Amitofo

Bro Tan yang bajik, 
Langsung aja ya

Bro Tan:
¡­..jadi saya tidak mengatakan "telah terbukti."

Cg ik:
o¡­.lagi lagi salah saya ya..hehe..sori, kurang cermat..

--------------------        ------------------------------------
Bro Tan:
Baik sekedar sharing, berdasarkan apa yang saya baca, biasanya dalam
menterjemahkan istilah bahasa Sanskrit ke bahasa Mandarin, para
penterjemah akan melakukan dua hal ini:

a.Transliterasi bunyi, misalnya dari Magadha akan ditransliterasi
menjadi Magedu, Shravasti menjadi Shiwei, dan lain sebagainya. Nah,
saya tidak tahu mengapa istilah nama pengobatan itu malah
diterjemahkan sebagai akupunktur (zhenjiu).

b.Melakukan terjemahan harafiah. Seperti misalnya dupa longnao (otak
naga), Puxian (Samantabhadra) dan lain sebagainya. Kita tidak tahu
mengapa istilah pengobatan itu tidak diterjemahkan saja secara
harafiah.

Tentu saja kedua pertanyaan di atas dapat dianggap sebagai hal-hal
yang mendukung bahwa sutra tersebut ditulis di Tiongkok, dan saya
yakin bahwa akan selalu ada orang yang akan memberikan jawaban bagi
pertanyaan tersebut. Tetapi sayang sekali, karena naskah aslinya
tidak diketahui bunyinya, kita tidak dapat memperoleh "jawaban yang
benar-benar pasti."

Cg ik: 
Jika hanya ada dua ketentuan penerjemahan seperti yang anda sebutkan 
di atas, maka memang benar bahwa kedua pertanyaan di atas dapat 
dianggap sebagai hal-hal yang mendukung bahwa sutra YuanJuejing 
ditulis di Tiongkok. Tetapi pada kenyataannya, kriteria atau kaidah-
kaidah dalam menerjemahkan kitab suci sanskrit yang ditetapkan oleh 
para penerjemah tidak memberikan patokan hanya pada kedua ketentuan 
seperti yang anda sebutkan. Dengan kata lain, ada ketentuan lainnya 
lagi. Sebagai contoh, bhiksu ZanNing (masa dinasti Song) dalam 
kitabnya yang berjudul SongGaoShengZuan (Kisah sesepuh agung edisi 
Dinasti Song), beliau mencatat bahwa pada masa dinasti Tang, tugas 
penerjemahan kitab suci terbentuk dalam satu tim yang terdiri atas 
beberapa jabatan:
1.      YiZhu (Kepala penerjemah). Umumnya kepala penerjemah adalah 
seorang bhiksu  yang membawa kitab suci Sanskrit dari luar.
2.      BiShou (Pencatat). Tugasnya adalah menuliskan kata2 
mandarin yang telah diterjemahkan dari bahasa Sanskrit. Umumnya 
dijabat oleh orang mengerti bahasa Sanskrit dan mandarin, sekaligus 
menguasai ajaran dari aliran sunyata (madyamika) dan yogachara.
3.      Duyu,Yiyu (penerjemah bahasa). Ini boleh dikatakan sebagai 
penerjemah ke 2. Tugas yang diemban oleh orang ini adalah saat sang 
kepala penerjemah tidak mengerti istilah mandarin, maka dia-lah yang 
akan membantu kepala penerjemah untuk menerjemahkannya. Jadi 
penerjemah bantu ini bisa lebih dari satu orang.
4.      ZhenFanBen (Pemeriksa kitab Sanskrit). Tugasnya adalah 
memeriksa kembali apakah kata2 yang telah diterjemahkan sesuai 
dengan arti yang sesungguhnya dalam bhs.sanskrit.   
5.      Runwen (pemolesan gaya bahasa). Tugasnya adalah menata 
kembali kalimat yang telah diterjemahkan menjadi gaya bahasa yang 
indah dan enak dibaca.
6.      ZhenWen (Pemeriksaan makna). Tugasnya adlah memerika 
apakah  argumentasi yang diekspresikan oleh bahasa yang telah 
diterjemahakan mengalami kesalahan atau tidak. 
7.      FanBai (Sanskrit Chanting) 
8.      Jiaokan (periksa ulang dengan membandingkan kitab asli dan 
kitab terjemahan) 
   9. JianHuDashi (Utusan Pengawas dari kerajaan). Utusan ini juga 
bertugas membacakan kitab yang baru selesai 
diterjemahkan.              

Selain itu juga ada tugas pemeriksaan apakah teori meditasi yang 
telah diterjemahkan itu sesuai dengan arti dari kitab asli. Kemudian 
tugas pemeriksaan transliterasi bunyi apakah telah sesuai dengan 
pelafalan Sanskrit. 

Di sini ada satu point penting yang sangat memberi peluang/ 
kemungkinan terhadap munculnya istilah-istilah baru yang tidak 
dikenal dalam bahasa Sanskrit. Yaitu jabatan bagian ke 5: Runwen 
(Pemolesan gaya bahasa). Kaidah penerjemahan kitab suci sanskrit 
dalam tim ini tidak hanya dicatat dalam SongGaoShengZuan. Dan perlu 
diketahui bahwa apa yang dicatat oleh kitab ini hanyalah garis-garis 
besarnya saja. Memang tidak semua kitab suci Sanskrit diterjemahkan 
berdasarkan kaidah2 tersebut. Sedangkan tim penerjemahan kitab suci 
sankrit di era dinasti Song juga terdiri atas beberapa kelompok 
tugas yang lebih kurang sama dengan di atas. Hal dapat dilihat di 
kitab FoZhuTongJi karya ZhiPan pada masa dinasti Song. Dan satu hal 
yang perlu dicatat adalah bahwa Runwen (pemolesan gaya bahasa) juga 
menjadi salah satu kaidah penerjemahannya. Ini menjadi satu point 
yang tidak boleh diabaikan begitu saja. Saya sendiri melihatnya 
sebagai titik terpenting atas terjadinya penambahan kata-kata yang 
pada dasarnya tidak terdapat dalam teks asli Sanskrit. Hal ini dapat 
kita kaitkan dengan gaya penerjemahan Sutra dari beberapa penerjemah 
yang berbeda. 

 Jabatan Runwen juga tercatat dalam kitab SongShi (Kitab Sejarah 
Song) dan juga memperkenalkan profil para pejabat ini. Orang yang 
dapat menduduki jabatan ini tidaklah mudah, mereka harus memahami 
pengetahuan Buddha dharma, confusianis dan kesusasteraan. Dalam 
kitab FozhuTongJi, ada kutipan yang menyebutkan bahwa penerjemahan 
kitab Yuanjuejing juga melalui kaidah penerjemahan yang melibatkan 
metode Runwen.   

Dari penelaahan di atas, saya menyimpulkan bahwa ada kemungkinan 
istilah-istilah yang tidak dikenal di dalam tradisi India muncul di 
dalam teks Tiongkok karena dipengaruhi oleh kaidah penerjemahan yang 
menggunakan sistem Runwen.   Jika benar demikian maka istilah 
akupuntur atau peti mati dalam Yuajuejing dan fanwangjing 
dipengaruhi oleh adanya kaidah ini. Apakah anda setuju?  

