Bro Chingik yang budiman, Terima kasih banyak atas tanggapannya. Saya jadi banyak belajar mengenai sutra-sutra Mahayana yang berbahasa Mandarin. Sungguh ulasan yang menarik. Baik, karena topik-topik lain sudah kita anggap selesai, maka sekarang kita berdiskusi masalah sutra-sutra saja. Semoga Anda tidak bosan-bosan untuk membagikan pengetahuan Anda. Mari kita lanjutkan diskusinya.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ (1)Anda mengatakan: Bro sendiri yang mengatakan "telah terbukti", ya saya jadi menyangka bro telah memberi vonis. Tanggapan saya: Nggak lho, Bro. Saya tidak mengatakan "telah terbukti." Saya sudah melihat pada file-file diskusi sebelumnya dan yang saya katakan adalah: "Kalau Anda mau bukti, silakan lihat Sutra Penerangan Sempurna (Yuanjuejing) yang di dalamnya mengandung kata "akupunktur". " Jadi saya tidak mengatakan "telah terbukti." Saya hanya mengatakan bahwa ada bukti yang juga dikemukakan oleh sebagian Buddhologis mengenai dugaan bahwa Sutra tersebut ditulis di Tiongkok. Tentu saja ini masih merupakan sesuatu yang terbuka. Masih banyak pendapat yang dapat dikemukakan untuk menyanggah atau mendukungnya. Hanya saja menurut pendapat saya, selama kita belum menemukan naskah asli Sanskritnya, maka masih belum ada bukti yang kuat. Kita tidak tahu, bagaimana asal usul kata "akupunktur" secara pasti. Semua penjelasan yang ada barulah dikemukakan berdasarkan dugaan semata. Oleh karena itu, kita tunggu saja perkembangan selanjutnya hingga naskah-naskah asli tersebut ditemukan (kalau masih ada). Tetapi agar tidak salah paham, saya perlu kemukakan bahwa pandangan ini berdasarkan pandangan saya sebagai seorang scholar dan bukannya umat Buddha. Ini adalah metode baku dalam melakukan kritiks teks terhadap naskah- naskah keagamaan. Baik sekedar sharing, berdasarkan apa yang saya baca, biasanya dalam menterjemahkan istilah bahasa Sanskrit ke bahasa Mandarin, para penterjemah akan melakukan dua hal ini: a.Transliterasi bunyi, misalnya dari Magadha akan ditransliterasi menjadi Magedu, Shravasti menjadi Shiwei, dan lain sebagainya. Nah, saya tidak tahu mengapa istilah nama pengobatan itu malah diterjemahkan sebagai akupunktur (zhenjiu). b.Melakukan terjemahan harafiah. Seperti misalnya dupa longnao (otak naga), Puxian (Samantabhadra) dan lain sebagainya. Kita tidak tahu mengapa istilah pengobatan itu tidak diterjemahkan saja secara harafiah. Tentu saja kedua pertanyaan di atas dapat dianggap sebagai hal-hal yang mendukung bahwa sutra tersebut ditulis di Tiongkok, dan saya yakin bahwa akan selalu ada orang yang akan memberikan jawaban bagi pertanyaan tersebut. Tetapi sayang sekali, karena naskah aslinya tidak diketahui bunyinya, kita tidak dapat memperoleh "jawaban yang benar-benar pasti." (2)Anda mengatakan: "Sebagai acuan bagaimana maksud anda? JIka bro beranggapan Yuanjuejing sebagai kitab karangan, mengapa masih mau menjadikannya sebagai acuan? Tanggapan saya: Sekarang saya akan menjawabnya sebagai umat Buddha. Terlepas dari asli atau tidaknya kitab itu, saya berpendapat bahwa isinya sangat selaras dengan Dharma serta memberikan banyak wawasan baru, sehingga tentu saja saya menganggapnya sebagai "asli." Bahkan kalau ada kitab-kitab suci agama lain yang isinya sangat bagus, maka saya tidak ragu-ragu juga menganggapnya sebagai Dharma. Sebagai informasi, jika Anda lihat beberapa tulisan saya, maka saya sering mengutip dari kitab-kitab Hindu, Dao, Konfusianisme, dan bahkan Alkitab. Sebagai contoh, kisah orang Samaria yang baik hati dalam Alkitab sungguh menyentuh hati, sehingga kita boleh menganggapnya sebagai Dharma juga. Sebagaimana yang sudah saya ungkapkan di atas, pada akhirnya semua akan mengarah pada Dharmadatu. Saya akan menentang keras orang yang menyebut sutra-sutra Mahayana sebagai "palsu" dengan tujuan melecehkannya. Saya akan mati-matian menyatakan bahwa sutra itu adalah 100% "asli." Anda paham maksud saya? Semoga ini tidak membingungkan. (3)Anda mengatakan: "Saya pribadi tidak pernah merasa ragu atau curiga terhadap Tripitaka Sanskrit yang sudah diklasifikasikan dengan baik oleh para sesepuh masa lalu." Tanggapan saya: Ya, sama! Sayapun juga tidak pernah ragu (dalam hal keotentikan semangat Dharmanya). Tetapi kita tetap harus membedakan pembahasan scholar dengan para praktisi Dharma mengenai kitab suci tersebut. Keduanya melakukan pendekatan terhadap kitab suci yang sama berdasarkan kaca mata yang berbeda. Tidak ada yang salah dengan keduanya. Para praktisi melakukan pendekatan "asli" - "palsu" berdasarkan isi, intisari, atau semangat (xin) yang terkandung di dalamnya. Sedangkan para scholar menelaah sutra berdasarkan bentuk fisiknya, dengan menggunakan metode kritik teks, hermeneutika, dan lain sebagainya. Semuanya benar dan sah-sah saja. Ini wajar saja, ilmu kedokteran saja dibagi dua: kedokteran fisik (medis) dan ilmu kejiwaan (psikologi). Meski keduanya berbeda tetapi ada beberapa poin yang saling bertemu. Jadi suatu sutra mungkin saja secara fisik "palsu" tetapi secara isi "asli." Ini tidak masalah bukan? Saya pernah baca buku Zen yang memberikan analogi bagus sekali. Seseorang guru seni mengajak siswanya untuk menikmati karya seni seorang pelukis terkenal. Siswa seni itu sangat terkagum-kagum, tetapi tiba-tiba guru itu mengatakan bahwa karya seni itu palsu. Siswa itu langsung menjadi kecewa. Tetapi sang guru mengatakan, "Bukankah kamu baru saja menikmati dan mengaguminya? Karena itu masalah "asli" dan "palsu" tidak masalah bagi seorang penikmat karya seni." Karena itu, kita di sini harus membedakan antara seorang "penikmat seni" dan "kritikus seni." Jasa seorang "kritikus seni" tetapi diperlukan, karena kita tidak dapat menipu sejarah atau ilmu pengetahuan (sains) dengan menyamakan karya "asli" dengan "palsu." Keduanya tetap harus dibedakan. Ini adalah prosedur ilmiah yang wajar. Seseorang yang hendak membeli karya seni juga menggunakan jasa kritikus seni untuk menentukan keaslian karya seni tersebut. Karena itu, sebagai umat Buddhis saya tetap dapat menikmati sutra- sutra Buddhis, kendati ada kenyataan bahwa sutra-sutra itu "palsu." "Kepalsuan" sutra tersebut tidak menggoyahkan keyakinan saya pada Buddhadharma. (4)Anda mengatakan: "Sepengetahuan saya bukan Yi Jing, tapi LiaoYi Jing dan BuLiaoyi Jing. Atau saya salah menangkap maksud bro." Tanggapan saya: Coba nanti saya cek lagi pada buku Origin of Buddhist Sutras. Berdasarkan apa yang saya baca dalam buku itu, sutra-sutra yang meragukan dikelompokkan tersendiri, seperti misalnya Yuanjuejing, dan lain sebagainya. Tetapi ada juga yang ditolak sama sekali dan dikategorikan pada "spurious Sutra," contohnya adalah Sutra of the Herbs. Nanti kapan-kapan saya bongkar- bongkar lagi buku itu deh, karena di sana sudah dibabarkan secara sangat lengkap, mengenai seluk-beluk Tripitaka Tiongkok, mulai dari metode penterjemahan, sejarah, pengklasifikasikan, dan lain sebagainya. (5)Anda mengatakan: "Ini sekedar informasi, mungkin saya bisa salah juga, mohon kritiknya ya.. Saya sangat setuju dengan tulisan anda yang mengatakan "Kita sebagai umat Buddhis hendaknya melihat dari semangat dan makna spiritual yang terkandung di dalamnya". Tanpa memiliki pendirian seperti ini alih-alih ingin mengkaji seluruh isi Tripitaka dengan berbagai sikap skeptis, maka sampai matipun kita tidak akan menemukan jawabannya dan hasilnya adalah mati konyol seperti kasus orang yang kena panah beracun tanpa mau berobat." Tanggapan saya: Benar sekali, karena itu semuanya harus seimbang. Melekat secara dogmatisme pada kitab suci juga tidak baik. Kita melihat bahwa sejarah Abad Pertengahan dipenuhi oleh kemunduran ilmu pengetahuan karena orang terlalu melekat pada kitab suci. Sebagai informasi ada buku yang cukup bagus, judulnya dalam bahasa Indonesia: Batas Nalar: Rasionalitas dan Perilaku Manusia (Within Reason: Rationality and Human Behaviour), karya Donald B. Calne. Isinya mengajarkan bahwa hanya berpedoman pada rasio saja adalah sesuatu yang keliru dan sebaliknya bersikap antinalar adalah juga sesuatu yang salah. (6)Anda mengatakan: Ah masak tidak pernah? Siapa tahu 2000 tahun yang lalu ada perjual belikan. 1000 tahun kemudian ada larangan dan jadi tradisi, maka kesannya ya tradisi itu sejak 2000 tahun lalu. Ah..ga tahu lah hehe. Tanggapan saya: Ya, Anda masih belum dapat memberikan bukti kuat bahwa penggunaan peti mati merupakan sesuatu yang populer di India pada masa itu. Sebagai informasi, suatu karya sastra pasti mencerminkan budaya dan tradisi yang dianut oleh masyarakat di sekeliling pengarang. Begitu pula halnya dengan kitab suci. Jadi, tidak mungkin Fanwanjing menyebut mengenai peti mati, bila hal itu bukan sesuatu yang populer di zamannya. Bila Anda melihat website: http://www.walkdenhighschool.org.uk/Departmental/ReligiousStudies/Hin duism/Hindufuneralrites.pdf#search='Hindu%20Funeral%20Rites'. Maka dengan jelas disebutkan: When a Hindu person dies, family members of the same sex first wash then wrap the body in a cotton shroud (terjemahan: Jika seorang Hindu meninggal, maka seoraeng anggota keluarga berjenis kelamin sama akan membungkus mayat itu dengan kain pembungkus mayat yang terbuat dari katun). Jadi jelas sekali penggunaan peti mati tidak dikenal dalam tradisi India. +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ (7)Anda mengatakan: "Kalo anda adalah pedagang ya tidak buruk. Masalahnya sila ini diterapkan bagi seorang praktisi/bhiksu. Tentu ada tujuan lain yang lebih penting lagi." Tanggapan saya: Kalau seorang bhikshu jelas ia tidak boleh berjualan apa saja. Jangankan berjualan peti mati, berjualan nasi pecel saja ia tidak layak. Lalu mengapa yang disebutkan hanya peti mati, mengapa tidak sekalian nasi pecel, rujak cingur, atau tahu petis? Bukankah kalau kita melihat bhikshu-bhikshu kita membuka kedai kaki lima, maka kita juga akan merasa malu? Ini sudah masuk kajian dari masalah moral atau etika. +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ (8)Anda mengatakan: "Alasan kedua adalah: Kalo kita perhatikan Vinaya yang diterapkan oleh sang Buddha, biasanya adalah munculnya sebuah kasus terlebih dahulu (seorang bhikkhu berbuat hal2 yang bertentangan dengan kepentingan praktik spiritualnya), maka Sila baru ditetapkan. Dengan kata lain, sebuah sila tidak akan ditetapkan oleh sang Buddha sebelum adanya kasus." Tanggapan saya: Selama Anda masih belum bisa memberikan kasusnya secara konkrit maka pertanyaan ini masih terbuka. Lagipula, saya telah memberikan bukti di atas, bahwa peti mati bukan merupakan sesuatu yang umum di India, khususnya tradisi Hindu. Lalu, jika bukan merupakan sesuatu yang umum, bagaimana mungkin dapat terjadi pelanggaran sila? Diskusi kita sedari awalnya hendak membicarakan apakah benar bahwa Fanwanjing adalah produk Buddhisme Tiongkok. Sebagaimana yang telah saya katakan di atas, suatu literatur pasti mencerminkan budaya, tradisi, dan kebiasaan masyarakat tempat karya sastra itu dihasilkan (ini salah satu manfaat mempelajari kesusasteraan, sebagaimana yang dulu pernah saya dapat di SMP). Anda boleh saja mengatakan bahwa itu hanya penyesuaian kata dalam penterjemahan. Tetapi agar argumen Anda ini kuat secara ilmiah, Anda harus memberikan bukti mengenai bahasa aslinya. Namun, karena bahasa aslinya juga belum dapat ditemukan, maka sekali lagi kasus ini masih terbuka. Masing-masing orang masih boleh memberikan pendapatnya. Bila kita sudah memasuki kajian ilmiah, maka yang diperlukan adalah bukti untuk memperkuat argumen kita. +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ (9)Anda mengatakan: "Di sini saya menangkap pertanyaan bro ada 2 jalur, entah yang mana yang anda maksudkan, tapi saya akan menganggap kedua2nya adalah maksud pertayaan anda: 1. apakah metode ini selaras dengan ajaran dharma? 2. bukankah ciamsie adlah barang produk China, kok ada di Sutra?" Tanggapan saya: Kalau pertanyaan saya sebenarnya lebih ke arah yang kedua, karena itu merupakan pertanyaan dari segi scholar. Karena masalah budaya sekitar merupakan tradisi penentu bagi penulisan karya sastra. Sedangkan pertanyaan apakah metode ini selaras dengan Dharma, merupakan sesuatu yang sulit. Tentu saja Buddha tidak pernah mengajarkan penarikan ciamsie. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, bila menghadapi sesuatu yang meragukan, saya masih menggunakan metode bertanya dengan uang logam, Yijing, metode "Bagua," atau kartu. Mungkin ini agak menggelikan, tetapi bila kita sedang terdesak cara semacam ini cukup membantu secara psikologis. Kendati saya terkadang menggunakan cara ini, saya tidak menyarankan Anda untuk mengikutinya. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ (10)Anda mengatakan: "Jawabannya dapat dibaca dalam Sutra itu sendiri. Dalam sutra itu sudah menjelaskan tujuannya. Mengenai cara yang digunakan itu bersifat relative, asalkan dapat mengarah pada terkikisnya noda batin, maka dia selaras degnan dharma." Tanggapan saya: Ya benar sekali saya setuju. Metode atau tradisi apapun hendaknya bermanfaat bagi masyarakat atau umat manusia, agar dapat disebut berguna (positif). +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ (11)Anda mengatakan: "Tapi saya akan beri informasi lagi bahwa dalam kitab ZanchaShanErYeBaoJing terjemahan Putideng (BodhiDipa?) juga terdapat metode penarikan Ciamsie, di mana diajarkan cara2 membuat ciamsie dengan bentuk yang tidak seperti yang umum kita lihat, melainkan berbentuk sepotong kayu persegi panjang kecil di kedua ujungnya diruncingkan seperti pensil pendek berbentuk persegi." Tanggapan saya: Saya belum pernah dengar ada sutra dengan judul itu. Tetapi kalaupun Anda masih dapat dipertanyakan di manakah sutra itu dikarang. Memang sutra yang cukup menarik. Apakah Anda dapat menguraikan lebih jauh mengenai metode ini, karena saya saat ini sedang membuat karangan mengenai ritual-ritual rejeki dalam Buddhisme. Tentu saja ini sangat cocok dan bisa dimasukkan ke dalamnya. Semoga Anda tidak keberatan untuk menguraikannya secara lebih terperinci. Kalau ada gambar dan juga mantra-mantranya. Terima kasih banyak sebelumnya. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ (12)Anda mengatakan: "Kita tidak tahu apakah di India ada ciamsie atau tidak. Bisa saja ada dalam bentuk yang agak berbeda dan cara berbeda namun merupakan satu hal yang sama." Tanggapan saya: Ya, kembali lagi yang kita perlukan adalah bukti konkrit, Bro. Jika benar di India ada ciamsie. Apakah buktinya? +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ (13)Anda mengatakan: "Jika berbicara tentang tradisi yang ada di China dan India, ini mengingatkan saya pada sejarah kungfu shaolin......." Tanggapan saya: Berdasarkan sejarah kungfu Shaolin yang pernah saya baca, Damo Dashi (Bodhidharma) justru menciptakan jurus2 kungfu ini selama Beliau bermukim di Gunung Shaolin dengan menirukan gerakan- gerakan hewan. Tetapi apakah benar diciptakan oleh Bodhidharma? Kita tidak tahu. Jadi wajar saja kalau tidak ditemukan di India. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ (14)Anda mengatakan: "Jawaban Opsi lain lagi adalah: FAnwangjing itu dibabarkan oleh Samboghakaya-Nya Sakyamuni yang bernama LuShiNa di Lianhuazang shejie (padma-garbha loka dhatu). Jadi bukan dibabarkan di jambudipa ini. ATas dasar ini, jika mempertanyakan masalah peti mati menjadi tidak relevan, karena bukan dibabarkan di India." Tanggapan saya: Maaf, saya akan mengungkapkan dua hal sebagai tanggapan: a.Pertama-tama jawaban semacam ini tidak dapat diterima dari segi scholar, karena orang dapat menanyakan: dimanakah letak padma-garbha loka dhatu. Apakah tempat itu benar-benar ada secara geografis? Bila tempat itu tidak dapat dibuktikan maka argumen Anda tidak dapat diterima. Argumen semacam ini akan ditertawakan oleh kaum skeptis, sebagaimana halnya saya juga mentertawakan argumen seperti ini yang dikemukakan oleh penganut agama lain. Kalau kita hendak berdiskusi ilmiah, maka argumen yang diajukan juga hendaknya bersifat ilmiah pula? Maaf, ini terpaksa saya ungkapkan agar kita tidak terjebak hal yang sama bila berdialog dengan umat agama lain. b.Kedua, anggaplah bahwa tempat atau dunia itu benar-benar ada. Apakah di Tanah Murni seperti itu, masih ada kematian, sehingga seseorang masih harus berjual beli peti mati? +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Saya kira sekian dulu. Mohon maaf kalau ada kata yang salah. Metta, Tan --- In [email protected], "ching ik/ djoni" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > dear, bro Tan > > Ini tanggapan saya > > > Tan: > Saya kira sampai di sini cukup dulu ulasan saya mengenai hubungan > bhikkhu dan umat awam, saya tidak perlu menanggapi lagi bagian > lainnya, karena pandangan dan pokok pikiran saya telah cukup saya > tuangkan pada posting-posting terdahulu. > > Cg ik: > Ya...saya kira sudah cukup juga pembahasan mengenai BB. > ----- ----------------------- > > (1)Anda mengatakan: "Tapi Jangan terlalu gegabah mengetuk palu > dengnan mengatakan > Yuanjuejing dan Fanwangjing adalah karangan orang tiongkok" > > Tanggapan saya: palu tidak akan pernah bisa diketukkan sampai > kapanpun juga. > > Cg ik: > Bro sendiri yang mengatakan "telah terbukti", ya saya jadi menyangka > bro telah memberi vonis. Memberi vonis ya identik dengan mengetuk > palu. Tapi penjelasan bro yang ini sudah cukup jelas. > ---- ------------------------------------ > > Kita sebagai umat Buddhis hendaknya > melihat dari semangat dan makna spiritual yang terkandung di > dalamnya. Ini perlu saya jelaskan agar tidak timbul kesalah pahaman > bahwa saya merendahkan kitab2 tersebut. Saya masih menjadikan Sutra > Shurangama dan Yuanjuejing sebagai acuan. Bahkan saya sudah > menterjemahkan Sutra Yuanjuejing. > > Cg ik: > Sebagai acuan bagaimana maksud anda? JIka bro beranggapan > Yuanjuejing sebagai kitab karangan, mengapa masih mau menjadikannya > sebagai acuan? Jadi saya tidak mengerti maksud acuan yang bro > katakan. Mohon penjelasannya ya. Saya pribadi tidak pernah merasa > ragu atau curiga terhadap Tripitaka Sanskrit yang sudah > diklasifikasikan dengan baik oleh para sesepuh masa lalu. Tapi sikap > tidak ragu ini Cuma pandangan pribadi. Jangan menghiraukan pandangan > saya ini ya hehe.. > > Saya sudah mendapatkan buku Shuranggama Sutra edisi bahasa Indonesia > jilid 2 hasil edit dari bro Tan. Mohon terima penghormatan sebagai > tanda kekaguman saya pada kerja keras bro yang satu ini. Shuranggama > Sutra sudah saya baca dalam versi mandarin dan versi bahasa mandarin > sehari harinya. Sungguh sutra yang luar biasa namun sulit diterapkan > maklumlah, saya masih ingusan sih..hehe.. > > -------- -------------- > > Sutra "palsu" tetapi "asli" > dikategorikan dalam golongan Yi jing. Sutra Penerangan Sempurna > termasuk golongan ini dan disebut Yuanjue siutuoluo yijing. Ini > merupakan kajian dan diskusi yang sangat menarik. Saya senang diskusi > dan pembahasan semacam ini > > Cg ik: > Sepengetahuan saya bukan Yi Jing, tapi LiaoYi Jing dan BuLiaoyi > Jing. Atau saya salah menangkap maksud bro. Tapi pengkategorian > semacam ini setahu saya tidak berhubungan dengan masalah > sutra "asli" atau "palsu". Melainkan untuk mengkategorikan mana yang > merupakan ajaran penembusan dan mana yang tidak. Contohnya Sutra > Shishangyedaojing (Sutra yang dibabarkan sang Buddha kepada raja > naga tentang 10 perbuatan baik). Penerapan ajaran ini hanya dapat > membuat terlahir di alam surga, tapi tidak dapat mencapai > pembebasan, maka dia disebut ajaran yang buliaoyi. Jadi Buliaoyi > boleh dikatakan sebagai ajaran bersifat Fangbian (upaya kausalya). > Sedangkan Yuanjuejing, Shuranggama, Huayen ya termasuk yang Liao Yi. > Namun masalah Liao Yi dan Buliaoyi sarat dengan makna filosofis, > sehingga ada yang menjelaskan bahwa bila Sutra A dapat memberi > manfaat pada anda, maka dia termasuk LiaoYi, demikian juga > sebaliknya maka dia disebut BuLiaoyi. > Kalo pengklasifikasian yang saya maksudkan adalah benar2 > diklasifikasikan dalam Chinese Tripitaka. Salah satu tujuan > pengumpulan kitab suci Buddha menjadi sebuah Dazangjing (Tripitika) > di China pada masa lalu adalah agar tidak terjadi percampuran antara > Sutra asli dan palsu. Hal ini pertama kali dilakukan oleh bhiksu > DaoAn pada masa dinasti Jin timur, dengan karyanya yang berjudul > ZongliZongjingmulu (daftar isi kumpulan sutra). Kitab ini memuat > semua daftar judul Sutra,Vinaya, Abhidharma yang telah diterjemahkan > ke dalam bahasa mandarin. Dan di dalam pengklasifikasiannya, beliau > juga menemukan beberapa kitab yang dicurigai merupakan kitab > karangan/palsu (26 judul yang terdiri dari 30 jilid). Setelah masa > beliau, berbagai kitab tentang daftar isi kumpulan Tripitaka semakin > marak disusun oleh para bhiksu. Seiring dengan berjalannya waktu > semakin banyak pula muncul kitab2 baru yang dicurigai palsu, dan > dalam tugas penyusunan daftar isi Sutra2, para bhiksu pun telah > mengklasifikasikannya secara sistematis. Jadi yang saya maksudkan > adalah demikian. Tapi Bagaimanapun juga tetap saja ada yang > meragukan beberapa sutra yang meskipun sudah diklasifikasikan ke > dalam divisi asli. (seperti yang bro katakana: seribu orang punya > seribu kepala) > Ini sekedar informasi, mungkin saya bisa salah juga, mohon > kritiknya ya.. > Saya sangat setuju dengan tulisan anda yang mengatakan "Kita sebagai > umat Buddhis hendaknya > melihat dari semangat dan makna spiritual yang terkandung di > dalamnya". Tanpa memiliki pendirian seperti ini alih-alih ingin > mengkaji seluruh isi Tripitaka dengan berbagai sikap skeptis, maka > sampai matipun kita tidak akan menemukan jawabannya dan hasilnya > adalah mati konyol seperti kasus orang yang kena panah beracun tanpa > mau berobat. > > ----------- ------------- > > > . Apakah Anda punya buku-buku karya Prof. > Nan huaijin? > > Cg ik: > Cuma ada yang mandarin. Buku beliau juga telah diterjemahkan dalam > bahasa Inggris. Coba cari deh di search engine dengan kata kunci : > Nan Huai Chin. Akan ditemukan profil dan daftar buku karyanya. > > > --------- -------------- > > > Yang saya ketahui dari tradisi India, biasanya papan > penaruh mayat semacam itu tidak pernah diperjual-belikan dan baru > dipersiapkan setelah seseorang meninggal. Jadi nuansa kitab itu kok > tetap bersifat "Tiongkok" ya? > > Cg ik: > Ah masak tidak pernah? Siapa tahu 2000 tahun yang lalu ada perjual > belikan. 1000 tahun kemudian ada larangan dan jadi tradisi, maka > kesannya ya tradisi itu sejak 2000 tahun lalu. Ah..ga tahu lah hehe. > > ---------- --------- > > Lalu pertanyaan berikutnya, mengapa > berjualan peti mati dianggap buruk? Bukankah kalau tidak ada peti > mati orang juga akan kerepotan? Mau ditaruh di mana mayatnya? ...... > Saya tidak melihat adanya pesan moral dalam larangan ini > > Cg ik: > Kalo anda adalah pedagang ya tidak buruk. Masalahnya sila ini > diterapkan bagi seorang praktisi/bhiksu. Tentu ada tujuan lain yang > lebih penting lagi. > Alasan kedua adalah: Kalo kita perhatikan Vinaya yang diterapkan > oleh sang Buddha, biasanya adalah munculnya sebuah kasus terlebih > dahulu (seorang bhikkhu berbuat hal2 yang bertentangan dengan > kepentingan praktik spiritualnya), maka Sila baru ditetapkan. Dengan > kata lain, sebuah sila tidak akan ditetapkan oleh sang Buddha > sebelum adanya kasus. Jadi bisa saja sila larangan menjual peti mati > baru ada setelah adanya kasus demikian. Dan kasusnya seperti apa, > kita belum tahu (karena kekurangan bahan referensi), namun yang > jelas sila itu ada setelah adanya kasus. Mengenai mengapa harus > menetapkan sila setelah adanya kasus, tentu ini pembahasan > tersendiri lagi. Saya tidak berkompeten membicarakan tentang sila > yang begitu banyak. Mungkin bisa ditanyakan pada para bhikkhu yang > mempraktikkannya langsung. > > ---------- ------------------- > (4)Anda mengatakan: "Suranggama juga oleh para peneliti professional > dan para ahli dari > barat juga ikut2an mengatakan sebagai Sutra karangan orang tiongkok. > Akhirnya ditemukan teks sanskritnya, maka polemiknya pun reda dengan > sendiri. > > Tanggapan saya: Mana ada teks Sanskritnya? Kok saya tidak pernah > dengar? Kalau Sutra Shuramgamasamadhi memang dianggap "asli." Tetapi > ini beda dengan Sutra Shuramgama (Lengyanjing). Mohon informasi > selengkapnya. > > > Cg ik: > > Ya. Maaf saya salah memberi informasi. Yang ada teks sanskritnya > memang Shuranggama Samadhi terjemahan Kumarajiva. , bukan > Shuranggama. Katanya Shuranggama Samadhi Sutra ditemukan potongan > teks sanskritnya di wilayah Xinjiang. Sekali lagi maaf atas > kesalahan saya. Huh hampir saja > > -------- ------------- > > 5)Anda mengatakan: "Reputasi pencapaian spiritual beliau sudah tidak > diragukan lagi, apakah hanya bebarapa kalimat dari scholar barat yang > meragukannya lalu meluluh lantakkan keabsahan sutra itu? > > Tanggapan saya: O tentu tidak! Bagi saya "asli" atau "tidak asli" > menurut kriteria Barat tidak ada hubungannya dengan "keaslian" > kualitas spiritual sutra itu. Jadi dalam berbicara mengenai sutra, > saya harus jelas posisi saya, sebagai umat Buddha atau scholar. > Sebagai scholar dan ilmuwan saya menerima metodologi kritik teks > Barat, tetapi sebagai umat Buddhis saya tetap meyakini isinya > sebagai "asli." Ini pandangan saya. > > Cg ik: > > Tanggapan yang sangat memuaskan. Setuju. Setuju. > > ---------- ------------- > > > (6)O ya apakah Anda mengetahui bahwa di dalam Yuanjuejing terdapat > metode penentuan metode latihan dengan menggunakan semacam penarikan > ciamsie? Bagaimana pendapat Anda mengenai hal ini? > > > Cg ik: > Di sini saya menangkap pertanyaan bro ada 2 jalur, entah yang mana > yang anda maksudkan, tapi saya akan menganggap kedua2nya adalah > maksud pertayaan anda: 1. apakah metode ini selaras dengan ajaran > dharma? 2. bukankah ciamsie adlah barang produk China, kok ada > diSutra? > > Pendapat 1: Jawabannya dapat dibaca dalam Sutra itu sendiri. Dalam > sutra itu sudah menjelaskan tujuannya. Mengenai cara yang digunakan > itu bersifat relative, asalkan dapat mengarah pada terkikisnya noda > batin, maka dia selaras degnan dharma. > > Pendapat 2: Kesannya ciamsie itu hanya ada dalam tradisi bangsa > China ya? Kok Yuanjuejing ada istilah ini, saya juga bertanya2 > dalam hati. Tapi saya akan beri informasi lagi bahwa dalam kitab > ZanchaShanErYeBaoJing terjemahan Putideng (BodhiDipa?) juga terdapat > metode penarikan Ciamsie, di mana diajarkan cara2 membuat ciamsie > dengan bentuk yang tidak seperti yang umum kita lihat, melainkan > berbentuk sepotong kayu persegi panjang kecil di kedua ujungnya > diruncingkan seperti pensil pendek berbentuk persegi. Metode ini > sangat berbeda dengan ciamsie yang kita lihat. Ini adalah sebuah > metode yang diajarkan bodhisattva Ksitigarbha. Di Taiwan sekarang > juga ada jual alat ciamsie ini yang dibuat berdasarkan ajaran sutra > ini. Saya baca di berbagai forum Buddhis Taiwan, banyak yang > mengatakan ciamsie ini sangat bagus, namun praktiknya tidak > sederhana, harus tulus melafal nama Tichangwan sebanyak 10000 kali, > baru dapat menjalankan ciamsienya. > > Kita tidak tahu apakah di India ada ciamsie atau tidak. Bisa saja > ada dalam bentuk yang agak berbeda dan cara berbeda namun merupakan > satu hal yang sama. > Jika berbicara tentang tradisi yang ada di China dan India, ini > mengingatkan saya pada sejarah kungfu shaolin. Sampai sekarang orang > pun tidak dapat memastikan asal usul kungfu shaolin. Pandangan yang > paling umum adalah Kungfu Shaolin berasal dari Bodhidharma. Tapi > jika berasal dari Bodhidharma, mengapa tidak dapat ditemukan akarnya > dari India? Lalu ada yang mengatakan berasal dari Buddhabadra > pendiri kuil shaolin. Beliau juga merupakan orang India, mengapa > tidak ditemukan akar metode kungfu ini di India? Di India juga ada > berbagai jenis ilmu bela diri, namun sangat berbeda dengan gaya > kungfu Shaolin. > > Mari kita hubungkan hal hal ini: > 1. Kungfu Shaolin (China) diyakini berasal dari Bodhidharma > (India), namun tidak ditemukan jenis bela diri ini di India. > 2. Ciamsie muncul dalam Sutra Buddha (baca: India), namun tidak > ditemukan Ciamsie di India > 3. Agama Buddha (China) berasal dari India, namun agama Buddha > telah lenyap dari India (pd abad 12?) > 4. Sutra Sanskrit (di China) berasal dari India, namun sisa- > sisa peninggalannya tidak ditemukan lagi di India. > > Pendapat pribadi saya, ciamsie mungkin sangat jarang digunakan di > India (hingga cepat lenyap) dan bisa saja bentuk dan metodenya > sangat berbeda dengan yang ada di China. Cuma menerka-nerka. Kalo > salah, mohon diluruskan ya.. > > --------------- ------------------------ > > > (tambahan) > TAN: > > Maaf, saya masih belum dapat berkomentar apa-apa, karena saya belum > membaca mengenai Sutra Youxingjing tersebut. Kalau Bro. ada bahasa > Inggrisnya, apakah saya dapat meminjamnya. Untuk memberikan komentar > lebih jauh saya harus menelaahnya secara keseluruhan. > > Cg ik: > Sori, gak punya. Saya Cuma lihat yang versi mandarin. > > > -------------- -------------------------- > > TAN: > > Ya, sebagaimana yang sudah saya katakan pada posting terdahulu, > memang benar bahwa kita dapat memberikan bukti yang menguatkan dan > tidak menguatkan. Tetapi bukankah penggunaan peti mati tetap bukan > merupakan sesuatu yang populer di India? Adanya sila tersebut dalam > Fanwanjing mengindikasikan bahwa hal itu merupakan suatu praktek yang > tersebar luas. Bila tidak, mengapa perlu dikeluarkan sila semacam > itu? > > Cg ik: > > Sila hanya ditetapkan oleh sang Buddha bila ada kasus yang > terjadi. Jadi tidak ada hubungan dengan masalah peti mati itu > popouler atau tidak. Mengenai apa kasusnya dan siapa orangnya, > mungkin catatannya hilang, kita tidak tahu. Jawaban Opsi lain lagi > adalah: FAnwangjing itu dibabarkan oleh Samboghakaya-Nya Sakyamuni > yang bernama LuShiNa di Lianhuazang shejie (padma-garbha loka > dhatu). Jadi bukan dibabarkan di jambudipa ini. ATas dasar ini, > jika mempertanyakan masalah peti mati menjadi tidak relevan, karena > bukan dibabarkan di India. > > > ---------- ------------------ > > TAN: > ... Mungkin saja semua ini hanya masalah istilah. Tetapi saya tidak > dapat berkomentar panjang lebar > karena saya belum baca Dharmapada versi Sanskrit (Gandhari?). Selain > itu kita juga harus mengetahui apakah istilah sanskrit aslinya, > sehingga diterjemahkan sebagai YuyaoZhenjiu. Tanpa mengetahui naskah > aslinya, apa yang Anda ungkapkan di atas itu hanya sekedar dugaan > saja. Lagipula kalau diartikan sebagai pengobatan alternatif, apakah > tidak ada istilah lain? Mengapa tidak terjemahkan saja dengan kata > pengobatan dalam artian umum? Tanpa menyertakan kata Zhenjiu yang > berarti akupunktur? > Meskipun uraian Anda sangat masuk akal, tetapi karena saya belum > mengetahui apa kata asli Sanskritnya, maka saya anggap kasus ini > masih terbuka. Setiap orang berhak memberikan interpretasinya masing- > masing. > > Cg ik: > Ya, saya juga tidak menganggapnya sudah pasti 100 %. Memang benar > hanya dengan adanya kitab asli kita baru dapat tahu hal yang > sebenarnya. > Btw, sikap kritis anda memang layak diacungin jempol, pantasan anda > adalah seorang sarjana lulusan luar negeri. Kalo Saya mah..Cuma > sebagai pemberi informasi. Hehe > Jika berbicara tentang sumbangsih terhadap Buddha dharma, saya > masih nol, dan anda sudah kesekian sekiannya. > > Salam hormat. > > > Amitofo > > Cg ik > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
