07 Maret Jika mereka yang mempraktikkan tingkah laku baik berhasil meraih kebajikan utama dalam hidup ini. Betapa jauh lebih baik bagi mereka yang dapat meraih kebajikan dalam hidup yang akan datang! Untuk itu berjuanglah melaksanakan kemurnian sila.
Suatu ketika Bodhisattva terlahir sebagai raja dari seluruh ikan yang hidup di sebuah telaga besar, telaga yang airnya sangat menyenangkan. dihiasi oleh bunga kumuda dan bunga padma, teratai putih serta biru, yang permukaannya ditaburi oleh kuntum bunga pepohonan di dekatnya. Ini adalah telaga yang sangat disukai oleh bangau, itik serta angsa. Akibat dari praktiknya yang lama dan terus-menerus, perbuatan baik atau jahat menyatu dalam sifat seseorang dengan keadaan yang demikian sehingga dalam kelahiran yang berikutnya mereka akan melakukannya tanpa usaha, seolah-olah seperti dalam mimpi. Demikian pula halnya dengan Bodhisattva yang terus berusaha semata-mata hanya demi kebajikan makhluk lain, bahkan dalam hidupnya sebagai seekor ikan. Mahasattva sangat memperhatikan ikan-ikan bawahannya, seolah-oleh mereka anak-anaknya sendiri, memenuhi segala kebutuhan mereka dengan pemberian, kata-kata yang menyenangkan dan sebagainya. Dengan berbagai cara ia secara bertahap mencegah mereka dari perbuatan saling menyakiti satu sama lain, dengan demikian mereka telah meninggalkan sifat jahat berkaitan dengan cara mereka makan. Saat itu saling pengertian bahkan berkembang di antara ikan-ikan. Ia mengajari mereka jalan Dharma, dan dalam perlindungannya ikan-ikan tersebut mengalami kemakmuran besar dan bebas dari segala bencana, yang tiada beda dengan kota besar yang mengikuti jalan kebenaran. Tetapi disebabkan oleh kurangnya keberuntungan serta kemalangan makhluk hidup pada umumnya,juga karena kelalaian para dewa dalam menurunkan hujan, Parganya, dewa hujan, tidak dapat menjatah pembagian air dengan tepat. Hujan yang bersih, keemasan oleh warna bunga pohon Kadamba, tidak lagijatuh mengisi telaga. Bersamaan dengan musim panas yang menyengat, matahari membakar lebih kuat dari biasanya; seolah-olah malas atau lelah, ia mengisap air telaga hari demi hari, termasuk juga bumi yang kepanasan oleh cahayanya, angin kering berusaha mendapatkan penyejuk. Seolah menenangkan kemarahannya atau mendinginkan demamnya, mereka semua meminum air hingga akhimya telaga tersebut hanya tinggal berupa kubangan. Lalu burung-burung riuh mengepung tepi telaga yang mengering, bahkan pasukan burung gagak juga muncul, semua memusatkan pandangannya pada ikan yang terengah-engah, yang hampir tak dapat bergerak di dalam air keruh. Bahaya besar yang menimpa rakyatnya menggetarkan hati Bodhisattva, lalu ia berpikir: "Aduh, ikan-ikan yang malang! Bencana apa yang sedang berlangsung! Air terus surut dari hari ke hari seolah ia akan habis di hadapan kita, sementara tak ada mendung yang datang. Kita tak dapat lari. siapakah yang dapat membawa kita pergi? Sementara musuh-musuh kita, bernafsu dan mengancam, bergerombol di pinggir. Segera setelah telaga mengering, mereka akan menyantap ikan-ikan yang tak berdaya di depan mataku. Tapi apakah yang dapat kulakukan?" Merenung dengan sulit dan lama, Mahasattva mengetahui bahwa hanya terdapat satu cara untuk menghentikannya: berkah dari kebenaran, jelas dan singkat. Menampakkan tanda-tanda kesedihan serta belas kasih, ia menengadah ke angkasa lalu berkata: "Aku tak ingat pernah menyakiti satu pun makhluk hidup, tak pernah sama sekali, bahkan meskipun ketika diriku berada dalam kesulitan berat. Berdasarkan kekuatan kebenaran yang tiada sangsi ini, semoga raja para dewa memenuhi telaga dengan air hujannya." Tak lama setelah kata-kata tersebut diucapkan, diperkuat dengan kekuatan berkah kebenaran oleh timbunan kebajikan Bodhisattva, dan juga oleh kemurahan hati para dewa, kebaikan hati para naga serta yaksa, yang kesemuanya memadu kekuatan mereka, awan mendung serta merta terbentuk dari berbagai penjuru angkasa, seperti hujan yang salah musim. Menggelantung begitu rendahnya, dihiasi oleh kilatan petir, bergemuruh berderu, suara gelegar petir biru kehitaman bertalu-talu di angkasa seolah satu sama lain berusaha untuk saling menjangkau, hingga bagaikan bayangan gunung yang tampak di surga, mereka mencapai cakrawala dari berbagai penjuru. Dalam gelegar suara petir, burung merak memekik dalam kegirangan serta menari-nari seolah sedang menyambut badai. Awan sendiri terlihat turut bergembira, gemuruh dengan tawa dan mengeluarkan banyak sekali kilatan petir. Lalu awan melepaskan hujan mutiara. Seketika pusaran debu terbentuk, sangat kuat, aroma pembaruan terbawa kemana-mana oleh angin. Matahari musim panas yang hanya sekejap setelah sebelumnya di puncak panasnya, kini serta merta tersembunyi dari pandangan, anak sungai berbuih-buih mengalir turun dari pegunungan mengisi telaga. Kuning keemasan kilatan cahaya menerangi cakrawala terus-menerus, menari mengiringi genderang awan hujan. Dalam keheranannya gagak serta burung-burung pemangsa lainnya beterbangan pergi, saat arus air mengalir dari pegunungan, membawa harapan baru serta kegembiraan terhadap kawanan ikan. Sebaliknya Bodhisattva, berpikir sepenuh hati. terus berkata berulang-ulang kepada Parganya, dewa hujan, agar hujan segera dihentikan: Berteriaklah, Parganya! teriaknya. Berteriaklah nyaring dan keras! Hilangkan suara parau gagak! Guyurkan lebatnya airmu yang bening seperti permata di dalam nyala cahaya terang!" Mendengar jeritan tersebut, Sakra, Raja Para Dewa, benar-benar terkejut. Ia menampakkan diri dalam rupa manusia di hadapan Bodhisattva lalu berkata: "Wahai raja ikan yang mulia, berkat kekuatan kebenaranmu yang tak dapat disangkal sehingga awan hujan itu, seolah bagaikan bejana yang tertumpah, telah melepaskan bebannya dalam suara gelegar petir yang menyenangkan. Sungguh pantas untuk dicela bila aku tak mendukung perbuatan makhluk mulia sepertimu, yang berusaha dengan gigih bagi kebajikan dunia. Jangan cemas lagi! Aku sahabat bagi semua yang baik, apa pun tugas mereka, dengan ini aku berjanji bahwa daerah ini, tempat kebajikan agungmu, untuk selama-lamanya tak akan pernah lagi dihampiri oleh kekeringan." Setelah memuji raja ikan dengan kata-kata yang menyenangkan, Sakra menghilang dari tempat itu. Sejak saat itulah telaga tersebut tak pernah lagi mengering. Dari kisah ini orang dapat melihat, bagaimana mereka yang melaksanakan kebajikan sila akan berhasil dan maju di dunia ini, bahkan juga dalam hidup yang akan datang. Orang juga dapat melihat betapa pentingnya berusaha menyempumakan kemumian sila. (Matsya Jataka) (JATAKAMALA) (Untaian Kelahiran Bodhisattva) (Acharya Aryasura) (BHUMISAMBHARA) __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
