Namo Buddhaya,
 
Kepada bro.Eric dan teman2 lainnya,...
menurut saya, sebaiknya kita berperilaku sebagaimana mestinya alias yang sewajarnya. Seperti pada saat2 kita berdiskusi dharma / Buddhisme, gunakan kata2 / salam yang juga dari Buddhis, tapi bila berdiskusi diluar topik Buddhisme, juga bila dalam milis yang lainya, lebih baik menggunakan salam yang umum2 saja.
Seperti halnya bila kita pergi ingin berkebun, pasti mengenakan pakaian dan membawa peralatan berkebun, tapi bila ingin pergi berenang, pasti memakai baju renang.
Apakah wajar, pergi berenang dengan berpakaian berkebun ?
Apakah dengan berkata "Aku tidak melekat !", lantas pergi berenang dengan pakaian berkebun ?
Memang semua itu hak kita masing2, tapi kewajaran tetap kewajaran.
Bila kita berdiskusi Buddha Dharma, dengan gaya dan bahasa yang berciri khas bukan Buddhis, apa itu suatu kewajaran ? Mengapa tidak menggunakan ciri Buddhisme ? malu kah ?
Bila di dalam Vihara, bukan Buddha / Boddhisatva rupang yang dipajang disana, melainkan rupang2 dari nabi nasrani, apa kah itu suatu kewajaran ?
Apakah pantas dengan dalih "Aku tidak melekat", lantas semua hal2 di atas dijadikan hal yang wajar ?
Bagaimana nasib anak cucu kita kelak yang melihat hal-hal yang dikatakan di atas bila dikatakan sebagai kewajaran, suatu perubahan bentuk yang tidak seharusnya terjadi. Buddhisme tanpa ciri Buddhisme, tidak lagi mengenal bentuk / ciri dari Buddhisme. 
Apakah kita pernah sadari bahwa dengan selalu berdalih "Aku tidak melekat", sebenarnya dalih tersebut lah yang justru menjadi kemelekatan pada pikiran kita ?
semoga bermanfaat.
 
Swathi Hottu,
CFR.
 
 


Ika Polim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dearest Om Kreshna,
 
Kata Yg Bijaksana : Tidak Salah Lihat Karena "Jubah" Semata; Tidak Salah Dengar Karena "Mengcopy Ayat Kitab Suci" Semata; Tidak Salah Pilih Karena "Pemakaian Salam Tertentu" Semata; Tidak Salah Berpikir Karena "Jumlah Umat" Semata !
 
Bukan Pada Sesuatu Yang Masuk Kedalam Diriku Aku Ini, Namun Kepada Apa Yang Keluar Dari Aku Segala Sesuatu Dinilai .

kreshna amurwabumi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Rekan-rekan Dharmajala yth,
 
Pemakaian salam-salam agama baik itu Budhis maupun bukan, apa lagi seperti kawan kita yang muslim sering-sering menggunakan salam kasnya, bagi saya pribadi tidak mendukung. Saya anggap membuang-buang waktu saja, dalam jaman yang harus efisien dan produktif ini cara-cara semacam itu hanya membuang-buang waktu saja. Coba dihitung misalnya untuk mengucapkan suatu salam diperlukan 10 detik, kalau sehari 10 x diucapkan karena ketemu orang atau menelpon atau acara perayaan/pertemuan dll, dan itu dilakukan oleh 200 juta rakyat Indonesia maka tiap hari kita kehilangan waktu 10X10X200x10exp(+6) = 2xexp(+10) detik=2.3xexp(+5) hari !!. Jadi setiap hari kita kehilangan hampir seperempat juta hari, apa gak banyak?. Dan emangnya kalau sudah pakai salam Agama terus jadi suci ?.
 
Semoga dapat menyadarkan orang.
 
Kreshna

Yamin Prabudy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kalau masalah Eksklusif Buddhist... iya ini adalah milis eksklusif untuk mereka2 yang ingin belajar/ berlatih/ berbagi/ berdiskusi/ dll tentang Buddhism ..

jadi di sini kita tidak membahas si A sudah punya anak 2.. eh anak keduanya mirip tetangga loh...tidak kita tidak bahas masalah seperti itu

di milis ini kita juga tidak bahas masalah motherboard apa yang paling bagus, camera digital apa yang paling bagus.. atau troubleshooting komputer hang...
itu ada tempat yang lain lagi koq.....

sekali lagi.. Eksklusif Buddhist IYA.. tapi eksklusif sekte tertentu TIDAK

masalah salam, mungkin benar kalau kita berada di tempat lain say Gereja atau Mesjid.. di sana kita tidak menggunakan kata Namo Buddhaya, atau Namaste atau apa saja.. kita bisa menggunakan salam yang lebih umum seperti
Selamat Malam/Pagi/Siang atau Salam Sejahtera ...... atau mungkin menggunakan salam yang mereka gunakan....

tapi saya pribadi lebih cenderung menggunakan salam yang lebih umum di tempat lain, alasan saya supaya lebih global dan siapa tahu saya bisa salah menggunakan salam tersebut... coba deh gunakan Syahlom di gereja Katolik.. sama 2 gereja toh...

bagi saya salam2 yang Anda berikan malah terkesan melecehkan pihak tertentu.. kenapa.. karena tidak ada di tempat yang tepat....

salam2 ekslusif Buddhist ?? bukankah dengan Menggunakan Syahlom, dll
itu juga salam eksklusif dari pihak lain ??? apa yang Anda maksudkan dengan salam eksklusif ?

satu sisi Anda memohon maaf, di sisi lain Anda menyindir balik heheheehhe,..
saya suka itu..  :-)

metta,

yamin

Erik <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Namo Buddhaya,
Saya sungguh terkejut mendapati tanggapan Bro Safira seperti ini.  Rupanya selama ini saya kurang eling!

Mohon maaf, apakah milis "Dharmajala" ini milis eksklusif? Dan apakah kata "Dharma" dalam "Dharmajala" merujuk pada "Buddha Dharma"?

Sekali lagi, mohon maaf sebesar-besarnya! Saya sungguh tidak menyadari semua itu sebelumnya. Baru setelah mendapat teguran dari Bro Safira saya baca teliti Homa page "Dharmajala" baru saya sadari semua itu!

Sorry sekali, saya bisa nyasar ke milis ini juga karena adanya ajakan yang ditujukan ke Japri saya, dan saya klik saja langsung untuk memasukinya, tanpa memeriksa atau meneliti lebih lanjut apa misi, visi dan orientasi milis ini.
Salam-salam yang saya gunakan selama ini juga adalah yang biasa saya gunakan di tempat-tempat lain. Sekedar untuk menghargai semua anggota milis yang datang dari beraneka ragam suku, ras dan agama. Tapi, rupanya di Dharmajala ini lain ya?

Setelah sekian lama terlibat dalam diskusi yang topiknya hampir melulu mengenai ajaran dan lembaga agama Buddha,  samar-samar saya merasakan mungkin milis ini adalah milis eksklusif Buddhis! Jadi, sekali mohon maaf sebesar-besafrnya!

Kalo memang milis ini eksklusif, baiklah selanjutnya saya akan gunakan salam-salam yang eksklusif Buddhis pula untuk menghormati rekan-rekan Buddhis di milis ini.

Dan, sekalian mohon penjelasan. Siapa-siapa saja yang menjadi moderator di sini? Dan yang mengirim ajakan bergabung ke Japri saya itu moderator yang mana ya?

Sekali lagi, mohon maaf sebesar-besarnya atas kesalah-mengertian selama ini!

Maitricitra

Erik


Yahoo! Mail
Bring photos to life! New PhotoMail makes sharing a breeze.

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com


Yahoo! Mail
Bring photos to life! New PhotoMail makes sharing a breeze.

Send instant messages to your online friends http://asia.messenger.yahoo.com

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke