Senin, 06 Februari 2006
Bencana sebagai Komoditas
Imam Cahyono
”Kali ilang kedunge, pasar ilang kumandhange, wong wadon ilang pinjunge.” (NN)
Tak putus dirundung bencana, demikian nasib negeri ini. Berbagai bencana datang dan pergi tanpa henti, dari Sabang sampai Merauke.
Bagaimana persepsi masyarakat tentang berbagai bencana itu? Bagaimana persepsi partai politik, pemerintah, dan elite penguasa terhadap bencana ini?
Cerita dari Banjarnegara
Kita bisa memetik hikmah bencana di Kabupaten Banjarnegara sebagai contoh dan model manajemen penanggulangan bencana.
Uniknya, bencana itu seperti karnaval. Masyarakat sekitar tempat kejadian rela naik truk, berduyun-duyun mendatangi lokasi untuk menonton musibah. Mereka tidak puas menyaksikan dari layar TV, ingin melihat langsung. Mereka juga ingin melihat dari dekat presiden dan menteri saat meninjau. Menyitir Douglas Kellner (2004), musibah itu menjadi ajang tontonan (spectacle).
Bencana itu pun menjadi komoditas. Musibah tanah longsor itu mengundang naluri ekonomi. Seketika, bencana itu menjadi tempat baru guna mengais rezeki. Lokasi sekitar bencana berubah menjadi pasar tumpah, ramai dengan pedagang. Keramaian ini membuat jalanan menuju lokasi bencana macet.
Partai politik pun tak mau ketinggalan. Mereka sibuk mendirikan posko simpati bagi para korban. Partai politik berebut menarik simpati konstituen. Berbagai spanduk bertebaran, berisi aneka pesan sponsor. Lembaga swadaya masyarakat tak mau kalah, mengerubung untuk menyalurkan bantuan atau berebut proyek. Seperti umumnya ”pasar tiban”, mereka pergi setelah pertunjukan selesai. Penanggulangan bencana tak dihiraukan. Soal penanggulangan berjalan lamban karena konflik kepentingan elite lokal, bukan urusan mereka.
Pejabat yang terlibat pilkada pun memanfaatkan bencana untuk menarik pendukung. Pejabat yang satu menginginkan korban bencana ditampung di permukiman penduduk. Pejabat lain ingin para korban ditempatkan di tenda-tenda pengungsian karena sudah ada kontraktor.
Pihak pemda mengungkapkan bencana terjadi karena gundulnya hutan akibat penebangan liar, sementara Perhutani berdalih, musibah longsor terjadi karena curah hujan tinggi dan kondisi tanah yang labil. Pascamusibah, tak jelas bagaimana recovery ekonomi penduduk setempat.
Kearifan alam
Rentetan tragedi yang terus menggerojok bangsa ini tampaknya membuat masyarakat bosan, capek, dan kebal. Akhirnya, mereka melihat bencana sebagai rutinitas yang lumrah dan manusiawi sehingga terjadi imunisasi, humanisasi, dan tradisi bencana. Celakanya, masyarakat melihat bencana sebagai komoditas, dalam aspek keuntungan ekonomis, politik, dan hiburan. Aspek nurani, ketulusan, dan kemanusiaan pun terpinggirkan.
Berbagai tragedi bencana yang melanda bangsa ini terjadi karena ulah manusia (social disease) yang melupakan kearifan dan keseimbangan alam. Manusia tak lagi menghormati alam, malah senantiasa rakus untuk menguras kekayaannya. Di musim hujan, banjir tak terelakkan. Berlimpahnya kekayaan alam ibarat pisau bermata dua, mengundang harapan sekaligus bencana (paradox of plenty).
Pasar-pasar tradisional di berbagai daerah menanti ajal, digusur raksasa retail hypermarket, supermarket, dan minimarket yang terus melebarkan sayap ke pelosok kampung. Pasar tradisional pun kehilangan kumandang khasnya, yakni interaksi sosial antara penjual dan pembeli.
Sementara itu, supermarket hanya menawarkan individualisme, menutup terjadinya interaksi. Gaya hidup mutakhir menumbuhkan consumer citizenship, mendorong nafsu berbelanja tiada batas.
Inilah ironi warga dunia keempat (the fourth world people). Kekayaan alamnya telah habis dikuras. Gagap ilmu pengetahuan dan teknologi, bisa mengonsumsi tanpa berproduksi. Yang kaya menikmati surplus ekonomi, sementara yang miskin merintih kelaparan. Sebuah dunia terbelakang di tengah laju perkembangan global yang amat pesat. Di era globalisasi, liberalisasi dan pasar bebas, apa tak ada hal lain yang bisa dijual sehingga bencana pun dijadikan komoditas?
Imam Cahyono Koordinator Riset al Maun Institute, Jakarta


Yahoo! Mail
Use Photomail to share photos without annoying attachments.

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke