Sumber : Buletin Maya Indonesia Dharma Mangala, Edisi 9 Januari 2005, tahun
II, no 17

Petunjuk berlangganan :
Dapat mengirim email kosong ke : [EMAIL PROTECTED]

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Orang Yang Bijaksana



Roda doa, atau Roda Mani, adalah sebuah roda yang diisi dengan mantra-mantra
dan sutra yang sangat banyak yang dibungkus searah jarum jam mengelilingi
sebuah sumbu. Beberapa roda doa berukuran kecil seperti gangsingan. Beberapa
lainnya berukuran sangat besar sehingga dapat memenuhi sebuah ruangan.
Seseorang memutar roda doa ukuran besar
ini dengan memegang gagangnya dan kemudian berjalan searah jarum jam
mengelilingi roda tersebut. Jenis yang lainnya diletakkan pada air yang
mengalir atau air terjun sehingga ia dapat memanen energi alami dan
menyebarkan rahmat ke alam sekitarnya. Orang yang percaya memiliki keyakinan
bahwa memutar roda doa ini atau mengibarkan bendera doa akan
mengaktualisasikan doa-doa yang tertulis di dalamnya.

Propinsi Khan di Tibet mirip dengan daerah Barat Amerika yang liar.
Orang-orang Kham adalah para penunggang kuda yang hebat, dan seperti halnya
para penunggang kuda, mereka sangat mencintai kuda-kudanya. Hingga sekitar
seabad yang lalu, Kham terdiri dari berlusin-lusin kerajaan yang lebih
kecil, dimana setiap kerajaan tsb memiliki angkatan perang sendiri,
yang dibentuk melalui perekrutan wajib militer secara paksa. Suatu ketika
hidup seorang laki-laki tua jauh di sebelah timur Kham yang dikenal sebagai
Pria Mani karena setiap hari, siang dan malam, dia selalu bisa ditemukan
sedang memutar roda doa kecilnya dengan khusuk. Roda itu dipenuhi dengan
mantra Kasih Sayang Yang Agung, Om Mani Padme Hung. Pria Mani itu hidup
bersama anak lelakinya dan seekor kudanya yang bagus. Anak lelakinya adalah
kebahagiaan dalam hidup pria tua itu; sedangkan kebanggaan dan kebahagiaan
bagi anak lelaki tersebut adalah kudanya.

Istri pria tua itu, setelah melakukan kebajikan dan pengabdian yang panjang
selama hidupnya, telah lama meninggal dan terlahir kembali di alam yang
lebih beruntung. Sedangkan pria tua itu dan anaknya hidup sederhana,
terbebas dari berbagai kebutuhan yang berlebihan, dan tinggal di salah satu
rumah dari beberapa rumah batu yang kasar di tepi sungai di sebuah
dataran yang luas.

Suatu hari kuda mereka menghilang. Tetangga-tetangga mereka ikut bersedih
atas kehilangan satu-satunya harta milik pria tua yang berharga itu, tetapi
pria tua yang selalu tenang itu tetap memutar roda doanya sambil terus
menguncarkan mantra "Om Mani Padme Hung", mantra nasional bangsa Tibet.

Kepada siapapun yang menyatakan duka-cita atas kehilangan kuda tersebut, ia
hanya berkata, "Bersyukurlah untuk segala sesuatunya. Siapa yang bisa tahu
apa yang baik dan apa yang buruk? Akan kita lihat ..."

Setelah beberapa hari, kuda yang hilang itu kembali, diikuti oleh sepasang
kuda liar. Kuda-kuda liar ini kemudian dilatih
oleh si pria tua dan anaknya. Para tetangga yang menyaksikan hal ini sangat
bergembira dan mengucapkan
selamat kepada pria tua itu. Pria tua itu hanya tersenyum dan berkata, "Saya
berterima kasih ... Tapi siapa yang
tahu? Kita akan lihat ...".

Kemudian suatu hari, ketika mengendarai salah satu dari kuda liar itu, si
anak lelaki jatuh dan kakinya mengalami
patah tulang. Beberapa tetangganya membawa anak lelaki itu pulang ke
rumahnya, mengutuk kuda yang liar itu, dan
menyesali nasib si anak lelaki. Tetapi pria tua itu, duduk di sebelah
ranjang anaknya, tetap memutar roda doanya
terus menerus sambil dengan lembut membaca mantra Kasih Sayang Yang Agung
dari Chenrenzig (Red:
Avalokitesvara).

Ia tidak mengeluh maupun menjawab protes-protes tetangganya kepada nasib,
tetapi hanya menganggukkan
kepalanya dengan ramah, mengulangi apa yang pernah dikatakannya, "Sang
Buddha adalah penuh kasih; saya
bersyukur bahwa anak saya masih hidup. Kita akan lihat ..."

Minggu berikutnya petugas-petugas militer muncul, mencari para wajib militer
muda untuk dikirim ke garis depan
pertempuran. Semua pria muda di daerah itu segera dibawa, kecuali anak
lelaki pria tua itu yang sedang terbaring
di ranjangnya. Kemudian para tetangganya mengucapkan selamat kepada pria tua
itu untuk keberuntungannya yang
sangat besar, dan menganggap semua itu adalah berkat karma baik yang
dikumpulkan oleh si pria tua dengan selalu
memutar roda doanya dan selalu terus menerus mengucapkan mantra dari
sela-sela bibirnya yang keriput.
Si pria tua hanya tersenyum dan tidak berkata apapun. Suatu hari ketika anak
lelaki dan ayahnya sedang melihat
kuda-kuda mereka yang bagus merumput di padang, pria tua yang pendiam itu
sekonyong-konyong menyanyi :

"Hidup terus berputar dan berputar,  naik dan turun laksana kincir air;
Hidup kita adalah laksana keranjang-keranjang kincir itu, kosong dan berisi
bergantian terus menerus. Laksana tanah liat dari si pembuat tembikar,
keberadaan jasmani kita berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya:

Bentuk-bentuk itu hancur dan terbentuk lagi dan lagi, Yang rendah menjadi
tinggi, yang tinggi akan jatuh; gelap akan berubah menjadi terang, dan yang
kaya akan kehilangan semuanya. Jika kau, anakku, adalah anak yang luar
biasa, kelak kamu akan terlahir kembali ke dalam sebuah biara. Tetapi jika
kau sangat cemerlang, anakku, Maka engkau akan menjadi pejabat yang
mengurusi perselisihan orang lain. Seekor kuda hanya akan menyebabkan
kesulitan seharga seekor kuda.

Kekayaan adalah baik, Tetapi dengan cepat akan kehilangan kesenangannya, dan
dapat menjadi beban, sumber pertengkaran, pada akhirnya. Tak seorang pun
tahu karma apa yang sedang menunggu kita, tetapi apa yang kita tabur
sekarang akan matang dalam kehidupan-kehidupan yang mendatang, itu adalah
pasti.

Maka berbuatlah baik pada semuanya dan jangan terbias, berdasarkan ilusi
tentang 'memperoleh' dan 'kehilangan'.

Janganlah punya harapan maupun ketakutan, pengharapan maupun kecemasan;
Bersyukurlah untuk segala sesuatunya,
apapun jatah yang kamu punya. Terimalah segala sesuatunya; terimalah setiap
orang; dan ikutilah Hukum Sang Buddha yang tidak pernah salah. Hiduplah
sederhana dan gampang dirawat, tetaplah secara alamiah hidup tenang dan
dalam damai.

Kau dapat menembak anak panah ke langit jika kau suka, anakku, tetapi
anak-anak panah itu pada akhirnya
pasti akan jatuh kembali ke tanah."

Ketika pria itu bernyanyi, bendera-bendera doa beterbangan melayang menutup
kepala pria tua itu, dan roda mani yang
kuno tersebut, yang diisi dengan ratusan mantra tulisan tangan, tetap
berputar. Dan kemudian di pria tua itu hening.


Sumber : The Mani Man, Das, Surya, 1992. The Snow Lion's Turquoise Mane,
Wisdom Tales from Tibet. Harper San Fransisco. New York.
Alih bahasa : Holiwati
Editor : Junarto M. Ifah

Sumber : Buletin Maya Indonesia Dharma Mangala, Edisi 9 Januari 2005, tahun
II, no 17

Petunjuk berlangganan :
Dapat mengirim email kosong ke : [EMAIL PROTECTED]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke