16 Maret

   Naga adalah sejenis makhluk dewa rendah yang
memiliki pelbagai kekuatan gaib, namun kurang memiliki
potensi spiritual seperti halnya manusia. Naga mampu
berubah bentuk sesuka hati dan, konon, aslinya
memiliki badan seperti binatang melata. Naga yang
terikat pada hidup duniawi dapat membawa pengaruh
buruk bagi kehidupan manusia. Namun ada juga Naga yang
baik hati dan sering dipuja sebagai dewa pelindung. 

   Nandopananda adalah raja Naga perkasa yang
terbekali dengan kekuatan gaib yang mematikan.
Keangkuhannya terhadap kekuatan yang dimilikinya.
Membuatnya menjadi lebih berbahaya. Dia tidak
mempercayai segala sesuatu yang bersifat luhur atau
spiritual, serta sangat memandang rendah orang-orang
suci. Hidupnya hanya dihabiskan untuk mengejar
kekuasaan dan kenikmatan hidup.

   Pada suatu sore. Anathapindika. seorang hartawan
dari Savatthi, yang terkenal sebagai dermawan yang
sangat murah hati dan memiliki keyakinan penuh
terhadap Sang Buddha, mengunjungi Vihara Jetavana dan
berkesempatan mendengar pembabaran Dhamma dari Sang
Buddha. Karena merasa begitu terilhami dan bahagia, ia
memohon Sang Buddha beserta lima ratus murid suci-Nya
untuk menerima persembahan makanan darinya keesokan
hari, Sang Buddha menyetujui undangannya. 

   Menjelang fajar keesokan harinya, seperti
kebiasaan-Nya sehari-hari, Sang Buddha menelusuri
seisi alam semesta yang terdiri dari berbagai sistem
dunia dengan Belas Kasih tanpa batas-Nya. Dalam
pandangan mahatahu-Nya, Ia melihat Nandopananda.
Setelah melakukan penembusan lebih mendalam dengan
jelas Ia mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.


   Yang Maha Mengetahui menyadari bahwa kendati pun
Nandopananda sangat memusuhi ajaran spiritual dan
memiliki pandangan dan kecenderungan yang buruk, namun
ia juga memiliki kematangan batin untuk mencapai
transformasi spiritual. Dengan penanganan tepat, ia
dapat dijinakkan, disadarkan, dan akan bernaung pada
Tiga Pernaungan (Tisarana). Sang Buddha kemudian juga
melihat bahwa Yang Ariya Moggallana, yang kesaktiannya
hanya berada di tempat kedua setelah diri-Nya, akan
mampu menjinakkan Nandopananda dengan baik. 

   Setelah fajar menyingsing, Sang Buddha beranjak
dari meditasinya, makan pagi, dan bersiap untuk
berangkat. Beliau memanggil Yang Ariya Ananda dan
memintanya untuk memberitahukan kelima ratus siswa
Arahat-Nya bahwa hari itu mereka akan menemani-Nya
untuk melakukan kunjungan khusus ke alam surgawi.
Segera, Sang Buddha beserta siswa-siswa-Nya membumbung
di udara, dan dengan kekuatan adialami mereka menuju
alam surgawi. 

   Kala itu, atas keinginan sang raja naga, tengah
diadakan perjamuan besar di tempat terbuka di tempat
kediamannya. Sajian khusus telah disiapkan untuk
Nandopananda, yang duduk di singgasana megah di bawah
naungan sebuah paying putih. Sekelompok naga pemusik,
penari, dan pelbagai naga perempuan menyajikan makanan
dan minuman yang mewah, semuanya mengelilingi
Nandopananda. Tatkala sang raja naga tengah mabuk oleh
kemegahan dan pemuliaan dirinya, Sang Buddha membuat
agar sang naga melihat diri-Nya beserta arakan para
bhikkhu sedang menuju alam Surga Tavatimsa dan
melintas tepat di atas singgasananya.

   Melihat arak-arakan ini, sang raja naga seketika
naik pitam dan bersungut-sungut, “Orang-orang gundul
ini sedang keluar masuk Surga Tavatimsa dan melintas
tepat di atas kediamanku. Aku tidak akan membiarkan
mereka melintas di atas kita, menebarkan kotoran kaki
mereka di atas kepala kita

   Dengan kecepatan tinggi, Nandopananda melesat
menuju kaki Gunung Sineru, mengubah dirinyamenjadi
besar dan meliliti gunung itu sebanyak tujuh lilitan.
Dengan tudung kepalanya yang sangat besar, ia menutupi
seluruh Surga Tavatimsa. Akibatnya, terjadilah gelap
gulita dan tak ada sesuatu pun yang bisa tampak.

   Menyadari kegelapan yang mendadak, Yang Ariya
Ratthapala, salah satu Arahat pengiring Sang Buddha
bertanya, "Yang Mahamulia, biasanya kalau kita
melintasi daerah ini, kita bisa melihat Gunung Sineru
dengan jelas, demikian pula kubu Sineru, Surga
Tavatimsa, Wisma Vejayanta, dan panji-panji di atas
wisma itu. Mohon penjelasan, Yang Mahamulia, apakah
kiranya penyebabnya sehingga diriku tidak melihat
Gunung Sineru dan kubunya, Surga Tavatimsa, Wisma
Vejayanta dan panji-panji di atasnya?"

   "Ratthapala, sang raja Ndga, Nandopananda, tengah
merasa murka dan telah meliliti Gunung Sineru sebanyak
tujuh lilitan serta menyelimuti seluruh Surga
Tavatimsa dengan tudung kepalanya yang sangat besar,
mengakibatkan kegelapan."

   "Yang Mahamulia. izinkanlah diriku untuk
menjinakkannya." 

   Sang Buddha tidak memberikan izin pada Yang Ariya
Ratthapala. Setelah itu, Yang Ariya Bhaddiya,
YangAriya Rahula, dan satu persatu, semuanya kecuali
satu orang, memohon izin dari Sang Buddha untuk
menjinakkan naga itu. Namun Sang Buddha tidak
mengizinkan satu pun dari mereka untuk melakukannya.
Pada akhirnya, Yang Ariya Maha Moggallana berkata,
"Yang Mahamulia, izinkanlah diriku untuk
menjinakkannya." Sang Buddha mengizinkan dengan
berkata, "Jinakkanlah naga itu, Moggallana."

   Serta merta Yang Ariya Moggallana mengubah dirinya
menjadi naga raksasa yang sangat besar. Kemudian
beliau meliliti tubuh Nandopananda sebanyak empat
belas lilitan, menutupi tudung kepala Nandopananda
dengan tudung kepalanya, dan memojokkan Nandopananda
ke dinding Sineru. Si raja naga melawan dengan
menyemburkan asap. Yang Ariya Moggallana berkata.
"Bukan hanya Engkau yang bisa menyemburkan asap, aku
pun bisa melakukan ha1 itu", sambil menyemburkan lebih
banyak asap. Asap Nandopananda tidak menyakitkan
YangAriya Mogga11ana, namun sebaliknya asap Yang Ariya
Moggallana sangat menyakitkan Nandopananda. 

   Kemudian. Nandopananda menyemburkan api. Yang Ariya
Moggallana berkata, "Bukan hanya Engkau yang bisa
menyemburkan api, aku pun bisa melakukan hal itu."
sambil menyemburkan lebih banyak api. Api Nandopananda
tidak menyakitkan Yang Ariya Moggallana, namun
sebaliknya api Yang Ariya Moggallana sangat
menyakitkan Nandopananda. 

   Sambil merasa kesakitan, sang raja naga berpikir.
"Dia memojokkan diriku ke dinding Sineru dan ia juga
menyemburkan asap dan api. " Lalu dia bertanya, "Tuan,
siapakah Engkau?." 

   "Nanda, aku adalah Moggallana."

   "Bila demikian, Yang Ariya, kembalikan wujudmu
sebagai seorang bhikkhu."

   Yang Ariya Moggallana mengubah wujudnya kembali
sebagai bhikkhu, la1u memasuki telinga kanan
Nandopananda dan keluar dari telinga kiri, kemudian,
ia masuk kembali melalui telinga kiri dan keluar
melalui telinga kanannya. Sehabis itu, Yang Ariya
Moggallana memasuki lubang hidung kanan Nandopananda
dan keluar dari lubang hidung kiri, masuk kembali
melalui lubang hidung kiri dan keluar melalui lubang
hidung kanannya. Nandopananda kemudian membuka
mulutnya dan dimasuki oleh Yang Ariya Moggallana yang
berjalan ke dalam perutnya, dan berjalan ke atas dan
ke bawah, dari timur ke barat, dan dari barat ke
timur.

   Sang Buddha memberi peringatan, "Moggallana,
Moggallana, hati-hatilah, naga ini sangat perkasa."

   "Yang Mahamulia, keempat dasar kekuatan
(iddhividha) telah disempurnakan, terlatih
berulang-kali, telah menjadi sarana, dibuat menjadi
dasar, serta telah terbentuk sempurna, terpusat, dan
terpakai dengan benar. Perkenankan saya sampaikan,
Yang Mahamulia, seratus, seribu, atau seratus ribu
raja naga seperti Nandopananda ini sekali pun dapat
kujinakkan, apalagi hanya satu Nandopananda."

   Sekarang sang raja naga merencanakan, "Ketika dia
masuk, aku tidak melihatnya. Namun begitu ia keluar,
ia akan kutangkap dengan taringku dan kumangsa."
Setelah berencana demikian, ia berkata, "Yang Ariya,
tolong keluarlah dari tubuhku, berhentilah menyakiti
tubuhku dengan berjalan ke atas dan ke bawah di dalam
perutku."

   Kemudian Yang Ariya Moggallana keluar dari tubuh
Nandopananda dan berdiri tepat di hadapannya. Begitu
melihatnya, "Ini dia." dengan kejinya Nandopananda
langsung memuntahkan semburan yang mematikan dari
lubang hidungnya. Seketika itu juga, Yang Ariya
Moggallana memasuki tahap penyerapan meditasi Uhdna)
keempat. Dengan demikian semburan itu tidak mampu
menggoyang satu helai rambut pun pada tubuhnya.

   Kemampuan memasuki jhana keempat dengan seketika
seperti ini, selain oleh Sang Buddha, hanya dapat
dilakukan oleh Yang Ariya Moggallana. Bhikkhu lainnya
juga dapat melakukan kekuatan adialami lainnya, namun
mereka kemungkinan tidak dapat memasuki jhana keempat
secepat itu, yang mampu menghindari semburan maut
Nandopananda. Bila terlambat sedikit saja. maka tubuh
lawan Nandopananda akan berubah menjadi abu.
Demikianlah. telah melihat saat yang sangat berbahaya
ini pada dini hari itu, Sang Buddha tidak mengizinkan
orang lain kecuali Moggallana untuk menjinakkan raja
naga maut ini.

   Melihat kejadian itu. Nandopananda tercengang.
"Aneh! Semburan maut dari lubang hidungku sekalipun
tidak mampu menggoyang satu helai rambut pun pada
tubuh bhikkhu ini."

   Kemudian Yang Ariya Moggallana berubah bentuk
menjadi seekor Supanna (garuda), musuh abadi yang
sangat mengerikan bagi para naga. Yang Ariya
Moggallana mengejar Nandopananda seraya memuntahkan
semburan maut ke arahnya. Akibatnya sang raja naga
menjadi sangat ketakutan dan segera mengubah dirinya
menjadi seorang pria muda. Sambil berlutut di hadapan
Yang Ariya Moggallana, ia berkata, "Yang Ariya, aku
bernaung pada dirimu." lalu ia bersujud pada Yang
Ariya Moggallana. 

   Yang Ariya Moggallana berkata padanya, "Wahai,
Nandopananda, YangTerberkahi sendiri ada di sini.
Marilah kita menghadap pada-Nya." Kemudian, Yang Ariya
Moggallana membawa Nandopananda menghadap Sang Buddha.


   Sang raja naga kemudian bersujud pada Sang Buddha,
sambil berkata, "Yang Ariya. aku bernaung pada
dirimu." 

   Sang Buddha menjawab, "Semoga Engkau menjadi raja
naga yang berbahagia." Sambil memberkatinya. Setelah
selesai, dengan diiringi oleh para bhikkhu. Sang
Buddha segera menuju ke kediaman Anathapindika.

   Anathapindika bertanya. "Yang Mahamulia. Apakah
gerangan yang menyebabkan Yang Terberkahi terlambat
tiba?." Karena pertarungan antara Moggallana dan
Nandopananda."

   "Yang Mahamulia, siapakah kiranya yang menang dan
siapakah yang kalah?"

   "Moggallana yang menang dan Nandopananda yang
kalah."

   Mendengar hal itu, Anathapindika berkata. "Yang
Mahamulia, sudilah kiranya Yang Terberkahi menerima
persembahan dari diriku selama tujuh hari
berturut-turut dan juga sujudku pada Yang Ariya
Moggallana selama satu minggu penuh." Demikianlah
Anathapindika mengadakan persembahan selama tujuh hari
berturut-turut, untuk menghormati Yang Tercerahkan dan
lima ratus bhikkhu Arahat tersebut sekaligus merayakan
kejayaan agung t.erhadap Nandopananda.

(Menundukkan Nandopananda)
(Jayamangala)
(8 Berkah Kejayaan Sang Buddha)
(Yayasan Penerbit Karaniya)

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke