06 Maret Bukan bencana, bukan pula kemuliaan kekuasaan raja, yang akan menghapuskan belas kasih orang yang batinnya mulia terhadap makhluk hidup.
Selama kehidupan yang tiada terhitung, Bodhisattva melakukan perbuatan baik, seluruhnya mewujudkan makna berdana, pengendalian diri, tanggung jawab, serta belas kasih. Setelah setiap perbuatannya ditujukan bagi kebajikan makhluk lain, dikatakan, ia kemudian menjadi Dewa Sakra, Raja Para Dewa. Ketika Bodhisattva berada dalam kedudukan itu, ia menunjukkan kemuliaan yang lebih agung dibandingkan dengan seluruh pendahulunya, sebagaimana cahaya bulan yang memancar lebih cemerlang dari istana yang baru saja dicat. Demikianlah keagungan negerinya, demikianlah kecemerlangannya, hingga para asura berhasrat menunjukkan dirinya, pada gading gajah penakluk dunianya untuk merebut kedudukan tersebut. Tetapi, meskipun ia telah menikmati kebahagiaan dan keagungan dalam kekuasaannya, kebahagiaan yang telah ada tak menyebabkan hatinya congkak. la memerintah surga serta bumi dengan cara yang pantas, ia memperoleh keagungannya meliputi seluruh semesta. Ketika itu asura tak merasa senang atas berkembangnya ketenaran serta keagungan Sakra, dalam kekesalannya, mereka bersiap untuk memeranginya. Mengumpulkan bala tentara yang sangat besar menaiki gajah dan kuda, menaiki kereta serta berjalan kaki, mereka bergerak maju menghadapinya, dengan keriuhan yang bergemuruh bagaikan gemuruhnya badai di lautan. Gemerlap senjata tentara yang terhunus yang tak terhitung banyaknya, tampak sangat mengerikan untuk dipandang. Sakra karena berpegang pada ajaran kebajikan, merasa ingin turun ke medan perang. Kecongkakan musuhnya, ancaman bagi rakyatnya yang kedamaian serta kebahagiaannya telah terganggu, menjunjung tradisi kerajaan serta kebijaksanaan politik, semua menyertainya turun ke medan perang. Seribu kuda pilihan yang dipakaikan pada kereta emasnya, senjatanya yang tajam menyala di bawah sinar matahari, permata di permukaannya memantulkan kilatan senjata pada semua sisinya. Tinggi di atas kereta berkibar bendera warna-warni, berkilau oleh permata dan dihiasi dengan gambar seorang makhluk mulia. Lalu, di tengah barisan bala tentaranya yang mengendarai gajah, kuda serta berjalan kaki, Mahasattva melangkah ke dalam kereta permatanya, dan berdiri di atas karpet putih bersih, membawa pasukannya ke tepi laut, di sanalah mereka menghadapi pasukan musuh yang besar. Sebuah perang dahsyat pecah, di mana senjata saling menyerang kedua kubu, untuk saling menaklukkan. Teriakan keras terdengar membelah di atas hiruk-pikuk para pejuang: "Jangan lari!", "Sekarang!", "Bukan begitu!", "Tangkap!", "Awas!", "Engkau tak dapat lari!", "Serang!", "Matilah kau!" Teriakan berbaur dengan benturan senjata dan genderang yang bertalu-talu, hingga langit sendiri terguncang hampir runtuh, sedangkan keganasan perangnya bagaikan neraka. Membabi-buta oleh bau darah yang telah tumpah, kedua barisan menerjang tak terkendali satu sama lain, seperti gunung yang terbongkar oleh badai di masa penghancuran. Kereta menyapu melintasi medan bagai awan hujan, panji-panjinya berkelebat bagai kilat, rodanya bersuara bagai gemuruh sambaran petir. Panah tajam beterbangan di antara para prajurit baik dewa maupun asura, menghancurkan payung serta panji kerajaan, busur serta tombak, tameng serta baju zirah, membelah kepala banyak orang. Akhirnya, diliputi oleh ketakutan terhadap senjata hebat tentara kegelapan, pasukan Sakra yang ketakutan lari dari hadapan para asura. Hanya Sakra, Raja Para Dewa, yang tetap berada di medan perang untuk menutup jalan musuhnya menggunakan keretanya. Matali, kusir Sakra, melihat larinya tentara dewa, serta sorak-sorai gerak maju asura, yang mendesak maju tak terkendali di tengah hiruk-pikuk gemuruh teriakan perang serta pekikan kemenangan, mengira tiba saatnya untuk mundur dan memutar haluan keretanya untuk kembali. Tetapi saat mereka berjalan ke atas melalui angkasa, Sakra melihat bahwa mereka akan menabrak beberapa sarang burung elang yang ada di atas pohon tepat searah dengan tiang keretanya. Sakra memandangnya dengan penuh kasih lalu berkata kepada Matali: "Engkau harus membelokkan kereta agar tiangnya tidak merusak sarang. Jangan sampai kita menyakiti burung yang belum bisa terbang." Matali menjawab: "Tapi Baginda, para asura akan menangkap kita." "Jangan khawatir," ujar Sakra, "pastikan sarang elang itu aman." "Oh Orang Yang Bermata Teratai," sahut Matali, "hanya dengan membalikkan arah kereta yang dapat menyelamatkan burung itu, sedangkan rombongan musuh mengikuti di bawah kita, mereka sudah lama menunggu kesempatan seperti ini untuk menaklukkan kita." Tetapi, Sakra, Raja Para Dewa, yang tergerak oleh belas kasih yang sangat kuat, menunjukkan kebajikan hatinya yang luar biasa dan mempertegas perintahnya: "Jangan khawatirkan itu," ujarnya. "Berbaliklah. Lebih baik mati di tangan para asura daripada hidup terhina karena membunuh makhluk kecil yang ketakutan. Balikkan keretanya." Matali memutar balik keretanya yang ditarik oleh seribu ekor kuda, para asura yang menyaksikan keberanian Sakra di medan perang, kebingungan serta ketakutan. Saat mereka melihat keretanya berbalik ke arah mereka, pasukan asura memberi jalan bagaikan awan hujan hitam yang terdesak oleh angin. Demikianlah kadang kala di tengah kekalahan, satu orang yang memalingkan wajahnya ke arah musuhnya, akan mengalahkan kebanggaan kemenangan berkat keberaniannya yang tak terduga. Melihat barisan pasukan musuh bercerai-berai, rombongan para dewa kembali ke medan perang; para asura, berlarian ketakutan, menyadari tak dapat lagi bersatu dan melawan. Para dewa, kegembiraannya bercampur dengan rasa malu, memberi hormat kepada pemimpin mereka yang wajahnya berseri memancarkan kecerahan serta kegembiraan kemenangan. Setelah itu, dengan tenang Sakra kembali dari medan perang, menuju ke kota serta putranya yang bergembira. Demikianlah yang dikatakan: "Orang yang berpikiran rendah akan berbuat jahat karena kurangnya belas kasih. Orang yang pemberani akan menjalankan belas kasih di saat berada dalam kesulitan. Tetapi orang yang baik, bahkan meski hidupnya sendiri terancam, tak akan lagi melangkahi garis kepatutan tingkah laku, meski samudra pun memiliki batas." Ketahuilah bahwa itu pula sebabnya sehingga orang bijaksana tak dibenarkan melukai hati makhluk hidup apa pun, apalagi berbuat dosa terhadap mereka, orang yang baik senantiasa menjalankan praktik belas kasih terhadap semua. Sesungguhnya, Dharma senantiasa menjaga mereka yang mengikuti aturan perbuatan baik. Kisah ini juga sesuai saat menguraikan keagungan Sang Tathagata dan juga saat menjelaskan bagaimana cara mendengarkan ajaran. (Sakra Jataka) (JATAKAMALA) (Untaian Kelahiran Bodhisattva) (Acharya Aryasura) (BHUMISAMBHARA) __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