Setelah bertele-tele dari barat hingga ke timur, tetap saja kembali 
pada kalimat dari anda , ¡°Tetapi sayang sekali, karena naskah aslinya
tidak diketahui bunyinya, kita tidak dapat memperoleh "jawaban yang
benar-benar pasti." Haha¡­


------------------- -----------------------


Sekarang saya akan menjawabnya sebagai umat Buddha.
Terlepas dari asli atau tidaknya kitab itu, saya berpendapat bahwa
isinya sangat selaras dengan Dharma serta memberikan banyak wawasan
baru, sehingga tentu saja saya menganggapnya sebagai "asli." Bahkan
kalau ada kitab-kitab suci agama lain yang isinya sangat bagus, maka
saya tidak ragu-ragu juga menganggapnya sebagai Dharma. Sebagai
informasi, jika Anda lihat beberapa tulisan saya, maka saya sering
mengutip dari kitab-kitab Hindu, Dao, Konfusianisme, dan bahkan
Alkitab. Sebagai contoh, kisah orang Samaria yang baik hati dalam
Alkitab sungguh menyentuh hati, sehingga kita boleh menganggapnya
sebagai Dharma juga. Sebagaimana yang sudah saya ungkapkan di atas,
pada akhirnya semua akan mengarah pada Dharmadatu.
Saya akan menentang keras orang yang menyebut sutra-sutra Mahayana
sebagai "palsu" dengan tujuan melecehkannya. Saya akan mati-matian
menyatakan bahwa sutra itu adalah 100% "asli." Anda paham maksud
saya? Semoga ini tidak membingungkan.

Cg ik: 
Yang satu ini kita memiliki pendirian yang hampir sama.

------------------------- ----------------------------------------

 

(4)Anda mengatakan: "Sepengetahuan saya bukan Yi Jing, tapi LiaoYi
Jing dan BuLiaoyi Jing. Atau saya salah menangkap maksud bro."

Tanggapan saya: Coba nanti saya cek lagi pada buku Origin of
Buddhist Sutras. Berdasarkan apa yang saya baca dalam buku itu,
sutra-sutra yang meragukan dikelompokkan tersendiri, seperti
misalnya Yuanjuejing, dan lain sebagainya. Tetapi ada juga yang
ditolak sama sekali dan dikategorikan pada "spurious Sutra,"
contohnya adalah Sutra of the Herbs. Nanti kapan-kapan saya bongkar-
bongkar lagi buku itu deh, karena di sana sudah dibabarkan secara
sangat lengkap, mengenai seluk-beluk Tripitaka Tiongkok, mulai dari
metode penterjemahan, sejarah, pengklasifikasikan, dan lain
sebagainya.

Cg ik:
YuanJueJing memang telah di¡±ragu¡±kan oleh beberapa orang sejak jaman 
dulu sehingga berimbas pada munculnya pengklasifikasian demikian.  
Tetapi tidak sedikit pula para sesepuh di jamannya -yang sangat 
menonjol reputasinya - berdiri ke depan untuk meredakan keraguan 
ini. Mereka tidak ragu-ragu untuk memberi ceramah dan ulasan 
terhadap kitab ini. Jadi ini tetap kembali pada individu2 masing2, 
mau menerima atau menolak, ga masalah. 

----------------  --------------------------

 6.

Tanggapan saya: Ya, Anda masih belum dapat memberikan bukti kuat
bahwa penggunaan peti mati merupakan sesuatu yang populer di India
pada masa itu. Sebagai informasi, suatu karya sastra pasti
mencerminkan budaya dan tradisi yang dianut oleh masyarakat di
sekeliling pengarang. Begitu pula halnya dengan kitab suci. Jadi,
tidak mungkin Fanwanjing menyebut mengenai peti mati, bila hal itu
bukan sesuatu yang populer di zamannya.

Cg ik:
Saya pribadi lebih menekankan bahwa bila sebuah kitab  berbicara 
tentang sila (vinaya) maka tidaklah dapat ditelaah dengan 
mempertanyakan hal seperti ini. Seperti masalah peti mati populer 
atau tidak pada jamannya. Bisa saja tidak populer, lantas tiba2 
ingin dipopulerkan/ diperjual belikan oleh sang siswa Buddha, maka 
bukankah ini menjadi memungkinkan munculnya Sila ini ?  
O ya, saya tidak mengatakan bahwa istilah peti mati dalam 
Fanwangjing adalah pasti benar. Saya sendiri berpendapat ada 
kemungkinan lain seperti adanya pencocokan bahasa Tiongkok. Soalnya 
kitab Dirghaghama Sutra yang sudah diyakini berasal dari teks 
Sanskrit pun terdapat istilah peti mati. Dan satu hal lagi bahwa 
kata Guan atau GuanChai belum tentu harus berarti Peti mati pada 
saat itu. Ada fakta bahwa tidak sedikit istilah jaman dulu telah 
bergeser maknanya dengan jaman sekarang. Contoh XiaoJie (nona), 
jaman dulu panggilan XiaoJie itu berkonotasi negative terhadap 
seorang perempuan. Tapi sekarang tidak. Kemudian istilah Si 
(Vihara), sebelum masuknya agama Buddha, istilah Si bukanlah berarti 
vihara, melainkan sebuah lembaga yang semacam departemen luar 
negeri. Bila ada tamu dari luar kerajaan Tiongkok, maka mereka akan 
ditampung di dalam lembaga ini (Si). Dan sekarang siapa bisa 
membantah bahwa Si adalah sebutan vihara di Tiongkok? Padahal mereka 
juga mengenal istilah Sangharama (ShengJiaLan), atau juga JingShi, 
tetapi tidak sepopuler istilah Si. Memang perumpamaan ini tidak 100% 
tepat dikaitkan dengan istilah Guancai (peti mati) dalam 
fanwangjing. Tetapi saya yakin berhubungann dengan masalah 
pergeseran makna, karena telah berjarak 1000 tahun lebih. Jadi ini 
perlu dipertimbangkan juga bukan?    
-------------  -----------------------

Bila Anda melihat website:

http://www.walkdenhighschool.org.uk/Departmental/ReligiousStudies/Hin
duism/Hindufuneralrites.pdf#search='Hindu%20Funeral%20Rites'.

Maka dengan jelas disebutkan: When a Hindu person dies, family
members of the same sex first wash then wrap the body in a cotton
shroud (terjemahan: Jika seorang Hindu meninggal, maka seoraeng
anggota keluarga berjenis kelamin sama akan membungkus mayat itu
dengan kain pembungkus mayat yang terbuat dari katun). Jadi jelas
sekali penggunaan peti mati tidak dikenal dalam tradisi India.
 
Cg ik:

Saya sudah jelaskan bahwa peti mati dalam fanwangjing belum tentu 
adalah peti mati. SEandainyapun adalah benar peti mati, maka tetap 
harus kita kaitkan dengan banyak Sutra lain (yang sudah diyakini 
berasal dari teks Sanskrit) juga terdapat istilah ini. Dengan 
dmeikian bisa jadi keterangan dari walkendhighschool menjadi salah. 
Hal-hal 2500 tahun tidaklah mudah diprediksi, bahkan yang 1000 tahun 
lalu pun sulit (secara umum). 

---------------  --------------------------


(7)Anda mengatakan: "Kalo anda adalah pedagang ya tidak buruk.
Masalahnya sila ini diterapkan bagi seorang praktisi/bhiksu. Tentu
ada tujuan lain yang lebih penting lagi."

Tanggapan saya: Kalau seorang bhikshu jelas ia tidak boleh berjualan
apa saja. Jangankan berjualan peti mati, berjualan nasi pecel saja
ia tidak layak. Lalu mengapa yang disebutkan hanya peti mati,
mengapa tidak sekalian nasi pecel, rujak cingur, atau tahu petis?
Bukankah kalau kita melihat bhikshu-bhikshu kita membuka kedai kaki
lima, maka kita juga akan merasa malu? Ini sudah masuk kajian dari
masalah moral atau etika.

Cg ik :

Tidak hanya peti mati kok, coba baca lagi, Sila itu berbunyi : Sila 
ke 12, Sila Tidak berdagang. Lalu baru diikuti penjelasannya bahwa 
seorang siswa Buddha dengan sengaja menjualbelikan budak, hewan, 
kayu-kayu peti mati¡­¡­dstnya..

 -------------------- ----------------------

(8)Anda mengatakan: "Alasan kedua adalah: Kalo kita perhatikan
Vinaya yang diterapkan oleh sang Buddha, biasanya adalah munculnya
sebuah kasus terlebih dahulu (seorang bhikkhu berbuat hal2 yang
bertentangan dengan kepentingan praktik spiritualnya), maka Sila
baru ditetapkan. Dengan kata lain, sebuah sila tidak akan ditetapkan
oleh sang Buddha sebelum adanya kasus."

Tanggapan saya: Selama Anda masih belum bisa memberikan kasusnya
secara konkrit maka pertanyaan ini masih terbuka. Lagipula, saya
telah memberikan bukti di atas, bahwa peti mati bukan merupakan
sesuatu yang umum di India, khususnya tradisi Hindu. Lalu, jika
bukan merupakan sesuatu yang umum, bagaimana mungkin dapat terjadi
pelanggaran sila? Diskusi kita sedari awalnya hendak membicarakan
apakah benar bahwa Fanwanjing adalah produk Buddhisme Tiongkok.
Sebagaimana yang telah saya katakan di atas, suatu literatur pasti
mencerminkan budaya, tradisi, dan kebiasaan masyarakat tempat karya
sastra itu dihasilkan (ini salah satu manfaat mempelajari
kesusasteraan, sebagaimana yang dulu pernah saya dapat di SMP).
Anda boleh saja mengatakan bahwa itu hanya penyesuaian kata dalam
penterjemahan. Tetapi agar argumen Anda ini kuat secara ilmiah, Anda
harus memberikan bukti mengenai bahasa aslinya. Namun, karena bahasa
aslinya juga belum dapat ditemukan, maka sekali lagi kasus ini masih
terbuka. Masing-masing orang masih boleh memberikan pendapatnya.
Bila kita sudah memasuki kajian ilmiah, maka yang diperlukan adalah
bukti untuk memperkuat argumen kita.

Cg ik:
Hmm bukti, apa boleh buat kalo tidak ada bukti kita tidak bisa 
berbuat apa apa. 
 
------------- -------------------------

(9)Anda mengatakan: "Di sini saya menangkap pertanyaan bro ada 2
jalur, entah yang mana yang anda maksudkan, tapi saya akan
menganggap kedua2nya adalah maksud pertayaan anda: 1. apakah metode
ini selaras dengan ajaran dharma? 2. bukankah ciamsie adlah barang
produk China, kok ada di Sutra?"

Tanggapan saya: Kalau pertanyaan saya sebenarnya lebih ke arah yang
kedua, karena itu merupakan pertanyaan dari segi scholar. Karena
masalah budaya sekitar merupakan tradisi penentu bagi penulisan
karya sastra. Sedangkan pertanyaan apakah metode ini selaras dengan
Dharma, merupakan sesuatu yang sulit. Tentu saja Buddha tidak pernah
mengajarkan penarikan ciamsie. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari,
bila menghadapi sesuatu yang meragukan, saya masih menggunakan
metode bertanya dengan uang logam, Yijing, metode "Bagua," atau
kartu. Mungkin ini agak menggelikan, tetapi bila kita sedang
terdesak cara semacam ini cukup membantu secara psikologis. Kendati
saya terkadang menggunakan cara ini, saya tidak menyarankan Anda
untuk mengikutinya.
 

Cg ik:
Tidak menggelikanlah, alat2 untuk meramalkan sesuatu itu bukan omong 
kosong, ada juga logika2nya. Cuma praktisi Buddhist tidak mau 
melekat pada alat yang bersifat temporer.  Walaupun ada rumus-
rumusnya, namun masih belum merupakan rumusan paling baik, masih ada 
kesalahan kesalahan sedikit.  Lagi pula visi dan misi sebenarnya 
praktisi Buddhis kan bukan utk itu. Kakak saya sekarang paling 
antusias belajar ilmu ramal dari seorang guru Taoist (lebih tepatnya 
adalah penyembah dewa peramal (GuiGu)). Saya sendiri tidak tertarik 
sama sekali hehe¡­ 


----------------

 

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

(11)Anda mengatakan: "Tapi saya akan beri informasi lagi bahwa dalam
kitab ZanchaShanErYeBaoJing terjemahan Putideng (BodhiDipa?) juga
terdapat metode penarikan Ciamsie, di mana diajarkan cara2 membuat
ciamsie dengan bentuk yang tidak seperti yang umum kita lihat,
melainkan berbentuk sepotong kayu persegi panjang kecil di kedua
ujungnya diruncingkan seperti pensil pendek berbentuk persegi."

Tanggapan saya: Saya belum pernah dengar ada sutra dengan judul itu.
Tetapi kalaupun Anda masih dapat dipertanyakan di manakah sutra itu
dikarang. Memang sutra yang cukup menarik. Apakah Anda dapat
menguraikan lebih jauh mengenai metode ini, karena saya saat ini
sedang membuat karangan mengenai ritual-ritual rejeki dalam
Buddhisme. Tentu saja ini sangat cocok dan bisa dimasukkan ke
dalamnya. Semoga Anda tidak keberatan untuk menguraikannya secara
lebih terperinci. Kalau ada gambar dan juga mantra-mantranya. Terima
kasih banyak sebelumnya.


Cg ik: 

Wah saya jadi bingung ingin menguraikan dari mana, saya ada print 
buku tentang ceramah mengenai kitab ini. Cukup panjang. Edisi 
mandarin. Kitab ini terdapat juga dalam Tripitaka edisi Taisho 
no.0839. Master LianCi dan master OuYi (sesepuh mazhab Pureland), 
Master HongYi (praktisi Vinaya terkenal sejaman dengan Taixu, 
Yinguang) juga sangat menghargai kitab ini. 

Karena saya tidak tertarik degnan masalah ciamsi, saya jadi tidak 
membaca seluruhnya. Tapi sekilas saya baca, tujuannya cukup bagus. 
Kitab ini diawali pertanyaan seorang Bodhisatva kepada sang Buddha 
tentang bagaimana cara membimbing makhluk hidup di jaman akhir 
dharma. Sang bodhisattva mengatakan bahwa jaman akhir dharma semakin 
banyak orang yang tidak sanggup berlatih meditasi, tidak sanggup 
mencapai kesucian, maka bila mereka menemui kesulitan bagaimana 
upaya kausalya utk dapat membantu mereka? Lalu Buddha 
mempersilahkannya untuk bertanya pada Ksitigarbha (tizhangwang). 
Tizhangwang lalu memperkenalkan cara pembuatan ciamsi ini.Katanya 
untuk menentukan apakah kita telah berbuat salah atau tidak. 
Gambarnya nanti saya carikan, saya lupa di website mana. 
 
 ----------------------------------------------- -


(12)Anda mengatakan: "Kita tidak tahu apakah di India ada ciamsie
atau tidak. Bisa saja ada dalam bentuk yang agak berbeda dan cara
berbeda namun merupakan satu hal yang sama."

Tanggapan saya: Ya, kembali lagi yang kita perlukan adalah bukti
konkrit, Bro. Jika benar di India ada ciamsie. Apakah buktinya?

Cg ik:

Tidak tahu. Hehe..

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

(13)Anda mengatakan: "Jika berbicara tentang tradisi yang ada di
China dan India, ini mengingatkan saya pada sejarah kungfu
shaolin......."

Tanggapan saya: Berdasarkan sejarah kungfu Shaolin yang pernah saya
baca, Damo Dashi (Bodhidharma) justru menciptakan jurus2 kungfu ini
selama Beliau bermukim di Gunung Shaolin dengan menirukan gerakan-
gerakan hewan. Tetapi apakah benar diciptakan oleh Bodhidharma? Kita
tidak tahu. Jadi wajar saja kalau tidak ditemukan di India.


Cg ik:

Gerakan hewan cuma salah satu jenis ilmu bela diri Shaolin, 
bagaimana dengan jurus jurus lain seperti Lohan Quan, YiZhichan,dll. 
Ya. Memang kita tidak tahu..

   
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

(14)Anda mengatakan: "Jawaban Opsi lain lagi adalah: FAnwangjing
itu  dibabarkan oleh Samboghakaya-Nya Sakyamuni yang bernama LuShiNa
di Lianhuazang shejie (padma-garbha loka dhatu).  Jadi bukan
dibabarkan di jambudipa ini. ATas dasar ini, jika mempertanyakan
masalah peti mati menjadi tidak relevan, karena bukan dibabarkan di
India."

Tanggapan saya: Maaf, saya akan mengungkapkan dua hal sebagai
tanggapan:

a.Pertama-tama jawaban semacam ini tidak dapat diterima dari segi
scholar, karena orang dapat menanyakan: dimanakah letak padma-garbha
loka dhatu. Apakah tempat itu benar-benar ada secara geografis? Bila
tempat itu tidak dapat dibuktikan maka argumen Anda tidak dapat
diterima. Argumen semacam ini akan ditertawakan oleh kaum skeptis,
sebagaimana halnya saya juga mentertawakan argumen seperti ini yang
dikemukakan oleh penganut agama lain. Kalau kita hendak berdiskusi
ilmiah, maka argumen yang diajukan juga hendaknya bersifat ilmiah
pula? Maaf, ini terpaksa saya ungkapkan agar kita tidak terjebak hal
yang sama bila berdialog dengan umat agama lain.

Cg ik:
Yang ingin kita kaji bukan masalah tempatnya. Jadi misalnya bila 
saya bilang kitab ini dibabarkan sang Buddha di Afrika atau di surga 
Tavatimasa, maka bukan masalah di mana Afrika itu, di mana Tavatimsa 
itu, apa buktinya dibabarkan di Afrika atau di Tavatimsa. Kita bukan 
mengkaji persoalan seperti itu. Yang kita kaji adalah kaitannya 
antara lokasi pembabaran dan hal2 yang dibicarakan di dalam sutra. 
Jadi bila di dalam Sutra mengatakan tentang Peti mati maka kita  
lalu mengaitkan dengan lokasi pembabaran Sutra nya tanpa bertanya di 
mana lokasi itu. Dengan demikian, India menjadi hal yang tidak 
relavan. 
 Jika masalah lokasi yang kita pertanyakan, maka tentu itu kajian 
tersendiri lagi.  
Mudah2an mengerti maksud saya.      


-------------- --------------


b.Kedua, anggaplah bahwa tempat atau dunia itu benar-benar ada.
Apakah di Tanah Murni seperti itu, masih ada kematian, sehingga
seseorang masih harus berjual beli peti mati?

Cg ik: 
Anda jadi beranggapan bahwa itu adalah Tanah murni saja? Tidak, jika 
kita baca dari awal sutra itu, maka sila itu berlaku di seluruh 
sistem loka dhatu manapun, dan loka dhatu itu ada yang murni dan ada 
yang tidak murni. Kalo yang tidak murni ya seperti jambudipa, dan 
masih banyak jambudipa digalaksi lain. Kemudian yang murni itu, ya 
otomatis tidak perlu kwatir melanggar sila itu, karena memang tidak 
akan lagi melanggar sila di tanah murni. Dan kalo di India tidak ada 
peti mati, ya juga berarti tidak perlu takut melanggar sila itu. 
Jadi ini menjadi prediksi tersendiri lagi.  Kira2 begitu lah. Cuma 
kira kira aja hehe.. 

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Saya kira sekian dulu. Mohon maaf kalau ada kata yang salah.

Cg ik:
Mohon maaf juga kalo ada yang salah. 

 
Amitofo

Cg ik

  






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke