Amitofo Bro Tan yang bajik, Langsung aja ya
Bro Tan: ¡..jadi saya tidak mengatakan "telah terbukti." Cg ik: o¡.lagi lagi salah saya ya..hehe..sori, kurang cermat.. -------------------- ------------------------------------ Bro Tan: Baik sekedar sharing, berdasarkan apa yang saya baca, biasanya dalam menterjemahkan istilah bahasa Sanskrit ke bahasa Mandarin, para penterjemah akan melakukan dua hal ini: a.Transliterasi bunyi, misalnya dari Magadha akan ditransliterasi menjadi Magedu, Shravasti menjadi Shiwei, dan lain sebagainya. Nah, saya tidak tahu mengapa istilah nama pengobatan itu malah diterjemahkan sebagai akupunktur (zhenjiu). b.Melakukan terjemahan harafiah. Seperti misalnya dupa longnao (otak naga), Puxian (Samantabhadra) dan lain sebagainya. Kita tidak tahu mengapa istilah pengobatan itu tidak diterjemahkan saja secara harafiah. Tentu saja kedua pertanyaan di atas dapat dianggap sebagai hal-hal yang mendukung bahwa sutra tersebut ditulis di Tiongkok, dan saya yakin bahwa akan selalu ada orang yang akan memberikan jawaban bagi pertanyaan tersebut. Tetapi sayang sekali, karena naskah aslinya tidak diketahui bunyinya, kita tidak dapat memperoleh "jawaban yang benar-benar pasti." Cg ik: Jika hanya ada dua ketentuan penerjemahan seperti yang anda sebutkan di atas, maka memang benar bahwa kedua pertanyaan di atas dapat dianggap sebagai hal-hal yang mendukung bahwa sutra YuanJuejing ditulis di Tiongkok. Tetapi pada kenyataannya, kriteria atau kaidah- kaidah dalam menerjemahkan kitab suci sanskrit yang ditetapkan oleh para penerjemah tidak memberikan patokan hanya pada kedua ketentuan seperti yang anda sebutkan. Dengan kata lain, ada ketentuan lainnya lagi. Sebagai contoh, bhiksu ZanNing (masa dinasti Song) dalam kitabnya yang berjudul SongGaoShengZuan (Kisah sesepuh agung edisi Dinasti Song), beliau mencatat bahwa pada masa dinasti Tang, tugas penerjemahan kitab suci terbentuk dalam satu tim yang terdiri atas beberapa jabatan: 1. YiZhu (Kepala penerjemah). Umumnya kepala penerjemah adalah seorang bhiksu yang membawa kitab suci Sanskrit dari luar. 2. BiShou (Pencatat). Tugasnya adalah menuliskan kata2 mandarin yang telah diterjemahkan dari bahasa Sanskrit. Umumnya dijabat oleh orang mengerti bahasa Sanskrit dan mandarin, sekaligus menguasai ajaran dari aliran sunyata (madyamika) dan yogachara. 3. Duyu,Yiyu (penerjemah bahasa). Ini boleh dikatakan sebagai penerjemah ke 2. Tugas yang diemban oleh orang ini adalah saat sang kepala penerjemah tidak mengerti istilah mandarin, maka dia-lah yang akan membantu kepala penerjemah untuk menerjemahkannya. Jadi penerjemah bantu ini bisa lebih dari satu orang. 4. ZhenFanBen (Pemeriksa kitab Sanskrit). Tugasnya adalah memeriksa kembali apakah kata2 yang telah diterjemahkan sesuai dengan arti yang sesungguhnya dalam bhs.sanskrit. 5. Runwen (pemolesan gaya bahasa). Tugasnya adalah menata kembali kalimat yang telah diterjemahkan menjadi gaya bahasa yang indah dan enak dibaca. 6. ZhenWen (Pemeriksaan makna). Tugasnya adlah memerika apakah argumentasi yang diekspresikan oleh bahasa yang telah diterjemahakan mengalami kesalahan atau tidak. 7. FanBai (Sanskrit Chanting) 8. Jiaokan (periksa ulang dengan membandingkan kitab asli dan kitab terjemahan) 9. JianHuDashi (Utusan Pengawas dari kerajaan). Utusan ini juga bertugas membacakan kitab yang baru selesai diterjemahkan. Selain itu juga ada tugas pemeriksaan apakah teori meditasi yang telah diterjemahkan itu sesuai dengan arti dari kitab asli. Kemudian tugas pemeriksaan transliterasi bunyi apakah telah sesuai dengan pelafalan Sanskrit. Di sini ada satu point penting yang sangat memberi peluang/ kemungkinan terhadap munculnya istilah-istilah baru yang tidak dikenal dalam bahasa Sanskrit. Yaitu jabatan bagian ke 5: Runwen (Pemolesan gaya bahasa). Kaidah penerjemahan kitab suci sanskrit dalam tim ini tidak hanya dicatat dalam SongGaoShengZuan. Dan perlu diketahui bahwa apa yang dicatat oleh kitab ini hanyalah garis-garis besarnya saja. Memang tidak semua kitab suci Sanskrit diterjemahkan berdasarkan kaidah2 tersebut. Sedangkan tim penerjemahan kitab suci sankrit di era dinasti Song juga terdiri atas beberapa kelompok tugas yang lebih kurang sama dengan di atas. Hal dapat dilihat di kitab FoZhuTongJi karya ZhiPan pada masa dinasti Song. Dan satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa Runwen (pemolesan gaya bahasa) juga menjadi salah satu kaidah penerjemahannya. Ini menjadi satu point yang tidak boleh diabaikan begitu saja. Saya sendiri melihatnya sebagai titik terpenting atas terjadinya penambahan kata-kata yang pada dasarnya tidak terdapat dalam teks asli Sanskrit. Hal ini dapat kita kaitkan dengan gaya penerjemahan Sutra dari beberapa penerjemah yang berbeda. Jabatan Runwen juga tercatat dalam kitab SongShi (Kitab Sejarah Song) dan juga memperkenalkan profil para pejabat ini. Orang yang dapat menduduki jabatan ini tidaklah mudah, mereka harus memahami pengetahuan Buddha dharma, confusianis dan kesusasteraan. Dalam kitab FozhuTongJi, ada kutipan yang menyebutkan bahwa penerjemahan kitab Yuanjuejing juga melalui kaidah penerjemahan yang melibatkan metode Runwen. Dari penelaahan di atas, saya menyimpulkan bahwa ada kemungkinan istilah-istilah yang tidak dikenal di dalam tradisi India muncul di dalam teks Tiongkok karena dipengaruhi oleh kaidah penerjemahan yang menggunakan sistem Runwen. Jika benar demikian maka istilah akupuntur atau peti mati dalam Yuajuejing dan fanwangjing dipengaruhi oleh adanya kaidah ini. Apakah anda setuju? Setelah bertele-tele dari barat hingga ke timur, tetap saja kembali pada kalimat dari anda , ¡°Tetapi sayang sekali, karena naskah aslinya tidak diketahui bunyinya, kita tidak dapat memperoleh "jawaban yang benar-benar pasti." Haha¡ ------------------- ----------------------- Sekarang saya akan menjawabnya sebagai umat Buddha. Terlepas dari asli atau tidaknya kitab itu, saya berpendapat bahwa isinya sangat selaras dengan Dharma serta memberikan banyak wawasan baru, sehingga tentu saja saya menganggapnya sebagai "asli." Bahkan kalau ada kitab-kitab suci agama lain yang isinya sangat bagus, maka saya tidak ragu-ragu juga menganggapnya sebagai Dharma. Sebagai informasi, jika Anda lihat beberapa tulisan saya, maka saya sering mengutip dari kitab-kitab Hindu, Dao, Konfusianisme, dan bahkan Alkitab. Sebagai contoh, kisah orang Samaria yang baik hati dalam Alkitab sungguh menyentuh hati, sehingga kita boleh menganggapnya sebagai Dharma juga. Sebagaimana yang sudah saya ungkapkan di atas, pada akhirnya semua akan mengarah pada Dharmadatu. Saya akan menentang keras orang yang menyebut sutra-sutra Mahayana sebagai "palsu" dengan tujuan melecehkannya. Saya akan mati-matian menyatakan bahwa sutra itu adalah 100% "asli." Anda paham maksud saya? Semoga ini tidak membingungkan. Cg ik: Yang satu ini kita memiliki pendirian yang hampir sama. ------------------------- ---------------------------------------- (4)Anda mengatakan: "Sepengetahuan saya bukan Yi Jing, tapi LiaoYi Jing dan BuLiaoyi Jing. Atau saya salah menangkap maksud bro." Tanggapan saya: Coba nanti saya cek lagi pada buku Origin of Buddhist Sutras. Berdasarkan apa yang saya baca dalam buku itu, sutra-sutra yang meragukan dikelompokkan tersendiri, seperti misalnya Yuanjuejing, dan lain sebagainya. Tetapi ada juga yang ditolak sama sekali dan dikategorikan pada "spurious Sutra," contohnya adalah Sutra of the Herbs. Nanti kapan-kapan saya bongkar- bongkar lagi buku itu deh, karena di sana sudah dibabarkan secara sangat lengkap, mengenai seluk-beluk Tripitaka Tiongkok, mulai dari metode penterjemahan, sejarah, pengklasifikasikan, dan lain sebagainya. Cg ik: YuanJueJing memang telah di¡±ragu¡±kan oleh beberapa orang sejak jaman dulu sehingga berimbas pada munculnya pengklasifikasian demikian. Tetapi tidak sedikit pula para sesepuh di jamannya -yang sangat menonjol reputasinya - berdiri ke depan untuk meredakan keraguan ini. Mereka tidak ragu-ragu untuk memberi ceramah dan ulasan terhadap kitab ini. Jadi ini tetap kembali pada individu2 masing2, mau menerima atau menolak, ga masalah. ---------------- -------------------------- 6. Tanggapan saya: Ya, Anda masih belum dapat memberikan bukti kuat bahwa penggunaan peti mati merupakan sesuatu yang populer di India pada masa itu. Sebagai informasi, suatu karya sastra pasti mencerminkan budaya dan tradisi yang dianut oleh masyarakat di sekeliling pengarang. Begitu pula halnya dengan kitab suci. Jadi, tidak mungkin Fanwanjing menyebut mengenai peti mati, bila hal itu bukan sesuatu yang populer di zamannya. Cg ik: Saya pribadi lebih menekankan bahwa bila sebuah kitab berbicara tentang sila (vinaya) maka tidaklah dapat ditelaah dengan mempertanyakan hal seperti ini. Seperti masalah peti mati populer atau tidak pada jamannya. Bisa saja tidak populer, lantas tiba2 ingin dipopulerkan/ diperjual belikan oleh sang siswa Buddha, maka bukankah ini menjadi memungkinkan munculnya Sila ini ? O ya, saya tidak mengatakan bahwa istilah peti mati dalam Fanwangjing adalah pasti benar. Saya sendiri berpendapat ada kemungkinan lain seperti adanya pencocokan bahasa Tiongkok. Soalnya kitab Dirghaghama Sutra yang sudah diyakini berasal dari teks Sanskrit pun terdapat istilah peti mati. Dan satu hal lagi bahwa kata Guan atau GuanChai belum tentu harus berarti Peti mati pada saat itu. Ada fakta bahwa tidak sedikit istilah jaman dulu telah bergeser maknanya dengan jaman sekarang. Contoh XiaoJie (nona), jaman dulu panggilan XiaoJie itu berkonotasi negative terhadap seorang perempuan. Tapi sekarang tidak. Kemudian istilah Si (Vihara), sebelum masuknya agama Buddha, istilah Si bukanlah berarti vihara, melainkan sebuah lembaga yang semacam departemen luar negeri. Bila ada tamu dari luar kerajaan Tiongkok, maka mereka akan ditampung di dalam lembaga ini (Si). Dan sekarang siapa bisa membantah bahwa Si adalah sebutan vihara di Tiongkok? Padahal mereka juga mengenal istilah Sangharama (ShengJiaLan), atau juga JingShi, tetapi tidak sepopuler istilah Si. Memang perumpamaan ini tidak 100% tepat dikaitkan dengan istilah Guancai (peti mati) dalam fanwangjing. Tetapi saya yakin berhubungann dengan masalah pergeseran makna, karena telah berjarak 1000 tahun lebih. Jadi ini perlu dipertimbangkan juga bukan? ------------- ----------------------- Bila Anda melihat website: http://www.walkdenhighschool.org.uk/Departmental/ReligiousStudies/Hin duism/Hindufuneralrites.pdf#search='Hindu%20Funeral%20Rites'. Maka dengan jelas disebutkan: When a Hindu person dies, family members of the same sex first wash then wrap the body in a cotton shroud (terjemahan: Jika seorang Hindu meninggal, maka seoraeng anggota keluarga berjenis kelamin sama akan membungkus mayat itu dengan kain pembungkus mayat yang terbuat dari katun). Jadi jelas sekali penggunaan peti mati tidak dikenal dalam tradisi India. Cg ik: Saya sudah jelaskan bahwa peti mati dalam fanwangjing belum tentu adalah peti mati. SEandainyapun adalah benar peti mati, maka tetap harus kita kaitkan dengan banyak Sutra lain (yang sudah diyakini berasal dari teks Sanskrit) juga terdapat istilah ini. Dengan dmeikian bisa jadi keterangan dari walkendhighschool menjadi salah. Hal-hal 2500 tahun tidaklah mudah diprediksi, bahkan yang 1000 tahun lalu pun sulit (secara umum). --------------- -------------------------- (7)Anda mengatakan: "Kalo anda adalah pedagang ya tidak buruk. Masalahnya sila ini diterapkan bagi seorang praktisi/bhiksu. Tentu ada tujuan lain yang lebih penting lagi." Tanggapan saya: Kalau seorang bhikshu jelas ia tidak boleh berjualan apa saja. Jangankan berjualan peti mati, berjualan nasi pecel saja ia tidak layak. Lalu mengapa yang disebutkan hanya peti mati, mengapa tidak sekalian nasi pecel, rujak cingur, atau tahu petis? Bukankah kalau kita melihat bhikshu-bhikshu kita membuka kedai kaki lima, maka kita juga akan merasa malu? Ini sudah masuk kajian dari masalah moral atau etika. Cg ik : Tidak hanya peti mati kok, coba baca lagi, Sila itu berbunyi : Sila ke 12, Sila Tidak berdagang. Lalu baru diikuti penjelasannya bahwa seorang siswa Buddha dengan sengaja menjualbelikan budak, hewan, kayu-kayu peti mati¡¡dstnya.. -------------------- ---------------------- (8)Anda mengatakan: "Alasan kedua adalah: Kalo kita perhatikan Vinaya yang diterapkan oleh sang Buddha, biasanya adalah munculnya sebuah kasus terlebih dahulu (seorang bhikkhu berbuat hal2 yang bertentangan dengan kepentingan praktik spiritualnya), maka Sila baru ditetapkan. Dengan kata lain, sebuah sila tidak akan ditetapkan oleh sang Buddha sebelum adanya kasus." Tanggapan saya: Selama Anda masih belum bisa memberikan kasusnya secara konkrit maka pertanyaan ini masih terbuka. Lagipula, saya telah memberikan bukti di atas, bahwa peti mati bukan merupakan sesuatu yang umum di India, khususnya tradisi Hindu. Lalu, jika bukan merupakan sesuatu yang umum, bagaimana mungkin dapat terjadi pelanggaran sila? Diskusi kita sedari awalnya hendak membicarakan apakah benar bahwa Fanwanjing adalah produk Buddhisme Tiongkok. Sebagaimana yang telah saya katakan di atas, suatu literatur pasti mencerminkan budaya, tradisi, dan kebiasaan masyarakat tempat karya sastra itu dihasilkan (ini salah satu manfaat mempelajari kesusasteraan, sebagaimana yang dulu pernah saya dapat di SMP). Anda boleh saja mengatakan bahwa itu hanya penyesuaian kata dalam penterjemahan. Tetapi agar argumen Anda ini kuat secara ilmiah, Anda harus memberikan bukti mengenai bahasa aslinya. Namun, karena bahasa aslinya juga belum dapat ditemukan, maka sekali lagi kasus ini masih terbuka. Masing-masing orang masih boleh memberikan pendapatnya. Bila kita sudah memasuki kajian ilmiah, maka yang diperlukan adalah bukti untuk memperkuat argumen kita. Cg ik: Hmm bukti, apa boleh buat kalo tidak ada bukti kita tidak bisa berbuat apa apa. ------------- ------------------------- (9)Anda mengatakan: "Di sini saya menangkap pertanyaan bro ada 2 jalur, entah yang mana yang anda maksudkan, tapi saya akan menganggap kedua2nya adalah maksud pertayaan anda: 1. apakah metode ini selaras dengan ajaran dharma? 2. bukankah ciamsie adlah barang produk China, kok ada di Sutra?" Tanggapan saya: Kalau pertanyaan saya sebenarnya lebih ke arah yang kedua, karena itu merupakan pertanyaan dari segi scholar. Karena masalah budaya sekitar merupakan tradisi penentu bagi penulisan karya sastra. Sedangkan pertanyaan apakah metode ini selaras dengan Dharma, merupakan sesuatu yang sulit. Tentu saja Buddha tidak pernah mengajarkan penarikan ciamsie. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, bila menghadapi sesuatu yang meragukan, saya masih menggunakan metode bertanya dengan uang logam, Yijing, metode "Bagua," atau kartu. Mungkin ini agak menggelikan, tetapi bila kita sedang terdesak cara semacam ini cukup membantu secara psikologis. Kendati saya terkadang menggunakan cara ini, saya tidak menyarankan Anda untuk mengikutinya. Cg ik: Tidak menggelikanlah, alat2 untuk meramalkan sesuatu itu bukan omong kosong, ada juga logika2nya. Cuma praktisi Buddhist tidak mau melekat pada alat yang bersifat temporer. Walaupun ada rumus- rumusnya, namun masih belum merupakan rumusan paling baik, masih ada kesalahan kesalahan sedikit. Lagi pula visi dan misi sebenarnya praktisi Buddhis kan bukan utk itu. Kakak saya sekarang paling antusias belajar ilmu ramal dari seorang guru Taoist (lebih tepatnya adalah penyembah dewa peramal (GuiGu)). Saya sendiri tidak tertarik sama sekali hehe¡ ---------------- +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ (11)Anda mengatakan: "Tapi saya akan beri informasi lagi bahwa dalam kitab ZanchaShanErYeBaoJing terjemahan Putideng (BodhiDipa?) juga terdapat metode penarikan Ciamsie, di mana diajarkan cara2 membuat ciamsie dengan bentuk yang tidak seperti yang umum kita lihat, melainkan berbentuk sepotong kayu persegi panjang kecil di kedua ujungnya diruncingkan seperti pensil pendek berbentuk persegi." Tanggapan saya: Saya belum pernah dengar ada sutra dengan judul itu. Tetapi kalaupun Anda masih dapat dipertanyakan di manakah sutra itu dikarang. Memang sutra yang cukup menarik. Apakah Anda dapat menguraikan lebih jauh mengenai metode ini, karena saya saat ini sedang membuat karangan mengenai ritual-ritual rejeki dalam Buddhisme. Tentu saja ini sangat cocok dan bisa dimasukkan ke dalamnya. Semoga Anda tidak keberatan untuk menguraikannya secara lebih terperinci. Kalau ada gambar dan juga mantra-mantranya. Terima kasih banyak sebelumnya. Cg ik: Wah saya jadi bingung ingin menguraikan dari mana, saya ada print buku tentang ceramah mengenai kitab ini. Cukup panjang. Edisi mandarin. Kitab ini terdapat juga dalam Tripitaka edisi Taisho no.0839. Master LianCi dan master OuYi (sesepuh mazhab Pureland), Master HongYi (praktisi Vinaya terkenal sejaman dengan Taixu, Yinguang) juga sangat menghargai kitab ini. Karena saya tidak tertarik degnan masalah ciamsi, saya jadi tidak membaca seluruhnya. Tapi sekilas saya baca, tujuannya cukup bagus. Kitab ini diawali pertanyaan seorang Bodhisatva kepada sang Buddha tentang bagaimana cara membimbing makhluk hidup di jaman akhir dharma. Sang bodhisattva mengatakan bahwa jaman akhir dharma semakin banyak orang yang tidak sanggup berlatih meditasi, tidak sanggup mencapai kesucian, maka bila mereka menemui kesulitan bagaimana upaya kausalya utk dapat membantu mereka? Lalu Buddha mempersilahkannya untuk bertanya pada Ksitigarbha (tizhangwang). Tizhangwang lalu memperkenalkan cara pembuatan ciamsi ini.Katanya untuk menentukan apakah kita telah berbuat salah atau tidak. Gambarnya nanti saya carikan, saya lupa di website mana. ----------------------------------------------- - (12)Anda mengatakan: "Kita tidak tahu apakah di India ada ciamsie atau tidak. Bisa saja ada dalam bentuk yang agak berbeda dan cara berbeda namun merupakan satu hal yang sama." Tanggapan saya: Ya, kembali lagi yang kita perlukan adalah bukti konkrit, Bro. Jika benar di India ada ciamsie. Apakah buktinya? Cg ik: Tidak tahu. Hehe.. +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ (13)Anda mengatakan: "Jika berbicara tentang tradisi yang ada di China dan India, ini mengingatkan saya pada sejarah kungfu shaolin......." Tanggapan saya: Berdasarkan sejarah kungfu Shaolin yang pernah saya baca, Damo Dashi (Bodhidharma) justru menciptakan jurus2 kungfu ini selama Beliau bermukim di Gunung Shaolin dengan menirukan gerakan- gerakan hewan. Tetapi apakah benar diciptakan oleh Bodhidharma? Kita tidak tahu. Jadi wajar saja kalau tidak ditemukan di India. Cg ik: Gerakan hewan cuma salah satu jenis ilmu bela diri Shaolin, bagaimana dengan jurus jurus lain seperti Lohan Quan, YiZhichan,dll. Ya. Memang kita tidak tahu.. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ (14)Anda mengatakan: "Jawaban Opsi lain lagi adalah: FAnwangjing itu dibabarkan oleh Samboghakaya-Nya Sakyamuni yang bernama LuShiNa di Lianhuazang shejie (padma-garbha loka dhatu). Jadi bukan dibabarkan di jambudipa ini. ATas dasar ini, jika mempertanyakan masalah peti mati menjadi tidak relevan, karena bukan dibabarkan di India." Tanggapan saya: Maaf, saya akan mengungkapkan dua hal sebagai tanggapan: a.Pertama-tama jawaban semacam ini tidak dapat diterima dari segi scholar, karena orang dapat menanyakan: dimanakah letak padma-garbha loka dhatu. Apakah tempat itu benar-benar ada secara geografis? Bila tempat itu tidak dapat dibuktikan maka argumen Anda tidak dapat diterima. Argumen semacam ini akan ditertawakan oleh kaum skeptis, sebagaimana halnya saya juga mentertawakan argumen seperti ini yang dikemukakan oleh penganut agama lain. Kalau kita hendak berdiskusi ilmiah, maka argumen yang diajukan juga hendaknya bersifat ilmiah pula? Maaf, ini terpaksa saya ungkapkan agar kita tidak terjebak hal yang sama bila berdialog dengan umat agama lain. Cg ik: Yang ingin kita kaji bukan masalah tempatnya. Jadi misalnya bila saya bilang kitab ini dibabarkan sang Buddha di Afrika atau di surga Tavatimasa, maka bukan masalah di mana Afrika itu, di mana Tavatimsa itu, apa buktinya dibabarkan di Afrika atau di Tavatimsa. Kita bukan mengkaji persoalan seperti itu. Yang kita kaji adalah kaitannya antara lokasi pembabaran dan hal2 yang dibicarakan di dalam sutra. Jadi bila di dalam Sutra mengatakan tentang Peti mati maka kita lalu mengaitkan dengan lokasi pembabaran Sutra nya tanpa bertanya di mana lokasi itu. Dengan demikian, India menjadi hal yang tidak relavan. Jika masalah lokasi yang kita pertanyakan, maka tentu itu kajian tersendiri lagi. Mudah2an mengerti maksud saya. -------------- -------------- b.Kedua, anggaplah bahwa tempat atau dunia itu benar-benar ada. Apakah di Tanah Murni seperti itu, masih ada kematian, sehingga seseorang masih harus berjual beli peti mati? Cg ik: Anda jadi beranggapan bahwa itu adalah Tanah murni saja? Tidak, jika kita baca dari awal sutra itu, maka sila itu berlaku di seluruh sistem loka dhatu manapun, dan loka dhatu itu ada yang murni dan ada yang tidak murni. Kalo yang tidak murni ya seperti jambudipa, dan masih banyak jambudipa digalaksi lain. Kemudian yang murni itu, ya otomatis tidak perlu kwatir melanggar sila itu, karena memang tidak akan lagi melanggar sila di tanah murni. Dan kalo di India tidak ada peti mati, ya juga berarti tidak perlu takut melanggar sila itu. Jadi ini menjadi prediksi tersendiri lagi. Kira2 begitu lah. Cuma kira kira aja hehe.. +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Saya kira sekian dulu. Mohon maaf kalau ada kata yang salah. Cg ik: Mohon maaf juga kalo ada yang salah. Amitofo Cg ik ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
