Bro Chingik yang budiman,

Terima kasih banyak atas tanggapannya. Saya jadi banyak belajar 
mengenai sutra-sutra Mahayana yang berbahasa Mandarin. Sungguh 
ulasan yang menarik. Baik, karena topik-topik lain sudah kita anggap 
selesai, maka sekarang kita berdiskusi masalah sutra-sutra saja. 
Semoga Anda tidak bosan-bosan untuk membagikan pengetahuan Anda. 
Mari kita lanjutkan diskusinya.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

(1)Anda mengatakan: Bro sendiri yang mengatakan "telah terbukti", ya 
saya jadi menyangka bro telah memberi vonis.

Tanggapan saya: Nggak lho, Bro. Saya tidak mengatakan "telah 
terbukti." Saya sudah melihat pada file-file diskusi sebelumnya dan 
yang saya katakan adalah:

"Kalau Anda mau bukti, silakan lihat Sutra Penerangan Sempurna 
(Yuanjuejing) yang di dalamnya mengandung kata "akupunktur". "

Jadi saya tidak mengatakan "telah terbukti." Saya hanya mengatakan 
bahwa ada bukti yang juga dikemukakan oleh sebagian Buddhologis 
mengenai dugaan bahwa Sutra tersebut ditulis di Tiongkok. Tentu saja 
ini masih merupakan sesuatu yang terbuka. Masih banyak pendapat yang 
dapat dikemukakan untuk menyanggah atau mendukungnya. Hanya saja 
menurut pendapat saya, selama kita belum menemukan naskah asli 
Sanskritnya, maka masih belum ada bukti yang kuat. Kita tidak tahu, 
bagaimana asal usul kata "akupunktur" secara pasti. Semua penjelasan 
yang ada barulah dikemukakan berdasarkan dugaan semata. Oleh karena 
itu, kita tunggu saja perkembangan selanjutnya hingga naskah-naskah 
asli tersebut ditemukan (kalau masih ada). Tetapi agar tidak salah 
paham, saya perlu kemukakan bahwa pandangan ini berdasarkan 
pandangan saya sebagai seorang scholar dan bukannya umat Buddha. Ini 
adalah metode baku dalam melakukan kritiks teks terhadap naskah-
naskah keagamaan. 
Baik sekedar sharing, berdasarkan apa yang saya baca, biasanya dalam 
menterjemahkan istilah bahasa Sanskrit ke bahasa Mandarin, para 
penterjemah akan melakukan dua hal ini:

a.Transliterasi bunyi, misalnya dari Magadha akan ditransliterasi 
menjadi Magedu, Shravasti menjadi Shiwei, dan lain sebagainya. Nah, 
saya tidak tahu mengapa istilah nama pengobatan itu malah 
diterjemahkan sebagai akupunktur (zhenjiu).

b.Melakukan terjemahan harafiah. Seperti misalnya dupa longnao (otak 
naga), Puxian (Samantabhadra) dan lain sebagainya. Kita tidak tahu 
mengapa istilah pengobatan itu tidak diterjemahkan saja secara 
harafiah.

Tentu saja kedua pertanyaan di atas dapat dianggap sebagai hal-hal 
yang mendukung bahwa sutra tersebut ditulis di Tiongkok, dan saya 
yakin bahwa akan selalu ada orang yang akan memberikan jawaban bagi 
pertanyaan tersebut. Tetapi sayang sekali, karena naskah aslinya 
tidak diketahui bunyinya, kita tidak dapat memperoleh "jawaban yang 
benar-benar pasti."

(2)Anda mengatakan: "Sebagai acuan bagaimana maksud anda? JIka bro 
beranggapan Yuanjuejing sebagai kitab karangan, mengapa masih mau 
menjadikannya sebagai acuan?

Tanggapan saya: Sekarang saya akan menjawabnya sebagai umat Buddha. 
Terlepas dari asli atau tidaknya kitab itu, saya berpendapat bahwa 
isinya sangat selaras dengan Dharma serta memberikan banyak wawasan 
baru, sehingga tentu saja saya menganggapnya sebagai "asli." Bahkan 
kalau ada kitab-kitab suci agama lain yang isinya sangat bagus, maka 
saya tidak ragu-ragu juga menganggapnya sebagai Dharma. Sebagai 
informasi, jika Anda lihat beberapa tulisan saya, maka saya sering 
mengutip dari kitab-kitab Hindu, Dao, Konfusianisme, dan bahkan 
Alkitab. Sebagai contoh, kisah orang Samaria yang baik hati dalam 
Alkitab sungguh menyentuh hati, sehingga kita boleh menganggapnya 
sebagai Dharma juga. Sebagaimana yang sudah saya ungkapkan di atas, 
pada akhirnya semua akan mengarah pada Dharmadatu.
Saya akan menentang keras orang yang menyebut sutra-sutra Mahayana 
sebagai "palsu" dengan tujuan melecehkannya. Saya akan mati-matian 
menyatakan bahwa sutra itu adalah 100% "asli." Anda paham maksud 
saya? Semoga ini tidak membingungkan.

(3)Anda mengatakan: "Saya pribadi tidak pernah merasa ragu atau 
curiga terhadap Tripitaka Sanskrit yang sudah diklasifikasikan 
dengan baik oleh para sesepuh masa lalu."

Tanggapan saya: Ya, sama! Sayapun juga tidak pernah ragu (dalam hal 
keotentikan semangat Dharmanya). Tetapi kita tetap harus membedakan 
pembahasan scholar dengan para praktisi Dharma mengenai kitab suci 
tersebut. Keduanya melakukan pendekatan terhadap kitab suci yang 
sama berdasarkan kaca mata yang berbeda. Tidak ada yang salah dengan 
keduanya. Para praktisi melakukan pendekatan "asli" - "palsu" 
berdasarkan isi, intisari, atau semangat (xin) yang terkandung di 
dalamnya. Sedangkan para scholar menelaah sutra berdasarkan bentuk 
fisiknya, dengan menggunakan metode kritik teks, hermeneutika, dan 
lain sebagainya. Semuanya benar dan sah-sah saja. Ini wajar saja, 
ilmu kedokteran saja dibagi dua: kedokteran fisik (medis) dan ilmu 
kejiwaan (psikologi). Meski keduanya berbeda tetapi ada beberapa 
poin yang saling bertemu. Jadi suatu sutra mungkin saja secara 
fisik "palsu" tetapi secara isi "asli." Ini tidak masalah bukan? 
Saya pernah baca buku Zen yang memberikan analogi bagus sekali. 
Seseorang guru seni mengajak siswanya untuk menikmati karya seni 
seorang pelukis terkenal. Siswa seni itu sangat terkagum-kagum, 
tetapi tiba-tiba guru itu mengatakan bahwa karya seni itu palsu. 
Siswa itu langsung menjadi kecewa. Tetapi sang guru 
mengatakan, "Bukankah kamu baru saja menikmati dan mengaguminya? 
Karena itu masalah "asli" dan "palsu" tidak masalah bagi seorang 
penikmat karya seni." Karena itu, kita di sini harus membedakan 
antara seorang "penikmat seni" dan "kritikus seni." Jasa 
seorang "kritikus seni" tetapi diperlukan, karena kita tidak dapat 
menipu sejarah atau ilmu pengetahuan (sains) dengan menyamakan 
karya "asli" dengan "palsu." Keduanya tetap harus dibedakan. Ini 
adalah prosedur ilmiah yang wajar. Seseorang yang hendak membeli 
karya seni juga menggunakan jasa kritikus seni untuk menentukan 
keaslian karya seni tersebut.
Karena itu, sebagai umat Buddhis saya tetap dapat menikmati sutra-
sutra Buddhis, kendati ada kenyataan bahwa sutra-sutra 
itu "palsu." "Kepalsuan" sutra tersebut tidak menggoyahkan keyakinan 
saya pada Buddhadharma.

(4)Anda mengatakan: "Sepengetahuan saya bukan Yi Jing, tapi LiaoYi 
Jing dan BuLiaoyi Jing. Atau saya salah menangkap maksud bro."

Tanggapan saya: Coba nanti saya cek lagi pada buku Origin of 
Buddhist Sutras. Berdasarkan apa yang saya baca dalam buku itu, 
sutra-sutra yang meragukan dikelompokkan tersendiri, seperti 
misalnya Yuanjuejing, dan lain sebagainya. Tetapi ada juga yang 
ditolak sama sekali dan dikategorikan pada "spurious Sutra," 
contohnya adalah Sutra of the Herbs. Nanti kapan-kapan saya bongkar-
bongkar lagi buku itu deh, karena di sana sudah dibabarkan secara 
sangat lengkap, mengenai seluk-beluk Tripitaka Tiongkok, mulai dari 
metode penterjemahan, sejarah, pengklasifikasikan, dan lain 
sebagainya.

(5)Anda mengatakan: "Ini sekedar informasi, mungkin saya bisa salah 
juga, mohon kritiknya ya.. Saya sangat setuju dengan tulisan anda 
yang mengatakan "Kita sebagai umat Buddhis hendaknya melihat dari 
semangat dan makna spiritual yang terkandung di dalamnya". Tanpa 
memiliki pendirian seperti ini alih-alih ingin mengkaji seluruh isi 
Tripitaka dengan berbagai sikap skeptis, maka sampai matipun kita 
tidak akan menemukan jawabannya dan hasilnya adalah mati konyol 
seperti kasus orang yang kena panah beracun tanpa mau berobat."

Tanggapan saya: Benar sekali, karena itu semuanya harus seimbang. 
Melekat secara dogmatisme pada kitab suci juga tidak baik. Kita 
melihat bahwa sejarah Abad Pertengahan dipenuhi oleh kemunduran ilmu 
pengetahuan karena orang terlalu melekat pada kitab suci. Sebagai 
informasi ada buku yang cukup bagus, judulnya dalam bahasa 
Indonesia: Batas Nalar: Rasionalitas dan Perilaku Manusia (Within 
Reason: Rationality and Human Behaviour), karya Donald B. Calne. 
Isinya mengajarkan bahwa hanya berpedoman pada rasio saja adalah 
sesuatu yang keliru dan sebaliknya bersikap antinalar adalah juga 
sesuatu yang salah.

(6)Anda mengatakan: Ah masak tidak pernah? Siapa tahu 2000 tahun 
yang lalu ada perjual belikan. 1000 tahun kemudian ada larangan dan 
jadi tradisi, maka kesannya ya tradisi itu sejak 2000 tahun lalu. 
Ah..ga tahu lah hehe.

Tanggapan saya: Ya, Anda masih belum dapat memberikan bukti kuat 
bahwa penggunaan peti mati merupakan sesuatu yang populer di India 
pada masa itu. Sebagai informasi, suatu karya sastra pasti 
mencerminkan budaya dan tradisi yang dianut oleh masyarakat di 
sekeliling pengarang. Begitu pula halnya dengan kitab suci. Jadi, 
tidak mungkin Fanwanjing menyebut mengenai peti mati, bila hal itu 
bukan sesuatu yang populer di zamannya.
Bila Anda melihat website:
 
http://www.walkdenhighschool.org.uk/Departmental/ReligiousStudies/Hin
duism/Hindufuneralrites.pdf#search='Hindu%20Funeral%20Rites'.

Maka dengan jelas disebutkan: When a Hindu person dies, family 
members of the same sex first wash then wrap the body in a cotton 
shroud (terjemahan: Jika seorang Hindu meninggal, maka seoraeng 
anggota keluarga berjenis kelamin sama akan membungkus mayat itu 
dengan kain pembungkus mayat yang terbuat dari katun). Jadi jelas 
sekali penggunaan peti mati tidak dikenal dalam tradisi India.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

(7)Anda mengatakan: "Kalo anda adalah pedagang ya tidak buruk. 
Masalahnya sila ini diterapkan bagi seorang praktisi/bhiksu. Tentu 
ada tujuan lain yang lebih penting lagi."

Tanggapan saya: Kalau seorang bhikshu jelas ia tidak boleh berjualan 
apa saja. Jangankan berjualan peti mati, berjualan nasi pecel saja 
ia tidak layak. Lalu mengapa yang disebutkan hanya peti mati, 
mengapa tidak sekalian nasi pecel, rujak cingur, atau tahu petis? 
Bukankah kalau kita melihat bhikshu-bhikshu kita membuka kedai kaki 
lima, maka kita juga akan merasa malu? Ini sudah masuk kajian dari 
masalah moral atau etika.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

(8)Anda mengatakan: "Alasan kedua adalah: Kalo kita perhatikan 
Vinaya yang diterapkan oleh sang Buddha, biasanya adalah munculnya 
sebuah kasus terlebih dahulu (seorang bhikkhu berbuat hal2 yang 
bertentangan dengan kepentingan praktik spiritualnya), maka Sila 
baru ditetapkan. Dengan kata lain, sebuah sila tidak akan ditetapkan 
oleh sang Buddha sebelum adanya kasus."

Tanggapan saya: Selama Anda masih belum bisa memberikan kasusnya 
secara konkrit maka pertanyaan ini masih terbuka. Lagipula, saya 
telah memberikan bukti di atas, bahwa peti mati bukan merupakan 
sesuatu yang umum di India, khususnya tradisi Hindu. Lalu, jika 
bukan merupakan sesuatu yang umum, bagaimana mungkin dapat terjadi 
pelanggaran sila? Diskusi kita sedari awalnya hendak membicarakan 
apakah benar bahwa Fanwanjing adalah produk Buddhisme Tiongkok. 
Sebagaimana yang telah saya katakan di atas, suatu literatur pasti 
mencerminkan budaya, tradisi, dan kebiasaan masyarakat tempat karya 
sastra itu dihasilkan (ini salah satu manfaat mempelajari 
kesusasteraan, sebagaimana yang dulu pernah saya dapat di SMP). 
Anda boleh saja mengatakan bahwa itu hanya penyesuaian kata dalam 
penterjemahan. Tetapi agar argumen Anda ini kuat secara ilmiah, Anda 
harus memberikan bukti mengenai bahasa aslinya. Namun, karena bahasa 
aslinya juga belum dapat ditemukan, maka sekali lagi kasus ini masih 
terbuka. Masing-masing orang masih boleh memberikan pendapatnya. 
Bila kita sudah memasuki kajian ilmiah, maka yang diperlukan adalah 
bukti untuk memperkuat argumen kita.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

(9)Anda mengatakan: "Di sini saya menangkap pertanyaan bro ada 2 
jalur, entah yang mana yang anda maksudkan, tapi saya akan 
menganggap kedua2nya adalah maksud pertayaan anda: 1. apakah metode 
ini selaras dengan ajaran dharma? 2. bukankah ciamsie adlah barang 
produk China, kok ada di Sutra?"

Tanggapan saya: Kalau pertanyaan saya sebenarnya lebih ke arah yang 
kedua, karena itu merupakan pertanyaan dari segi scholar. Karena 
masalah budaya sekitar merupakan tradisi penentu bagi penulisan 
karya sastra. Sedangkan pertanyaan apakah metode ini selaras dengan 
Dharma, merupakan sesuatu yang sulit. Tentu saja Buddha tidak pernah 
mengajarkan penarikan ciamsie. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, 
bila menghadapi sesuatu yang meragukan, saya masih menggunakan 
metode bertanya dengan uang logam, Yijing, metode "Bagua," atau 
kartu. Mungkin ini agak menggelikan, tetapi bila kita sedang 
terdesak cara semacam ini cukup membantu secara psikologis. Kendati 
saya terkadang menggunakan cara ini, saya tidak menyarankan Anda 
untuk mengikutinya.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

(10)Anda mengatakan: "Jawabannya dapat dibaca dalam Sutra itu 
sendiri. Dalam sutra itu sudah menjelaskan tujuannya. Mengenai cara 
yang digunakan itu bersifat relative, asalkan dapat mengarah pada 
terkikisnya noda batin, maka dia selaras degnan dharma."

Tanggapan saya: Ya benar sekali saya setuju. Metode atau tradisi 
apapun hendaknya bermanfaat bagi masyarakat atau umat manusia, agar 
dapat disebut berguna (positif).

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

(11)Anda mengatakan: "Tapi saya akan beri informasi lagi bahwa dalam 
kitab ZanchaShanErYeBaoJing terjemahan Putideng (BodhiDipa?) juga 
terdapat metode penarikan Ciamsie, di mana diajarkan cara2 membuat 
ciamsie dengan bentuk yang tidak seperti yang umum kita lihat, 
melainkan berbentuk sepotong kayu persegi panjang kecil di kedua 
ujungnya diruncingkan seperti pensil pendek berbentuk persegi."

Tanggapan saya: Saya belum pernah dengar ada sutra dengan judul itu. 
Tetapi kalaupun Anda masih dapat dipertanyakan di manakah sutra itu 
dikarang. Memang sutra yang cukup menarik. Apakah Anda dapat 
menguraikan lebih jauh mengenai metode ini, karena saya saat ini 
sedang membuat karangan mengenai ritual-ritual rejeki dalam 
Buddhisme. Tentu saja ini sangat cocok dan bisa dimasukkan ke 
dalamnya. Semoga Anda tidak keberatan untuk menguraikannya secara 
lebih terperinci. Kalau ada gambar dan juga mantra-mantranya. Terima 
kasih banyak sebelumnya.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

(12)Anda mengatakan: "Kita tidak tahu apakah di India ada ciamsie 
atau tidak. Bisa saja ada dalam bentuk yang agak berbeda dan cara 
berbeda namun merupakan satu hal yang sama."

Tanggapan saya: Ya, kembali lagi yang kita perlukan adalah bukti 
konkrit, Bro. Jika benar di India ada ciamsie. Apakah buktinya?

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

(13)Anda mengatakan: "Jika berbicara tentang tradisi yang ada di 
China dan India, ini mengingatkan saya pada sejarah kungfu 
shaolin......."

Tanggapan saya: Berdasarkan sejarah kungfu Shaolin yang pernah saya 
baca, Damo Dashi (Bodhidharma) justru menciptakan jurus2 kungfu ini 
selama Beliau bermukim di Gunung Shaolin dengan menirukan gerakan-
gerakan hewan. Tetapi apakah benar diciptakan oleh Bodhidharma? Kita 
tidak tahu. Jadi wajar saja kalau tidak ditemukan di India.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

(14)Anda mengatakan: "Jawaban Opsi lain lagi adalah: FAnwangjing 
itu  dibabarkan oleh Samboghakaya-Nya Sakyamuni yang bernama LuShiNa 
di Lianhuazang shejie (padma-garbha loka dhatu).  Jadi bukan 
dibabarkan di jambudipa ini. ATas dasar ini, jika mempertanyakan 
masalah peti mati menjadi tidak relevan, karena bukan dibabarkan di 
India."

Tanggapan saya: Maaf, saya akan mengungkapkan dua hal sebagai 
tanggapan:

a.Pertama-tama jawaban semacam ini tidak dapat diterima dari segi 
scholar, karena orang dapat menanyakan: dimanakah letak padma-garbha 
loka dhatu. Apakah tempat itu benar-benar ada secara geografis? Bila 
tempat itu tidak dapat dibuktikan maka argumen Anda tidak dapat 
diterima. Argumen semacam ini akan ditertawakan oleh kaum skeptis, 
sebagaimana halnya saya juga mentertawakan argumen seperti ini yang 
dikemukakan oleh penganut agama lain. Kalau kita hendak berdiskusi 
ilmiah, maka argumen yang diajukan juga hendaknya bersifat ilmiah 
pula? Maaf, ini terpaksa saya ungkapkan agar kita tidak terjebak hal 
yang sama bila berdialog dengan umat agama lain.

b.Kedua, anggaplah bahwa tempat atau dunia itu benar-benar ada. 
Apakah di Tanah Murni seperti itu, masih ada kematian, sehingga 
seseorang masih harus berjual beli peti mati?

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Saya kira sekian dulu. Mohon maaf kalau ada kata yang salah.


Metta,

Tan

--- In [email protected], "ching ik/ djoni" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> dear, bro Tan
> 
> Ini tanggapan saya
> 
> 
> Tan:
>  Saya kira sampai di sini cukup dulu ulasan saya mengenai hubungan
> bhikkhu dan umat awam, saya tidak perlu menanggapi lagi bagian
> lainnya, karena pandangan dan pokok pikiran saya telah cukup saya
> tuangkan pada posting-posting terdahulu.
> 
> Cg ik:
> Ya...saya kira sudah cukup juga pembahasan mengenai BB. 
> ----- -----------------------
> 
> (1)Anda mengatakan: "Tapi Jangan terlalu gegabah mengetuk palu
> dengnan mengatakan
> Yuanjuejing dan Fanwangjing adalah karangan orang tiongkok"
> 
> Tanggapan saya: palu tidak akan pernah bisa diketukkan sampai
> kapanpun juga.
> 
> Cg ik:
> Bro sendiri yang mengatakan "telah terbukti", ya saya jadi 
menyangka 
> bro telah memberi vonis. Memberi vonis ya identik dengan mengetuk 
> palu. Tapi penjelasan  bro yang ini sudah cukup jelas. 
> ----   ------------------------------------
> 
>  Kita sebagai umat Buddhis hendaknya
> melihat dari semangat dan makna spiritual yang terkandung di
> dalamnya. Ini perlu saya jelaskan agar tidak timbul kesalah pahaman
> bahwa saya merendahkan kitab2 tersebut. Saya masih menjadikan Sutra
> Shurangama dan Yuanjuejing sebagai acuan. Bahkan saya sudah
> menterjemahkan Sutra Yuanjuejing.
> 
> Cg ik:
> Sebagai acuan bagaimana maksud anda? JIka bro beranggapan 
> Yuanjuejing sebagai kitab karangan, mengapa masih mau 
menjadikannya 
> sebagai acuan? Jadi saya tidak mengerti maksud acuan yang bro 
> katakan. Mohon penjelasannya ya. Saya pribadi tidak pernah merasa 
> ragu atau curiga terhadap Tripitaka Sanskrit yang sudah 
> diklasifikasikan dengan baik oleh para sesepuh masa lalu. Tapi 
sikap 
> tidak ragu ini Cuma pandangan pribadi. Jangan menghiraukan 
pandangan 
> saya ini ya hehe..
> 
> Saya sudah mendapatkan buku Shuranggama Sutra edisi bahasa 
Indonesia 
> jilid 2 hasil edit dari bro Tan. Mohon terima penghormatan sebagai 
> tanda kekaguman saya pada kerja keras bro yang satu ini. 
Shuranggama 
> Sutra sudah saya baca dalam versi mandarin dan versi bahasa 
mandarin 
> sehari harinya. Sungguh sutra yang luar biasa…namun sulit 
diterapkan…
> maklumlah, saya masih ingusan sih..hehe..
> 
> -------- --------------
> 
> Sutra "palsu" tetapi "asli"
> dikategorikan dalam golongan Yi jing. Sutra Penerangan Sempurna
> termasuk golongan ini dan disebut Yuanjue siutuoluo yijing. Ini
> merupakan kajian dan diskusi yang sangat menarik. Saya senang 
diskusi
> dan pembahasan semacam ini
> 
> Cg ik:
> Sepengetahuan saya bukan Yi Jing, tapi LiaoYi Jing dan BuLiaoyi 
> Jing. Atau saya salah menangkap maksud bro. Tapi pengkategorian 
> semacam ini setahu saya tidak berhubungan dengan masalah 
> sutra "asli" atau "palsu". Melainkan untuk mengkategorikan mana 
yang 
> merupakan ajaran penembusan dan mana yang tidak. Contohnya Sutra 
> Shishangyedaojing (Sutra yang dibabarkan sang Buddha kepada raja 
> naga tentang 10 perbuatan baik). Penerapan ajaran ini hanya dapat 
> membuat terlahir di alam surga, tapi tidak dapat mencapai 
> pembebasan, maka dia disebut ajaran yang buliaoyi. Jadi Buliaoyi 
> boleh dikatakan sebagai ajaran bersifat Fangbian (upaya kausalya). 
> Sedangkan Yuanjuejing, Shuranggama, Huayen ya termasuk yang Liao 
Yi. 
> Namun masalah Liao Yi dan Buliaoyi sarat dengan makna filosofis, 
> sehingga ada yang menjelaskan bahwa bila Sutra A dapat memberi 
> manfaat pada anda, maka dia termasuk LiaoYi, demikian juga 
> sebaliknya maka dia disebut BuLiaoyi.  
> Kalo pengklasifikasian yang saya maksudkan adalah benar2 
> diklasifikasikan dalam Chinese Tripitaka. Salah satu tujuan 
> pengumpulan kitab suci Buddha menjadi sebuah Dazangjing 
(Tripitika) 
> di China pada masa lalu adalah agar tidak terjadi percampuran 
antara 
> Sutra asli dan palsu. Hal ini pertama kali dilakukan oleh bhiksu 
> DaoAn pada masa dinasti Jin timur, dengan karyanya yang berjudul 
> ZongliZongjingmulu (daftar isi kumpulan sutra). Kitab ini memuat 
> semua daftar judul Sutra,Vinaya, Abhidharma yang telah 
diterjemahkan 
> ke dalam bahasa mandarin.  Dan di dalam pengklasifikasiannya, 
beliau 
> juga menemukan beberapa kitab yang dicurigai merupakan kitab 
> karangan/palsu (26 judul yang terdiri dari 30 jilid). Setelah masa 
> beliau, berbagai kitab tentang daftar isi kumpulan Tripitaka 
semakin 
> marak disusun oleh para bhiksu. Seiring dengan berjalannya waktu 
> semakin banyak pula muncul kitab2 baru yang dicurigai palsu, dan 
> dalam tugas penyusunan daftar isi Sutra2, para bhiksu pun  telah 
> mengklasifikasikannya secara sistematis. Jadi yang saya maksudkan 
> adalah demikian. Tapi Bagaimanapun juga tetap saja ada yang 
> meragukan beberapa sutra yang meskipun sudah diklasifikasikan ke 
> dalam divisi asli. (seperti yang bro katakana: seribu orang punya 
> seribu kepala)    
>   Ini sekedar informasi, mungkin saya bisa salah juga, mohon 
> kritiknya ya..
> Saya sangat setuju dengan tulisan anda yang mengatakan "Kita 
sebagai 
> umat Buddhis hendaknya
> melihat dari semangat dan makna spiritual yang terkandung di
> dalamnya". Tanpa memiliki pendirian seperti ini alih-alih ingin 
> mengkaji seluruh isi Tripitaka dengan berbagai sikap skeptis, maka 
> sampai matipun kita tidak akan menemukan jawabannya dan hasilnya 
> adalah mati konyol seperti kasus orang yang kena panah beracun 
tanpa 
> mau berobat. 
> 
> -----------   -------------
> 
> 
> . Apakah Anda punya buku-buku karya Prof.
> Nan huaijin?
> 
> Cg ik: 
> Cuma ada yang mandarin. Buku beliau juga telah diterjemahkan dalam 
> bahasa Inggris. Coba cari deh di search engine dengan kata kunci :
> Nan Huai Chin. Akan ditemukan profil dan daftar buku karyanya. 
> 
> 
> --------- --------------
> 
> 
> Yang saya ketahui dari tradisi India, biasanya papan
> penaruh mayat semacam itu tidak pernah diperjual-belikan dan baru
> dipersiapkan setelah seseorang meninggal. Jadi nuansa kitab itu kok
> tetap bersifat "Tiongkok" ya?
> 
> Cg ik: 
> Ah masak tidak pernah? Siapa tahu 2000 tahun yang lalu ada perjual 
> belikan. 1000 tahun kemudian ada larangan dan jadi tradisi, maka 
> kesannya ya tradisi itu sejak 2000 tahun lalu. Ah..ga tahu lah 
hehe.
>  
> ----------   ---------
> 
> Lalu pertanyaan berikutnya, mengapa
> berjualan peti mati dianggap buruk? Bukankah kalau tidak ada peti
> mati orang juga akan kerepotan? Mau ditaruh di mana 
mayatnya? ...... 
> Saya tidak melihat adanya pesan moral dalam larangan ini
>  
> Cg ik:  
> Kalo anda adalah pedagang ya tidak buruk. Masalahnya sila ini 
> diterapkan bagi seorang praktisi/bhiksu. Tentu ada tujuan lain 
yang 
> lebih penting lagi. 
> Alasan kedua adalah: Kalo kita perhatikan Vinaya yang diterapkan 
> oleh sang Buddha, biasanya adalah munculnya sebuah kasus terlebih 
> dahulu (seorang bhikkhu berbuat hal2 yang bertentangan dengan 
> kepentingan praktik spiritualnya), maka Sila baru ditetapkan. 
Dengan 
> kata lain, sebuah sila tidak akan ditetapkan oleh sang Buddha 
> sebelum adanya kasus. Jadi bisa saja sila larangan menjual peti 
mati 
> baru ada setelah adanya kasus demikian. Dan kasusnya seperti apa, 
> kita belum tahu (karena kekurangan bahan referensi), namun yang 
> jelas sila itu ada setelah adanya kasus. Mengenai mengapa harus 
> menetapkan sila setelah adanya kasus, tentu ini pembahasan 
> tersendiri lagi. Saya tidak berkompeten membicarakan tentang sila 
> yang begitu banyak. Mungkin bisa ditanyakan pada para bhikkhu yang 
> mempraktikkannya langsung.  
> 
> ----------   -------------------
> (4)Anda mengatakan: "Suranggama juga oleh para peneliti 
professional
> dan para ahli dari
> barat juga ikut2an mengatakan sebagai Sutra karangan orang 
tiongkok.
> Akhirnya ditemukan teks sanskritnya, maka polemiknya pun reda 
dengan
> sendiri.
> 
> Tanggapan saya: Mana ada teks Sanskritnya? Kok saya tidak pernah
> dengar? Kalau Sutra Shuramgamasamadhi memang dianggap "asli." 
Tetapi
> ini beda dengan Sutra Shuramgama (Lengyanjing). Mohon informasi
> selengkapnya.
> 
> 
> Cg ik: 
> 
> Ya. Maaf saya salah memberi informasi. Yang ada teks sanskritnya 
> memang Shuranggama Samadhi terjemahan Kumarajiva. , bukan 
> Shuranggama. Katanya Shuranggama Samadhi Sutra  ditemukan potongan 
> teks sanskritnya di wilayah Xinjiang. Sekali lagi maaf atas 
> kesalahan saya. Huh hampir saja……  
> 
> --------  -------------
> 
> 5)Anda mengatakan: "Reputasi pencapaian spiritual beliau sudah 
tidak
> diragukan lagi, apakah hanya bebarapa kalimat dari scholar barat 
yang
> meragukannya lalu meluluh lantakkan keabsahan sutra itu?
> 
> Tanggapan saya: O tentu tidak! Bagi saya "asli" atau "tidak asli"
> menurut kriteria Barat tidak ada hubungannya dengan "keaslian"
> kualitas spiritual sutra itu. Jadi dalam berbicara mengenai sutra,
> saya harus jelas posisi saya, sebagai umat Buddha atau scholar.
> Sebagai scholar dan ilmuwan saya menerima metodologi kritik teks
> Barat, tetapi sebagai umat Buddhis saya tetap meyakini isinya
> sebagai "asli." Ini pandangan saya.
> 
> Cg ik:
> 
> Tanggapan yang sangat memuaskan. Setuju. Setuju. 
> 
> ---------- -------------
> 
> 
>    (6)O ya apakah Anda mengetahui bahwa di dalam Yuanjuejing 
terdapat
> metode penentuan metode latihan dengan menggunakan semacam 
penarikan
> ciamsie? Bagaimana pendapat Anda mengenai hal ini?
> 
> 
> Cg ik:
> Di sini saya menangkap pertanyaan bro ada 2 jalur, entah yang mana 
> yang anda maksudkan, tapi saya akan menganggap kedua2nya adalah 
> maksud pertayaan anda: 1. apakah metode ini selaras dengan ajaran 
> dharma? 2. bukankah ciamsie adlah barang produk China, kok ada 
> diSutra? 
> 
> Pendapat 1: Jawabannya dapat dibaca dalam Sutra itu sendiri. Dalam 
> sutra itu sudah menjelaskan tujuannya. Mengenai cara yang 
digunakan 
> itu bersifat relative, asalkan dapat mengarah pada terkikisnya 
noda 
> batin, maka dia selaras degnan dharma. 
> 
> Pendapat 2: Kesannya ciamsie itu hanya ada dalam tradisi bangsa 
> China ya? Kok Yuanjuejing ada istilah ini,  saya juga bertanya2 
> dalam hati. Tapi saya akan beri informasi lagi bahwa dalam kitab 
> ZanchaShanErYeBaoJing terjemahan Putideng (BodhiDipa?) juga 
terdapat 
> metode penarikan Ciamsie, di mana diajarkan cara2 membuat ciamsie 
> dengan bentuk yang tidak seperti yang umum kita lihat, melainkan 
> berbentuk sepotong kayu persegi panjang kecil di kedua ujungnya 
> diruncingkan seperti pensil pendek berbentuk persegi. Metode ini 
> sangat berbeda dengan ciamsie yang kita lihat. Ini adalah sebuah 
> metode yang diajarkan bodhisattva Ksitigarbha. Di Taiwan sekarang 
> juga ada jual alat ciamsie ini yang dibuat berdasarkan ajaran 
sutra 
> ini. Saya baca di berbagai forum Buddhis Taiwan, banyak yang 
> mengatakan ciamsie ini sangat bagus, namun praktiknya tidak 
> sederhana, harus tulus melafal nama Tichangwan sebanyak 10000 
kali, 
> baru dapat menjalankan ciamsienya. 
> 
> Kita tidak tahu apakah di India ada ciamsie atau tidak. Bisa saja 
> ada dalam bentuk yang agak berbeda dan cara berbeda namun 
merupakan 
> satu hal yang sama. 
> Jika berbicara tentang tradisi yang ada di China dan India, ini 
> mengingatkan saya pada sejarah kungfu shaolin. Sampai sekarang 
orang 
> pun tidak dapat memastikan asal usul kungfu shaolin. Pandangan 
yang 
> paling umum adalah Kungfu Shaolin berasal dari Bodhidharma. Tapi 
> jika berasal dari Bodhidharma, mengapa tidak dapat ditemukan 
akarnya 
> dari India? Lalu ada yang mengatakan berasal dari Buddhabadra 
> pendiri kuil shaolin. Beliau juga merupakan orang India, mengapa 
> tidak ditemukan akar metode kungfu ini di India? Di India juga ada 
> berbagai jenis ilmu bela diri, namun sangat berbeda dengan gaya 
> kungfu Shaolin. 
> 
> Mari kita hubungkan hal hal ini:
> 1.    Kungfu Shaolin (China) diyakini berasal dari Bodhidharma 
> (India), namun tidak ditemukan jenis bela diri ini di India.
> 2.    Ciamsie muncul dalam Sutra Buddha (baca: India), namun tidak 
> ditemukan Ciamsie di India
> 3.    Agama Buddha (China) berasal dari India, namun agama Buddha 
> telah lenyap dari India (pd abad 12?) 
> 4.    Sutra Sanskrit (di China) berasal dari India, namun sisa-
> sisa peninggalannya tidak ditemukan lagi di India. 
> 
> Pendapat pribadi saya, ciamsie mungkin sangat jarang digunakan di 
> India (hingga cepat lenyap) dan bisa saja bentuk dan metodenya 
> sangat berbeda dengan yang ada di China. Cuma menerka-nerka. Kalo 
> salah, mohon diluruskan ya..
> 
>  --------------- ------------------------
> 
> 
> (tambahan)
> TAN:
> 
> Maaf, saya masih belum dapat berkomentar apa-apa, karena saya belum
> membaca mengenai Sutra Youxingjing tersebut. Kalau Bro. ada bahasa
> Inggrisnya, apakah saya dapat meminjamnya. Untuk memberikan 
komentar
> lebih jauh saya harus menelaahnya secara keseluruhan.
> 
> Cg ik:
> Sori, gak punya. Saya Cuma lihat yang versi mandarin. 
> 
> 
> --------------  --------------------------
> 
> TAN:
> 
> Ya, sebagaimana yang sudah saya katakan pada posting terdahulu,
> memang benar bahwa kita dapat memberikan bukti yang menguatkan dan
> tidak menguatkan. Tetapi bukankah penggunaan peti mati tetap bukan
> merupakan sesuatu yang populer di India? Adanya sila tersebut dalam
> Fanwanjing mengindikasikan bahwa hal itu merupakan suatu praktek 
yang
> tersebar luas. Bila tidak, mengapa perlu dikeluarkan sila semacam 
> itu?
> 
> Cg ik: 
> 
>     Sila hanya ditetapkan oleh sang Buddha bila ada kasus yang 
> terjadi. Jadi tidak ada hubungan dengan masalah peti mati itu 
> popouler atau tidak. Mengenai apa kasusnya dan siapa orangnya, 
> mungkin catatannya hilang, kita tidak tahu. Jawaban Opsi lain lagi 
> adalah:  FAnwangjing itu  dibabarkan oleh Samboghakaya-Nya 
Sakyamuni 
> yang bernama LuShiNa di Lianhuazang shejie (padma-garbha loka 
> dhatu).  Jadi bukan dibabarkan di jambudipa ini. ATas dasar ini, 
> jika mempertanyakan masalah peti mati menjadi tidak relevan, 
karena 
> bukan dibabarkan di India.      
> 
> 
> ----------  ------------------
> 
> TAN:
> ... Mungkin saja semua ini hanya masalah istilah. Tetapi saya 
tidak 
> dapat berkomentar panjang lebar
> karena saya belum baca Dharmapada versi Sanskrit (Gandhari?). 
Selain
> itu kita juga harus mengetahui apakah istilah sanskrit aslinya,
> sehingga diterjemahkan sebagai YuyaoZhenjiu. Tanpa mengetahui 
naskah
> aslinya, apa yang Anda ungkapkan di atas itu hanya sekedar dugaan
> saja. Lagipula kalau diartikan sebagai pengobatan alternatif, 
apakah
> tidak ada istilah lain? Mengapa tidak terjemahkan saja dengan kata
> pengobatan dalam artian umum? Tanpa menyertakan kata Zhenjiu yang
> berarti akupunktur?
> Meskipun uraian Anda sangat masuk akal, tetapi karena saya belum
> mengetahui apa kata asli Sanskritnya, maka saya anggap kasus ini
> masih terbuka. Setiap orang berhak memberikan interpretasinya 
masing-
> masing.
> 
> Cg ik:
> Ya, saya juga tidak menganggapnya sudah pasti 100 %. Memang benar 
> hanya dengan adanya kitab asli kita baru dapat tahu hal yang 
> sebenarnya. 
> Btw, sikap kritis anda memang layak diacungin jempol, pantasan 
anda 
> adalah seorang sarjana lulusan luar negeri. Kalo Saya mah..Cuma 
> sebagai pemberi informasi. Hehe
>   Jika berbicara tentang sumbangsih terhadap Buddha dharma, saya 
> masih nol, dan anda sudah kesekian sekiannya. 
> 
>  Salam hormat.
> 
> 
> Amitofo
> 
> Cg ik
>







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke