Kompas, Selasa, 07 Maret 2006
Ketika Jeratan Itu Sukar Dilepas
Roy Marten adalah nama besar. Maka ketika ia ditangkap karena terbukti memiliki sabu, beritanya muncul berseri-seri di media massa. Dalam keseharian, ribuan kasus penyalahgunaan narkoba terus berlangsung tanpa sorotan. Para korbannya bisa anak sekolah-penganggur, laki-laki-perempuan, kaya-miskin.
Hari Selasa di pertengahan Februari, seorang pecandu sebut saja Nana (23) mampir ke rumah singgah Yayasan Pelita Ilmu di Kampung Bali, Jakarta Pusat. Wajahnya terlihat segar. Habis nyuntik, katanya sambil menunjukkan bekas-bekas hitam akibat suntikan dan sayatan di lengannya.
Di rumah singgah itu banyak anak muda berkumpul, duduk- duduk, ngobrol. Beberapa di antaranya adalah mantan pecandu yang ikut program pendampingan melepas ketergantungan pada narkoba.
Aku ingin sekali berhenti, tapi susah bener ya, kata Nana.
Ia tinggal di Kalibata, Jakarta Selatan. Pengalamannya banyak. Dari coba-coba, pacaran dengan pecandu, hingga keluarga yang berantakan. Usiaku masih 12 tahun waktu pertama kali nyoba, enam jam aku enggak bangun- bangun, ujarnya.
Kakak laki-lakinya juga seorang pecandu putau. Ayahnya yang tidak bekerja sering memukuli ibunya dan kadang dirinya. Ia sempat lari dari rumah dan menjadi gembel dua tahun.
Ada pula Lala (33), yang ayahnya termasuk disegani di negeri ini. Berulang kali ia tertangkap polisi, berulang kali pula ayahnya harus mengeluarkannya dari tahanan. Padahal, semua yang ia butuhkan tersedia di rumah.
Anton (31), bukan nama sebenarnya, juga mengaku coba- coba ketika mulai memakai narkoba tahun 1995. Awalnya karena ditawari teman. Eh, malah keterusan, kata Anton yang tinggal di Kecamatan Senen.
Anton mulai membolos sehingga studinya putus di tengah jalan. Karena menganggur dan tidak punya uang untuk membeli narkoba, Anton mulai menjual barang-barang pamannya. Ia bahkan menjadi perantara dan bandar narkoba.
Ia pernah ditangkap polisi, tetapi dibebaskan setelah ibunya membayar uang jaminan Rp 1 juta. Keuntungannya bisa 100 persen lho. Belum bonus ikut menikmati, tutur pemuda yang gigi atasnya rusak akibat putau.
Penganggur
Rata-rata pengguna narkoba di kawasan permukiman padat seperti Anton adalah penganggur. Sehari-hari mereka hanya nongkrong di tepi jalan dan jadi pemandangan biasa. Di antaranya di kawasan Baturaja, Jakarta Pusat, yang jadi pusat jual beli narkoba, selain Kampung Bali dan Jalan Jaksa.
Ya beginilah kami setiap hari, kata salah satu warga Baturaja, sebut saja Totok (20-an). Ia mengenakan celana pendek dan kaus singlet. Matanya hari itu terlihat merah, wajahnya kusut, dan rambut berantakan.
Totok mulai mengenal narkoba tahun 1995 dengan alasan klise: coba-coba karena pengaruh teman. Beberapa kali ia mencoba berhenti, tetapi ketika kembali ke lingkungannya, ia tak kuat menahan godaan. Mungkin saya lebih mudah lupa kalau ada pekerjaan, tuturnya.
Di Baturaja itu gang-gangnya sempit, dengan rumah yang sebagian besar tidak permanen. Pada sore hari, gang penuh dengan anak-anak muda yang nongkrong di tepi jalan.
Tetap peduli
Sudah berbagai cara dilakukan orangtua, pemuka masyarakat setempat, bahkan juga lembaga swadaya masyarakat. Sayang hasilnya belum seperti yang diharapkan.
Dulu, memakai narkoba masih sembunyi-sembunyi di dalam rumah. Tetapi sekarang sudah terang-terangan, kata Aly Al Hamidi, salah seorang ketua RT di Kelurahan Taman Sari, Jakarta Barat.
Ia bahkan sering menemukan pengguna narkoba yang teler tergeletak di tempat nongkrong anak-anak muda. Aly juga sering menerima laporan dan pengaduan warga yang kewalahan mengatasi kecanduan anaknya terhadap narkoba. Sudah tiga warganya meninggal terkena HIV/AIDS akibat berbagi jarum suntik untuk narkoba.
Pada dasarnya, kami akan melindungi warga kami. Kalau sudah menyangkut narkoba, tidak ada toleransi, kata Aly.
Pada kenyataannya, warga sekitar bersikap acuh tak acuh terhadap kenyataan itu. Yang penting aktivitas pengguna narkoba tidak mengganggu warga.
Lain halnya dengan salah satu ketua RT di Kampung Bali, Ny Widi (bukan nama sebenarnya). Salah satu anaknya, Roni juga bukan nama sebenarnya tengah mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang karena berkumpul dengan teman- temannya yang sedang memakai narkoba.
Ia merasa penjara pantas untuk anaknya sebagai pelajaran agar segera berhenti dan menjauh dari narkoba. Biar saja, biar dia kapok, ujarnya tegas.
Ny Widi mendapati anaknya menggunakan narkoba sekitar tahun 2000. Sebelumnya, ia sama sekali tidak tahu anaknya terjerat narkoba.
Saya sering memperingatkan orang lain agar waspada, eh, nggak tahunya anak saya sendiri yang kena, kata Ny Widi getir.
Begitu tahu anaknya menggunakan narkoba, ibu rumah tangga itu berupaya menghentikan segala ketergantungan anaknya.
Anak saya sering ke kamar mandi dengan alasan sakit perut, padahal untuk menyuntikkan putau. Jadinya pintu kamar mandi saya gebrak-gebrak saja, biar enggak bisa nyuntik, tambahnya.
Ia mengaku sudah menghabiskan Rp 12 juta untuk menyembuhkan kecanduan Roni, tetapi belum membuahkan hasil.
Setelah Yayasan Pelita Ilmu masuk ke Kampung Bali pada tahun 2001, anaknya ikut program rehabilitasi dan pendampingan. Saat ditangkap, menurut ibunya, sudah dua bulan Roni berhenti memakai putau.
Sedangkan ibu Anton, Ny Ita (nama samaran), sudah membawa Anton ke rumah kakeknya di Puncak, Bogor, untuk menjauhkannya dari teman-temannya. Ia juga membawa Anton berobat ke seorang dokter di Depok. Seluruh perhatian saya curahkan kepada Anton sampai anak saya yang lain iri, tuturnya.
Akhirnya, Ny Ita membawa Anton ke Kios Informasi Kesehatan Unika Atma Jaya Jakarta. Sekarang Anton sedang dalam tahap pemulihan setelah di detoksifikasi. Setiap hari seorang pendamping dari Kios Atma Jaya datang dan memantau perkembangannya.
Masih tinggi
Kehadiran lembaga semacam Yayasan Pelita Ilmu di Kampung Bali atau Kios Atma Jaya sedikit banyak menjadi saluran informasi dan pengetahuan warga akan bahaya narkoba. Pasalnya, jumlah pengguna narkoba masih tinggi. Belum lagi risiko penularan penyakit seperti hepatitis B, hepatitis C, dan HIV/AIDS.
Menurut data Kios Atma Jaya hingga Desember 2005, dari 2.239 dampingannya, 83 persen pengguna berusia di bawah 25 tahun, 88 persen belum menikah, dan 82 persen tinggal bersama keluarga. Rata-rata berstatus sosial ekonomi rendah, sebanyak 60 persen lulus SMA, dan 85 persen pengangguran atau bekerja serabutan.
Sekitar 96 persen aktif menyuntik narkoba dan 98 persen di antaranya berbagi jarum suntik. Rata-rata teman menyuntik dua hingga tiga orang. Sebanyak 80 persen telah menggunakan narkoba selama 4-10 tahun, dan sebanyak 67 persen pernah mengalami overdosis.
Adapun data rumah singgah Yayasan Pelita Ilmu yang menangani 1.495 dampingan, hingga Desember 2005 mencatat 238 di antaranya positif terinfeksi HIV/AIDS.
Angka-angka yang tersaji memang cukup mengkhawatirkan. Di DKI Jakarta saja, tahun 2005 tercatat 5.363 kasus dengan pengguna dari SD, SLTP, SLTA, sampai perguruan tinggi. Mereka tersebar di seluruh wilayah Jakarta, bahkan juga di Kepulauan Seribu.
Sudah saatnya slogan katakan tidak pada narkoba ditindaklanjuti dengan aksi nyata di lapangan. Kuncinya mungkin bukan penangkapan, tetapi pendampingan.
(Samuel Oktora/ Fransisca Romana Ninik W)


Brings words and photos together (easily) with
PhotoMail - it's free and works with Yahoo! Mail.

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke