek pengamatannya diganti tumbuh-tumbuhan? Kendati
setiap tahun dan setiap sekolah mengadakan eksperimen semacam itu,
hingga saat ini bangsa Indonesia masih belum dapat menjadi bangsa
ilmuwan yang sejajar dengan Jepang atau Jerman.
Malahan menurut saya, eksperimen semacam itu justru tidak
menyadarkan siswa untuk menghargai segala bentuk kehidupan.
Kebuddhaan hadir dalam diri setiap makhluk, termasuk kodok yang
sering kita pandang hina. Manusia yang merasa dirinya sebagai
penguasa alam sering bertindak sewenang-wenang terhadap semua
makhluk. Pernahkah manusia merenung, bagaimana jika ada makhluk
alien yang jauh lebih sempurna dari manusia dan memperlakukan kita
seperti kita memperlakukan kodok dan burung itu? Jelas tidak ada
seorangpun yang bisa menerima hal tersebut. Ini nampak nyata dalam
film-film Independence Day, War of Worlds, dan lain sebagainya.
Makhluk alien yang jauh lebih sempurna teknologinya hendak
menginvasi bumi dan manusia berjuang sekuat tenaga untuk melawannya.
Nah, dapatkah manusia membayangkan bagaimana perasaan kodok itu?
Jika mereka sanggup mengembangkan suatu peradaban untuk melawan
manusia, tentu mereka sudah melakukannya.
Percobaan itu adalah sesuatu yang bodoh dan jelas anti ilmu
pengetahuan. Barangkali ada yang berkilah bahwa percobaan itu
melatih siswa untuk menjadi ahli bedah. Pandangan ini juga sangat
tidak tepat, karena bedah-membedah jauh lebih rumit. Kegiatan ini
lebih cocok untuk mempersiapkan siswa menjadi "koki ahli memasak
swiekee atau sate kelinci." Jelas tidak ada hubungannya dengan
kedokteran.
Pada zaman saya masih SMA, siswa diizinkan memilih antara praktikum
Biologi (bedah membedah) dan Fisika. Tentu saja saya waktu itu
memilih fisika. Meskipun masih belum beragama Buddha, saya sudah
merasa kalau tindakah itu kejam dan berbau sadistik yang pekat.
Marilah kita berjuang untuk menghentikan eksperimen kejam ini.
Metta,
Tan
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
--------------------------------------------------------------------~->
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
|