dh4rm4duta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Namo Buddhaya,
Ya benar seperti yang dikatakan Sdr. Kreshna A. bahwa kita lupa
membahasnya dari segi konotasi. Kata "Cina" itu masih identik dengan
makian di Indonesia. Dulu saya pernah diteriaki, "Cino.. cino!" dan
bukannya "Tionghua... Tionghua!" Tetapi fakta yang ada buku-buku
pelajaran murid saya, terutama sejarah, masih memasukkan kata "Cina"
tersebut. Tetapi saya tidak yakin bahwa apa yang tercantum dalam buku
sejarah itu memiliki konotasi menghina. Harian Jawa Pos, menggunakan
kata China (dengan sisipan huruf H) untuk mengantisipasinya. Apakah
ini menurut rekan-rekan sesuatu yang tepat? Apakah kata "China" itu
lebih tidak berkonotasi menghina ketimbang "Cina" (tanpa h)?
Metta,
Tan
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
| Religion and spirituality | Spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
