Kompas, Selasa, 07 Februari 2006
Menggantung Politik Integrasi
Yonky Karman
Tanpa mengecilkan maksud politik yang positif di balik pemberlakuan Imlek sebagai hari raya nasional, yang diharapkan kebanyakan warga Tionghoa di Indonesia adalah terobosan politik yang lebih mendasar.
Politik segregasi etnis diakhiri dengan politik integrasi yang konsisten. Negeri ini konsisten menjunjung tinggi nasionalisme dan asas kesamaan warga di depan hukum. Orang Tionghoa dipandang sama seperti warga dari kelompok-kelompok etnis lain dan memperoleh perlakuan politik yang sama. Bagi banyak orang Tionghoa, keindonesiaan baru menunjuk kepada entitas negara, tetapi belum berhasil membangun perasaan sebangsa.
Politik keasingan
Meski kini praktis tak ada hambatan dalam mengekspresikan hal-hal terkait dengan ketionghoaan, posisi warga Tionghoa secara hukum masih seperti di era Orde Baru. Dalam sambutan Perayaan Tahun Baru Imlek, Sabtu (4/2), Presiden sendiri mengakui, di lapangan tetap berlangsung berbagai tindak diskriminatif terkait dengan pelayanan administrasi kependudukan, keimigrasian, peribadatan, dan pencatatan perkawinan.
Kondisi itu akan tetap sama selama tak ada keputusan politik yang tegas guna mengakhiri sejarah politik diskriminasi di Tanah Air. Semua UU dan peraturan yang diskriminatif terhadap etnis Tionghoa dicabut. RUU terkait dengan antidiskriminasi dan kewarganegaraan segera diproses. Tanpa implementasi politik yang tegas, keindonesiaan yang sering didengungkan hanya menggantung di udara.
Semasa Orde Baru, ketionghoaan dipandang sebagai sesuatu yang asing. Warga yang masih memiliki unsur-unsur ketionghoaan, betapa pun sedikitnya atau betapa pun keluarganya sudah turun-temurun di Tanah Air, tetap dianggap belum Indonesia asli. Dalam bahasa Pramoedya Ananta Toer, ”Mereka sudah ada sejak nenek moyang kita. Mereka itu sebenarnya orang-orang Indonesia, yang hidup dan mati di Indonesia, tetapi karena sesuatu tabir politik, tiba-tiba menjadi orang asing yang tidak asing” (Hoakiau di Indonesia, hal 48).
Warga Tionghoa di Indonesia menjadi orang asing yang tidak asing. Mereka diprakondisikan hidup dalam keasingan. Secara sistematis, mereka dipersulit dari menikmati hak-hak sebagai warga negara penuh. Undang-undang yang ada memberi celah kepada praktik-praktik diskriminatif. Mereka harus mengeluarkan banyak uang bagi biaya administrasi pembuktian kewarganegaraan yang mirip proses screening.
Kelompok-kelompok etnis lain yang dikategorikan pribumi diperlakukan berbeda. Mereka didorong mempertahankan kebudayaan masing-masing untuk membentuk kebudayaan nasional. Namun, bagi warga Tionghoa diterapkan kebijakan asimilasi total lewat penghilangan unsur- unsur ketionghoaan, diganti identitas pribumi. Dan, viktimisasi seperti klimaksnya dalam Tragedi Mei 1998 hanya soal waktu.
Reformasi berbangsa
Maka, salah satu agenda politik yang mendesak adalah reformasi berbangsa. Reformasi berbangsa mengandaikan konsep berbangsa. Dalam tipe negara pribumi, konsep berbangsa berdasar etnis memberi tempat bagi diskriminasi. Namun, dalam tipe negara imigran, konsep berbangsa berdasar multietnis, tidak ada tempat bagi diskriminasi.
Memang awalnya pergerakan nasional berbau etnis, tetapi kemudian berkembang konsep berbangsa yang lebih modern di mana asal-usul keturunan warga tidak dilihat. Bung Karno mengaitkan keindonesiaan dengan patriotisme. ”Indonesia bagi kita adalah suatu totaliteit segala perasaan yang terkandung dalam kalbu kita, yang membuat kita rela berjuang, rela membanting tulang, rela berkorban, rela menaiki tiang gantungan, rela dibuang ke dalam rimba raya berpuluh-puluh tahun.”
Konsep berbangsa seperti itu juga dianut Tjipto Mangunkusumo, Raden Sutomo, Amir Sjafruddin, dan Mohammad Hatta. Maka, Indonesia mempunyai tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan, seperti Liem Koen Hian, Oei Tjong Hauw, Tan Eng Hwa SH, Oei Tiang Tjoei, Jap Tjwan Bing.
Semasa Soekarno tercatat setidaknya tokoh nasional, seperti Dr Muh Ali alias Lie Kiat Teng (Partai Syarikat Islam Indonesia), Siauw Giok Tjhan, dan Tan Po Goan. Kini ada pejuang hak-hak asasi manusia Esther Indah Yusuf, budayawan Jaya Suprana, dan juara Olimpiade Alan Budi Kusuma dan Susi Susanti.
Sebenarnya, distingsi sosiologis ”asli” dan ”keturunan” secara empiris-historis tidak relevan. Nenek moyang Indonesia dulu datang dari Asia, menyebar ke wilayah Kamboja, Vietnam, Myanmar, Filipina, dan Indonesia. Ras nenek moyang Indonesia adalah Mongol, yang juga ras asal orang China. Itu berarti orang Indonesia dan Tionghoa berasal dari ras yang sama.
Indonesia yang multi-etnis dan multikultural cocok dengan konsep berbangsa negara imigran. Jika warga Tionghoa merupakan bagian integral bangsa, mengapa kepada mereka pemerintah mempraktikkan konsep negara pribumi? Sebuah konsep berbangsa yang tidak berdasarkan visi keindonesiaan yang utuh. Berapa lama lagi inkonsistensi itu hendak dipertahankan?
Wacana pri dan nonpri dalam ruang publik harus ditinggalkan. Nasionalisme dan patriotisme dibangun berdasar Indonesia multikultural. Di Tanah Air, warga Tionghoa tidak perlu memiliki keindonesiaan yang terbelah. Insya Allah, percepatan politik integrasi mempercepat kebangkitan bangsa dari keterpurukan.
Yonky Karman
Pengajar di Sekolah Tinggi Teologi Cipanas


Brings words and photos together (easily) with
PhotoMail - it's free and works with Yahoo! Mail.

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke